Tadinya, saya pikir saya sudah akan kehilangan sahabat saya yang satu itu. Bahwa dia amat sibuk dengan sejuta kegiatannya, saya sudah sangat mengerti. Tapi bahwa belakangan ini dia semakin bertambah-tambah sibuk, saya tidak bisa lagi memahaminya. Atau mungkin tidak mau. Entahlah. Yang pasti, setelah berulang kali keluhan saya soal kesibukannya tidak pernah ditanggapi, saya mengusulkan pada sahabat saya yang satu lagi, untuk berhenti saja menghubungi sahabat kami yang sibuk itu. Barangkali dia akan merasa kehilangan. Barangkali pikunnya bakal hilang setelah menyadari bahwa kami tiba-tiba berhenti menghubunginya.
Sahabat saya yang satu lagi tampak enggan menyetujui usul saya. Namun akhirnya, dengan segenap kebijaksanaannya, dia mengiyakan. Dia bilang, ada bagusnya juga supaya sahabat kami itu sadar, karena terlalu sibuk bukan hanya tidak bagus untuk kami, tapi juga untuk dirinya sendiri.
Jadilah kami berdua pura-pura ngambek. Kami sepakat untuk tidak menghubungi sahabat kami itu, sampai dia yang menghubungi duluan, kecuali ada hal-hal yang penting.
Awalnya, semuanya mudah saja. Saya berhenti menyapanya lewat yahoo messenger, padahal terkadang saya sering menganggunya -tidak perduli bahwa dia memasang status sibuk, tidak perduli bahwa dia biasanya cuma menyahut sekedarnya ketika saya menghujaninya dengan berderet cerita. Saya berhenti meneleponnya. Saya berhenti mengiriminya sms. Begitu juga sahabat saya yang satu lagi.
Namun akhirnya, saya tersiksa. Saya kangen mendengar cerita-ceritanya. Saya kangen mendengar nasehatnya soal motivasi. Saya kangen mendengar omelannya yang galak dan menyebalkan. Saya kangen pada tampang judesnya. Saya kangen melihat dia terkikik bangga dengan hidung yang kembang kempis, ketika membaca tulisan di blog saya yang bercerita tentang dia, yang terpaksa harus selalu saya print untuknya, karena dia terlalu sibuk untuk sekedar berkunjung ke blog saya. Saya bahkan kangen menerima balasan sms darinya yang biasanya baru dikirimnya menjelang tidur, setelah seharian saya menunggu-nunggu dengan kesal.
Tapi dia tak bergeming. Dia tetap tenggelam dalam kesibukannya. Sambungan yahoo messenger-nya tetap menampilkan status sibuk, sepanjang hari. Dia tidak sadar sama sekali bahwa kami tidak pernah menghubunginya. Bahkan ketika beberapa minggu berlalu, dia tetap tak bergeming. Padahal biasanya, akhir pekan adalah saat ketika dia akhirnya sadar akan keberadaan kami, biasanya dia akan tiba-tiba mengirimkan pesan yang isinya mengajak bertemu, lalu kami akan menghabiskan seharian bertiga sambil berbagi cerita yang seakan tak ada habisnya.
Lama-lama, saya tidak tahan lagi. Selain saya sangat merindukannya, saya jadi berpikiran buruk. Bagaimana kalau dia ternyata sedang ada masalah. Bagaimana kalau ternyata dia sedang tidak baik-baik saja. Sial, harusnya saya tidak perlu punya ide untuk berhenti menghubungi segala.
Akhirnya, tadi malam, tanpa minta ijin terlebih dulu pada sahabat saya yang satu lagi bahwa saya akan melanggar perjanjian, saya menelepon sahabat saya yang sibuk itu. Namun dia tidak mengangkat panggilan dari saya. Terus terang saya jadi agak gelisah. Tapi saya berkata pada diri saya sendiri, hari sudah larut malam, dia pasti sudah tidur. Apalagi, tidak menyadari bahwa telepon genggamnya berdering adalah kebiasaannya sejak dulu kala yang rasanya tidak bakal hilang sampai kiamat sekalipun. Lalu saya berangkat tidur.
Jadi, pagi ini, hal yang pertama kalinya ingin saya lakukan adalah menyapanya. Ketika saya melihat dia sudah tersambung di yahoo messenger, langsung saya menyapanya. Perduli setan dengan perjanjian. Hasilnya, dia tidak berubah. Tetap tidak menyadari usaha saya yang pura-pura ngambek. Tapi, dia bilang dia merindukan saya, dan ada banyak cerita yang ingin dibaginya. Jujur saya, waktu kami mengobrol, saya sibuk mengerjapkan mata saya yang basah.
Maka, sudahlah. Saya malas berdebat lagi. Saya malas ngambek lagi. Saya malas merindukan lagi. Saya malas tersiksa lagi. Saya tidak perduli apakah sahabat saya itu adalah orang yang paling sibuk sedunia, atau mungkin orang yang paling sombong sedunia, yang jelas saya sangat merindukannya. Dan di atas segalanya, dia adalah sahabat saya. Dan syukurlah bahwa dia baik-baik saja. Itu yang paling penting.
March 27, 2008
March 26, 2008
SEMPURNA
Dituliskannya rangkaian huruf itu.
Lengkap.
Dengan I dan A yang disatukan begitu dekat.
Tepat.
Tidak ada Y yang mengganggu diantaranya.
Sempurna.
Lengkap.
Dengan I dan A yang disatukan begitu dekat.
Tepat.
Tidak ada Y yang mengganggu diantaranya.
Sempurna.
Labels:
poem
March 25, 2008
CANTIK ADALAH SETIAP PEREMPUAN
Cantik adalah satu-satunya kata yang boleh diucapkan ketika hendak melukiskannya. Tidak melulu akibat sempurna parasnya, tapi lebih karena wajah itu adalah milik perempuan. Bukan hanya kepada kulit yang sepucat salju, karena perempuan akan tetap saja cantik dengan balutan coklat yang serupa sawo matang.
Meski bersimbah peluh dalam segenap pengabdian, perempuan akan selalu menjelma cantik. Pun ketika lantang dia menyuarakan isi hati kepada jagat raya, perempuan adalah cantik. Bahkan dalam tangis, dengan seluruh keperempuanannya, tidak pernah beranjak dia dari cantik.
Dan di atas segalanya, karena hanya melalui kedua kakinya sebentuk kehidupan dapat berlahiran ke dunia, dan karena tiap-tiap yang hidup itu pernah mencicipi kelembutan yang terbit dari balik dadanya, betapa cantik adalah setiap perempuan.
Meski bersimbah peluh dalam segenap pengabdian, perempuan akan selalu menjelma cantik. Pun ketika lantang dia menyuarakan isi hati kepada jagat raya, perempuan adalah cantik. Bahkan dalam tangis, dengan seluruh keperempuanannya, tidak pernah beranjak dia dari cantik.
Dan di atas segalanya, karena hanya melalui kedua kakinya sebentuk kehidupan dapat berlahiran ke dunia, dan karena tiap-tiap yang hidup itu pernah mencicipi kelembutan yang terbit dari balik dadanya, betapa cantik adalah setiap perempuan.
Labels:
poem
March 20, 2008
THE PAST
What you need to know about the past is that no matter what has happened, it has all worked together to bring you to this very moment. ~Author Unknown
Labels:
poem
March 09, 2008
(just a) Piece of Cake
Dinikmatinya pesta itu berdua,
disantapnya kue itu juga berdua.
Lalu, disisakannya remah-remahnya untuk saya.
Dibuang sayang, katanya.
Hahaha.
disantapnya kue itu juga berdua.
Lalu, disisakannya remah-remahnya untuk saya.
Dibuang sayang, katanya.
Hahaha.
Labels:
poem

