May 27, 2008

TERPUJILAH ADIK SAYA

Adik saya yang perempuan, punya motivasi belajar yang sangat tinggi. Terutama kalau musim ujian tiba, kami sekeluarga sampai harus mengingatkan dia untuk mengurangi belajar dan memperbanyak hiburan. Karena dia sanggup belajar dari malam sampai pagi, dengan konsentrasi yang menakjubkan, terus hingga berhari-hari berturut-turut, dengan ketabahan yang malah jadi mengkhawatirkan.

Selepas lulus kuliah dari fakultas Pertanian beberapa bulan yang lalu, nasib membawanya menyeberang ke tempat yang sama sekali berbeda: dia diterima bekerja di dunia Perbankan. Sebagai seorang Sarjana Pertanian yang sama sekali buta tentang dunia Perbankan, adik saya harus belajar lagi dari nol. Tapi alih-alih menyerah, dia malah merasa tertantang. Hampir setiap pulang bekerja, dia berkutat dengan serius di hadapan tumpukan buku-buku Ekonomi. Dan hampir setiap akhir pekan, dia duduk dengan tekun di hadapan saya, demi sebuah kursus singkat dari seorang kakak yang kuliah di jurusan Akuntansi, betapa pun payahnya penjelasan saya, betapa pun bencinya saya pada ilmu yang satu itu.

Tapi rupanya semesta memang benar-benar adil. Atas semua jerih payah dan kerja kerasnya, adik saya memetik hasil yang cukup manis. Dan terpujilah adik saya, yang begitu mudah kecanduan pada kenikmatan menyumbangkan sejumlah uang buat keluarganya, walaupun cuma sekedarnya. Tidak bosan-bosannya dia, atas keinginannya sendiri, membayari jajan kami sekeluarga, termasuk saya yang notabene punya penghasilan sendiri tapi tidak punya pengeluaran berarti. Dia mengakui pada saya, bahwa ternyata membayari jajan keluarganya, walaupun cuma sekedarnya, adalah sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Sore ini, waktu jam pulang kantor tiba, saya masih asyik menekuni jurnal saya. Kalau sedang suntuk dan kepingin sendirian, saya paling suka menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan. Daripada harus repot-repot memikirkan kesuntukkan, saya lebih suka menggunakan pikiran saya untuk pekerjaan, betapa pun pekerjaan yang kini saya jalani, bukanlah dunia saya.

Tiba-tiba, telepon genggam saya berbunyi. Ada pesan masuk. Rupanya dari adik saya, yang kebetulan gedung kantornya berada satu area dengan gedung kantor saya. Dia mengabarkan bahwa dirinya tengah berada di dalam patas, dan patas yang ditumpanginya sedang menuju gedung kantor saya. Dia menyuruh saya segera turun supaya bisa pulang bersama-sama dengannya, terutama karena kebetulan patas itu tidak penuh penumpang. Cepat-cepat saya balas pesannya, saya katakan bahwa hari ini saya berniat lembur. Tapi adik saya belum mau menyerah, dia menawari untuk membayari ongkos saya pulang. Saya bisa melihat nada bangga yang apa adanya di dalam susunan kata-katanya. Tapi sayangnya hari ini saya sedang benar-benar kepingin sendirian, sehingga dengan teramat menyesal saya tolak tawaran manisnya.

Entah bagaimana caranya, setelah membalas pesan adik saya, saya langsung menangis tersedu-sedu. Bukan atas kesombongan seorang kakak yang merasa tidak pantas dibayari adiknya. Tapi, karena saya benar-benar terharu. Saya terharu pada bagaimana dia begitu kepingin membahagiakan keluarganya. Padahal selama ini dia telah membuat saya bangga. Motivasi belajarnya yang menakjubkan itu sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan bapak dan ibu saya. Bahkan andaikata dia hanya seorang mahasiswa drop out karena tiba-tiba malas menyelesaikan kuliah, saya akan tetap bangga padanya. Karena di atas segalanya, dia adalah adik saya. Ah, terpujilah adik saya itu.

May 23, 2008

Apakah Hidup Seperti Jazz ?

Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita atasi. Kita tak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tak selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Barangkali juga kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup ini akan selalu memberikan kejutan-kejutannya sendiri. Banyak kejutan. Banyak insiden. Seperti jazz ? Entahlah. Aku agak mabuk.

Jazz, Parfum & Insiden - Seno Gumira Ajidarma

May 21, 2008

DALAM SEHAT MAUPUN SAKIT

“Maafkan istri saya dokter, dia memang terlalu sering mengeluh, dan dia tidak terbiasa mengucapkan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’,…”

“Ya, saya mengerti, ini pasti berat buat dia. Dia telah mengalami masa-masa sulit”

“Orang bilang, dia tak akan selamat pada operasi yang pertama. Tapi ini operasinya yang ketiga, sudah sepuluh tahun berlalu, dan dia masih bertahan”

“Lantas, bagaimana dengan anda sendiri?”

“Ah, dokter, sudah jelas tercantum dalam janji perkawinan: ‘dalam sehat maupun sakit’,…”

Grey’s Anatomy

May 12, 2008

KUSAMPAIKAN PADAMU SELAMAT TIDUR

Sebenarnya, masih banyak cerita tentang hari ini yang ingin kusampaikan padamu, tapi terlalu cepat kau berpamitan untuk berangkat tidur.

Jadi, biar ini saja yang kusampaikan padamu: selamat malam, selamat tidur.


Mei 2008
Hari masih pagi ketika tulisan ini dibuat

May 06, 2008

THE FALLING LEAVE

Pada sebuah senja yang berangin, sehelai daun gugur dari dahannya. Sejenak dia menari di udara, sebelum akhirnya tiba di pelukan bumi.

Begitu anggun.

Begitu Indah.

Terpujilah semesta: yang mempercayakan keindahan tidak hanya pada bunga yang bermekaran, namun dengan teramat adil membaginya juga pada daun yang berguguran.

Mei 2008

May 02, 2008

CABUT GIGI

Sakit luar biasa ketika kehilangannya
Sesal mendalam karena gagal menjaganya
Kosong meraja selepas kepergiannya
Sungguh tak ada yang bisa menggantikannya