Showing posts with label an unquiet mind. Show all posts
Showing posts with label an unquiet mind. Show all posts

May 12, 2010

CORALINE: A REVIEW



Perkenalan saya dengan gadis kecil bernama Coraline berawal tanpa sengaja. Saat itu saya baru saja selesai menonton film animasi Mary and Max. Setelahnya, saya ketagihan, dan hasil googling mempertemukan saya dengan film animasi lainnya berjudul Coraline.

Film ini diangkat dari sebuah buku anak-anak karangan Neil Gaiman. Karena satu dan lain hal, akhirnya saya malah lebih dulu mendapatkan bukunya daripada filmnya. Berkisah tentang Coraline, gadis kecil pemberani yang baru saja menempati flat baru bersama orang tuanya. Sebagai anak tunggal, ia sering merasa kesepian. Kedua orang tuanya sibuk bekerja, dan jika sedang tidak sibuk, Ayahnya suka memasak resep eksperimen yang sama sekali tak disukainya. Ia sering mengeluhkan keadaan di rumah yang menurutnya tidak menyenangkan.

Coraline yang suka bertualang akhirnya pergi menjelajahi kebun. Ketika semua tempat telah selesai dijelajahi, ia memutuskan untuk menjelajahi bagian dalam flat yang luas. Di dalam ruang duduk, Coraline menemukan pintu rahasia yang akhirnya membawanya ke sebuah tempat yang hampir-hampir tak ada bedanya dengan rumahnya sendiri. Benda-benda di dalam ruangannya sama. Karpetnya sama. Kertas dindingnya juga sama. Di rumah itu bahkan ada dua orang yang begitu persis dengan Ayah dan Ibunya. Yang lebih menyenangkan lagi, di sana Ayah dan Ibunya tidak sibuk bekerja, dan masakan yang tersedia jauh lebih lezat dibanding masakan Ayahnya yang aneh.

Awalnya Coraline luar biasa gembira berada di sana. Namun semuanya berubah jadi seperti mimpi buruk ketika Ibu yang satunya tidak memperbolehkannya pulang. Ia ingin memiliki Coraline. Ia bahkan menculik kedua orangtua Coraline yang asli. Coraline harus berjuang agar bisa mendapatkan kehidupannya kembali.

Pesan moral dalam cerita ini adalah agar kita berhati-hati dengan keinginan kita, karena kita bisa saja mendapatkanya, namun dalam bentuk yang sama sekali tak terduga. Jangan pernah mengeluhkan suatu keadaan, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok: keadaan jadi bertambah buruk, dan kita akan begitu merindukan apa-apa yang pernah kita keluhkan.

Cerita ini sangat memikat hati saya. Pengarangnya lebih dari cerdas dalam merangkai kata. Buku yang diciptakan untuk anak-anak ini sanggup menciptakan ketegangan yang bisa juga dirasakan oleh orang dewasa. Segalanya serba misterius dan membuat penasaran. Saya bahkan ikut-ikutan takut ketika Coraline mendapati Ayah dan Ibunya tiba-tiba hilang tanpa jejak.

Selesai dengan bukunya, saya wajib berburu filmnya. Pengisi suara Coraline diperankan oleh aktris cilik Dakota Fanning. Saya yakin filmnya tidak kalah menghibur. Kalau tidak percaya, silakan intip dulu trailer-nya di bawah ini.

Reply from NY

"..., the one who is perfect is the one who is standing next to her."

I know it's a bullshit, but still, i love it, it's a beautiful bullshit :)

April 28, 2010

BEEN THERE DONE THAT

Tadi pagi saya mampir ke bank terdekat. Biasa, tanggal-tanggal gajian memang waktunya untuk melunasi tagihan-tagihan. Salah satu tagihan yang saya selesaikan adalah tagihan pulsa yang saya bayarkan tiap bulan. Sesuai prosedur, di slip setor tunai, saya tuliskan alamat rekening dituju, nama pemilik rekening, dan nama saya selaku penyetor.

Teller yang menerima saya, jika ditilik dari wajahnya yang masih muda, dan dilihat dari pakaiannya yang hanya kemeja putih polos, saya duga statusnya masih training atau yang sejenisnya. Benar saja, dugaan saya terbukti. Dari awal hingga akhir kami bertransaksi, berkali-kali dia salah menyebut nama saya. Dia memanggil nama saya sesuai nama yang saya cantumkan di kolom pemilik rekening. Mungkin ia masih belum paham benar konsep setor tunai. Ia belum bisa membedakan yang mana pemilik rekening, dan yang mana penyetor uang.

Melihat itu semua, saya jadi teringat diri saya sendiri waktu pertama kali bekerja hampir lima tahun yang lalu: sarjana bau kencur yang tidak punya pengalaman sama sekali. Saya benar-benar tidak paham apa yang dimaksud dengan ordner. Saya tidak tahu cara mempergunakan mesin fax dan mesin fotokopi. Saya bahkan memberi tahu seseorang bahwa ada telepon yang berdering berkali-kali dan perlu diangkat, padahal itu dering mesin fax. Dan saya masih ingat betul closing pertama pada bulan pertama saya bekerja: saya dan pak bos lembur sampai tengah malam membetulkan hasil pekerjaan saya yang kacau semua. Haha.

Jadi, untuk teller barusan, tak usah berkecil hati. Saya maklum semaklum-maklumnya. Been there done that!

April 21, 2010

Selamat Hari Bumi

Seseorang yang tidak saya kenal bernama Marshall McLuhan pernah berkata, there are no passengers on Spaceship Earth. We are all crew. Dan saya setuju dengan perkataannya.

Karena itu saya mau mengingatkan: jangan mengandalkan petugas kebersihan, buang sendiri sampahmu ke tempatnya. We are all crew!

Selamat Hari Bumi.

Yuk mari.

April 20, 2010

I Understand

Berdasarkan pengalaman yang telah teruji berkali-kali, saya menyimpulkan bahwa ada dua jenis orang yang pada saat bersangkutan, mereka begitu ingin dimengerti, hanya ingin dimengerti:

1. Orang yang sedang hamil
2. Orang yang sedang mempersiapkan pernikahan

Berhubung saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya hamil dan mengalami serangan badai hormon yang luar biasa, juga belum punya rencana menikah dalam waktu dekat sehingga tidak punya bayangan sama sekali mengenai hidup di bawah tekanan persiapan pernikahan, maka saya tidak akan berpanjang kata.

Saya cuma mau mengerti.

Takut kualat. :D :D :D

April 16, 2010

I WILL GO TO TIMBUKTU SOMEDAY

Timbuktu's lovely women

Timbuktu adalah sebuah kota di Mali, Afrika Barat. Kota ini adalah rumah dari Universitas Sankore dan madrasah lainnya, dan juga, kota ini adalah pusat dari penyebaran Islam di Afrika pada abad ke-15 dan abad ke-16. 3 Masjid utamanya, Djingareyber, Sankore dan Sidi Yahya, mengingatkan kembali kepada zaman keemasan Timbuktu. Walaupun terus bangkit, monumen ini sekarang dibawah ancaman dari desertifikasi.

Kota ini dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Kota ini sering kali dibilang terletak di Sungai Niger, namun sebenarnya terletak 15 km utara sungai itu. Kota ini juga berada di daerah persimpangan dari Perdagangan Trans-Sahara baik dari barat ke timur, sampai utara ke selatan. Kota ini dulu dan sekarang, merupakan tempat penyaluran garam dari Taoudenni.

Letak geografisnya membuatnya sebuah tempat pertemuan alami bagi populasi Afrika di sekitarnya dan suku Berber yang nomaden dan orang Arab dari utara. Sejarahnya yang panjang sebagai pos perdagangan yang menghubungkan Afrika Barat dengan Berber, Arab dan Yahudi melalui Afrika Utara, dan juga secara tidak langsung dengan pedagang dari Eropa, telah memberikannya status fabel, dan di barat, dia merupakan sebuah metafora untuk tanah jauh yang eksotik. Kontribusi Timbuktu yang panjang kepada kebudayaan Islam dan dunia adalah pelajar.

Kontribusi Timbukti terhadap dunia Islam adalah ilmu pengetahuan. Pada abad ke-14 banyak buku penting ditulis dan dikopi di Timbuktu, membuat kota ini sebagai pusat tradisi tertulis penting di Afrika.

http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu
http://www.wildlifeadventures.com/Africa/images/timbuktu_mosque.jpg

April 14, 2010

Bookshelf of Osin


Our bookshelf at Omah Sinau.
Simply beautiful.

April 06, 2010

UGORAN PRASAD DAN MELANCHOLIC BITCH

Sensasi awalnya persis seperti ketika saya berkenalan dengan Zeke and the Popo: nama Melancholic Bitch luntang-lantung di hadapan saya sejak setahun terakhir, namun tak sekali pun membangkitkan rasa penasaran. Sampai akhirnya, saya mendengarkan album Starlit Carousel milik Frau -Regina Spektor dari Jogja- yang berduet dengan seorang laki-laki di lagu Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Suara laki-laki tersebut entah bagaimana caranya berhasil menggerakan mata saya untuk sejenak melirik namanya. Dialah sang vokalis Melancholic Bitch. Ugoran Prasad.



Mendapati nama Ugoran Prasad, kalau saya diizinkan untuk sedikit berlebihan, rasanya seperti menemukan kawan lama. Ialah penulis yang beberapa tahun silam sempat membuat saya bersungut sekaligus takjub dengan karyanya. Di Etalase, adalah novel debutannya yang waktu itu asal saja saya beli sebab tertarik dengan sampul depannya. Novel yang membuat saya mengumpatnya sebagai gila, dalam artian yang lebih cocok disebut pujian, karena isinya yang kelewat rumit.



Lalu di tahun 2005, Ugoran Prasad membuat kejutan dengan memenangkan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas lewat cerpennya yang berjudul Ripin. Cerpen sederhana tapi realistis dan bermakna dalam yang membuat saya takjub sebab ia berasal dari rahim yang sama dengan rahim yang telah melahirkan Di Etalase. Sejak saat itu, Ugoran Prasad tersimpan dengan indah di bagian belakang kepala saya. Lalu pelan-pelan dia redup tergerus berbagai macam informasi baru yang menerjang saya.



Sampai akhirnya, di awal tahun 2010, saya menemukannya kembali dalam Melancholic Bitch. Dan saya tenggelam dalam nostalgia yang dipenuhi banyak kejutan: Melancholic Bitch ternyata telah malang melintang di scene indie Jogja, jauh sebelum saya mengenal tulisan Ugoran Prasad. Saya juga menemukan sejumlah cerpen baru Ugoran Prasad yang bertebaran di dunia maya. Masih berbau-bau Melayu. Masih tentang orang-orang kampung. Masih dengan gaya khas yang sama.

Semuanya jadi makin menyenangkan, ketika Melancholic Bitch di mata saya pelan-pelan bukan lagi hanya tentang Ugoran Prasad. Saya cinta musiknya. Adalah Tentang Cinta, yang membuat saya pertama kali jatuh hati. Disusul oleh Mars Penyembah Berhala, yang menghadirkan sensasi seperti Koil, namun dengan dosis yang lebih manis. Terakhir, hati saya mentok di lagu Distopia, di mana Ugoran Prasad berduet dengan pesinden Silir Pujiwati. Di telinga saya, kalau saya masih diizinkan untuk bersikap berlebihan, lagu itu ibarat Zero 7 yang dikawinkan dengan Waljinah.



Demikianlah, Ugoran Prasad yang menulis sama indahnya dengan Ugoran Prasad yang bermusik.

February 25, 2010

A Dream Comes True


Omah Sinau a.k.a OSIN

(Thanks guys for the amazing collaboration)

February 17, 2010

Surat kepada Presiden: Pak, Saya Perlu Pemimpin yang Inspiratif

Pak Presiden, di paruh akhir 1990-an saya berjumpa dengan perempuan Iran penjaga stand pada pameran dagang negara-negara Islam yang digelar di Kemayoran. Pakaiannya menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, dan ia ramah sekali menjelaskan apa yang mereka bawa dalam pameran: hanya jagung. Memang, stand Iran waktu itu datang hanya untuk memamerkan jagung dan produk-produk turunan yang bisa dihasilkan dari jagung, seperti minyak, tepung, dan sebagainya.

“Hanya ini yang kami punya,” katanya. Tetapi suaranya terdengar gembira, mungkin bahkan bangga.

Kesulitan setelah perang delapan tahun melawan Irak, yang didukung oleh AS, masih terasakan di negeri bangsa Arya itu. Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya melancarkan embargo yang membuat perekonomian Iran tersuruk-suruk. “Kami hidup dari apa yang kami punya,” kata penjaga stand itu, “dan mengolah sebaik-baiknya apa yang ada di negeri kami. Hari ini kami hanya punya jagung dan kami bisa bangkit dari jagung milik kami.”

Ia menjadi kian bersemangat ketika membicarakan bagaimana mereka menghadapi embargo. Katanya, dulu Imam Husein juga dikepung musuh di padang Kerbala dan tak bisa mendapatkan bahan makanan di tengah kepungan musuh. Namun cucu Nabi itu tak pernah menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. “Sekarang kami hanya mencontoh apa yang dilakukan oleh cucu Nabi,” katanya. “Ia teladan kami; ia pemimpin kami.”

Kami bercakap-cakap tidak lama, tetapi ia memberi sesuatu yang inspiratif dan saya selalu bisa mengingatnya sampai sekarang. Perempuan penjaga stand itu juga dengan ringan hati menceritakan bahwa negaranya sedang miskin. Dan kondisi itu disadari sepenuhnya oleh seluruh warga. Pemerintah Iran waktu itu membuat pengakuan kepada seluruh warganya tentang kondisi negara mereka dan kemudian melakukan “kampanye miskin”. Dan saya kira mereka beruntung punya teladan dalam diri Imam Husein.

Anda tahu, Pak Presiden, kampanye semacam ini dengan sendirinya efektif untuk mengusir nafsu-nafsu hedonistik para pejabat publik. Kemabukan akan kemewahan niscaya akan tampak memalukan dan sama sekali tidak punya tempat di sana. Saya yakin tak ada tuntutan-tuntutan berlebihan oleh pejabat publik di saat pemerintah membuat pengakuan kepada warganya bahwa negara sedang miskin. Yang terpenting dari itu, pemerintah sendiri rasa-rasanya agak musykil untuk membelanjakan uang negara demi mobil mewah menteri-menteri atau anggota parlemen. Mereka akan menjadi orang-orang yang memalukan jika di mata publik tampak sebagai orang-orang yang serakah.

Sekarang, kita tahu, Iran bisa bangkit dari rongrongan embargo, dengan tetap gagah. Dan mereka benar-benar bangkit dengan bertumpu pada apa yang mereka punya. Ketika politik membuat negeri itu dikucilkan, diplomasi budaya membuat mereka diterima dengan hangat. Sejak beberapa tahun lalu dunia bisa menyaksikan para sineas mereka menghasilkan film-film yang menakjubkan. Dari sanalah antara lain mereka memasuki pergaulan dunia.

Tak lama setelah pertemuan dengan penjaga stand itu, Pak Presiden, saya membaca berita kecil tentang salah seorang wakil presiden Iran yang berangkat ke kantornya dengan bersepeda. Orang-orang lain segera mengikutinya. Lalu mereka dengan mudah membuat kebijakan bahwa hari Rabu adalah hari bersepeda. Orang-orang mematuhi kebijakan itu dengan senang hati.

Sampai sekarang sesungguhnya saya tak terlalu mengenal Iran, tidak khusus menekuni seluk-beluk negara itu atau Islam syiah yang mereka anut, dan hanya suatu ketika pernah berjumpa dan bercakap-cakap dengan penjaga stand. Namun itu pembicaraan yang terus bisa saya ingat dan, terus terang, “kampanye miskin” yang disampaikannya benar-benar melekat di pikiran saya. Menurut saya itu kebijakan brilian yang bisa disetarakan dengan “New Deal”-nya Franklin Delano Roosevelt ketika Amerika menghadapi depresi besar pasca Perang Dunia I.

Begitulah, Pak Presiden, saya pikir dalam situasi sulit yang diperlukan memang pemimpin yang sanggup memberikan inspirasi melalui kebijakan yang ia tawarkan. Dengan pemimpin semacam itu orang-orang yang paling kesulitan pun bisa memiliki keparcayaan diri untuk bangkit. Sebaliknya, pemimpin yang terlalu defensif hanya akan mengundang kesulitan bagi diri sendiri, dan juga bagi warganya.

Salam dari saya,

A.S. Laksana

http://www.detiknews.com/read/2010/02/12/104523/1298151/103/pak-saya-perlu-pemimpin-yang-inspiratif

PS. Dengan sangat terpaksa, saya akhirnya menodai blog ini dengan mengkopi tulisan yang agak berbau politik. Setelah muak dengan perasaan pesimis yang selalu dan selalu muncul tiap kali selesai membaca surat kabar dengan berita-beritanya yang bikin miris, saya tidak kuasa untuk tidak mengabadikan tulisan AS Laksana yang sangat mencerahkan ini. Saya tidak perduli apakah kolom Surat Kepada Presiden yang selalu rajin saya baca itu mengandung unsur propaganda politik atau apa, tapi yang baik-baik di dalamnya, pasti akan saya ambil.

January 02, 2010

PERCERAIAN DI MATA IBU MANAJER

Pada suatu pagi, saya mendengar Ibu Manajer menerima panggilan di ponselnya. Biasanya, beliau selalu ramai lagi penuh canda tawa tiap kali ngobrol-ngobrol di telepon. Tapi pagi itu, berbeda dari biasanya, beliau bicara sambil merendahkan suara. Dari gayanya, nampak pembicaraan itu cukup serius.

Sambil bekerja, terdengar oleh saya sayup-sayup kalimat yang terlontar dari mulut Ibu Manajer. Meski saya sama sekali tidak berniat menguping pembicaraan beliau, jarak meja kami yang berdekatan memungkinkan saya mendengar segalanya, sepelan apapun Ibu Manajer merendahkan volume suaranya.

Dari potongan-potongan kalimat yang terucap, Ibu Manajer dan si penelepon di seberang sana tampak sedang berbicara tentang urusan perceraian. Mungkin si penelepon tersebut sedang punya masalah rumah tangga, lalu minta saran pada Ibu Manajer.

Ibu Manajer saya, di umurnya yang hampir menginjak kepala empat, sama sekali belum pernah menikah. Dan seperti pernah saya ceritakan di waktu dahulu, beliau sama sekali tidak anti, atau menghindari, atau membenci, hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan maupun perceraian. Beliau bersikap begitu wajar, sewajar perawan usia tujuh belas yang belum menikah karena memang belum ketemu jodohnya.

Setelah beberapa saat menyimak ucapan si penelepon di seberang sana, Ibu Manajer dengan enteng merendah:

“Wah, kamu serius mau percaya sama nasehat saya tentang perceraian? wong saya ini kan belum menikah, masa sudah ditanya-tanya soal cerai,..” ujar beliau kemudian tertawa berderai-derai.

Agaknya, si penelepon di seberang sana ngotot minta nasehat Ibu Manajer, hingga akhirnya dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya, beliau berujar dengan kalimat yang kira-kira begini bunyinya:

“Cobalah jangan pikir soal cerai, hanya karena semata-mata kalian dibolehkan bercerai. Coba pikir ikatan kalian itu seperti ikatan saudara, mau ribut kek, mau benci kek, ya harus belajar terima apa adanya, wong gak bisa cerai.”

Demikianlah kalimat pamungkas Ibu Manajer sebelum akhirnya pembicaraan itu selesai. Kalimat naif yang diucapkan oleh seseorang yang belum pernah menikah. Dan saya, setuju seribu persen dengan beliau. Kenapa? Karena saya ngefens sama beliau. Karena saya percaya beliau bijaksana. Karena beliau telah menyebutkan kata kuncinya: belajar terima apa adanya. Terakhir, ya mungkin karena kami sama-sama naif, wong kami sama-sama belum menikah. :-P

December 04, 2009

KISAH SEPATU BARU

Ceritanya, saya baru beli sepatu. Sepatunya sih, sepatu biasa. Harganya juga biasa, harga standar sepatu. Modelnya apalagi, sangat biasa. Saya tidak tahu nama apa yang pantas disebut untuk sepatu model begitu, pokoknya bukan sepatu berhak yang punya lekuk-lekuk anggun.



Yang menjadikannya luar biasa adalah, kenyataan bahwa sepatu yang baru saya beli itu hampir-hampir sama persis model dan warnanya dengan sepatu lama saya. Entah bagaimana caranya, sejak lama saya tergila-gila pada model sepatu macam begitu.



Lihatlah betapa busuknya sepatu lama saya di atas. Berbulan-bulan saya ngotot mempertahankannya, mungkin jauh melebihi waktu guna pakainya, sebab belum menemukan lagi model yang serupa dengannya, dan yang senyaman dirinya.

Beberapa kawan kantor tak hentinya terbahak geli melihat loyalitas saya terhadap satu buah model sepatu, apalagi ini bukan kali pertama saya berbuat begitu. Buat saya, itulah model sepatu tercantik di dunia.

Yah, mungkin ini cuma masalah selera, atau memang saya kelewat setia, atau mungkin sepatu model begitu nyamannya kelewatan, atau karena saya ini adalah perempuan yang membosankan. Yang pasti, mau tak mau saya terbahak juga demi melihat betapa miripnya mereka saat benar-benar sudah disandingkan. Hahaha.



Those must be comfortable shoes, I bet you could walk all day in shoes like those and not feel a thing.

(Forrest Gump)

December 02, 2009

BERKACA PADA PENJUAL DVD BAJAKAN

Saya bukan penggemar berat film. Bukan jenis orang yang saban akhir pekan rajin mengunjungi bioskop, lantas getol berburu DVD apabila tak sempat nonton di bioskop. Tapi setiap kali mengunjungi penjual DVD bajakan yang banyak tersebar di mal maupun di pinggir-pinggir jalan, selalu saya dibuat takjub oleh mereka.

Para penjual DVD selalu tampak begitu menguasai pekerjaannya. Apapun yang saya minta, judul apapun yang saya sebutkan, selalu direspon dalam waktu yang sedemikian singkatnya. Sebut saja misalnya, saya minta dicarikan film My Life Without Me yang diproduksi sekitar enam tahun yang lalu, si penjual DVD akan dengan sigap meraih tumpukan film yang diawali dengan abjad ’M’ kemudian secepat kilat menarik film tersebut keluar dari bagian belakang tumpukan.

Ajaib, hampir-hampir seperti sulap. Bagaimana penjual DVD tersebut tahu dengan pasti bahwa diantara sekian puluh film yang diawali dengan huruf ‘M’, film yang saya maksud berada di tumpukan bagian belakang? mungkin dia menghafalnya, mungkin pula ada klasifikasi tingkat kedua yang didasarkan pada tahun keluaran film, atau berdasarkan huruf kedua, semisal: M-A, M-B, dan seterusnya. Hanya penjual DVD yang tahu rahasianya. Yang pasti, ada hal baik yang bisa saya petik dari sana. Betapa penjual DVD bajakan sangat menguasai pekerjaannya. Ada rencana matang yang disusun sebelum dagangan itu siap digelar, ada pengklasifikasian yang memudahkan, ada kesigapan yang efektif dan efisien, padahal segala sesuatunya dilakukan secara manual.

Saya tidak hendak menganjurkan anda untuk berhenti belanja DVD original lalu beralih pada yang bajakan. Saya pun tidak lantas pro terhadap pembajakan. Namun mari sejenak kita renungkan, jika profesi yang tergolong dalam ranah ilegal itu sedemikian sanggup mengusung efektifitas, dan sedemikian berdedikasi untuk memuaskan hati pelanggan, bagaimana dengan kita yang mungkin berprofesi jauh lebih baik daripada hanya sekedar penjual DVD bajakan. Bagaimana dengan saya, karyawan swasta di perusahaan jasa yang ternyata orientasi utamanya tiba di kantor lebih awal adalah untuk main farmville? Bagaimana dengan anda, pegawai puskesmas yang butuh waktu lebih dari setengah jam hanya untuk mengukur tekanan darah pasien? Bagaimana dengan Jasa Marga, yang menciptakan jalan bebas hambatan justru untuk membunuh pelan-pelan pengguna jalan dalam kemacetan?

Sebab itu, kalau anda sedang berjalan-jalan di sekitar kolong jembatan Benhil, misalnya, cobalah tengok sebentar sekumpulan penjual DVD bajakan yang mangkal di sana, tak perlu belanja kalau anda tak hendak membeli produk bajakan, perhatikan saja baik-baik ritme kerja mereka yang begitu efektif, dengan senyum dan semangat untuk memuaskan pelanggan. Berkacalah sejenak dari mereka. Terdengar konyol dan ironis, mungkin. Tapi demikianlah adanya.

October 30, 2009

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)

Sehubungan dengan lowongan CPNS yang sedang marak dimana-mana, berikut saya tuliskan hal-hal yang diperlukan untuk mendapatkan selembar kertas bernama Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK):
* Fotokopi KTP
* Surat pengantar dari kelurahan
* Foto berwarna ukuran 4×6 (tiga lembar)

Tapi, kalau anda hanya mau memperpanjang surat yang sayangnya cuma berlaku tiga bulan tersebut, berikut syaratnya:
* Fotokopi KTP
* SKCK lama
* Foto berwarna ukuran 4×6 (dua lembar)

Semua data di atas adalah valid, sebab saya lihat sendiri pengumumannya yang ditempel di loket. Oh ya, jangan tanya berapa biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan SKCK, karena berbeda dengan syarat-syarat di atas, saya tidak pernah menemukan informasi resmi mengenai ini.

Pengalaman saya yang terakhir sih, selesai mengurus perpanjang dan melegalisir surat, si petugas bergumam tidak jelas sambil celingak-celinguk resah, yang isi gumamannya saya sinyalir sebagai berikut: bayar seikhlasnya saja.

Kemudian saya rogoh dompet, kebetulan cuma ada selembar lima puluh ribu di sana, lalu menyerahkannya pada si petugas sambil bilang, ambil sepuluh ribu Pak. Tak diduga, masih dengan tampang resah, si petugas menolak uang saya dengan alasan repot mengambil kembalian, lantas saya disuruhnya menukarnya dulu menjadi recehan.

Yah, berhubung perintahnya tadi cuma bayar seikhlasnya saja, saya kok ya tiba-tiba jadi tidak ikhlas kalau harus berepot-repot dulu merecehkan uang tersebut. Akhirnya, saya putuskan langsung meloyor pulang saja.

Akhir kata, selamat mengurus SKCK, kawan-kawan!

October 12, 2009

MAGIC INSIDE HIS VOICE

Beberapa waktu lalu, Bapak Ibu saya pulang kampung alias mudik. Tinggalah saya dan adik-adik dipercayakan menjaga rumah. Namun pada prakteknya, saya lebih sering berada sendirian di rumah ketimbang bertiga. Sebab adik saya yang perempuan sering bolak-balik ke luar kota, sementara adik saya yang laki-laki, sudah sejak lama punya jadwal menginap di tempat kos kawannya — maklum, dia punya kebiasaan terlambat kuliah yang cukup menimbulkan masalah.

Pada suatu malam di mana saya harus tidur sendirian di rumah, komplek perumahan saya terkena giliran pemadaman listrik. Sayangnya saya terlambat mengetahuinya. Kalau saja saya sudah mengetahuinya sejak sore, tentulah saya akan tinggal dulu di kantor, atau menghabiskan waktu kemana saja supaya tidak perlu tinggal sendirian di rumah.

Waktu malam itu saya turun dari bis kota, suasana sudah gelap gulita. Hujan pula. Sempat terpikir oleh saya untuk mampir saja ke rumah sahabat saya yang masih berada satu area. Tapi saya pikir-pikir lagi, tentu merepotkan kalau saya bertamu di saat mati lampu. Akhirnya, saya teguhkan hati untuk langsung pulang.

Sampai di depan pintu, terus terang tekad saya agak goyah demi membayangkan di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Saya takut. Tapi, yah, biar bagaimanapun keadaannya, lebih aman ya berada di dalam rumah sendiri, pikir saya. Dalam kegelapan, saya meraba-raba lilin di lemari dapur. Di saat kebingungan kemana hendak mencari api untuk menyalakan lilin, terdengarlah dari kejauhan suara tukang sate yang biasa lewat di depan rumah. Langsung saya hadang gerobak satenya, minta dinyalakan lilin, sekaligus memesan satu porsi untuk makan malam. Sambil berusaha tabah saya nikmati sepiring sate tersebut di tengah cahaya lilin. Terdengar sungguh mengenaskan, tapi memang begitulah kenyataannya malam itu: saya ketakutan.

Lantas, daripada meringkuk sendirian di tengah kegelapan, saya putuskan untuk mengobrol saja dengan Bapak atau Ibu saya di telepon. Biasanya, kalau sudah mendengar suara Bapak saya yang tenang itu, keadaan seberat apapun jadi terasa ringan.

Benar saja, demi mendengar suara beliau nun jauh di seberang sana, saya langsung merasa tenang. Suara itu sanggup mengubah suasana hati jadi jauh lebih baik. Bahkan belum sampai sepuluh menit kami mengobrol, tiba-tiba lampu menyala. Ajaib.

Dan sejak saat itu saya percaya, bahwa mungkin, memang ada semacam keajaiban di balik suaranya.

September 06, 2009

MUSEUM ULLEN SENTALU


Terus terang, baru setahun terakhir ini saya mengetahui di pojokan yang sepi di daerah Kaliurang-Jogjakarta, berdiri sebuah museum cantik bernama Ullen Sentalu. Seorang kawan untuk pertama kali bercerita tentang segala keindahannya, sambil menjamin bahwa saya pasti akan suka pada museum tersebut.

Sayang, beberapa orang yang saya anggap cukup mengenal Jogja, tidak mengetahui keberadaan museum tersebut. Lewat milis dan blog para traveler baru saya tahu bahwa museum yang asing di mata orang ’awam’ tersebut rupanya telah ramai dibicarakan di kalangan pewisata budaya.

Pada pertengahan tahun ini, akhirnya saya berkesempatan jalan-jalan ke Jogja. Agenda nomor satu dalam perjalanan tersebut adalah mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Saya dan dua sahabat berangkat ke Kaliurang diantar mobil oleh kerabat dari sahabat saya.

Perjalanan menemukan museum tersebut di dalam kompleks wisata Kaliurang tergolong sulit, karena letak museumnya yang agak terpencil. Kerabat sahabat saya yang adalah orang asli Jogja bahkan sama sekali tidak mengetahui keberadaan museum tersebut, baru ketika telah sampai di depannya dia menyadari bahwa dulu sekali rupanya dia sudah pernah datang ke sana untuk mengantar kawannya.

Museum Ullen Sentalu berdiri tegak di dataran yang agak menanjak. Untuk sampai di pintu masuknya, harus melewati beberapa anak tangga dari semen. Pintu masuk dijaga oleh seorang pria berbatik yang pendiam dan tidak banyak berbasa-basi.

Waktu kami tiba di sana, tampak beberapa kelompok kecil keluarga, dan serombongan anak muda yang tengah menunggu di halaman. Rupanya saat itu museum sedang mati listrik. Menurut si penjaga berbatik, di daerah Kaliurang memang sering terjadi mati listrik, yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya dan berapa lama. Dan sayangnya, museum ini tidak dilengkapi dengan mesin genset.

Karena sudah terlanjur berhasrat untuk melihat isi di dalamnya, saya dan para sahabat memutuskan menunggu bersama rombongan lain di halaman. Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya listrik menyala. Dengan tiket seharga Rp. 25.000/ orang, kami serombongan masuk dengan disambut oleh seorang pemandu perempuan yang juga berbaju batik.

Sampai di dalam barulah saya tahu, kenapa pihak museum tega membuat kami semua yang datang dari jauh, menunggu sampai listrik benar-benar menyala. Tanpa lampu, ruangan di dalam museum gelap layaknya terowongan. Ada aroma-aroma tertentu yang membuat kami seperti berada di dalam gua sejarah. Meski udara sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan, suasana terasa hangat sebab cahaya lampu dibuat jatuh temaram.

Pemandu kami memperkenalkan diri dengan logat jawa halus. Meski tidak menggunakan mikrofon, suaranya terdengar jelas sebab rombongan kami tertib dan larut dalam suasana yang teduh. Dia menjelaskan susunan pemilik dan pengelola museum tersebut yang rupanya bukan pemerintah.

Kemudian dia menerangkan bahwa Ullen Sentalu adalah museum sejarah budaya jawa. Nama Ullen Sentalu sendiri berasal dari kata bahasa jawa Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, yang artinya kurang lebih: Pelita Kehidupan.

Kami dibawanya menyusuri satu persatu bagian lorong. Di sepanjang dinding berderet lukisan dan foto para raja dan permaisuri keraton beserta keluarganya. Spot pertama bercerita tentang Gusti Nurul yang adalah putri dari Mangkunegara VIII. Beliau pintar main piano dan menari, sekaligus pandai berkuda. Saat ini beliau telah berusia sekitar delapan puluh tahun, dan tinggal di Bandung.

Satu persatu anggota keluarga keraton dijelaskan oleh pemandu kami. Berderet foto perempuan keraton dengan masing-masing karakternya yang mengagumkan, dalam bermacam-macam busana tradisional jawa, begitu menghipnotis saya. Rasanya seperti tengah berada di jaman lampau. Pikiran saya berkelana jauh membayangkan diri saya duduk di ruangan yang sama dengan mereka. Momen berkhayal di dalam museum itu waktu itu, sungguh tak terlupakan.

Spot lain berisi puluhan model kain batik kuno, dan pemandu kami menjelaskan tentang segala macam nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Bermacam corak batik yang indah dan langka terhampar di hadapan saya dengan begitu mengagumkan.

Salah satu spot yang paling berkesan adalah sebuah lukisan tentang sembilan perempuan keraton yang tengah khusyuk menarikan tarian Bedhaya Ketawang. Pemandu kami menjelaskan, tarian tersebut adalah tarian sakral yang tidak sembarang putri keraton boleh dan bisa menarikannya. Tariannya panjang dan rumit, dan hanya bisa ditarikan oleh orang-orang pilihan.

Menurut kepercayaan, tiap kali tarian itu dipertunjukan, Kanjeng Ratu Kidul akan datang berkunjung untuk menyaksikannya, dan ikut menari sebagai penari yang kesepuluh. Dalam hati saya bercita-cita, semoga satu kali saja seumur hidup, bisa berkesempatan menyaksikan tarian tersebut, entah bagaimana caranya.

Tapi di atas segalanya, bagian favorit saya adalah sebuah ruangan yang di dalamnya penuh dengan pigura berisi macam-macam surat. Menurut keterangan pemandu, surat-surat tersebut adalah surat pribadi yang ditulis tangan oleh keluarga keraton untuk seorang anggota keluarga yang tengah putus cinta. Ada yang berbahasa indonesia, ada pula yang berbahasa belanda. Isinya nasehat berisi kata-kata mutiara untuk menghibur hati. Kebanyakan dikirim dari anggota keluarga yang tengah jauh bersekolah di negeri belanda.

Ruangan itu jadi favorit saya karena di dalam sana pengunjung seperti diajak untuk mengenal putri-putri keraton itu jauh lebih dalam, hampir-hampir secara personal. Tidak ada yang bisa lebih mewah dari diizinkan mengetahui hal yang bersifat pribadi dari orang lain, apalagi surat-surat itu berasal jauh dari lembaran sejarah. Putri-putri keraton itu pandai sekali menulis kata-kata, hampir semuanya puitis dan filosofis bak Kahlil Gibran. Belum lagi tulisan tangan ala jaman dulu kala yang bersambung miring. Saya sampai ketinggalan rombongan karena tidak mau melewatkan barang satu kata pun dari surat-surat itu.

Akhirnya tur satu jam di dalam Museum Ullen Sentalu selesai sudah. Waktu satu jam benar-benar pilihan yang paling tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Setelah berjalan melewati ruangan demi ruangan yang naik turun karena dibuat untuk menyesuaikan dengan kontur daerah Kaliurang yang memang naik turun, sampailah kami di ruangan terakhir di mana kami dijamu dengan minuman tradisonal keraton semacam teh.

Sambil istirahat dan menikmati minuman, sekali lagi saya mengedarkan pandang ke segala penjuru museum. Museum Ullen Sentalu adalah museum dengan interor paling indah yang pernah saya lihat. Oh ya, satu hal yang lupa saya ceritakan, pemandu kami bahkan tidak pernah lupa mematikan lampu dan pendingin ruangan manakali kami hendak berpindah ke rungan lain. Tidak ada aliran listrik yang dibiarkan percuma. Betapa museum ini telah dikelola dengan baik sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.

Kalau ada orang yang berpikir bahwa bukan orang jawa sia-sia saja mendatangi museum sejarah budaya jawa ini, orang itu sungguh merugi. Sejarah itu milik setiap orang, untuk diambil segala hal yang baik-baik tentangnya. Kunjungan ke museum ini tidak pernah membuat saya berpikir bahwa suku jawa jauh lebih baik ketimbang suku-suku lainnya, ataupun sebaliknya. Museum ini ditujukan untuk orang-orang yang mau belajar dari dan tentang sejarah, juga untuk mereka yang menikmati dan menghargai keindahan.

Ah, jadi teringat saya pada kawan berjasa yang telah memperkenalkan saya pada museum ini. Betapa dia salah besar, bukan hanya saya sekedar suka, melainkan jatuh cinta pada Museum Ullen Sentalu.

September 05, 2009

CARD KEEPER

Karena kartu telepon genggamnya tidak bisa digunakan selama berada di New York, sahabat saya menitipkan kartu itu kepada saya dan sahabat saya yang satu lagi. Pada saat kepulangannya ke tanah air kelak, dia bercita-cita untuk terus menggunakan kartu yang sudah dipakainya selama hampir delapan tahun tersebut.

Dia meminta tolong kepada kami, untuk rajin-rajin mengecek masa kedaluwarsa kartu telepon genggamnya, lalu berjanji untuk mengirim sejumlah uang guna membeli isi ulang kartu tersebut. Supaya tidak mubazir, kami sepakat menggunakan pulsa kartu tersebut untuk meneleponnya ke New York.

Karena dianggap lebih peka terhadap urusan-urusan macam begitu, didaulatlah saya untuk menyimpan kartu tersebut. Sebenarnya sih, saya agak cemas, takut kartu tersebut hilang atau apa. Tapi sahabat saya yang satu lagi bersikeras mempercayakannya pada saya.

Jadi, sekarang, kartu itu tersimpan di bagian dompet saya yang paling aman. Kalau sedang teringat akan keberadaan kartu tersebut, di malam hari saya sering sengaja mengecek dompet untuk memastikan bahwa kartu itu masih berada di tempatnya, lalu berangkat tidur dengan lega demi mengetahui dia masih berada di sana. Ajaib, betapa benda semungil itu sanggup membuat saya merasa jadi seseorang yang amat penting.

September 04, 2009

HATRED

Maybe it’s just me but I could sense hatred there
and i don’t think it’s something that i deserve.

September 03, 2009

Saturday Morning Story

Sudahkah saya bercerita tentang kelanjutan kisah Ayah saya yang pergi dinas ke tempat jauh, hampir setahun yang lalu itu?

Singkat cerita, Ayah saya telah pulang ke tanah air dalam keadaan selamat, tidak kurang suatu apa. Kehidupan kami pun kembali normal seperti sedia kala. Saya sudah bisa tidur nyenyak lagi. Rumah kami sudah ramai kembali. Sementara Ayah saya, masih tetap seperti yang dulu: galak kalau sedang marah, lucu dan ajaib kalau sedang tidak marah.

Tidak percaya kalau Ayah saya masih seperti yang dulu? biar saya ceritakan sepotong kisah yang terjadi beberapa minggu sebelum ramadhan.

Saat itu, saya dan Ayah saya sedang menikmati sabtu pagi di halaman. Saya sambil mengepel lantai teras. Ayah saya sambil duduk santai menghadap ikan-ikan di dalam akuarium. Tak lama, datang tetangga sebelah mengucap permisi di depan pagar, lantas menghambur masuk ke dalam teras. Ia mampir mengantarkan sepiring ketan untuk sarapan pagi, kemudian pamit setelah piring ketannya saya terima dengan ucapan terima kasih.

Sepulangnya sang tetangga, Ayah saya kumat anehnya.

Ayah saya: wah, pagi-pagi ada tetangga nganterin makanan, kamu yang untung (nyeletuk tiba-tiba)
Saya: untung? kenapa? kan aku gak doyan ketan
Ayah saya: iya, untung kamu lagi ngepel, pasti langsung disangkain rajin (tanpa dosa)
Saya: … (cck cck cck)

Hahaha.

Apa saya bilang, Ayah saya masih seperti yang dulu.

PS. Jadi teringat lirik lagunya Dian Pisesha: aku masih seperti yang dulu (yang waktu saya SD lagu-lagunya selalu diputar Ayah saya setiap hari sampai akhirnya saya hafal liriknya satu album)




image from: http://ti4n81.multiply.com/photos/album/4/Dian_Pisesha

August 18, 2009

THE HOLY LONELY PLANET

Semenjak berkenalan dengan Mbak Trinity lewat bukunya The Naked Traveler beberapa bulan yang lalu, saya dan adik saya yang perempuan akhirnya jadi ikut mengenal si buku panduan perjalanan bernama Lonely Planet yang kondang itu.

Berdua kami pernah tertawa geli membaca sebuah artikel, yang menceritakan tentang warung makan kecil nan sederhana di belahan dunia lain, yang ramai dikunjungi oleh para backpacker ‘cuma’ gara-gara warung tersebut direkomendasikan di dalam Lonely Planet. Sementara warung makan saingan yang berdiri di sebelahnya, sibuk membujuk pelanggan lain dengan berjanji bahwa mudah-mudahan tempat mereka sudah akan masuk di Lonely Planet edisi berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu, adik saya perempuan pergi liburan ke Jogja bersama kawan-kawannya. Di perjalanan, dia melihat seorang perempuan yang penampilannya kurang lebih persis seperti TKW yang sering terlihat di tivi. Tapi, yah, TKW atau bukan TKW, adik saya sih tidak ada masalah sama sekali dengan semua itu. Dia kembali duduk manis menikmati perjalanan.

Tiba-tiba, adik saya melihat perempuan yang diduga kuat sebagai TKW itu, mengeluarkan Lonely Planet dari dalam tasnya. Tidak jelas edisi yang mana, tapi pokoknya adik saya yakin betul bahwa buku itu adalah kitab panduan yang kondang tersebut.

Mendadak, pandangan adik saya terhadap perempuan itu berubah drastis. Dibayangkannya bahwa perempuan itu mungkin adalah backpacker yang sudah keliling Indonesia. Sudah merambah pulau-pulau terpencil nan eksotis. Dan ketika diceritakannya hal itu pada saya saat sudah tiba di rumah, kami berdua lagi-lagi tertawa geli. Kali ini menertawakan dia, yang rupanya sudah ikut terkena sihir si kitab kondang itu.