Dari semenjak jaman kuliah, saya selalu kesel klo ditanya alamat, karena setiap saya menyebutkan kata Karawaci-Tangerang sebagai tempat domisili, si penanya pasti bakal geleng2 kepala sambil bilang " wah jauh banget ya!". Klo udah gitu, biasanya jawaban saya selanjutnya adalah mencoba mensosialisasikan fakta bahwa jarak antara Tangerang-Jakarta itu sebenarnya sangat dekat, cuma saja, sedikit macet di tol Kebun Jeruk.
Tapi makin kesini, perlahan-lahan tanpa sadar saya jadi termasuk ke dalam deretan mereka yang geleng2 kepala ketika membayangkan perjalanan dari Tangerang menuju Jakarta, atau sebaliknya, demi mengingat durasi tempuhnya yang semakin bertambah-tambah-tambah lama, bukan karena hitungan kilometernya tiba2 berlipat ganda, melainkan karena kemacetan yang semakin menggila -yah, seperti sudah kita ketahui bersama.
Dulu, sewaktu jalanan Jakarta masih lebih bersahabat dari hari ini, saya bisa berangkat dari rumah sekitar jam setengah tujuh, malah sering mulur sampe jam tujuh, dan bisa dibilang jarang sekali terlambat. Biasanya saya baru akan terlambat klo ada KLB alias Kejadian Luar Biasa, contohnya klo ada kecelakaan, ujan gede, atau, ehm, saya bangun kesiangan ;P
Lalu sekarang, berhubung kemacetan udah gak bisa dikendalikan, terpaksalah variabel Waktu harus diutak-atik. Saya memajukan jam berangkat jadi jam enam pagi (oh teganya!). Dampaknya lumayan mengiris dada buat jam tidur saya, alhasil setiap pagi, saya sering terbangun dengan pandangan kosong sambil bertanya2 apakah benar pagi sudah kembali menjemput secepat ini? dan ketika segenap kesadaran saya menyatakan IYA, langsung saya menggerutu tak tentu arah, gak jelas mau dialamatkan kemana segala gerutuan itu.
Nah, kemarin, kembali terjadi Kejadian Luar Biasa bernama Hujan Deras Semalaman, sehingga besok paginya jalan tol jadi persis seperti jalur pantura di hari H-1. Di dalem patas, saya udah gelisah gak karuan. Ditambah lagi AC di dalem patasnya jauh lebih dingin dari biasanya, seakan2 gak mau kalah kepengen juga dijuluki AC luar biasa. Walaupun yang namanya KLB ini berada di luar kendali saya, tapi saya cemas juga, karena dia tidak jarang terjadi. Setiap kejadian saya suka menduga2 apakah bos saya yang biasanya pengertian itu akan selalu mau mengerti, jangan2 kali ini beliau sudah tidak bisa lagi mentolerir jam kedatangan saya yang gara2 KLB sering terlambat satu atau dua jam. Biasanya, klo sedang terjebak macet kaya gitu, saya selalu menelfon bos saya untuk kasih kabar perihal keterlambatan saya, tapi kemarin itu pulsa saya sekarat, jadi bisa dipastikan gak cukup buat menelfon ponsel beliau, ataupun sekedar telfon ke kantor -karena line kantor yang selalu sibuk pasti jatoh2nya sama aja kaya nelfon ke ponsel.
Akhirnya, saya putuskan untuk meng-sms beliau.
08.55
Bu, maaf saya terlambat, sekarang masih di Kb jeruk, macet sekali bu. Thx.
Gak sampe lima menit, langsung terdengarlah orkestra Bitter Sweet Symphony-nya The Verve dari ponsel saya, yang artinya bos saya langsung me-reply sms saya.
08.57
Ok, terus lanjutkan perjuanganmu sampai Sudirman ya..
Hihihihi, sumpah saya langsung senyum2 sendiri baca smsnya. Lega membaca jawaban bos saya yang bernada asyik seperti biasanya, yang tentu saja bukan basa-basi, apalagi sinis, malah saya bisa membayangkan beliau mengetik sms dengan ekspresi jailnya yang khas, hehehe. Bukan, bukan maksudnya saya sok akrab dengan bos saya saudara2, tapi bos saya itu emang asik anaknya, santai2 aja, hehehe.
Alhasil, sisa perjalanan saya di pagi yang dingin nan macet itu jadi tidak begitu menyiksa, malah saya merasa sedikit lebih hangat, dan ujung2nya, ketiduran! hehehehehe! Lalu saya berpikir, mungkin tidak semua orang menempuh kemacetan Tangerang-Jakarta seperti yang saya alami, tapi mungkin juga tidak semua orang punya bos seasyik bos saya dalam menanggapi keterlambatan saya yang rada keterlaluan itu, jadi, yaaah impas lah, dan klo pake bahasanya orang Accounting ya balance lah! Hahahaha!