December 17, 2008

REMAH-REMAH DARI SURGA

Tiap kali pulang sekolah, aku dan Ibu selalu melewati toko kue.
Di etalasenya terpajang kue warna-warni menggoda.
Berkali-kali Ibu menawari aku untuk memilih salah satu.
Boleh yang merah, coklat, atau biru, Ibu akan membayarinya untukku.
Tapi entah mengapa aku tak pernah suka.

Hanya kue milik bibi tetangga, yang kurasa mampu menerbitkan selera.
Walaupun warnanya putih saja, tapi membuat aku amat tergoda.
Namun aku harus berbagi dengan putri bibi tetangga.
Yang memang untuknyalah bibi tetangga menghidangkan kue itu tiap hari jumat sore.

Harus selalu kutunggu putri bibi tetangga merasa kekenyangan.
Barulah aku diijinkan mengambil sepotong kue itu.
Namun pada kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi.
Putri bibi tetangga tidak penah menyisakan sepotong kue pun untukku.
Semua selalu disantapnya habis, hingga tinggal remah-remah di atas piringnya.
Sesuatu yang menurutku wajar saja, karena kue itu pasti nikmat rasanya.
Dan memang hanya untuknyalah bibi tetangga menghidangkan kue itu tiap hari jumat sore.

Sebelum bibi tetangga memindahkan piring kue itu ke bak cuci piring, aku selalu diizinkan untuk menikmati remah-remah yang tersisa.
Ibu mungkin akan marah jika mengetahui apa yang kulakukan.
Sementara beliau sanggup membelikan aku kue manapun yang dijual di toko, aku malah mengais remah-remah milik bibi tetangga.

Tapi aku tak perduli, kunikmati remah-remah yang lezat itu dengan penuh kebahagiaan.
Saking lezatnya remah-remah itu, pikiranku bahkan tak pernah sampai pada satu loyang yang sebelumnya dinikmati oleh putri bibi tetangga.
Aku tak pernah benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya menikmati kue itu dengan utuh, tanpa harus berbagi dengan orang lain.
Remah-remah itu sudah lebih dari cukup untukku.
Selalu bisa membuat perutku kenyang, dan hatiku bahagia.

Entah apa yang terkandung dalam adonannya.
Kurasa remah-remah itu berasal dari surga.

Desember 2008

December 16, 2008

SITUS JEJARING SOSIAL DAN TANGGUNG JAWAB YANG BERLEBIHAN

Sebagai seseorang yang lahir dengan menyandang gelar anak pertama, sekaligus cucu pertama, sudah menjadi sifat alamiah saya untuk selalu merasa bertanggungjawab terhadap segala hal di sekeliling saya. Mungkin itulah cikal bakal yang membuat saya cenderung ingin mengendalikan segala sesuatu.

Kebetulan sekali, saya juga adalah seorang paranoid. Menurut hemat saya, mencemaskan sesuatu adalah bagian dari tanggung jawab. Betapa pun rasa cemas tidak bakal bisa mengubah takdir. Betapa pun rasa cemas berbahaya bagi pikiran. Namun selama bertahun-tahun saya sudah terlanjur percaya, bahwa loving is worrying.

Sehubungan dengan dua gelar di atas tadi, saya memiliki begitu banyak adik. Baik adik kandung, maupun adik sepupu. Dari mulai balita, sampai abg yang masih sekolah. Dari mulai mahasiswa, sampai karyawan seumuran saya. Dan tidak satu pun dari mereka yang luput dari pemikiran berlebihan saya atas kecemasan dan rasa tanggung jawab.

Salah satu contoh, setiap kali saya mengabadikan tulisan pribadi di blog, yang langsung saya pikirkan adalah bagaimana tanggapan sepupu-sepupu abg saya apabila mereka membacanya. Apa yang ada di pikiran mereka saat mengetahui bahwa kakaknya ini menderita gara-gara rindu; bahwa kakaknya ini mengutuk-ngutuk tak karuan gara-gara putus cinta, bahwa kakaknya ini memiliki cinta aneh yang telah mengalami evolusi hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata; bahwa kakaknya ini belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan padahal dia sudah tua bangka; dan segala hal lainnya yang belum pantas mereka ketahui. Sehingga selama bertahun-tahun, saya selalu mengelak apabila abg-abg yang sudah fasih internet itu mengajak saya berteman lewat situs jejaring sosial.

Hal itu saya lakukan bukan karena ingin terlihat sempurna. Saya hanya merasa bertanggungjawab untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk dunia (baca: saya). Saya ingin mereka tetap polos dan cuma tahu soal PR dan Pramuka. Saya ingin mereka buta terhadap hidup yang sesungguhnya kejam. Saya ingin mereka buta terhadap cinta yang ternyata sanggup menyiksa sedemikian rupa. Atau setidaknya, memperlambat semuanya sampai tiba saat yang tepat bagi mereka untuk mengetahuinya. Betapa pun mereka bisa saja mengenal semuanya lewat sinetron murahan. Betapa pun mereka bisa mengenal semuanya lewat orang lain.

Dan sore ini, hal yang saya takutkan tiba juga. Salah satu sepupu kecil saya tercinta memaksa saya melakukan konfirmasi atas ajakan pertemanannya di salah satu situs jejaring sosial. Saya cemas sekali. Karena notes saya di sana sudah terlanjur dihiasi tulisan-tulisan cinta orang dewasa yang belum rela saya apabila dia membacanya. Dan kami akan bersinggungan hidup di dalam ruang maya yang sempit itu, di mana dia akan bisa menyaksikan dinding profil saya yang sewaktu-waktu bisa berisi komentar nakal, atau menyaksikan kelakuan menyimpang beberapa dari mereka yang tergabung dalam network saya, yang belum pantas diketahuinya.

Sampai detik ini, ajakan pertemanan itu masih terkatung-katung tanpa kepastian. Saya masih tidak tahu harus berbuat apa.

December 15, 2008

TOO MANY RATNA IN THIS WORLD

Pagi kemarin, saya kedapatan sms dari seorang teman, yang agak sulit saya menyebutnya. Bisa dibilang teman baru. Tapi lebih cocok lagi disebut teman lama.

Dia ini adalah teman satu sekolah semasa SMP. Saya tidak pernah berkesempatan mengenalnya lebih jauh selain secuil fakta mengenai nama lengkapnya. Sisanya, adalah opini saya pribadi berdasarkan pengamatan jarak jauh. Menurut saya waktu itu, teman saya ini adalah tipikal orang yang eksklusif, karena dia kelihatan membatasi diri dan cuma bergaul dengan kelompoknya.

Nah, beberapa bulan lalu, secara tidak sengaja, kami bersinggungan di salah satu situs pertemanan. Kalau tidak salah awalnya kami membahas musik — atau buku, saya lupa. Sejak saat itu, kami menyadari bahwa kami punya kesamaan minat, sehingga sering menyempatkan diri ngobrol-ngobrol via internet.

Pelan-pelan, opini masa sekolah saya tentang dia berguguran. Dia sedikit pun tidak sama dengan penilaian saya. Malah untuk beberapa hal tertentu, saya seperti melihat diri saya sendiri di dalam dia. Yang selama ini saya anggap sebagai eksklusifitas ternyata adalah persoalan chemistry. Sama seperti saya, dia punya mindset yang tidak biasa mengenai beberapa hal. Sehingga tentu saja sesuatu yang indah bernama chemistry itu tidak akan menampakkan diri apabila tidak diakomodir oleh entitas maha penting bernama mindset. Jadi, begitulah, sama seperti saya, dia tidak mudah bergaul akrab dengan semua orang. Terlihat seperti semacam kekakuan dalam pergaulan. Sesuatu yang tidak pantas dibanggakan, tapi saya percaya betul pada sebuah kalimat: we can’t be everyone’s friend. Demikianlah akhirnya dia resmi saya catat sebagai satu dari beautiful people.

Pada 8 Desember yang lalu, teman saya itu berulang tahun. Pagi-pagi saya ucapkan selamat lewat sms. Lalu dibalasnya dengan ucapan terimakasih. Tiba-tiba, pagi kemarin, dia mengirimi saya sms yang isinya cukup mengejutkan.

Wa Na tnyata ulangtaun kt deketan ya. Dan gw baru tau skrg klo kmrn was ur bday. Happy belated bday ya! Smoga sehat2 terus dan tmbh bijak. Have a nice year ahead.

Saya langsung heran. Karena hari itu jelas-jelas bukan hari ulang tahun saya. Namun meski heran kenapa dia bisa-bisanya salah informasi, tetap saja saya senang membaca smsnya. Atau lebih tepatnya saya GR. Hahaha. Selama beberapa detik saya senyum-senyum sendiri memandangi kata-katanya. Pikir saya waktu itu, kapan pun tanggalnya toh tidak ada bedanya, intinya dia mengingat hari kelahiran saya. Tapi rupanya, semesta tidak mengizinkan seseorang menikmati kegembiraan yang bukan haknya. Terbukti dari sms kedua yang menyusul tidak lama kemudian.

Err Na, sori salah Ratna! hehehe.

Kata-katanya singkat. Namun jelas dan padat. Sadarlah saya akhirnya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Rupanya dia telah memilih nama Ratna yang salah dari buku teleponnya. Sesuatu yang sama sekali tidak membuat saya heran mengingat ada banyak sekali Ratna di dunia ini. Jadi demikianlah, tulisan panjang yang melebar kemana-mana ini sebenarnya hanya ingin bercerita tentang betapa pasarannya nama saya. Heheheh.

December 09, 2008

KETIKA AYAH TIDAK DI RUMAH

Betapa pun Ayah tidak suka berlama-lama meninggalkan rumah, pada suatu hari beliau mendapat tugas dinas yang cukup jauh. Perginya bukan sekedar satu atau dua minggu, melainkan 70 hari. Tapi kami sekeluarga malahan menyambut gembira tugas dinas itu, karena Ayah bisa sekaligus beribadah di tempat dinasnya tersebut.

Demikianlah akhirnya Ayah berangkat meninggalkan rumah pada akhir Oktober yang hujan. Kami sekeluarga melepasnya dengan beribu doa agar beliau dapat melaksanakan tugas dengan baik, dan agar dapat kembali pulang dengan selamat.

Selama kepergian Ayah ke tempat yang jauh itu, jujur saja, suasana di rumah sepi dan muram. Pelan-pelan terasa, bahwa ketidakhadiran beliau menghadirkan dunia yang sama sekali berbeda bagi kami semua. Hingga hal-hal detil dalam hidup, kami terbiasa diurusi dan diperhatikan oleh beliau. Kalau Ayah sedang di rumah, kami jarang mau repot-repot mengecek kunci pagar dan pintu, karena kami tahu beliau akan melakukannya, sehingga kami langsung saja berangkat tidur dengan perasaan aman. Setiap jam makan siang, Ayah terbiasa menghubungi kami satu persatu dari kantornya, sekedar untuk menanyakan apa yang sedang kami lakukan. Jika malam hari kami tiba-tiba kepingin makan sesuatu, Ayah biasanya rela keluar rumah membelikan penganan yang kami inginkan. Ayah bahkan pernah menghubungi saya pada jam pulang kantor sekedar untuk mengingatkan agar saya mampir dulu di toilet sebelum pulang, karena kalau jalanan macet dan saya terpaksa terjebak di dalam bis kota, saya tidak perlu takut kepingin pipis. Begitulah kami: Ibu, saya, dan adik-adik. Semuanya serba Ayah. Betapa hidup kami sangat bergantung pada beliau.

Dan ketika Ayah tidak di rumah, semua hal tiba-tiba berubah. Saya jadi sering berangkat tidur dengan perasaan gelisah dan tidak aman. Saya jadi sering berangkat kerja dengan perasaan berat karena harus meninggalkan Ibu yang sendirian di rumah. Saya harus bisa menemani Ibu pergi ke undangan pernikahan tetangga. Saya harus bisa mengurusi selang air di halaman. Saya harus bisa mengurusi anak kunci yang hilang dan pergi membuat duplikat gantinya. Saya harus bisa mengurusi pembayaran tagihan telepon, tagihan listrik, dan tagihan air. Saya bahkan harus janjian dengan adik-adik kalau mau lembur bekerja, karena kalau kami pulang malam beramai-ramai sekaligus, Ibu akan tinggal sendirian di rumah, dan saya sangat menghindari itu.

Tentu saja kehadiran Ayah di rumah bukan hanya sebagai laki-laki yang mengurusi selang air, atau membelikan kami jajan di malam hari. Keberadaan beliau yang maknanya dalam bagi kami semua, sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya tak tersentuh bahasa. Yang pasti, tanpa kehadiran beliau kami persis anak ayam yang kehilangan induk, tak terkecuali Ibu. Tanpa Ayah, kami laksana orang yang berjalan pincang.

Akhirnya, mau tidak mau, ketidakhadiran beliau membuat saya banyak berpikir. Cepat atau lambat, saya harus siap menghadapi kehilangan yang sesungguhnya. Betapa pun selepas shalat saya selalu berdoa supaya Ayah dan Ibu dipanjangkan usianya, toh beliau berdua tidak akan hidup selamanya. Saya sering menggigil memikirkan kemungkinan itu, tapi suka atau tidak, hal itu pasti akan terjadi.

Namun di atas segalanya, di atas ketakutan apabila harus kehilangan suatu hari nanti, adalah keinginan saya untuk membahagiakan beliau berdua. Ayah dan Ibu tidak akan hidup selamanya. Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membahagiakan beliau berdua, akan saya lakukan.

Sekarang, sambil menanti Ayah pulang, saya akan belajar menggulung selang air di halaman, serapih mungkin, dan tanpa banyak mengeluh.

Desember 2008

December 05, 2008

CINTA INI TERLALU TUA BAGI HATIKU*

Cinta ini terlalu tua bagi hatiku.
Bertahun-tahun sudah dia hidup di dalamnya.
Dari semula kecil dan egois, hingga menjelma cinta yang tumbuh dewasa.
Jadi kurasa kini dia boleh pergi mengembara.

Namun rupanya cinta ini tidak mau beranjak.
Masih mau menetap nyaman, padahal dia sudah terlalu tua bagi hatiku.
Nampaknya baginya hatiku adalah rumah tempatnya berteduh.
Nampaknya baginya hatiku adalah Ibu tempatnya mengadu.

Dan diam-diam, aku setuju.

Desember 2008

*Diambil dari kalimat dalam cerpen Dewi Lestari: Curhat Buat Sahabat