(8/22/2008 6:28 PM)
Hi everyone,
Today is my last day here. Thank you for all the assistance and support you have given me. Here are PIC who will take over my duties:
- for IDO matters and Cognos pls liase with Pek Bee Yuen
- for BASS matters pls liase with Annie Han
I wish you all the best in your future endeavour.
Regards,
Paula
August 27, 2008
August 14, 2008
YEAR OF MARRIAGE
Kalau saya ditanya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan tahun 2008, jawaban saya adalah: pernikahan. Tahun ini terjadi hujan pernikahan di dalam dunia sosialisasi saya. Dimulai dengan pernikahan mantan pacar saya tercinta ketika tahun ini belum separuhnya terlewati, satu persatu kawan-kawan saya bergiliran mengirimkan undangan, atau setidaknya rencana yang sudah matang, terus tanpa berhenti hingga akhir tahun.
Kawan-kawan saya yang kebetulan belum mendapat giliran, atau sedang dalam proses mempersiapkan diri menuju gilirannya, menampilkan reaksi yang beraneka ragam tiap kali menerima undangan baru. Ada yang panik. Ada yang pasrah. Ada yang sedih. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang jadi termovitasi dan tambah bersemangat.
Saya sendiri, termasuk dalam golongan yang biasa-biasa saja. Selain memang tidak memiliki pasangan untuk diajak menikah, kalau boleh jujur, saya belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan. Sahabat saya sering berkata, apabila nanti sudah tiba waktunya, saya juga pasti akan merasa tidak sabar untuk segera dilamar. Hahah. Mungkin saja. Mungkin juga tidak.
Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut budaya untuk tidak harus menikah muda. Hampir semua anggota keluarga besar saya baru menikah ketika usianya menjelang 30. Ibu saya sendiri menikah pada usia 31. Saya dan para sepupu hampir tidak pernah didesak untuk buru-buru menikah sebagaimana yang lazimnya terjadi pada keluarga kebanyakan. Kami terbiasa menganggap diri kami masih muda dan nyaman berlama-lama tinggal dengan orang tua, walaupun pada akhirnya mungkin akan tersadar bahwa ternyata kami sudah sangat cukup umur untuk menikah, hahah.
Selain itu, saya juga punya sedikit alasan pribadi yang membuat antusiasme untuk menikah tidak kunjung menghampiri saya. Bukan, bukan sekedar soal trauma takut ditinggal pergi seperti kebanyakan tema dalam cerita fiksi, melainkan lebih kepada pemikiran soal visi dan misi, tanggung jawab, anak, dan beberapa hal absurd yang sahabat saya bilang terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekedar dibayangkan.
Tapi, tentu saja, tentu saja, hal itu tidak akan pernah mengurangi makna pernikahan buat saya. Malah saya menduga, segala pemikiran absurd itu timbul akibat harapan saya yang terlalu muluk atas sebuah pernikahan. Buat saya, pernikahan itu terlalu agung untuk disegerakan dengan terburu-buru. Pernikahan itu terlalu sakral untuk dilakukan oleh pasangan muda yang kemungkinan belum sadar benar atas tindakan yang dipilihnya. Apalagi yang di dalamnya terjadi kudeta uang atas value. Buat saya, cinta dan segala macam hal yang sifatnya priceless adalah segala-galanya. Saya sering terguncang apabila mendapati kasus yang mencoreng nilai-nilai yang saya anut. Kalau menyangkut urusan cinta, komitmen, apalagi pernikahan, saya ini memang terkenal naif, utopis, dan tidak realistis. Sahabat saya sering bilang, saya seperti hidup di dunia sendiri, sehingga sulit menerima bahwa orang lain tidak selalu menggunakan standar yang sama dengan yang saya anut.
Maka, atas nama keagungan sebuah pernikahan, saya mencoba menghayati dengan baik setiap persiapan yang dilakukan oleh beberapa teman saya yang berencana menikah bulan ini, walaupun mereka bukan teman akrab saya, dan walaupun yang saya lakukan hanya sepele saja. Sebagai informasi, mereka mempercayakan urusan distribusi beberapa undangan pada saya. Karena menurut mereka, selama ini saya merupakan orang yang paling aktif mengerahkan masa tiap kali ada rencana kumpul-kumpul. Selain itu mobilitas saya dianggap cukup baik, terutama mobilitas dunia maya, karena selain dalam bentuk kertas, mereka juga turut mengundang via email dan sms. Jadilah tempo hari saya turut sibuk mengkoordinir siapa-siapa saja yang belum kebagian undangan, baik yang dalam bentuk kertas, email, maupun sms. Saya juga dimintai tolong untuk melacak teman-teman yang lama tidak terdengar kabarnya, lewat search engine di Friendster. Lalu mem-forward email atau sms yang berisi undangan, karena para calon pengantin itu benar-benar sibuk mengurusi tetek-bengek lainnya.
Terus terang saja, tugas itu cukup berat dan menakutkan buat saya. Berat karena kemarin-kemarin saya harus melakukannya di sela-sela pekerjaan kantor dan kegiatan lain yang tenggat waktunya jatuh hampir bersamaan. Sepulang kerja saya harus menyempatkan diri mampir bertemu beberapa teman untuk menyerahkan undangan, atau terpaksa menitipkannya lagi pada mereka yang punya akses lebih mudah daripada saya. Menakutkan karena saya sangat khawatir undangan-undangan itu terlambat sampai ke tangan yang berhak, lalu pesta pernikahan yang sakral itu terpaksa tidak dihadiri oleh beberapa tamu yang diharapkan akibat kelalaian saya dalam mendistribusikan undangan. Jadilah di sela-sela kemacetan di dalam bus kota, atau di tengah malam menjelang tidur, pikiran saya sering bergerilya mengingat-ingat undangan mana lagi yang belum saya sampaikan, atau sms mana lagi yang belum saya forward. Jujur, saya cukup tertekan waktu itu.
Untungnya, saya dapat melaksanakan tugas dengan baik, walaupun dari ketiga teman saya yang menikah itu, tidak satupun pestanya dapat saya hadiri, karena kebetulan kantor saya mengadakan acara di luar kota. Tapi meskipun berhalangan hadir, saya cukup gembira telah memberikan dukungan lewat urusan distribusi undangan. Cukuplah segala keruwetan itu buat bekal mengahadapi persiapan pernikahan saya sendiri kelak, entah kapan, entah bersama siapa :D
Kawan-kawan saya yang kebetulan belum mendapat giliran, atau sedang dalam proses mempersiapkan diri menuju gilirannya, menampilkan reaksi yang beraneka ragam tiap kali menerima undangan baru. Ada yang panik. Ada yang pasrah. Ada yang sedih. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang jadi termovitasi dan tambah bersemangat.
Saya sendiri, termasuk dalam golongan yang biasa-biasa saja. Selain memang tidak memiliki pasangan untuk diajak menikah, kalau boleh jujur, saya belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan. Sahabat saya sering berkata, apabila nanti sudah tiba waktunya, saya juga pasti akan merasa tidak sabar untuk segera dilamar. Hahah. Mungkin saja. Mungkin juga tidak.
Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut budaya untuk tidak harus menikah muda. Hampir semua anggota keluarga besar saya baru menikah ketika usianya menjelang 30. Ibu saya sendiri menikah pada usia 31. Saya dan para sepupu hampir tidak pernah didesak untuk buru-buru menikah sebagaimana yang lazimnya terjadi pada keluarga kebanyakan. Kami terbiasa menganggap diri kami masih muda dan nyaman berlama-lama tinggal dengan orang tua, walaupun pada akhirnya mungkin akan tersadar bahwa ternyata kami sudah sangat cukup umur untuk menikah, hahah.
Selain itu, saya juga punya sedikit alasan pribadi yang membuat antusiasme untuk menikah tidak kunjung menghampiri saya. Bukan, bukan sekedar soal trauma takut ditinggal pergi seperti kebanyakan tema dalam cerita fiksi, melainkan lebih kepada pemikiran soal visi dan misi, tanggung jawab, anak, dan beberapa hal absurd yang sahabat saya bilang terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekedar dibayangkan.
Tapi, tentu saja, tentu saja, hal itu tidak akan pernah mengurangi makna pernikahan buat saya. Malah saya menduga, segala pemikiran absurd itu timbul akibat harapan saya yang terlalu muluk atas sebuah pernikahan. Buat saya, pernikahan itu terlalu agung untuk disegerakan dengan terburu-buru. Pernikahan itu terlalu sakral untuk dilakukan oleh pasangan muda yang kemungkinan belum sadar benar atas tindakan yang dipilihnya. Apalagi yang di dalamnya terjadi kudeta uang atas value. Buat saya, cinta dan segala macam hal yang sifatnya priceless adalah segala-galanya. Saya sering terguncang apabila mendapati kasus yang mencoreng nilai-nilai yang saya anut. Kalau menyangkut urusan cinta, komitmen, apalagi pernikahan, saya ini memang terkenal naif, utopis, dan tidak realistis. Sahabat saya sering bilang, saya seperti hidup di dunia sendiri, sehingga sulit menerima bahwa orang lain tidak selalu menggunakan standar yang sama dengan yang saya anut.
Maka, atas nama keagungan sebuah pernikahan, saya mencoba menghayati dengan baik setiap persiapan yang dilakukan oleh beberapa teman saya yang berencana menikah bulan ini, walaupun mereka bukan teman akrab saya, dan walaupun yang saya lakukan hanya sepele saja. Sebagai informasi, mereka mempercayakan urusan distribusi beberapa undangan pada saya. Karena menurut mereka, selama ini saya merupakan orang yang paling aktif mengerahkan masa tiap kali ada rencana kumpul-kumpul. Selain itu mobilitas saya dianggap cukup baik, terutama mobilitas dunia maya, karena selain dalam bentuk kertas, mereka juga turut mengundang via email dan sms. Jadilah tempo hari saya turut sibuk mengkoordinir siapa-siapa saja yang belum kebagian undangan, baik yang dalam bentuk kertas, email, maupun sms. Saya juga dimintai tolong untuk melacak teman-teman yang lama tidak terdengar kabarnya, lewat search engine di Friendster. Lalu mem-forward email atau sms yang berisi undangan, karena para calon pengantin itu benar-benar sibuk mengurusi tetek-bengek lainnya.
Terus terang saja, tugas itu cukup berat dan menakutkan buat saya. Berat karena kemarin-kemarin saya harus melakukannya di sela-sela pekerjaan kantor dan kegiatan lain yang tenggat waktunya jatuh hampir bersamaan. Sepulang kerja saya harus menyempatkan diri mampir bertemu beberapa teman untuk menyerahkan undangan, atau terpaksa menitipkannya lagi pada mereka yang punya akses lebih mudah daripada saya. Menakutkan karena saya sangat khawatir undangan-undangan itu terlambat sampai ke tangan yang berhak, lalu pesta pernikahan yang sakral itu terpaksa tidak dihadiri oleh beberapa tamu yang diharapkan akibat kelalaian saya dalam mendistribusikan undangan. Jadilah di sela-sela kemacetan di dalam bus kota, atau di tengah malam menjelang tidur, pikiran saya sering bergerilya mengingat-ingat undangan mana lagi yang belum saya sampaikan, atau sms mana lagi yang belum saya forward. Jujur, saya cukup tertekan waktu itu.
Untungnya, saya dapat melaksanakan tugas dengan baik, walaupun dari ketiga teman saya yang menikah itu, tidak satupun pestanya dapat saya hadiri, karena kebetulan kantor saya mengadakan acara di luar kota. Tapi meskipun berhalangan hadir, saya cukup gembira telah memberikan dukungan lewat urusan distribusi undangan. Cukuplah segala keruwetan itu buat bekal mengahadapi persiapan pernikahan saya sendiri kelak, entah kapan, entah bersama siapa :D
Labels:
an unquiet mind
August 13, 2008
AMANDA’S WORDS
“Kenyataan apapun buatlah dengan goresan tangan lo, jangan biarkan termakan situasi, sampai lo ketemu titik sudah -dan lo orang yang cukup bijaksana untuk mendetermin kata SUDAH.”
Labels:
an unquiet mind
August 02, 2008
KISS FROM A ROSE
There used to be a graying tower alone on the sea
You became the light on the dark side of me
Love remained a drug that’s the high and not the pill
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
The light that you shine can be seen
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels,
And now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave
There is so much a man can tell you,
So much he can say
You remain,
My power, my pleasure, my pain.
Baby, to me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby?
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels
Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave
I’ve been kissed by a rose on the grave,
I’ve been kissed by a rose
…And if I should fall, would it all go away
I’ve been kissed by a rose
There is so much a man can tell you,
So much he can say
You remain-
My power, my pleasure, my pain
To me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
the light that you shine can be seen.
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave,
The more I get of you
The stranger it feels,
Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave
[..., to me you're like a growing addiction that I can't deny]
You became the light on the dark side of me
Love remained a drug that’s the high and not the pill
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
The light that you shine can be seen
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels,
And now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave
There is so much a man can tell you,
So much he can say
You remain,
My power, my pleasure, my pain.
Baby, to me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby?
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels
Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave
I’ve been kissed by a rose on the grave,
I’ve been kissed by a rose
…And if I should fall, would it all go away
I’ve been kissed by a rose
There is so much a man can tell you,
So much he can say
You remain-
My power, my pleasure, my pain
To me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
the light that you shine can be seen.
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave,
The more I get of you
The stranger it feels,
Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave
[..., to me you're like a growing addiction that I can't deny]
Labels:
an unquiet mind

