15 December 2007

HAPPY BIRTHDAY DEAR BESTFRIEND !

Selamat ulang tahun Esa!

Semoga akan selalu menjadi pegawai pemerintah yang jujur, walau kebijakan Lump Sump telah berganti dengan kebijakan At Cost :-))

Lalu, satu lagi yang juga penting, semoga lo bisa mengurangi kesibukan yang mulai tidak sehat itu. Please, please, berhentilah sejenak mempelajari Makro Ekonomi (come on, Kwik Kian Gie masih akan hidup sampai seribu tahun lagi, belum dibutuhkan regenerasi dalam waktu dekat), luangkan sedikit waktu buat gw & Lina, we both desperately need your attention :-)

with love, always
- vita -

06 December 2007

KETIKA MERINDU ADALAH MENDOAKAN

Mengapa kamu tidak pernah bosan bermain dengan Kenapa yang itu-itu saja dan membiarkan dirimu tenggelam di dalamnya seperti orang bodoh? Mengapa harus bertingkah seperti Mr. Morrissey* yang tak hentinya mengucapkan "why did You give me so much love?" seolah kamu tidak pernah mengenal Tuhanmu dan segala skenario-Nya?

Semua itu tidak berguna bagimu, apalagi buat dia, maka sekarang marilah berbuat sesuatu yang setidaknya ada manfaatnya untuk salah seorang diantara kalian. Dan berhubung yang dengan jelas menyatakan punya hati yang selalu mencinta untuknya adalah dirimu satu-satunya, mengapa sekarang tidak kau buktikan cinta yang kau punya itu?

Berhentilah mengutuki cinta lain yang kau tuduh palsu, coba sekarang buktikan bahwa sesuatu yang kau simpan di dalam hatimu itu juga bukan kepalsuan. Caranya gampang saja, bagaimana kalau di setiap saat rindu menyergapmu kau harus panjatkan doa untuknya? ya, buatlah rasa cintamu itu jadi sesuatu yang berguna buat orang yang kau cintai.

Pernah kau nyatakan betapa kau selalu merindunya di siang malammu, sekarang coba kau bayangkan betapa banyak doa yang dari dulu bisa kau kumpulkan untuknya? Tapi sekarang pun belum terlambat sayang, marilah mendoakan segala yang baik untuknya, karena kebahagiaan seseorang yang mencinta, adalah tentu saja menyaksikan orang yang dicintainya berbahagia, bukan? Ya, semoga Tuhan selalu menjaga setiap langkahnya, semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuknya, dimanapun dia berada.

6 Des 2007

" I dream about you last nite Dear, aku melihat diriku sedang membolak-balik halaman majalah yang di dalamnya ada profil dirimu, entah apa artinya, yang pasti ketika terbangun aku segera berdoa untukmu "


*Morrissey - I Have Forgiven Jesus

05 December 2007

TANGERANG-JAKARTA

Dari semenjak jaman kuliah, saya selalu kesel klo ditanya alamat, karena setiap saya menyebutkan kata Karawaci-Tangerang sebagai tempat domisili, si penanya pasti bakal geleng2 kepala sambil bilang " wah jauh banget ya!". Klo udah gitu, biasanya jawaban saya selanjutnya adalah mencoba mensosialisasikan fakta bahwa jarak antara Tangerang-Jakarta itu sebenarnya sangat dekat, cuma saja, sedikit macet di tol Kebun Jeruk.

Tapi makin kesini, perlahan-lahan tanpa sadar saya jadi termasuk ke dalam deretan mereka yang geleng2 kepala ketika membayangkan perjalanan dari Tangerang menuju Jakarta, atau sebaliknya, demi mengingat durasi tempuhnya yang semakin bertambah-tambah-tambah lama, bukan karena hitungan kilometernya tiba2 berlipat ganda, melainkan karena kemacetan yang semakin menggila -yah, seperti sudah kita ketahui bersama.

Dulu, sewaktu jalanan Jakarta masih lebih bersahabat dari hari ini, saya bisa berangkat dari rumah sekitar jam setengah tujuh, malah sering mulur sampe jam tujuh, dan bisa dibilang jarang sekali terlambat. Biasanya saya baru akan terlambat klo ada KLB alias Kejadian Luar Biasa, contohnya klo ada kecelakaan, ujan gede, atau, ehm, saya bangun kesiangan ;P

Lalu sekarang, berhubung kemacetan udah gak bisa dikendalikan, terpaksalah variabel Waktu harus diutak-atik. Saya memajukan jam berangkat jadi jam enam pagi (oh teganya!). Dampaknya lumayan mengiris dada buat jam tidur saya, alhasil setiap pagi, saya sering terbangun dengan pandangan kosong sambil bertanya2 apakah benar pagi sudah kembali menjemput secepat ini? dan ketika segenap kesadaran saya menyatakan IYA, langsung saya menggerutu tak tentu arah, gak jelas mau dialamatkan kemana segala gerutuan itu.

Nah, kemarin, kembali terjadi Kejadian Luar Biasa bernama Hujan Deras Semalaman, sehingga besok paginya jalan tol jadi persis seperti jalur pantura di hari H-1. Di dalem patas, saya udah gelisah gak karuan. Ditambah lagi AC di dalem patasnya jauh lebih dingin dari biasanya, seakan2 gak mau kalah kepengen juga dijuluki AC luar biasa. Walaupun yang namanya KLB ini berada di luar kendali saya, tapi saya cemas juga, karena dia tidak jarang terjadi. Setiap kejadian saya suka menduga2 apakah bos saya yang biasanya pengertian itu akan selalu mau mengerti, jangan2 kali ini beliau sudah tidak bisa lagi mentolerir jam kedatangan saya yang gara2 KLB sering terlambat satu atau dua jam. Biasanya, klo sedang terjebak macet kaya gitu, saya selalu menelfon bos saya untuk kasih kabar perihal keterlambatan saya, tapi kemarin itu pulsa saya sekarat, jadi bisa dipastikan gak cukup buat menelfon ponsel beliau, ataupun sekedar telfon ke kantor -karena line kantor yang selalu sibuk pasti jatoh2nya sama aja kaya nelfon ke ponsel.

Akhirnya, saya putuskan untuk meng-sms beliau.

08.55

Bu, maaf saya terlambat, sekarang masih di Kb jeruk, macet sekali bu. Thx.

Gak sampe lima menit, langsung terdengarlah orkestra Bitter Sweet Symphony-nya The Verve dari ponsel saya, yang artinya bos saya langsung me-reply sms saya.

08.57

Ok, terus lanjutkan perjuanganmu sampai Sudirman ya..

Hihihihi, sumpah saya langsung senyum2 sendiri baca smsnya. Lega membaca jawaban bos saya yang bernada asyik seperti biasanya, yang tentu saja bukan basa-basi, apalagi sinis, malah saya bisa membayangkan beliau mengetik sms dengan ekspresi jailnya yang khas, hehehe. Bukan, bukan maksudnya saya sok akrab dengan bos saya saudara2, tapi bos saya itu emang asik anaknya, santai2 aja, hehehe.

Alhasil, sisa perjalanan saya di pagi yang dingin nan macet itu jadi tidak begitu menyiksa, malah saya merasa sedikit lebih hangat, dan ujung2nya, ketiduran! hehehehehe! Lalu saya berpikir, mungkin tidak semua orang menempuh kemacetan Tangerang-Jakarta seperti yang saya alami, tapi mungkin juga tidak semua orang punya bos seasyik bos saya dalam menanggapi keterlambatan saya yang rada keterlaluan itu, jadi, yaaah impas lah, dan klo pake bahasanya orang Accounting ya balance lah! Hahahaha!

20 November 2007

LETTER FOR MY DEAR

It's your house, yeah your house dear, yang dulu sering sekali aku mimpikan waktu awal engkau menghilang, dan mimpi itu berisi pemandangan diriku yang tersesat mencari rumahmu, kini kutemukan sudah, jelas, pasti, lengkap dengan dirimu yang menyambutku, tapi tentu saja hanya dalam mimpi, yang tiba-tiba kembali menghantui beberapa malam yang lalu, walaupun jauh di dalam sana dirimu memang tidak pernah pergi ('sahabat' tidak pernah pergi, bukan?). Langsung aku teringat akan rentangan (terlalu) panjang yang pernah kita ukur bersama. Lalu, tentu saja, janji-janji yang sayang sekali tidak kau tepati (tidak bisa, atau tidak mau, dear?).
Dear, betapa pertanyaan itu dulu bergelayutan di dahan kepalaku (ya, persis monyet, hahaha). Aku sempat menghabiskan ratusan malam terjaga demi memikirkan jawabannya lho. Tentang kenapa dirimu bisa-bisanya pergi tanpa berpamitan. Juga tentang kenapa kamu bisa dengan mudahnya keluar dari barisan, sementara aku masih dengan tertib berjalan ikut barisan.
Hey, tapi aku sempat pindah barisan juga dear! Karena aku melihat keindahan di seberang sana. Uuuh, dia bersinar-sinar bagaikan petromak di kala mati lampu. Dan bagian yang paling indah, dia menawarkan tangannya supaya aku tidak kesandung di dalam gelap. Pokoknya, dia yang paling indah dear! (klo kamu ada di sini sekarang, pasti akan langsung bertanya, "emang indahan mana sih sama aku?", hehehe). Namun, sayangnya, sekarang dia sudah pergi juga dear. Tapi setidaknya, dia berpamitan dengan cara yang indah, lengkap dengan konsep pasca perpisahan yang dia namakan 'still a friend of mine' yang mati-matian aku berusaha patuhi rulesnya (yeah, pretend that I'm ok to know that he's just a friend now, uuuuh dear aku sayaang banget sama dia!).
Selepas dia pergi, aku kembali bermain-main dengan Kenapa, terus terbawa ke dalam lorong yang bernama introspeksi, dan pada suatu malam aku berhasil keluar dari sana dengan jawaban. Ya, barulah aku sadari kalau jawabannya ternyata adalah aku sendiri. Kamu tau gimana aku kan dear? ditambah lagi dengan segala paranoia itu (yang kamu perparah lagi dengan kepergianmu itu, huh!). Selama ini kemungkinan itu luput dari kepalaku, aku menghabiskan sisa hari tanpa kamu dengan keyakinan bahwa yang salah adalah kamu karena kamu sudah meninggalkan aku. Tapi setelah dia dear, setelah perpisahan indah yang masih ditambah dengan penawaran untuk tetap menjadi teman, barulah aku sadari bahwa masalahnya mungkin ada di aku. Maybe I've created such an inconvenience situation yang membuat kamu, dan dia, lari terbirit-birit. Rasa itu tidak bakal hilang kalau tidak ada penyebabnya, ya kan dear? Maafin salah aku ya dear.
Dan maaf karena tulisan ini dimulai dengan kisah tentang kamu seorang, tapi tiba-tiba diakhiri untuk dia pula. Maaf juga karena aku kini membagi sepotong hati itu juga untuk dia, sehingga kamu terpaksa berdesakan di dalam sana bersamanya, tapi kan kamu juga tau bahwa hatiku susah dibuat lapang, maka tenang saja karena sampai saat ini aku belum berniat menjejalinya lagi. Setiap meninggalkan rumah, sudah kutinggalkan sepotong hati itu di dalam kamar. Aku sudah simpan dalam tempat yang tidak perlu siapapun tau. Aku pastikan baik-baik agar potongan itu tidak perlu terbawa kemanapun kaki melangkah. Rasanya aku masih belum sanggup kalau harus menderita lagi, apalagi sekaligus membuat orang lain menderita juga karenanya. Lagipula aku masih harus banyak membenahi diri.
Oh ya dear, sebagai penutup, sekarang aku sadar bahwa hidup tidak berhenti pada titik dimana kamu dan dia pergi. Terlalu indah dunia ini untuk tidak terus disusuri setiap permukaannya. Terlalu berharga waktu kalau hanya dihabiskan untuk meratapi mereka yang pergi. Soal kamu, soal dia, mungkin benar jika aku stuck in a moment, tapi selebihnya, aku tidak mau menderita berkali lipat. Aku kepingin berusaha adil terhadap hidupku. Mungkin benar kalau kamu dan dia adalah sihir yang selalu mengusai hatiku, tapi selebihnya, aku cuma mau menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
Udah ah dear, masa semaleman mau ngomongin kalian melulu? hehehe. Aku sibuk nih ntar pagi, banyak agenda, banyak rencana, banyak cita-cita yang mau diwujudkan, kalau cita-citaku soal cinta sudah kandas di tengah jalan, tentunya aku tidak mau kehilangan cita-citaku yang lainnya, iya kan? hehehe. Oh iya, lupa, aku juga sayang padamu kok! ;)


10 November 2007
- semaleman,.... -

08 November 2007

"ibu berdoa untukmu nak......"

Judul di atas gw copy dari shout out seorang temen yang baru aja dipost. Mmh, I don't really know her actually. Dia adalah temen sekantor sahabat gw, Esa, yang tentu tidak aneh lagi jika akhirnya dia menjadi temen gw juga akibat kita sering nge-geng bareng klo jalan kmana2, bersama temen2nya yang lain juga (ya benar, mereka itulah yang suka gw sebut geng Bappenas!).

Nah, beberapa bulan lalu beliau ini baru aja nikah dan klo gw gak salah denger kmaren2 Geng Bappenas sibuk membicarakan beliau yang katanya lagi ngidam. Waktu beberapa jam yang lalu gw liat shout out itu terpajang di profilnya, gw langsung terharu. Sebagai seseorang yang sangat mencintai anak kecil, sebagai perempuan yang teramat sangat menghayati panggilan Ibu yang ditujukan oleh setiap anak pada Ibunya (I love the way Esa memanggil Ibunya!), dan tentu saja menginginkannya juga ditujukan buat gw someday, tapi rasanya sulit karena gw enggan menikah, sebaris kalimat sederhana itu agak sedikit mengaduk2 mood gw, susah lah dideskripsikan pake kata2, pokoknya suddenly I got a Nano-Nano sensation.

Gw suka ikutan terharu klo melihat perempuan2 muda yang udah punya anak. Contohnya nih si Emak yang duduk di samping gw, walopun doi suka bawel dan nyebelin (hehehe, punten Mak!), walopun doi punya mindset berbeda ama gw soal uang (buat dia, Money is God! yeah I know she's a realistic woman, but sometimes it's disgusting!), tapi gw tau benar bahwa dia adalah seorang Ibu yang sangaaaat baik, dia mendedikasikan seluruh hidupnya for her baby girl at home.

Tapi kadang gw suka benci juga ngeliat orang2 yang sembarang memutuskan untuk buru2 menikah, terus punya anak, tapi sembarangan dalam memperlakukan anaknya. Mereka yang menganggap bahwa anak adalah cuma konsekuensi dari pernikahan. Terus gw juga suka gemes sama mereka yang sembarangan punya anak banyak tanpa mempertimbangkan matang2 apa akibatnya. Iya, gw tau bahwa banyak anak itu banyak rejeki, dan bahwa rejeki itu udah ADA yang mengatur. Tapi hidup kan ada logikanya Man! Berkonsentrasi pada satu atau dua orang anak tentu jauh lebih baik daripada punya belasan anak yang kurang bisa dipastikan kesejahteraannya (tentu saja bicara kesejahteraan tidak hanya dari sudut pandang materi).

Gak tau ya, buat gw beranak itu adalah tanggungjawab yang paling berat dalam hidup, gak bisa sembarangan. Memperlakukan keponakan gw, dan para sepupu gw yang masih kecil aja gw selalu berhati2. Setiap kalimat yang ditujukan buat mereka itu harus yang baik2, dan setiap tindakan yang dilakukan di depan mereka juga yang baik2, gw gak mau merusak masa depan mereka cuma gara2 gw salah ngomong, gak bersikap adil, gak keliatan menghargai, atau apapun lah itu bentuknya.

Gw suka punya pikiran, kenapa orang harus terus melahirkan bayi ke dunia sementara di dunia ini banyak bayi2 yang terlantar, yang dibuang oleh orang tuanya, yang tidur berdesakan di panti asuhan, kenapa tidak mengadopsi salah satu dari mereka aja? tapi yah tentu saja gak bisa begitu, bereproduksi dan punya anak kan adalah fitrah manusia.

So, lalu, buat Jeng Luki, congratulation ya! Semoga dikau, gw, dan kita semua, bisa jadi perempuan yang bisa menjalankan peran dengan baik :)