December 17, 2008

REMAH-REMAH DARI SURGA

Tiap kali pulang sekolah, aku dan Ibu selalu melewati toko kue.
Di etalasenya terpajang kue warna-warni menggoda.
Berkali-kali Ibu menawari aku untuk memilih salah satu.
Boleh yang merah, coklat, atau biru, Ibu akan membayarinya untukku.
Tapi entah mengapa aku tak pernah suka.

Hanya kue milik bibi tetangga, yang kurasa mampu menerbitkan selera.
Walaupun warnanya putih saja, tapi membuat aku amat tergoda.
Namun aku harus berbagi dengan putri bibi tetangga.
Yang memang untuknyalah bibi tetangga menghidangkan kue itu tiap hari jumat sore.

Harus selalu kutunggu putri bibi tetangga merasa kekenyangan.
Barulah aku diijinkan mengambil sepotong kue itu.
Namun pada kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi.
Putri bibi tetangga tidak penah menyisakan sepotong kue pun untukku.
Semua selalu disantapnya habis, hingga tinggal remah-remah di atas piringnya.
Sesuatu yang menurutku wajar saja, karena kue itu pasti nikmat rasanya.
Dan memang hanya untuknyalah bibi tetangga menghidangkan kue itu tiap hari jumat sore.

Sebelum bibi tetangga memindahkan piring kue itu ke bak cuci piring, aku selalu diizinkan untuk menikmati remah-remah yang tersisa.
Ibu mungkin akan marah jika mengetahui apa yang kulakukan.
Sementara beliau sanggup membelikan aku kue manapun yang dijual di toko, aku malah mengais remah-remah milik bibi tetangga.

Tapi aku tak perduli, kunikmati remah-remah yang lezat itu dengan penuh kebahagiaan.
Saking lezatnya remah-remah itu, pikiranku bahkan tak pernah sampai pada satu loyang yang sebelumnya dinikmati oleh putri bibi tetangga.
Aku tak pernah benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya menikmati kue itu dengan utuh, tanpa harus berbagi dengan orang lain.
Remah-remah itu sudah lebih dari cukup untukku.
Selalu bisa membuat perutku kenyang, dan hatiku bahagia.

Entah apa yang terkandung dalam adonannya.
Kurasa remah-remah itu berasal dari surga.

Desember 2008

December 16, 2008

SITUS JEJARING SOSIAL DAN TANGGUNG JAWAB YANG BERLEBIHAN

Sebagai seseorang yang lahir dengan menyandang gelar anak pertama, sekaligus cucu pertama, sudah menjadi sifat alamiah saya untuk selalu merasa bertanggungjawab terhadap segala hal di sekeliling saya. Mungkin itulah cikal bakal yang membuat saya cenderung ingin mengendalikan segala sesuatu.

Kebetulan sekali, saya juga adalah seorang paranoid. Menurut hemat saya, mencemaskan sesuatu adalah bagian dari tanggung jawab. Betapa pun rasa cemas tidak bakal bisa mengubah takdir. Betapa pun rasa cemas berbahaya bagi pikiran. Namun selama bertahun-tahun saya sudah terlanjur percaya, bahwa loving is worrying.

Sehubungan dengan dua gelar di atas tadi, saya memiliki begitu banyak adik. Baik adik kandung, maupun adik sepupu. Dari mulai balita, sampai abg yang masih sekolah. Dari mulai mahasiswa, sampai karyawan seumuran saya. Dan tidak satu pun dari mereka yang luput dari pemikiran berlebihan saya atas kecemasan dan rasa tanggung jawab.

Salah satu contoh, setiap kali saya mengabadikan tulisan pribadi di blog, yang langsung saya pikirkan adalah bagaimana tanggapan sepupu-sepupu abg saya apabila mereka membacanya. Apa yang ada di pikiran mereka saat mengetahui bahwa kakaknya ini menderita gara-gara rindu; bahwa kakaknya ini mengutuk-ngutuk tak karuan gara-gara putus cinta, bahwa kakaknya ini memiliki cinta aneh yang telah mengalami evolusi hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata; bahwa kakaknya ini belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan padahal dia sudah tua bangka; dan segala hal lainnya yang belum pantas mereka ketahui. Sehingga selama bertahun-tahun, saya selalu mengelak apabila abg-abg yang sudah fasih internet itu mengajak saya berteman lewat situs jejaring sosial.

Hal itu saya lakukan bukan karena ingin terlihat sempurna. Saya hanya merasa bertanggungjawab untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk dunia (baca: saya). Saya ingin mereka tetap polos dan cuma tahu soal PR dan Pramuka. Saya ingin mereka buta terhadap hidup yang sesungguhnya kejam. Saya ingin mereka buta terhadap cinta yang ternyata sanggup menyiksa sedemikian rupa. Atau setidaknya, memperlambat semuanya sampai tiba saat yang tepat bagi mereka untuk mengetahuinya. Betapa pun mereka bisa saja mengenal semuanya lewat sinetron murahan. Betapa pun mereka bisa mengenal semuanya lewat orang lain.

Dan sore ini, hal yang saya takutkan tiba juga. Salah satu sepupu kecil saya tercinta memaksa saya melakukan konfirmasi atas ajakan pertemanannya di salah satu situs jejaring sosial. Saya cemas sekali. Karena notes saya di sana sudah terlanjur dihiasi tulisan-tulisan cinta orang dewasa yang belum rela saya apabila dia membacanya. Dan kami akan bersinggungan hidup di dalam ruang maya yang sempit itu, di mana dia akan bisa menyaksikan dinding profil saya yang sewaktu-waktu bisa berisi komentar nakal, atau menyaksikan kelakuan menyimpang beberapa dari mereka yang tergabung dalam network saya, yang belum pantas diketahuinya.

Sampai detik ini, ajakan pertemanan itu masih terkatung-katung tanpa kepastian. Saya masih tidak tahu harus berbuat apa.

December 15, 2008

TOO MANY RATNA IN THIS WORLD

Pagi kemarin, saya kedapatan sms dari seorang teman, yang agak sulit saya menyebutnya. Bisa dibilang teman baru. Tapi lebih cocok lagi disebut teman lama.

Dia ini adalah teman satu sekolah semasa SMP. Saya tidak pernah berkesempatan mengenalnya lebih jauh selain secuil fakta mengenai nama lengkapnya. Sisanya, adalah opini saya pribadi berdasarkan pengamatan jarak jauh. Menurut saya waktu itu, teman saya ini adalah tipikal orang yang eksklusif, karena dia kelihatan membatasi diri dan cuma bergaul dengan kelompoknya.

Nah, beberapa bulan lalu, secara tidak sengaja, kami bersinggungan di salah satu situs pertemanan. Kalau tidak salah awalnya kami membahas musik — atau buku, saya lupa. Sejak saat itu, kami menyadari bahwa kami punya kesamaan minat, sehingga sering menyempatkan diri ngobrol-ngobrol via internet.

Pelan-pelan, opini masa sekolah saya tentang dia berguguran. Dia sedikit pun tidak sama dengan penilaian saya. Malah untuk beberapa hal tertentu, saya seperti melihat diri saya sendiri di dalam dia. Yang selama ini saya anggap sebagai eksklusifitas ternyata adalah persoalan chemistry. Sama seperti saya, dia punya mindset yang tidak biasa mengenai beberapa hal. Sehingga tentu saja sesuatu yang indah bernama chemistry itu tidak akan menampakkan diri apabila tidak diakomodir oleh entitas maha penting bernama mindset. Jadi, begitulah, sama seperti saya, dia tidak mudah bergaul akrab dengan semua orang. Terlihat seperti semacam kekakuan dalam pergaulan. Sesuatu yang tidak pantas dibanggakan, tapi saya percaya betul pada sebuah kalimat: we can’t be everyone’s friend. Demikianlah akhirnya dia resmi saya catat sebagai satu dari beautiful people.

Pada 8 Desember yang lalu, teman saya itu berulang tahun. Pagi-pagi saya ucapkan selamat lewat sms. Lalu dibalasnya dengan ucapan terimakasih. Tiba-tiba, pagi kemarin, dia mengirimi saya sms yang isinya cukup mengejutkan.

Wa Na tnyata ulangtaun kt deketan ya. Dan gw baru tau skrg klo kmrn was ur bday. Happy belated bday ya! Smoga sehat2 terus dan tmbh bijak. Have a nice year ahead.

Saya langsung heran. Karena hari itu jelas-jelas bukan hari ulang tahun saya. Namun meski heran kenapa dia bisa-bisanya salah informasi, tetap saja saya senang membaca smsnya. Atau lebih tepatnya saya GR. Hahaha. Selama beberapa detik saya senyum-senyum sendiri memandangi kata-katanya. Pikir saya waktu itu, kapan pun tanggalnya toh tidak ada bedanya, intinya dia mengingat hari kelahiran saya. Tapi rupanya, semesta tidak mengizinkan seseorang menikmati kegembiraan yang bukan haknya. Terbukti dari sms kedua yang menyusul tidak lama kemudian.

Err Na, sori salah Ratna! hehehe.

Kata-katanya singkat. Namun jelas dan padat. Sadarlah saya akhirnya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Rupanya dia telah memilih nama Ratna yang salah dari buku teleponnya. Sesuatu yang sama sekali tidak membuat saya heran mengingat ada banyak sekali Ratna di dunia ini. Jadi demikianlah, tulisan panjang yang melebar kemana-mana ini sebenarnya hanya ingin bercerita tentang betapa pasarannya nama saya. Heheheh.

December 09, 2008

KETIKA AYAH TIDAK DI RUMAH

Betapa pun Ayah tidak suka berlama-lama meninggalkan rumah, pada suatu hari beliau mendapat tugas dinas yang cukup jauh. Perginya bukan sekedar satu atau dua minggu, melainkan 70 hari. Tapi kami sekeluarga malahan menyambut gembira tugas dinas itu, karena Ayah bisa sekaligus beribadah di tempat dinasnya tersebut.

Demikianlah akhirnya Ayah berangkat meninggalkan rumah pada akhir Oktober yang hujan. Kami sekeluarga melepasnya dengan beribu doa agar beliau dapat melaksanakan tugas dengan baik, dan agar dapat kembali pulang dengan selamat.

Selama kepergian Ayah ke tempat yang jauh itu, jujur saja, suasana di rumah sepi dan muram. Pelan-pelan terasa, bahwa ketidakhadiran beliau menghadirkan dunia yang sama sekali berbeda bagi kami semua. Hingga hal-hal detil dalam hidup, kami terbiasa diurusi dan diperhatikan oleh beliau. Kalau Ayah sedang di rumah, kami jarang mau repot-repot mengecek kunci pagar dan pintu, karena kami tahu beliau akan melakukannya, sehingga kami langsung saja berangkat tidur dengan perasaan aman. Setiap jam makan siang, Ayah terbiasa menghubungi kami satu persatu dari kantornya, sekedar untuk menanyakan apa yang sedang kami lakukan. Jika malam hari kami tiba-tiba kepingin makan sesuatu, Ayah biasanya rela keluar rumah membelikan penganan yang kami inginkan. Ayah bahkan pernah menghubungi saya pada jam pulang kantor sekedar untuk mengingatkan agar saya mampir dulu di toilet sebelum pulang, karena kalau jalanan macet dan saya terpaksa terjebak di dalam bis kota, saya tidak perlu takut kepingin pipis. Begitulah kami: Ibu, saya, dan adik-adik. Semuanya serba Ayah. Betapa hidup kami sangat bergantung pada beliau.

Dan ketika Ayah tidak di rumah, semua hal tiba-tiba berubah. Saya jadi sering berangkat tidur dengan perasaan gelisah dan tidak aman. Saya jadi sering berangkat kerja dengan perasaan berat karena harus meninggalkan Ibu yang sendirian di rumah. Saya harus bisa menemani Ibu pergi ke undangan pernikahan tetangga. Saya harus bisa mengurusi selang air di halaman. Saya harus bisa mengurusi anak kunci yang hilang dan pergi membuat duplikat gantinya. Saya harus bisa mengurusi pembayaran tagihan telepon, tagihan listrik, dan tagihan air. Saya bahkan harus janjian dengan adik-adik kalau mau lembur bekerja, karena kalau kami pulang malam beramai-ramai sekaligus, Ibu akan tinggal sendirian di rumah, dan saya sangat menghindari itu.

Tentu saja kehadiran Ayah di rumah bukan hanya sebagai laki-laki yang mengurusi selang air, atau membelikan kami jajan di malam hari. Keberadaan beliau yang maknanya dalam bagi kami semua, sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya tak tersentuh bahasa. Yang pasti, tanpa kehadiran beliau kami persis anak ayam yang kehilangan induk, tak terkecuali Ibu. Tanpa Ayah, kami laksana orang yang berjalan pincang.

Akhirnya, mau tidak mau, ketidakhadiran beliau membuat saya banyak berpikir. Cepat atau lambat, saya harus siap menghadapi kehilangan yang sesungguhnya. Betapa pun selepas shalat saya selalu berdoa supaya Ayah dan Ibu dipanjangkan usianya, toh beliau berdua tidak akan hidup selamanya. Saya sering menggigil memikirkan kemungkinan itu, tapi suka atau tidak, hal itu pasti akan terjadi.

Namun di atas segalanya, di atas ketakutan apabila harus kehilangan suatu hari nanti, adalah keinginan saya untuk membahagiakan beliau berdua. Ayah dan Ibu tidak akan hidup selamanya. Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membahagiakan beliau berdua, akan saya lakukan.

Sekarang, sambil menanti Ayah pulang, saya akan belajar menggulung selang air di halaman, serapih mungkin, dan tanpa banyak mengeluh.

Desember 2008

December 05, 2008

CINTA INI TERLALU TUA BAGI HATIKU*

Cinta ini terlalu tua bagi hatiku.
Bertahun-tahun sudah dia hidup di dalamnya.
Dari semula kecil dan egois, hingga menjelma cinta yang tumbuh dewasa.
Jadi kurasa kini dia boleh pergi mengembara.

Namun rupanya cinta ini tidak mau beranjak.
Masih mau menetap nyaman, padahal dia sudah terlalu tua bagi hatiku.
Nampaknya baginya hatiku adalah rumah tempatnya berteduh.
Nampaknya baginya hatiku adalah Ibu tempatnya mengadu.

Dan diam-diam, aku setuju.

Desember 2008

*Diambil dari kalimat dalam cerpen Dewi Lestari: Curhat Buat Sahabat

November 23, 2008

I WISH I COULD STAY HOME WITH YOU

Andaikata bisa, masih ingin aku tinggal di rumah bersamamu.

Kita akan menikmati pagi sambil duduk di depan televisi, menyaksikan acara kesukaanmu yang menayangkan hijaunya pemandangan sawah, atau birunya laut entah di mana itu, sambil berharap suatu hari nanti kita bisa mengunjunginya.

Sehabis makan siang, kita akan menikmati sepoi angin di teras loteng. Seperti biasa, kau boleh membaringkan kepalamu di atas pangkuanku, lalu aku akan mulai mencabuti satu-persatu rambut yang memutih di kepalamu. Dan seperti biasanya pula, kau akan jatuh tertidur sampai tiba waktunya masjid di seberang rumah kita mengumandangkan adzan ashar.

Sambil menunggu kau terbangun, mungkin aku akan bisa membuatkan sepiring Indomie rebus untukmu. Dengan sedikit kuah, dengan sedikit cabai, dan harus dicampur dengan sebutir telur — seperti biasanya. Lalu akan kupandangi engkau dengan gembira sekaligus malu, saat sedang kau nikmati piring itu. Gembira karena masih bisa kubuatkan sepiring Indomie kesukaanmu. Malu karena ternyata aku memang cuma bisa masak Indomie.

Atau jika tak dapat kulakukan semua itu, cukuplah aku sekedar berada di rumah bersamamu. Mungkin untuk berlari mendahului langkahmu yang terpaksa harus berhenti memasak apabila dering telepon rumah berbunyi. Mungkin untuk membantumu menemukan di mana kacamatamu berada, karena kau selalu saja lupa tempat terakhir kau meletakkannya. Mungkin untuk membawakan buku dzikir dan doamu ke pangkuanmu, karena setiap selepas shalat kau selalu membutuhkannya. Mungkin sekedar untuk membuatmu tidak merasa kesepian, karena Ayah saat ini sedang berada jauh dari rumah.

Namun sayang sekali, hari ini senin pagi, dan aku harus pergi. Ada setumpuk pekerjaan menantiku di luar sana. Tapi aku janji, tidak akan terlambat pulang ke rumah. Sampai jumpa nanti malam.

November 2008

November 19, 2008

HORRIBLE MARRIAGE-THINGS

Hari itu saya malas makan siang di luar kantor, jadi memutuskan pesan makanan saja. Waktu saya masuk ke ruang pantry, di sana sudah ada Pak Manajer Operasional dan Mbak Asmen. Tidak berapa lama, masuk pula Ibu Personalia.

Pak Manajer nampak asyik mengobrol dengan Mbak Asmen. Mereka membahas tentang keponakan Pak Manajer yang kabarnya manja setengah mati, sehingga membuat repot keluarganya. Sementara saya dan Ibu Personalia, terlalu asyik menikmati makanan masing-masing sehingga memilih diam saja.

Pak Manajer bilang, perlu ada perubahan cara didik orang tua terhadap anak, sehingga anak tidak tumbuh sebagai pribadi yang manja. Lalu dia menambahkan, selain terhadap anak-anaknya, sikap disiplin juga dia berlakukan pada istrinya.

“…, klo saya sih di rumah, disiplin banget. Klo anak atau istri bandel, langsung saya kerasin, klo mereka ngancem kabur dari rumah, malah langsung saya tantangin, saya kasihin aja koper ama bajunya sekalian, klo gak digituin, nanti pada manja” ujar Pak Manajer dengan gayanya yang ceplas-ceplos seperti biasa.

Mendengar itu, Mbak Asmen yang tengah hamil tua, langsung protes.

“Kok gitu sih, Pak? istri kan harusnya disayang, masa diusir, sih?”

“Lho, kata siapa suami harus sayang istri? sekarang ini jamannya istri yang sayang suami,…” bantah Pak Manajer. Mengenai kalimatnya yang satu ini, saya sudah hafal benar. Setiap ada kesempatan yang berkaitan dengan tema itu, Pak Manajer selalu mengucapkan kalimat yang sama. Menurut dugaan saya, istri Pak Manajer adalah tipikal istri pembangkang, dan hubungan mereka nampaknya tidak harmonis.

“Ya saling menyayangi dong, Pak, jangan cuma satu pihak aja” Mbak Asmen menyahut. Dalam hati, tentu saja saya setuju dengan Mbak Asmen. Kalimat Pak Manajer itu saya rasa timbul sebagai akibat dari rumah tangganya yang kurang harmonis.

“Coba buktinya kamu liat, dulu waktu jaman pacaran laki-laki kan baik banget, sekarang udah nikah, langsung cuek, langsung gampang marah. Makanya saya bilang, laki-laki sayang sama perempuan itu lagu lama, sekarang jamannya istri sayang sama suami,…”

“Ah, suami saya gak gitu kok,..” Mbak Asmen menyahut lagi.

“Ya kamu kan nikahnya baru, belom terlalu keliatan, nanti lama-lama juga kamu percaya omongan saya, iya gak Bu?” Pak Manajer langsung melihat ke arah Ibu Personalia, meminta dukungan.

Di luar dugaan, walaupun sambil berusaha tidak kelihatan memihak, Ibu Personalia mengamini ucapan Pak Manajer.

“Iya sih Pak,…” ujarnya malu-malu.

“Suami saya juga klo lagi jemput, gak sabaran dia nunggu di bawah, kesel melulu, padahal waktu pacaran, baeknya minta ampun,…” lanjutnya kemudian.

“Nah, apa saya bilang! kamu denger sendiri tuh pengakuan yang udah nikah bertahun-tahun,…” Pak Manajer kontan puas mendengar pengakuan Ibu Personalia. Sementara Mbak Asmen cuma bisa tersenyum. Perdebatan itu akhirnya selesai sudah. Tidak lama, Pak Manajer dan Mbak Asmen berlalu meninggalkan ruang pantry.

Namun rupanya, semua itu belum selesai untuk Ibu Personalia.

“…, ya gitu deh, Ratna. Saya kadang-kadang juga kesel sendiri ama suami, tapi seringnya sih saya yang ngalah” sambungnya sambil menyeringai ke arah saya. Sebenarnya saya agak risih mendengar cerita Ibu Personalia, tapi demi kesopanan, saya dengarkan saja keluh-kesahnya.

“Gitu Rat klo udah berkeluarga, gak boleh cepet emosi, klo salah satu kesel, yang lain harus ngalah. Saya aja klo udah bete, diem aja. Klo sayanya ikutan kesel, wah, bisa ribut nanti, Ratna,..” Ibu Personalia masih belum puas menyiksa saya, kata-katanya mengalir begitu saja, seakan dia telah menanti lama untuk momen curhat macam begini.

Atas kejujurannya, sebenarnya Ibu Personalia pantas diacungi jempol, tapi terus terang, saya agak terguncang mendengarnya. Selama ini saya tidak pernah percaya pada segala macam pendapat minor Pak Manajer tentang hubungan antar suami istri, tapi kali ini, saya jadi cukup terpengaruh.

Ibu Personalia di mata saya, adalah perempuan yang kelihatannya bebas masalah rumah tangga. Suaminya adalah seorang manajer perusahaan telekomunikasi yang kelihatan ‘waras’ dan terpelajar, dan mereka punya satu anak balita yang sedang lucu-lucunya. Tak pernah terbayangkan oleh saya, pada suatu siang di ruang pantry, Ibu Personalia akan mengeluhkan masalah rumah tangganya. Terlebih lagi, dalam kapasitasnya sebagai perwakilan dari manajemen kantor, Ibu Personalia biasanya cenderung menutup diri dan menjaga jarak terhadap kami para karyawan.

“Apalagi saya nikah gak cuma sama dia, istilahnya ya saya nikah sama keluarga besarnya. Makanya nanti klo Ratna punya calon suami, diperhatikan baik-baik soal keluarganya juga, gimana sifat Ayahnya, gimana Ibunya, gimana adik-adiknya,…” lanjut Ibu Personalia, membuat saya langsung teringat pada beberapa teman yang diperlakukan dengan tidak semestinya oleh pasangannya, atau yang hubungannya tidak harmonis dengan keluarga pasangannya.

Akhirnya saya tidak tahan lagi. Saya benci cerita-cerita tidak sedap mengenai pernikahan. Saya muak pada oknum-oknum yang merusak nama baik pernikahan. Saya ingin selalu percaya bahwa pernikahan, walaupun tidak sempurna, indah apa adanya. Sambil meminta maaf, saya bilang saja saya harus segera kembali ke ruangan. Dengan sangat terpaksa, saya hentikan keluh-kesah itu.

November 13, 2008

BABY’S WAY

Rabindranath Tagore

If baby wanted to, he could fly up to heaven this moment.
It is not for nothing that he does not leave us.
He loves to rest his head on mother’s bosom, and cannot ever bear to lose sight of her.

Baby knows all manner of wise words, though few on earth can understand their meaning.
It is not for nothing that he never wants to speak.
The one thing he wants is to learn mother’s words from mother’s lips.
That is why he looks so innocent.

Baby had a heap of gold and pearls, yet he came like a beggar on to this earth.
It is not for nothing he came in such a disguise.
This dear little naked mendicant pretends to be utterly helpless, so that he may beg for mother’s wealth of love.

Baby was so free from every tie in the land of the tiny crescent moon.
It was not for nothing he gave up his freedom.
He knows that there is room for endless joy in mother’s little corner of a heart, and it is sweeter far than liberty to be caught and pressed in her dear arms.

Baby never knew how to cry.
He dwelt in the land of perfect bliss.
It is not for nothing he has chosen to shed tears.
Though with the smile of his dear face he draws mother’s yearning heart to him, yet his little cries over tiny troubles weave the double bond of pity and love.

(one of the most beautiful poems I have ever seen in my life)

November 10, 2008

23 CARDS OF WEDDING INVITATION

(mengenang pernikahan Ika: 8 November 2008)

Tahun pernikahan belum berakhir. Setelah Idul Fitri usai, akhir pekan saya kembali padat dengan jadwal menghadiri undangan pernikahan, terus hingga akhir tahun. Dan seperti sebelumnya, saya kembali dipercaya untuk membagikan undangan pernikahan. Kali ini lebih serius. Bukan cuma sekedar kabar lewat email atau sms, melainkan 23 buah kartu undangan yang harus segera berada di tangan penerimanya, dalam waktu kurang dari satu minggu.

Terus terang, pada saat menerima tugas itu, sebenarnya saya cuma asal mengiyakan, karena waktu itu saya tengah sibuk menyelesaikan tugas kantor menjelang deadline, dan sibuk mengurusi beberapa hal lainnya. Sempat terpikir oleh saya untuk menyerahkan setumpuk undangan itu pada beberapa kawan yang punya waktu lebih luang. Tapi naluri alamiah saya sebagai seorang Control Freak tidak mengizinkan itu. Dalam pikiran saya, rasa-rasanya cuma saya yang mampu melakukannya. Saya lebih suka terseok-seok menyelesaikan semuanya, daripada harus menyerahkannya pada orang lain, dan menempuh resiko gagal.

Tapi tetap saja, pada prakteknya, proses distribusi setumpuk undangan itu tidak bisa tidak melibatkan beberapa kawan yang untungnya berbaik hati membantu saya. Tugas saya hanya sekedar membagi undangan-undangan itu menjadi beberapa kelompok wilayah penerima, menentukan siapa yang akan saya titipi undangan untuk siapa, serta menentukan waktu dan tempat pertemuan. Lalu apabila si calon penerima tidak punya waktu untuk menemui saya, terpaksa saya hanya akan mengirimkannya sms yang berisi waktu dan tempat acara.

Di balik ketakutan saya kalau-kalau setumpuk undangan itu tidak dapat sampai sebelum waktunya, sejujurnya saya sangat menikmati kegiatan itu. Bukan cuma sekedar menikmati kebahagiaan dapat menolong orang lain, dan kenikmatan menguji diri atas sebuah tantangan, di atas segalanya, saya sangat menikmati peran saya sebagai seseorang yang mengatur segalanya. Hahaha. Walaupun sesungguhnya mereka melakukan itu bukan karena saya, melainkan karena undangan yang berada di tangan saya, tetap saja, semua orang bergerak atas instruksi saya. Hahaha.

Demikianlah akhirnya sampai 23 buah kartu undangan itu tiba sebelum waktu acara. Tidak hanya menyebabkan kawan saya yang menikah merasa berbahagia, juga menghantarkan saya pada kepuasan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

November 05, 2008

I’M SLIPPING A STEP [2]

Bahwa bos saya adalah seseorang yang arogan, itu mungkin saja. Tapi satu hal yang pasti: saya bersalah. Dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh seseorang yang bersalah, selain meminta maaf.

Terus terang saja, walaupun sebelumnya saya memang berniat meminta maaf secara langsung, bukan cuma lewat balasan email, keinginan itu sempat hampir mati digilas ego. Haha.

Namun ketika beberapa hari berlalu, saya tersiksa. Sedih rasanya melihat hubungan baik yang rusak gara-gara nila setitik. Untung saja, dengan bantuan nasehat dan motivasi dari Mario Teguh yang menyamar ke dalam tubuh kawan saya, berhasil saya kalahkan ego itu: meminta maaf dengan sederhana, langsung di hadapan bos saya.

Awalnya bos saya terlihat kaget menyaksikan saya yang serta-merta menjatuhkan diri di kursi di hadapannya. Tapi dalam hitungan sekian detik, wajahnya tiba-tiba terlihat cerah demi mendengar kata maaf yang meluncur dari bibir saya. Bersamaan dengan itu, dunia saya pun langsung ikut-ikutan cerah.

Fiuuuuuuuuuh!

PS. Thanks to Arif for being such a Mario Teguh :)

October 28, 2008

I’M SLIPPING A STEP

(10/31/2008 3:26 PM)

Ratna,
Noted that you go out of office before lunch time without my permission today. In future, pls get my permission first before going out of office in working hours. Take this as the 1st warning, don’t let this happen again.
Rgds,


(Yah, seperti seorang penyair pernah berkata: into each life some rain must fall, hidup tentu saja bukan sekedar bekerja dengan tenang sambil mendengarkan musik, lalu sepulangnya duduk santai sambil minum susu dingin, bersama seorang finger-clicking musician dan seorang violin player, sambil berbincang tentang Kangen Band sampai Dewi Lestari, bak sekumpulan krikitikus handal, lalu pulang ke rumah dan tidur nyenyak, melainkan juga berjuang –tapi belum tentu berhasil–, atau dipermalukan, atau mengambil keputusan yang salah. Yah, namanya juga hidup –tapi menangis tentu saja juga wajar.)

October 27, 2008

HATI

Ah, hati, tetap saja hati.

Walau telah banyak diterangi, tetap saja suram kala rindu menghampiri.

Walau telah berhenti disirami, tetap saja hidup tak jua mati.

Oktober 2008

October 26, 2008

PEOPLE ARE STRANGE

Mulai dari orang-orang sekeliling, sampai mbak-mbak penjaga Hey Folks, tiba-tiba bersikap sangat tidak ramah.

Is it just me, or are people really getting strange?

October 25, 2008

THE RAINY DAY

Henry Wadsworth Longfellow

The day is cold, and dark, and dreary;
It rains, and the wind is never weary;
The vine still clings to the moldering wall,
But at every gust the dead leaves fall,
And the day is dark and dreary.

My life is cold, and dark, and dreary;
It rains, and the wind is never weary;
My thoughts still cling to the moldering past,
But the hopes of youth fall thick in the blast
And the days are dark and dreary.

Be still, sad heart! and cease repining;
Behind the clouds is the sun still shining;
Thy fate is the common fate of all,
Into each life some rain must fall,
Some days must be dark and dreary.

October 24, 2008

LIFE’S TOO SHORT FOR THE WRONG JOB…



(…I warn myself)



source: Jobsintown

October 22, 2008

IF

Rudyard Kipling

If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you;
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too:
If you can wait and not be tired by waiting,
Or, being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated don’t give way to hating,
And yet don’t look too good, nor talk too wise;

If you can dream - and not make dreams your master;
If you can think - and not make thoughts your aim,
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same:.
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
And stoop and build’em up with worn-out tools;

If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings,
And never breathe a word about your loss:
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: “Hold on!”

If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with Kings - nor lose the common touch,
If neither foes nor loving friends can hurt you,
If all men count with you, but none too much:
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
And - which is more - you’ll be a Man, my son!

October 20, 2008

MY BESTFRIEND IS ENGAGED!

Acaranya diadakan hari minggu kemarin, dan terbatas hanya untuk keluarga inti. Jadi, saya tidak hadir di sana.

Selesai acara, saya telepon dia.

“Lin, is it already there?”
“What?”
“It!”
“Hah? WHAT?”
“IT! is it already on your finger?”
“Oh, YES! Hahaha”

Well, congratulation, dear!
May it stay endlessly on your finger! :)

October 19, 2008

TRAGEDI PAYUNG MERAH

(Untuk Ijul)

Payung yang berwarna merah itu sebenarnya adalah payung biasa. Seperti yang sering dijual di pinggir-pinggir jalan, atau di atas-atas jembatan penyeberangan. Tapi apa yang dialami kawan saya Ijul dengan payung merah itu, adalah kejadian yang sangat tidak biasa. Saking luar biasanya, sampai membuat saya merasa perlu mengabadikannya dalam tulisan.

Hari itu hari minggu. Saya dan tiga orang kawan laki-laki tengah berkumpul di TIM. Kami memang biasa mengadakan pertemuan di tempat tersebut, karena selain tempat itu sangat mendukung minat dan gaya hidup tiga orang kawan laki-laki saya yang sangat seniman, tempat itu cukup nyaman untuk berjam-jam ngobrol membahas segala macam hal, dari mulai yang serius, sampai lelucon yang bisa membuat kami tertawa terbahak tanpa henti -kenyataannya, kami hampir tidak pernah membahas hal yang serius, hahahah.

Lalu, pembicaraan hari itu sampai pada rencana untuk berjalan-jalan mengunjungi rumah salah satu dari kami, Rangga namanya, di bilangan Jakarta Timur. Siang itu juga, diiringi panas terik yang sangat tidak bersahabat, kami berbondong-bondong keluar dari pelataran TIM. Nampaknya agar sesuai dengan gaya hidup seniman yang selalu bersahaja, kawan saya Rangga mengusulkan untuk terus berjalan kaki sampai ke halte bus Transjakarta. Tapi berhubung panasnya minta ampun, kawan saya Ijul menolak usul Rangga tersebut. Akhirnya, kami sepakat untuk menumpang kopaja, menuju halte bus Transjakarta.

Ketika kami tengah menunggu kopaja yang tidak juga melintas di depan TIM, kawan saya Ijul tiba-tiba membuka ransel hitam yang selalu setia bertengger di punggungnya. Dengan gaya yang agak demonstratif, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya: sebuah payung berwarna merah. Kami bertiga yang menyaksikan, spontan menyorakinya. Lebih karena iri ketimbang geli. Sebab guyuran panas yang amat terik itu, tidak sanggup dihalau hanya dengan gengsi.

Tapi untunglah, kami tidak perlu berlama-lama menatap kesal pada Ijul, yang pura-pura jumawa dengan payung merahnya. Kopaja yang kami tunggu tiba juga. Kawan saya Tala dan Rangga, buru-buru melompat masuk ke dalamnya. Menyusul saya yang sekilas sempat mendengar keluhan Ijul bahwa payungnya macet dan sulit ditutup. Tapi dalam waktu sepersekian detik, kawan saya itu menyuruh saya untuk segera menaiki kopaja, lalu diikutinya jejak saya.

Di dalam kopaja yang separuh kursinya sudah terisi, kawan saya Tala dan Rangga segera duduk manis di kursi paling belakang. Saya memilih duduk di kursi kosong di depan mereka, di sebelah seorang ibu.

Lalu, di kursi manakah kawan saya Ijul duduk?

Ketika saya memutar kepala untuk melihat ke arah depan, di sanalah dia kawan saya itu berada. Tepat di depan pintu masuk. Tidak duduk, melainkan berdiri. Sambil memegang payung merahnya yang masih terbuka lebar.

Apakah gerangan yang tepatnya terjadi pada kawan saya itu?

Ya Tuhan, rupanya payung dalam genggamannya itu macet dan tidak bisa ditutup. Dengan panik kawan saya itu mengguncang-guncangkan payungnya yang tetap saja membandel, diiringi tawa membahana dua kawan saya lainnya, dan tatapan geli seluruh penumpang kopaja. Sementara saya sendiri, sibuk cekikikan seperti tidak ada lagi hari esok.

Seumur hidup saya, tidak ada atraksi yang lebih lucu daripada atraksi yang dipertontonkan oleh kawan saya Ijul dengan payung merahnya itu. Selama hampir sepuluh menit dia berdiri di hadapan seluruh penumpang kopaja, mencoba menutup payungnya yang sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan tertutup, sambil sesekali menatap penuh makna pada kami kawan-kawannya, yang terus saja tergelak-gelak sambil berurai air mata.

Demikianlah akhirnya sampai payung merah itu kemudian mau tertutup juga. Kawan saya Ijul segera melesat duduk dekat Tala dan Rangga di kursi belakang, sambil ikut-ikutan menertawai dirinya sendiri. Tapi tidak bisa dipungkiri, betapa dia malu setengah mati, karena wajahnya pucat pasi. Sampai berjam-jam setelahnya, kami masih saja menertawakan kejadian itu dengan tidak henti-hentinya. Di perjalanan pulang, saya masih terus tertawa. Malam menjelang tidur, saya sedikit pun tidak bisa menahan tawa. Bahkan pada saat menuliskan semua ini, saya masih belum dapat berhenti tertawa.

Setelah tragedi payung merah itu, rasanya hidup kawan saya Ijul tidak akan pernah sama lagi.

Oktober 2008

October 17, 2008

SENSE OF A MOTHER

Selama masa hampir tiga tahun saya bekerja, sudah dua kali saya menyaksikan secara dekat dua kawan akrab satu kantor yang masing-masing hamil pada tahun yang berurutan. Saya bukan hanya menyaksikan bagaimana tubuh mereka berangsur-angsur membesar, melainkan juga bagaimana sikap mereka berangsur-angsur berubah, jadi lebih perasa dan pendiam.

Maka, ketika Asisten Manajer saya yang tengah hamil tujuh bulan menampilkan sikap yang sama, saya (kira saya) tidak kaget lagi. Sore kemarin kebetulan kami sedang berdua saja di dalam toilet perempuan. Tiba-tiba dia memperhatikan saya dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ratna, kamu tambah kurus, ya?” ujarnya sambil mengernyit seolah-olah itu kali pertama dia melihat saya yang kurus ini.

“Masa, sih, Mbak?” sahut saya ringan.

“Iya kok. Tuh, tangannya aja kecil banget. Makanya makan yang banyak dong” ujarnya serius.

“Aku makannya udah banyak, lho, Mbak” balas saya sambil senyum-senyum.

“Tapi minum susu, gak?” tanyanya lagi. Masih dengan wajah serius yang membuat saya jadi salah tingkah. Seingat saya, dua kawan akrab saya dulu tidak pernah seperhatian ini.

“Minum kok, setiap hari, tapi yaaaah, kadang-kadang gak sih”

“Kok masih tetep kurus, ya?” balasnya, sambil berpikir dengan ekspresi khas mantan-auditor yang selalu ditampilkannya setiap kali kami menganalisa jurnal bersama-sama.

Tidak lama, wajahnya seperti menemukan ide cemerlang.

“…, oh, apa jangan-jangan cacingan kali? coba minum obat cacing, deh, Rat” sambungnya tanpa rasa berdosa, dengan wajah yang polos.

” APAAAAA??!” teriak saya dalam hati. Saya kaget bukan main. Saya sama sekali tidak menduga dia akan menyuruh saya minum obat cacing.

Tapi untunglah, saya segera sadar. Perempuan di hadapan saya itu sedang hamil tua. Hormon di dalam tubuhnya sedang bergejolak sedemikian rupa. Saya cuma sedang jadi korban calon Ibu yang mungkin belum dapat mengendalikan naluri keibuannya.

“Boleh juga sih dicoba, siapa tau iya,…” jawab saya akhirnya sambil tersenyum ringan. Bukan karena sinis, melainkan tersanjung.

Tapi jujur saja, dalam hati saya merinding. Saya sama sekali tidak siap dituduh cacingan. Selama ini saya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Mata saya tidak pernah gatal-gatal. Bokong saya juga tidak pernah gatal-gatal. Saya tidak mungkin cacingan. Tidak mungkin. Hahahahaha.

October 16, 2008

I’M SO PROUD OF HIM

Siang itu dia berkisah, lagi-lagi tentang kabar gembira. Di sela-sela kesibukannya dengan proyek bermusik, dia menyeberang karir ke arah yang sama sekali tidak pernah saya duga. Arah yang sederhana, tapi mulia. Salah satu arah yang pernah juga jadi impian saya. Dan dia berhasil sampai di sana.

Dengan segala cinta saya padanya yang telah berevolusi ke dalam bentuk yang berbeda, saya begitu bangga padanya. Persis seperti seorang Ibu yang bangga pada prestasi anaknya. Saya gembira untuknya. Sungguh.

Oktober 2008

October 15, 2008

WHAT A WONDERFUL WORLD

Malam itu, pukul dua, saya terbangun tiba-tiba. Padahal saya tidak bermimpi buruk, tidak sedang banyak pikiran, atau yang semacamnya. Pokoknya, saya baik-baik saja.

Daripada cuma melamun di tempat tidur, saya putuskan keluar dari kamar, lalu turun ke bawah. Iseng-iseng, saya cek pintu dan jendela, semuanya terkunci rapat. Aman. Masih dalam rangka iseng-iseng, saya tengok satu-satu kamar penghuni rumah, semuanya tidur nyenyak. Bagus.

Tapi, saya tetap belum mau tidur. Akhirnya, saya bergegas masuk dapur dan mulai mencari-cari kudapan. Selera saya langsung terbit melihat bungkus sup ayam instan. Tidak sampai lima menit, jadilah sup kental yang mengepul panas di dalam mangkuk saya. Kembali saya masuk kamar, dan menikmatinya sambil membaca buku. Sedap.

Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan sup ayam yang telah habis, mata saya langsung mengantuk karena kekenyangan. Perasaan saya pun jadi bertambah baik karenanya. Aman. Nyaman. Bahagia. Dan tertidurlah saya dengan pulas sampai pagi menjemput.

Jadi, kadang-kadang, keindahan hadir dengan cara yang terlalu sederhana. Tinggal bagaimana kita mampu merasainya atau tidak. Bayangkan, tengah malam menikmati sup hangat sambil membaca buku. Kegiatan yang biasa-biasa saja yang mungkin sekali luput untuk dihargai. Tapi untunglah, malam itu, keindahan bersedia memberikan isyarat kehadirannya dengan jelas pada saya.

October 10, 2008

HAPPY BIRTHDAY, MOM!

Ibu saya tercinta, adalah Ibu yang begitu lembut hatinya. Terhadap kami anak-anaknya, beliau tidak pernah bisa benar-benar marah. Sedikit saja kami merayunya, beliau sudah langsung luluh dan menyerah.

Ibu saya tercinta, adalah Ibu yang tidak pernah menuntut apa-apa. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk jadi juara umum di sekolah. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikah di usia 25. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikahi laki-laki A, atau laki-laki B, atau laki-laki C. Beliau tidak pernah menuntut banyak tentang hal-hal yang bersifat duniawi.

Hanya satu keinginan beliau: melihat saya berjilbab. Keinginan yang tidak pernah dipaksakannya, namun saya tahu benar betapa beliau mengharapkannya.

Hari ini, pada hari ulang tahunnya, diantara segenap doa untuk beliau, saya juga meminta pada Tuhan: semoga suatu hari nanti, entah kapan, saya bisa mewujudkan keinginan beliau. Amin.

September 24, 2008

MUDIK LEBARAN

Kurang dari satu minggu, kita akan sampai di penghujung bulan ramadhan. Seperti tahun-tahun yang lalu, ada sedih yang terasa menjelang berakhirnya ramadhan, sekaligus juga gembira menyambut lebaran, dengan segenap esensi dan tradisi yang menyertainya.

Salah satu tradisi lebaran, apalagi kalau bukan mudik lebaran. Fenomena yang sedari kecil begitu saya minati, namun sayangnya belum pernah saya alami. Nenek saya, dan hampir semua anggota keluarga besar saya tinggal di Jakarta. Keluarga saya yang tinggal di luar kota yang malah mudik ke Jakarta untuk merayakan lebaran di rumah nenek. Sehingga akhirnya, belum pernah saya merayakan lebaran di manapun selain di Jakarta.

Atas nama keinginan mudik lebaran yang belum pernah kesampaian itu, saya selalu penuh perhatian menyaksikan kesibukan orang-orang di sekeliling tiap kali mereka mulai bersiap-siap mudik. Hampir semua kawan saya sibuk membahas persiapan mudik mereka ke tempat tujuan masing-masing. Sementara dua sahabat saya, yang satu mudik ke Purwekerto, yang satunya lagi mudik ke Sukabumi. Setiap musim lebaran, mereka berdua bukan lagi milik saya, melainkan milik kampung halamannya masing-masing.

Selalu juga saya perhatikan bagaimana kompleks perumahan yang saya tinggali berangsur-angsur sepi menjelang lebaran. Yang biasanya mudik jauh-jauh hari adalah tetangga saya sebelah kiri. Sebelum berangkat mereka selalu pamit dan menitipkan rumah pada kami. Pada saat itulah biasanya saya akan menatap penuh minat pada tumpukan koper yang satu-persatu mereka masukkan ke dalam bagasi mobil. Membayangkan saya yang jadi mereka. Packing. Preparing. Travelling. Mudik lebaran. Oh, betapa menyenangkannya!

Berita di televisi tentang mudik lebaran pun tak pernah luput dari perhatian saya. Itu malah bagian yang paling menarik. Menyaksikan bagaimana mayoritas penduduk Jabodetabek berbondong-bondong memenuhi terminal-terminal dan stasiun kereta, atau beriringan menggunakan sepeda motor, lalu mulai memacetkan jalur pantura, adalah pemandangan yang menakjubkan. Andaikan saya jadi salah satu dari mereka yang mudik menggunakan kereta api lalu berdesakkan di dalamnya sambil membawa kardus, saya akan jadi pemudik yang sangat berbahagia. Karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa jadi bagian dari semua itu. Betapa saya bosan cuma jadi penonton. Apalagi menikmati suasana lebaran di kampung halaman yang tentunya jauh berbeda dari suasana lebaran di Jakarta. Ah, andaikan saya bisa ikut merasakan mudik lebaran!

Tapi, saya juga sadar, sekedar mudik bukanlah esensinya. Inti di balik semua itu adalah berkumpul bersama keluarga. Berada di rumah. Sedangkan rumah saya di mana lagi kalau bukan di rumah nenek di Jakarta. Tempat segalanya berawal. Tempat saya menghabiskan masa kecil. Tempat keluarga saya berkumpul untuk merayakan lebaran. Ya, memang di sanalah saya seharusnya selalu berada.

PS. Selamat mudik buat yang mudik. Jangan banyak mengeluh kalau macet. You just don’t know how lucky you are! :-D

September 15, 2008

You're a Star!

Congratulation, sist’!
You’re a star!*

(*what Miss Rebecka Bloomwood always says whenever she feels proud of her bestfriend, Suze.)

September 14, 2008

HAPPY BIRTHDAY

You know it doesn’t make much sense
There ought to be a law against
Anyone who takes offense
At a day in your celebration
‘Cause we all know in our minds
That there ought to be a time
That we can set aside
To show just how much we love you
And I’m sure you would agree
It couldn’t fit more perfectly
Than to have a world party on the day you came to be

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

I just never understood
How a man who died for good
Could not have a day that would
Be set aside for his recognition
Because it should never be
Just because some cannot see
The dream as clear as he
that they should make it become an illusion
And we all know everything
That he stood for time will bring
For in peace our hearts will sing
Thanks to Martin Luther King

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

The time is overdue
For people like me and you
Who know the way to truth
Is love and unity to all God’s children
It should never be a great event
And the whole day should be spent
In full remembrance
Of those who lived and died for the oneness of all people
So let us all begin
We know that love can win
Let it out don’t hold it in
Sing it loud as you can

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

by: Ratna Wonder :-p

September 08, 2008

FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [2]

Ibunda bayi Joanna tiba-tiba mengirim kabar mengejutkan pada kami semua. Lewat Ibu manajer saya dia bercerita bahwa dia akan mengundurkan diri dari kantor kami tercinta. Bukan untuk pindah ke kantor lain di Singapura, atau kantor manapun di Jakarta, melainkan memang benar-benar berhenti bekerja. Kami semua terkaget-kaget dibuatnya.

Ibu manajer saya bilang, Ibunda bayi Joanna telah mantab dengan keputusannya. Konon di Singapura sana, dia dan suaminya tidak memiliki siapa-siapa. Selama mereka bekerja, tidak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi Joanna. Demikianlah akhirnya, Ibunda bayi Joanna memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, demi kebaikan putrinya.

Memutuskan keluar dari pekerjaan, tentu bukan hal yang mudah dilakukan, terutama bagi perempuan seperti Ibunda bayi Joanna. Dia perempuan cerdas yang suka bekerja keras. Karirnya tengah menanjak pasti ke posisi yang gemilang, sementara usianya belum lagi menginjak tiga puluh. Jalannya masih teramat panjang. Dia punya kesempatan besar untuk kelak menduduki posisi puncak di kantor kami. Kalau dia mau, dia bisa menggaji pengasuh bayi dari biro ternama di tempat tinggalnya, meninggalkan bayi Joanna di rumah, lalu melanjutkan perannya sebagai wanita pekerja. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Dia malah memilih tinggal di rumah dan mengurus bayi Joanna.

Segelintir orang di kantor kami agak menyesalkan keputusan yang diambil Ibunda bayi Joanna. Menurut mereka, dia telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidupnya. Saya sendiri, cukup sedih mendengar kabar itu. Dan kalau mau lebih jujur lagi, saya takut mengalami kesulitan dalam pekerjaan sepeninggal dia. Saya akan kehilangan tempat bertanya.

Tapi di balik segala keegoisan saya itu, di mata saya Ibunda bayi Joanna nyaris sempurna. Dia benar-benar tahu memaknai keperempuanannya dengan tepat. Perempuan yang sanggup berkarya di dalam rumah dan berkarir di luar rumah, tentu tak salah apabila mendapat sebutan perempuan yang hebat. Tidak mudah melakukan semua itu sekaligus. Tapi saya percaya, sehebat-hebatnya perempuan, adalah dia yang ketika jalan setapaknya menemui persimpangan, memutuskan keluarganya sebagai pilihan. Pulang ke rumah.

Untuk yang kesekian kalinya, saya dibuat kagum oleh Ibunda bayi Joanna.

August 27, 2008

FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [1]

(8/22/2008 6:28 PM)

Hi everyone,

Today is my last day here. Thank you for all the assistance and support you have given me. Here are PIC who will take over my duties:

- for IDO matters and Cognos pls liase with Pek Bee Yuen

- for BASS matters pls liase with Annie Han

I wish you all the best in your future endeavour.

Regards,

Paula

August 14, 2008

YEAR OF MARRIAGE

Kalau saya ditanya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan tahun 2008, jawaban saya adalah: pernikahan. Tahun ini terjadi hujan pernikahan di dalam dunia sosialisasi saya. Dimulai dengan pernikahan mantan pacar saya tercinta ketika tahun ini belum separuhnya terlewati, satu persatu kawan-kawan saya bergiliran mengirimkan undangan, atau setidaknya rencana yang sudah matang, terus tanpa berhenti hingga akhir tahun.

Kawan-kawan saya yang kebetulan belum mendapat giliran, atau sedang dalam proses mempersiapkan diri menuju gilirannya, menampilkan reaksi yang beraneka ragam tiap kali menerima undangan baru. Ada yang panik. Ada yang pasrah. Ada yang sedih. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang jadi termovitasi dan tambah bersemangat.

Saya sendiri, termasuk dalam golongan yang biasa-biasa saja. Selain memang tidak memiliki pasangan untuk diajak menikah, kalau boleh jujur, saya belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan. Sahabat saya sering berkata, apabila nanti sudah tiba waktunya, saya juga pasti akan merasa tidak sabar untuk segera dilamar. Hahah. Mungkin saja. Mungkin juga tidak.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut budaya untuk tidak harus menikah muda. Hampir semua anggota keluarga besar saya baru menikah ketika usianya menjelang 30. Ibu saya sendiri menikah pada usia 31. Saya dan para sepupu hampir tidak pernah didesak untuk buru-buru menikah sebagaimana yang lazimnya terjadi pada keluarga kebanyakan. Kami terbiasa menganggap diri kami masih muda dan nyaman berlama-lama tinggal dengan orang tua, walaupun pada akhirnya mungkin akan tersadar bahwa ternyata kami sudah sangat cukup umur untuk menikah, hahah.

Selain itu, saya juga punya sedikit alasan pribadi yang membuat antusiasme untuk menikah tidak kunjung menghampiri saya. Bukan, bukan sekedar soal trauma takut ditinggal pergi seperti kebanyakan tema dalam cerita fiksi, melainkan lebih kepada pemikiran soal visi dan misi, tanggung jawab, anak, dan beberapa hal absurd yang sahabat saya bilang terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekedar dibayangkan.

Tapi, tentu saja, tentu saja, hal itu tidak akan pernah mengurangi makna pernikahan buat saya. Malah saya menduga, segala pemikiran absurd itu timbul akibat harapan saya yang terlalu muluk atas sebuah pernikahan. Buat saya, pernikahan itu terlalu agung untuk disegerakan dengan terburu-buru. Pernikahan itu terlalu sakral untuk dilakukan oleh pasangan muda yang kemungkinan belum sadar benar atas tindakan yang dipilihnya. Apalagi yang di dalamnya terjadi kudeta uang atas value. Buat saya, cinta dan segala macam hal yang sifatnya priceless adalah segala-galanya. Saya sering terguncang apabila mendapati kasus yang mencoreng nilai-nilai yang saya anut. Kalau menyangkut urusan cinta, komitmen, apalagi pernikahan, saya ini memang terkenal naif, utopis, dan tidak realistis. Sahabat saya sering bilang, saya seperti hidup di dunia sendiri, sehingga sulit menerima bahwa orang lain tidak selalu menggunakan standar yang sama dengan yang saya anut.

Maka, atas nama keagungan sebuah pernikahan, saya mencoba menghayati dengan baik setiap persiapan yang dilakukan oleh beberapa teman saya yang berencana menikah bulan ini, walaupun mereka bukan teman akrab saya, dan walaupun yang saya lakukan hanya sepele saja. Sebagai informasi, mereka mempercayakan urusan distribusi beberapa undangan pada saya. Karena menurut mereka, selama ini saya merupakan orang yang paling aktif mengerahkan masa tiap kali ada rencana kumpul-kumpul. Selain itu mobilitas saya dianggap cukup baik, terutama mobilitas dunia maya, karena selain dalam bentuk kertas, mereka juga turut mengundang via email dan sms. Jadilah tempo hari saya turut sibuk mengkoordinir siapa-siapa saja yang belum kebagian undangan, baik yang dalam bentuk kertas, email, maupun sms. Saya juga dimintai tolong untuk melacak teman-teman yang lama tidak terdengar kabarnya, lewat search engine di Friendster. Lalu mem-forward email atau sms yang berisi undangan, karena para calon pengantin itu benar-benar sibuk mengurusi tetek-bengek lainnya.

Terus terang saja, tugas itu cukup berat dan menakutkan buat saya. Berat karena kemarin-kemarin saya harus melakukannya di sela-sela pekerjaan kantor dan kegiatan lain yang tenggat waktunya jatuh hampir bersamaan. Sepulang kerja saya harus menyempatkan diri mampir bertemu beberapa teman untuk menyerahkan undangan, atau terpaksa menitipkannya lagi pada mereka yang punya akses lebih mudah daripada saya. Menakutkan karena saya sangat khawatir undangan-undangan itu terlambat sampai ke tangan yang berhak, lalu pesta pernikahan yang sakral itu terpaksa tidak dihadiri oleh beberapa tamu yang diharapkan akibat kelalaian saya dalam mendistribusikan undangan. Jadilah di sela-sela kemacetan di dalam bus kota, atau di tengah malam menjelang tidur, pikiran saya sering bergerilya mengingat-ingat undangan mana lagi yang belum saya sampaikan, atau sms mana lagi yang belum saya forward. Jujur, saya cukup tertekan waktu itu.

Untungnya, saya dapat melaksanakan tugas dengan baik, walaupun dari ketiga teman saya yang menikah itu, tidak satupun pestanya dapat saya hadiri, karena kebetulan kantor saya mengadakan acara di luar kota. Tapi meskipun berhalangan hadir, saya cukup gembira telah memberikan dukungan lewat urusan distribusi undangan. Cukuplah segala keruwetan itu buat bekal mengahadapi persiapan pernikahan saya sendiri kelak, entah kapan, entah bersama siapa :D

August 13, 2008

AMANDA’S WORDS

“Kenyataan apapun buatlah dengan goresan tangan lo, jangan biarkan termakan situasi, sampai lo ketemu titik sudah -dan lo orang yang cukup bijaksana untuk mendetermin kata SUDAH.”

August 02, 2008

KISS FROM A ROSE

There used to be a graying tower alone on the sea
You became the light on the dark side of me
Love remained a drug that’s the high and not the pill

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
The light that you shine can be seen

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels,
And now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave

There is so much a man can tell you,
So much he can say

You remain,
My power, my pleasure, my pain.
Baby, to me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby?

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels

Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave

I’ve been kissed by a rose on the grave,
I’ve been kissed by a rose
…And if I should fall, would it all go away
I’ve been kissed by a rose

There is so much a man can tell you,
So much he can say

You remain-
My power, my pleasure, my pain

To me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
the light that you shine can be seen.

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave,
The more I get of you
The stranger it feels,

Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave

[..., to me you're like a growing addiction that I can't deny]

July 28, 2008

EXTRA ORDINARY WEEKEND

Rencananya, pada akhir pekan kemarin, saya dan para sahabat akan berlibur ke Bandung. Rencana itu sudah tercetus dari jauh-jauh hari. Cukup lama saya menanti saat itu tiba, sampai akhirnya beberapa hari sebelumnya salah satu sahabat saya datang membawa kabar tidak menyenangkan: dia tidak bisa berangkat karena alasan pekerjaan. Kami batal ke Bandung.

Walaupun sedikit kecewa, kami mencoba membuat plan B. Karena kemungkinan pergi berlibur sambil menginap sudah tidak mungkin dilaksanakan, kami sepakat untuk jalan-jalan seharian ke Bogor pada hari minggunya. Menurut saya, ide itu juga tidak kalah menarik. Terbayang di kepala saya kami bertiga keliling Bogor sambil wisata kuliner, dan tentu saja, sambil foto-foto. Lagi-lagi, saya tak sabar menanti.

Tapi rupanya, pergi berlibur bertiga belum menjadi rejeki kami bulan ini. Hari jumat malam sahabat saya yang satu lagi mengirim kabar. Dia tidak bisa berangkat ke Bogor. Kali ini karena alasan pendidikan.

Sahabat saya yang satu itu memang sedang dalam proses mengurus beasiswa sekolah. Sudah setahun ini dia mengikuti serangkaian tes dan wawancara yang tidak habis-habisnya. Dia bilang dia baru saja menerima berita mendadak, bahwa tes yang selanjutnya akan diadakan hari selasa. Jadi, tidak mungkin dia pergi berlibur. Dia harus menggunakan waktu akhir pekannya untuk mempersiapkan diri menghadapi tes. Kami batal ke Bogor.

Jumat malam menjelang tidur, saya uring-uringan sendirian. Besoknya dua hari saya libur, dan saya tidak punya rencana cadangan untuk pergi kemana pun. Ngomong-ngomong, haruskah saya begitu sibuk memikirkan kemana saya akan menghabiskan akhir pekan? tidak harus. Tidak sama sekali. Dan biasanya pun, saya tidak begitu. Jika tidak punya acara, saya lebih senang menghabiskan seharian di rumah. Tapi kali ini, saya ingin sekali pergi berlibur entah kemana. Bukan ke mal, atau sekedar merumpi di rumah teman. Saya sedang bosan. Saya ingin liburan yang berbeda.

Tiba-tiba, saya teringat sebuah acara yang kemarin saya baca di papan pengumuman Friendster. Salah seorang teman saya semasa SMU yang mempublikasikan acara itu. Sejujurnya, saya tidak begitu mengenal teman saya itu. Tapi saya tahu pasti dia satu almamater dengan saya. Kemarin saya sempat berkirim email dengannya, dan bertanya-tanya mengenai acaranya. Walaupun saya yakin bahwa saya akan pergi berlibur ke Bogor, diam-diam saya tertarik pada acara itu.

Acara itu digelar oleh komunitas relawan buku dan taman bacaan anak 1001buku. Saya sudah sering mendengar tentang organisasi itu, tapi mengenai bentuk acara yang akan mereka gelar, saya tidak punya gambaran sama sekali. Yang saya tahu, pada hari minggu besoknya mereka akan mengadakan acara yang bertajuk Olimpiade Taman Bacaan Anak 2008 dan membutuhkan relawan untuk membantu mengurusi anak-anak. Teman SMU saya yang bernama Lala itu kemarin berkata lewat email, dia pernah menjadi relawan dan kegiatannya sangat menyenangkan. Dia juga berkata, bahwa dia akan mendaftar lagi jadi relawan pada acara besok.

Akhirnya, saya ceritakan semuanya pada adik saya yang perempuan. Sambil berharap-harap dia akan tertarik, lalu mau pergi bersama saya untuk mendaftar jadi relawan dan menghadiri technical meeting yang saya ingat akan diadakan besok hari sabtu jam 2 siang.

Ketika saya sedang seru-serunya bercerita, tiba-tiba adik saya menyela dengan pertanyaan. Dia bertanya siapa nama lengkap teman SMU saya itu. Saya katakan padanya bahwa nama lengkapnya adalah Kemala. Turut pula saya sertakan informasi, bahwa dia dulunya kuliah di FIB UI.

Sekonyong-konyong adik saya tertawa keras. Dia bilang saya pikun. Dia bilang Lala itu sebenarnya bukan teman seangkatan saya. Memang benar kami satu SMU, tapi sebenarnya dia adalah teman sekelas adik saya -dari mulai SD sampai SMU, saya dan adik saya bersekolah di tempat yang sama. Akhirnya saya ikut tertawa. Lebih karena lega daripada malu. Karena apabila seorang kawan yang bernama Lala itu ternyata adalah temannya, tentu kemungkinan besar adik saya akan bersedia bergabung.

Tapi ternyata, lagi-lagi saya harus kembali kecewa. Adik saya berkata bahwa besok dia sudah punya acara. Maka, kalau saya mau mendaftar jadi relawan, saya harus pergi sendiri, baru mungkin bertemu Lala di tempat acara. Jadilah saya berangkat tidur dengan bimbang.

Besoknya hari sabtu, saya bangun tidur pagi-pagi, padahal biasanya saya selalu bangun siang kalau hari libur. Saya masih bimbang, belum bisa menentukan apakah akan berangkat mendaftar jadi relawan siang nanti. Saya lalu mencoba menghabiskan pagi hari saya mendengarkan beberapa file lagu baru. Tapi rupanya, ketika file-file itu telah selesai saya eksekusi, waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, dan saya masih belum tahu harus pergi kemana untuk memuaskan hasrat saya akan akhir pekan yang tidak biasa. Akhirnya, tekad saya bulat. Saya memutuskan mandi dan bersiap-siap untuk berangkat mendaftar jadi relawan siang nanti. Apapun yang bakal terjadi, saya tidak perduli.

Sampai di tempat pendaftaran, saya sama sekali tidak menemukan Lala, yang ada hanya wajah-wajah yang sama sekali tidak saya kenal. Sebelumnya saya memang sudah menduga, bahwa acara ini pasti akan didominasi oleh komunitas mahasiswa UI. Tapi rupanya dugaan saya salah. Acara itu tidak sekedar didominasi oleh mahasiswa UI. SEMUA ORANG YANG BERADA DI TEMPAT ITU ADALAH MAHASISWA UI. Tahulah saya bahwa Tuhan rupanya telah mendengar doa saya. Akhir pekan saya akan berjalan lebih tidak biasa dari yang saya harapkan.

Saya cuma bisa duduk diam mendapati kenyataan bahwa semua orang di sekeliling saya telah saling mengenal. Tadinya saya pikir akan ada setidaknya beberapa orang yang merasa asing satu sama lain, sehingga saya tidak perlu merasa asing sendirian. Tapi saya sudah terlanjur berada di sini. Tidak mungkin saya berbalik pulang. Lagipula, saya sudah mendapatkan keinginan saya: akhir pekan yang tidak biasa. Saya harus mengakhirinya sampai tuntas.

Tapi akhirnya, semuanya tidak seburuk yang saya bayangkan. Saya dengar beberapa orang di sekitar saya bukan mahasiswa UI. Dan setelah beberapa menit menyesuaikan diri dengan pemandangan sekeliling, di komunitas UI itu saya bisa melihat beberapa wajah yang saya kenali sebagai adik kelas atau senior saya di SMU. Bahwa saya cuma sebatas kenal wajah dengan mereka, malah membuat saya lega. Saya tidak perlu repot-repot berbasa-basi dengan mereka. Cukup keberadaan mereka membuat saya tenang bahwa saya tidak benar-benar asing.

Saya mulai merasa nyaman mendengarkan arahan panitia di depan yang menjelaskan tentang apa yang harus kami lakukan besok hari minggu. Kami para relawan sudah terbagi-bagi ke dalam kelompok. Saya berada di kelompok yang bertugas mengurusi lomba. Tugas saya adalah membacakan pertanyaan kuis untuk para peserta lomba.

Di kejauhan, saya lihat Lala baru saja datang, rupanya teman saya itu terlambat. Dia langsung bergabung ke dalam kelompok di seberang sana. Rupanya dia kebagian mengurusi taman bacaan anak. Dia tidak melihat saya. Jadi kami tidak langsung bertegur sapa.

Ketika saya sedang duduk manis mendengarkan pengarahan, perempuan di sebelah saya tersenyum sambil menawarkan tangan tanda perkenalan. Jujur saja, walaupun saya datang sendirian, saya sama sekali tidak berencana untuk mendapatkan teman baru. Niat saya datang kesini untuk mendapatkan akhir pekan yang tidak biasa, mendaftar jadi relawan, bermain dengan anak-anak, bergembira dengan anak-anak, lalu pulang. Saya merasa tidak punya urusan dengan para mahasiswa UI ini.

Tapi perempuan di samping saya itu bukan main sopannya, sehingga akhirnya saya tidak berdaya. Kami pun berkenalan. Ternyata dia mahasiswa FIB angkatan 2007. Namanya Arien. Saya lalu dikenalkannya pula pada beberapa temannya yang lain. Kebanyakan dari jurusan Ilmu Perpustakaan, dan mereka semua masih muda. Selain orang asing, rupanya saya tergolong yang paling tua di sini. Benar-benar akhir pekan yang tidak biasa, saya terkikik dalam hati.

Akhirnya, akhir pekan saya itu memang berlangsung menakjubkan. Sampai hari minggunya, seharian saya bersenang-senang mengurusi lomba anak-anak bersama teman-teman baru saya para mahasiswa yang masih muda-muda itu. Kami tidak habis-habisnya tertawa-tawa dan berfoto-foto. Sebelum berpisah kami tidak lupa bertukar email dan nomor telepon sambil berjanji untuk mengadakan pertemuan lagi.

Malam harinya, ketika akhirnya saya berhasil berbaring di tempat tidur, dengan badan pegal akibat kelelahan, saya merasa seperti tertimpa surga. Rasanya bahagia sekali. Saya berhasil mendapatkan akhir pekan yang menakjubkan. Semoga anak-anak yang mengikuti lomba hari itu, bahagia pula seperti saya. Amin.

PS. Terima kasih Lala, wouldn’t make it without you :)

July 25, 2008

HAPPY FRIENDSHIP ANNIVERSARY

Untuk yang ke-tiga ribu enam ratus lima puluh dua kalinya: I LOVE YOU BOTH!

July 24, 2008

PAMAN DATANG

Kemarin paman datang
Pamanku dari desa
Dibawakannya rambutan pisang
Dan sayur mayur segala rupa
Bercerita paman tentang ternaknya
Berkembang biak semua

Padaku paman berjanji
Mengajak libur di desa
Hatiku girang tidak terperi
Terbayang sudah aku di sana
Mandi di sungai turun ke sawah
Menggiring kerbau ke kandang

(antara kenang-kenangan waktu kecil dan keinginan berlibur akhir pekan ini yang tidak kesampaian)

July 10, 2008

NOBODY DOES IT BETTER

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best
I wasn’t lookin’, but somehow you found me
I tried to hide from your love light
But like heaven above me, the spy who loved me
Is keeping all my secrets safe tonight
And nobody does it better
Though sometimes I wish someone could
Nobody does it quite the way you do
Why’d you have to be so good?
The way that you hold me whenever you hold me
There’s some kind of magic inside you
That keeps me from runnin’, but just keep it comin’
How’d you learn to do the things you do?

And nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, baby
Darling, you’re the best
Baby, you’re the best
Baby, you’re the best

(nobody covers this song better than Yorke)

July 06, 2008

THE GREENBACK

I believe that banking institution is more dangerous to our liberties than standing armies. The issuing power of money should be taken away from the banks and restored to the people whom it belongs.

(Thomas Jefferson)


The Greenback, begitu orang ramai menjuluki dolar, tidak hanya digunakan di dalam negeri saja, bahkan menjadi cadangan devisa utama bagi negara-negara dunia. Di akhir 90-an, 70 persen cadangan devisa dunia dipenuhi dengan dolar. Pamor dolar memang agak sedikit surut ketika euro -saudara mudanya sesama fiat money- mulai diperkenalkan. Euro mulai mengambil share hampir 25 persen di akhir 2005, sementara dolar sedikit menciut hingga tinggal sekitar 65 persen.

Berapa peredaran dolar yang dipompa keluar dari Amerika setiap harinya? Diperkirakan lebih dari 1.5 milliar dolar AS. Dengan menimbang produksi untuk satu dolarnya kurang dari satu sen, maka sudah pasti dolar bukan sekedar mata uang, tapi telah menjadi produk ekspor paling unggul Amerika19.

Bagaimana dolar bisa menjadi begitu besar pengaruhnya? Siapa tim sukses di belakangnya? Apa dampaknya bagi perekonomian dunia?

Cek Kosong Yang Sakti

Ada yang menggambarkan dolar seperti cek kosong. Penerbit cek adalah orang terpandang. Ia bukan hanya dihormati, tapi juga dianggap sebagai sesepuh yang mapan. Ia tidak kaya raya, memang, tapi paling tidak, mobil yang ia pakai dan rumah yang ia diami, meski hanya pinjaman, telah membuat citra baru dirinya sebagai orang kaya. Bila ia menghendaki sesuatu, cukup baginya menulis cek.

Penerima cek tak secuil pun meragukan ceknya. Kenapa? Karena penulisnya adalah orang terpandang dan terhormat. Tak mungkin ia melakukan penipuan. Padahal, cek yang ditulis ini sebetulnya tidak ada dananya alias kosong. Si penulis cek tidak memiliki dana yang cukup di bank. Kalau saja si penerima cek membawanya ke bank untuk mencairkannya, tentu bank akan menolaknya.

Namun, dengan kekuatan pencitraan tadi, si penerima cek tidak pernah datang ke bank. Ia tidak merasa perlu untuk mencairkan ceknya. Ia tidak peduli apakah cek itu benar-benar ada dananya, sehingga tak perlu ia datang ke bank untuk mencairkannya. Ia, dan banyak lagi penerima cek dari penulis yang sama, tidak merasa perlu mempersoalkan cek itu, dan bahkan menjadikan cek itu sebagai alat pembayaran yang bisa dipindah-pindahkan dari orang yang satu ke orang yang lainnya. Karena kelihaian si penulis cek, dunia internasional pun tersihir. Bahkan, semua pasar komoditi, tak terkecuali mereka para makelar minyak, menerima penjualan emas hitamnya dengan cek itu juga.

Praktis, setiap orang penerima cek hanya menyimpan, mensirkulasikan, dan menimbunnya. Mereka tidak pernah datang untuk mencairkan ceknya. Bahkan mereka ikut-ikutan menggunakan cek itu sebagai alat pembayaran.

Dalam logika keuangan, cek tak ubahnya utang. Dimana si penulis cek memiliki utang kepada si penerima cek. Kalau si penerima mau, ia bisa datang ke bank yang ditunjuk untuk mencairkan ceknya. Namun, selama cek itu tidak benar-benar dicairkan, si penulis cek akan terbebas dari tagihan pembayaran.

Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana dolar, yang tak ubahnya cek kosong, meluas pengaruhnya menjadi alat transaksi global. Pengaruhnya semakin mendunia ketika dolar disepakati sebagai satu-satunya alat pembayaran resmi minyak. Negara-negara industri yang tidak memiliki sumber daya minyak seperti Jepang dan Cina, tak pelak perlu menyimpan dolar dalam devisa mereka untuk keperluan pembelian minyak bagi industrinya.

The Federal Reserve

When you or I write a check there must be sufficient funds in our account to cover the check, but when the Federal Reserve writes a check, there is no bank deposit on which that check is drawn. When The Federal Reserve writes a check, it is creating money 20.

Siapa yang bisa memaksakan kertas menjadi berharga seperti emas? Siapa yang bisa menulis cek kosong tanpa pernah dikomplain? Tidak lain adalah The Federal Reserve System atau disingkat Federal Reserve atau lebih pendek lagi The Fed. Bagaimana cek kosong itu bisa dikeluarkan?

Di bawah payung Federal Reserve Act, 1913, The Fed lah yang berhak menerbitkan dan mencetak dolar, bukan Departemen Keuangan (U.S Treasury). Disinilah keanehannya. Sebuah institusi yang memiliki otoritas untuk mencetak uang, bukan dimiliki oleh negara. Sebaliknya, oleh sekelompok pemilik swasta. Inilah ruang yang longgar untuk bisa melakukan eksploitasi atas sesamanya. Kesempatan untuk memonopoli keuangan global, atas nama warga Amerika.

Warga Amerika boleh jadi bangga karena mata uang mereka, melalui The Fed, menjadi mata uang internasional yang paling berpengaruh. Namun ada juga anggota Kongres yang mencium rencana jahat dengan menyebut The Fed sebagai tukang monopoli. Louis T. McFadden, Chairman of the Comittee on Banking and Currency, pada tanggal 10 Juni 1932 mengungkapkannya kepada publik 21.

Some people think The Federal Reserve is The United States government’s institutions. They are not government institutions. They are private credit monopolies which prey upon the people of United States for the benefit of themselves and their foreign swindlers.

Laiknya negara besar, AS memiliki banyak negarawan dengan visi jangka panjang. Termasuk negarawan yang memiliki visi bagaimana keuangan semestinya dikelola. Bahkan sebelum The Fed didirikan, beberapa diantaranya mengingatkan bahayanya ketika institusi bank yang menerbitkan uang diserahkan kepada segelintir orang. Mereka bisa bertindak bukan atas nama dan kepentingan negara, tapi bergerak untuk mengeruk profit bagi pundi-pundi keuangan mereka sendiri.

Presiden Andrew Jackson (1836) dengan tegas mengingatkan:

If Congress has the right to issue paper money, it was given to them to be used by the government, and not to be delegated to individuals or corporations.

Berbeda dengan presiden AS ke-7 itu, Presiden AS ke-3, Thomas Jefferson, seperti dikutip di awal bagian ini, menyatakan institusi bank bisa jauh lebih berbahaya ketimbang tentara musuh. Karena itu, Jefferson merekomendasikan agar kekuasaan untuk menerbitkan uang dicabut dari bank dan diberikan kepada mereka yang lebih berhak.

Namun, peringatan para mantan presiden itu hanya disimpan dalam rak-rak buku museum. Kekuatan manusia-manusia serakah yang menduduki kursi kekuasaan berhasil meredamnya. Buktinya, legislasi yang mengukuhkan berlakunya Federal Reserve System bisa disahkan. Meskipun secara tersirat, pengesahan ini lagi-lagi ditentang oleh presiden yang berkuasa saat itu, Woodrow Wilson (1913-1921):

A great industrial nation is controlled by its system of credit. Our system of credit is concentrated in the hands of few men. We have come to be one of the worst ruled, one of the most completely controlled and dominated governments in the world. No longer a government of free opinion, no longer a government by conviction and vote of the majority, but a government by the opinion and duress of small groups of dominant men.

Wilson boleh saja menyindir segelintir orang yang berkuasa itu, namun sejarah juga yang membuktikan, penampilan mereka sangat perkasa. Segelintir orang yang menguasai keuangan dunia. Mereka, seperti dikatakan Jefferson, memang lebih berbahaya daripada tentara musuh yang kelihatan. Karena melalui keuangan global, kolonialisme tidak lagi terjadi secara kasat mata. Penjajahan dunia tidak lagi perlu meneteskan darah sedikitpun. Kolonialisme yang menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan cukup diatur oleh segelintir orang dari tempat yang jauh. Tanpa bau mesiu, tanpa gedubrak-gedubruk, cukup dengan dentingan segelas martini.

Dollar Over Hang

Pada tahun 60-an, suplai dolar AS terus meningkat mengakibatkan dolar terdepresiasi terhadap mata uang asing. Peningkatan suplai dolar ditengarai sebagai akibat pengeluaran pemerintah AS yang terus meningkat, khususnya untuk membiayai Perang Vietnam dan belanja program sosial Presiden Johnson.

Suplai dolar yang meningkat juga mengerek tingkat inflasi AS. Harga-harga produk AS meningkat sehingga tidak bisa berkompetisi dengan produk asing. Akibatnya impor cenderung mengungguli ekspor. Terjadi defisit perdagangan AS, surplus dolar ternyata juga menimbulkan masalah. Adalah Robert Triffin, ekonom Belgia yang menjadi profesor ekonomi di Yale University yang mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai dolar over hang. Ini terjadi ketika nilai dolar yang disimpan sebagai cadangan devisa oleh negara-negara mitra AS telah melampaui nilai emas yang disimpan AS sebagai cadangan setiap dolar yang mereka cetak pada kurs 35 dolar per ons. Dolar over hang terjadi pada tahun 1960 dan semakin memburuk pada tahun-tahun sesudahnya.

Karena melihat fakta memburuknya kondisi dolar, tantangan dan kritikan terus disampaikan khususnya oleh beberapa negara dengan reserve dolar dominan seperti Perancis, Inggris, dan Jerman. Adalah Charles De Gaulle, presiden Perancis ke-5, yang secara terbuka menyerang eksistensi dolar dan mengundang negara-negara dunia lainnya untuk menciptakan regim moneter yang kembali kepada emas. De Gaulle tidak main-main. Ia mengapalkan dolar AS kembali ke Amerika dan meminta untuk diganti dengan emas. Tahun 1965, De Gaulle memerintahkan Perancis mengonversi 150 juta dolar AS ke dalam emas. Ia juga merencanakan untuk menukarkan dolar dalam jumlah yang sama, begitu penukaran yang pertama sukses. Tindakan itu kemudian diikuti oleh Spanyol yang menukarkan 60 juta dolar AS ke dalam emas.

Langkah ini sangat memukul Amerika Serikat. Simpanan emas mereka di Fort Knox berkurang senilai 100 juta dolar AS. Presiden Johnson gelagapan dan segera memutar otak mengantisipasi gelombang penukaran dolar ke emas yang bisa membahayakan stabilitas dolar dan membawa Amerika Serikat ke jurang petaka ekonomi. Kongres pun menyetujui proposal Johnson untuk mengurangi 25 persen emas yang dijadikan back up dolar.

Sementara itu dolar over hang semakin memburuk. The Fed mencetak dolar lebih banyak untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan belanja militer. Ini mengakibatkan dolar yang disimpan sebagai cadangan devisa di luar AS meningkat drastis. Diperkirakan, pada tahun 1971, nilainya mencapai 50 miliar dolar AS, sementara cadangan emas AS hanya senilai 15 juta dolar AS. Inilah yang menyebabkan Presiden Nixon melempar handuk. Pada bulan Agustus 1971, dia mencabut konvertibilitas dolar, yang menandai berakhirnya sistem Bretton Woods 23.

Mulai saat itu, dolar diserahkan sepenuhnya kepada pasar dan tidak lagi di-back up dengan emas sama sekali. Atau dengan kata lain, pemerintah AS tidak lagi melayani pihak manapun yang hendak menukarkan dolarnya dengan emas.

Bagi segelintir orang yang berkuasa, inilah periode yang mereka nanti-nantikan. Karena setelah keberanian Presiden Nixon ini, regim moneter dunia benar-benar akan sangat terkontrol pada manusia-manusia tertentu, bukan lagi tunduk kepada emas.

Apa artinya? Inilah awal dolar tidak lagi sebagai mata uang yang netral. Ia sudah menjadi alat yang bisa digunakan sebagai eksploitasi. Ia sudah menjadi Green Evil. Alat untuk menjaga supremasi dan superioritas AS atas negara-negara lain. Dimana, kata Henry CK Liu, negara AS lah yang boleh mencetak dolar. Sedang masyarakat dunia lainnya menyediakan barang dan jasa yang bisa ditukar dengan dolar.

Endnotes


19William Bonner & Addison Wiggins: Financial Reckoning Day. Hal.7

20 Dinyatakan secara resmi oleh Boston Federal Reserve Bank. Lihat di http://www.freedomdomain.com/bankquot.html

21 Ibid.

22 Berlaku pertama kali sejak tahun 1957.

23 Sistem ini diratifikasi oleh 44 negara pada tahun 1944, dimana dolar AS berperan sentral dalam sistem moneter dunia. Dolar bisa dijadikan sebagai cadangan devisa. Untuk setiap 35 dolar AS ekual dengan satu ons emas.

(The Satanic Finance – A. Riawan Amin)

July 04, 2008

AKAN SEMBUH KEMBALI

Kecewa.

Sebenarnya saya kecewa,
Tetapi di dalam kecewa,
Saya maafkan saudara.

Sebab bukan baru sekali saya kecewa,
Melainkan sudah berbilang kali.

Dan setiap kali saya kecewa,
Setiap kali saya bangun kembali,
Sekian kali saya merasai kelucuan diri.

Kini, saudara, saya sudah belajar kecewa,
Saya menangis tertawa dalam kecewa,
Mengetahui hati berdarah,
Dicakar berulang kali,
Tetapi nanti akan sembuh kembali.


HB. Jassin – 1942
semalam, perkenalan pertama dengan puisinya beliau,...

June 27, 2008

DI BALIK TERPAAN HUJAN BATIK

and if she tells you two is one
then two is one my love

(Suede - She’s In Fashion)



Hujan batik melanda dunia mode kita. Jakarta dihujani kain batik dengan berbagai macam corak dan warna. Saya, sebagai penyuka batik, tentu saja turut berbahagia karenanya. Gara-gara hujan batik, saya jadi tiba-tiba bisa jalan di mal sambil mengenakan batik, tanpa harus menunggu adanya undangan acara Kartini, dipadukan dengan jeans pula. Amboi, gembiranya saya! Tiba-tiba semua orang, terutama kaum perempuan, beramai-ramai mengenakan batik, sehingga batik bukan lagi monopoli bapak-bapak yang menghadiri undangan pernikahan, atau seragam ibu-ibu pegawai pemerintahan setiap hari jumat. Batik jadi seperti perawan yang mekar pada usia 17, yang menguarkan pesona terpendam sampai-sampai seisi dunia jatuh cinta padanya.

Jika memang benar demikian yang terjadi, sungguh saya berbahagia karenanya. Alangkah indahnya dunia jika dibungkus batik. Tapi, apakah pasukan perempuan berbatik yang memadati mal-mal ibu kota, memadati jalan-jalan raya, dan memadati perkantoran Jakarta benar-benar mencintai batik itu sendiri?

Sebagai perempuan yang tahu benar bagaimana sulitnya melawan diri dari cengkeraman sihir mode, saya takut kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak perduli, apakah yang mereka kenakan adalah batik, atau mungkin pakaian ala seragam ABRI, asalkan itulah tren moden saat ini. Apalagi jika gelontoran batik dalam berbagai macam model dan warna yang memenuhi mal-mal ibu kota semakin tidak terkendali. Saya khawatir bahwa hujan batik hanya akan menjadi euforia semata. Komoditas bisnis semata.

Apabila kita melihatnya secara sekilas, seakan memang tidak ada pihak yang dirugikan -kecuali tentu saja perempuan yang tidak bisa menahan diri sehingga kalap memborong batik, yang patut saya akui, memang sungguh menggoda dalam berbagai corak dan warnanya. Tapi, pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana citra batik paska berlalunya euforia itu?

Berdasarkan pengalaman saya sebagai perempuan yang tentu saja pernah tergoda oleh rayuan mode yang memabukkan, saya tahu benar bagaimana siklus kerja mode. Dia selalu bisa menyihir para perempuan untuk tiba-tiba berbondong-bondong memuja sesuatu, lantas tiba-tiba mencampakkannya begitu saja untuk kembali memuja sesuatu yang baru, dan begitu seterusnya. Saya masih ingat betul, bagaimana tiba-tiba skinny jeans jadi begitu menawan di mata saya, sehingga saya jadi muak menatap tumpukkan baggy jeans yang menggunung di lemari saya, setelah sebelumnya saya begitu tergila-gila pada mereka. Dengan cara yang sedemikian rupa, fashion berhasil mencuci otak saya.

Maka, betapa cemasnya saya membayangkan citra batik apabila sihir mode telah pudar dari dirinya. Saya membayangkan perempuan-perempuan itu akan berangsur-angsur menanggalkan baju-baju batik modernnya, ketika melihat produk terbaru yang tengah naik daun. Dan batik-batik itu pun terlupakan, cuma jadi pajangan di lemari, dan kembali digunakan hanya untuk menghadiri undangan pernikahan. Yang lebih parah, jika masih ada seseorang yang nekat mengenakan baju batik untuk berjalan-jalan di mal, seisi dunia akan mengutuknya sambil berujar: “basi banget sih masih pake batik! batik udah gak mode lagi, tauk!”. Sungguh suatu efek samping yang cukup fatal, karena menurut hemat saya, bicara batik berarti bicara identitas nasional.

Tapi semoga, semoga saja, ini hanya pikiran buruk saya yang kelewatan, semoga ini cuma sekedar kebiasaan saya yang memang suka mencemaskan sesuatu secara berlebihan. Semoga saya cuma sekedar sok pintar dengan penilaian sembrono saya bahwa perempuan Jakarta gampang dicucuk hidungnya oleh mode. Semoga saya cuma sekedar suudzon bahwa perempuan Jakarta yang kini tengah berbatik itu akan segera mencibir apa yang sedang dikenakannya apabila dihadapkan pada bintang fashion yang baru. Semoga perempuan Jakarta memang benar-benar mencintai batik.

June 25, 2008

BEAUTIFUL NEWS

Berita itu, adalah salah satu berita yang paling indah yang pernah disampaikan pada saya.

Karena yang diberitakan di dalamnya, adalah laki-laki paling indah sejagat raya. Begitu indahnya dia sampai tak habis-habisnya saya memuja dia. Dan tentu saja, walaupun saya tidak mengenalnya, perempuan yang ikut diberitakan di dalamnya adalah perempuan yang pasti juga paling indah sejagat raya. Sebab pada pilihannya saya percaya.

Berita itu datang tidak sebagai huruf berukir yang dicetak indah dalam tinta emas, jauh lebih indah dari segalanya, dia yang diberitakan menyampaikannya langsung pada saya. Dipilihnya waktu yang paling tepat, lalu dengan cara yang teramat indah disampaikannya pada saya, seakan-akan tidak tenang hidupnya apabila saya belum mengetahuinya.

Belum pernah saya merasa begitu tersanjung ketika menerima sebuah berita, dan belum pernah saya merasa begitu berbahagia dalam menghayati kata selamat yang saya ucapkan atas sebuah berita.


(I am honored we’re still friends. God bless you and your family.)

June 19, 2008

DADDY'S HOME

Pada hari sabtu pagi tiba-tiba Ayah saya membawa kabar berita. Tidak penting isinya. Cuma mengabarkan bahwa besok senin beliau harus pergi ke luar kota. Selama lima hari. Untuk urusan kantor.

Sepanjang saya bisa mengingat, Ayah saya jarang pergi ke luar kota untuk urusan kantor. Beliau sangat menghindarinya karena tidak suka pergi berlama-lama meninggalkan rumah, dan terutama karena beliau tidak betah tidur di tempat asing. Kalaupun terpaksa pergi, apabila urusan yang penting sudah beres, beliau biasanya pulang lebih awal dari rekan-rekannya yang seringkali masih punya jadwal acara bebas untuk jalan-jalan. Jadilah sepanjang sejarah hidup kami sekeluarga, Ayah saya hampir tidak pernah pulang membawa oleh-oleh.

Waktu saya masih sekolah, saya sering menyesali kebiasaan Ayah saya ini. Menurut hemat saya waktu itu, tentu menyenangkan apabila beliau tidak berada di rumah untuk jangka waktu lama. Dalam bayangan saya, apabila beliau tidak ada, tentu saya bisa pulang pagi sebebas-bebasnya, karena Ayah saya cukup ketat untuk urusan pulang pagi, dan sangat pelit untuk urusan izin menginap, sementara Ibu saya terkenal tidak tega menolak permintaan anaknya.

Tapi seiring pertambahan kedewasaan kami anak-anaknya, aturan Ayah saya pelan-pelan berubah lebih longgar, dan soal izin menginap tidak lagi sesulit dulu. Selain itu, semakin kesini, Ayah saya semakin menempatkan diri sebagai teman daripada orang tua -walaupun sayangnya ketegasan dan kegalakannya tidak pernah hilang benar, saya jamin, tidak akan pernah. Sehingga waktu saya dengar kabar itu, saya tidak lagi antusias. Keinginan nakal jaman sekolah telah lama menguap dari pikiran saya. Reaksi saya malah cenderung khawatir. Semakin Ayah dan Ibu saya bertambah tua, saya jadi lebih sering mengkhawatirkan mereka.

Akhirnya, jadilah Ayah saya berangkat hari senin pagi. Malamnya tinggal saya, Ibu saya, dan adik-adik. Tiba-tiba, naluri ‘anak sulung’ dan penyakit paranoid saya kambuh dan saling berkolaborasi. Saya jadi berlebihan mengecek pagar, pintu, dan jendela. Adik laki-laki saya yang biasanya pulang kuliah tengah malam, saya wanti-wanti untuk tidak nongkrong lama-lama di kampus dan segera pulang.

Entahlah, ada semacam perasaan tidak aman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rumah saya rasanya sepi tanpa Ayah saya, padahal hampir tidak ada bedanya dengan sehari-hari, karena biasanya beliau rajin ikut pengajian dan hampir selalu pulang malam. Keberadaan adik laki-laki saya di rumah pun saya rasakan tidak banyak membantu. Menurut saya, biar bagaimana pun juga, dia tetap saja adik saya, dia tetap saja berada di bawah tanggung jawab saya, betapa pun dia laki-laki, betapa pun postur badannya tinggi besar.

Pada malam ketiga, dini hari menjelang subuh, saya terbangun karena mendengar suara-suara. Antara sadar dan tidak sadar, suara yang sangat khas itu saya kenali sebagai suara napas Ayah saya yang kalau tidur tidak bisa tidak mengorok, dengan volume yang lumayan kencang.

Saya pun memutuskan bangun untuk membuktikan kebenaran pendengaran saya. Pelan-pelan saya masuki kamar Ayah dan Ibu saya, dan benarlah, Ayah saya tengah tidur pulas di samping Ibu saya yang juga sama pulasnya. Sementara di lantai kamar tergeletak koper bekas perjalanan dan beberapa bungkusan lain yang digeletakkan begitu saja.

Paginya, saya lihat Ayah saya sudah kembali pada rutinitas biasanya: menyirami tanaman-tanaman kesayangannya di pekarangan sempit kami. Waktu saya tanya kenapa beliau sudah ada di rumah padahal baru tiga hari pergi, seperti biasa, beliau mengaku tidak betah di tempatnya menginap, sampai akhirnya nekat pulang ke rumah. Lalu kami terkikik geli berdua -sekedar informasi, dibalik kegalakannya, Ayah saya adalah pelawak paling lucu sedunia.

Dalam hati saya gembira sekali, Ayah saya sudah pulang ke rumah.

June 18, 2008

KISAH SUKUS DAN TUKUS*

Syahdan di suatu samudera terdapat dua pulau yang bertetangga. Sebut saja pulau Aya dan Pulau Baya. Di pulau Aya, suku Sukus hidup sejahtera. Mereka dikaruniai daratan yang subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis. Ikan dan sumber daya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, pulau Aya terkenal dengan panorama yang indah. Gemericik air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran bila pulau ini menjadi tempat tujuan para pelancong dan wisatawan lokal maupun luar pulau.

Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbol harta kekayaan.

Selain sebagai simbol peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel.

Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat dari cara mereka yang saling tolong menolong. (Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak, yang berarti menguras emas simpanannya, anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya, tanpa charge atau tambahan apapun. ” Dasar manusia bodoh, sudah meminjamkan uang kok tidak mau minta kompensasi,” begitu gerutuan kami.

Sementara pulau tetangganya, pulau Baya, didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara ternak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan.

Dibandingkan suku Sukus, mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meskipun berbeda dalam hal kesejahteraan, ada satu persamaan menonjol diantara Sukus dan Tukus. Mereka sama-sama hidup damai, rukun, dan saling tolong-menolong. Mereka sering bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.

Sampai akhirnya datang tamu istimewa ke suku Sukus. Berpenampilan parlente, dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gago dan Sago, begitu mereka mengenalkan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gago dan Sago yang mengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perjalanan.

Satu hal lagi -dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya- adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gago dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gago dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah. Lalu, mereka memperkenalkan mesin pencetak uang.

Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi bernama bank perlu didirikan. Bank akan menyimpan deposit koin emas mereka yang menganggur (idle). Lalu uang deposan ini -sebagai taktik, ya, hanya sekedar taktik- bisa dipinjamkan kepada anggota suku lainnya yang memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua sumber daya yang ada menjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produksi.

Upacara pembukaan perdana Bank Aya, sebut saja begitu, sangat meriah. Orang sepulau jadi satu merayakan hari bersejarah itu. Sebagian besar dari mereka sudah membawa koin-koin emas yang selama ini hanya disimpan di bawah bantal. Setiap satu koin emas yang mereka simpan, mereka mendapatkan ganti uang kertas dengan jaminan bila sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat ini mereka terima dengan koin emas yang pernah mereka simpan.

Hampir semua anggota suku Sukus menyimpan koin emas mereka di Bank Aya. Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang berarti Bank Aya menerima 100.000 koin emas. Tak terasa, akhirnya penduduk negeri pulau Aya begitu menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan nyaman.

Praktis semakin jarang orang yang menggunakan koin emas dalam transaksi sehari-hari. Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata uang dominan. Kenapa mereka begitu? karena selain lebih memudahkan transaksi, mereka juga dengan mudah menukarkan uang kertas mereka dengan koin emas jika mereka memerlukan. Untuk yang satu ini, Gago dan Sago sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas diberikan. Demikian seterusnya sehingga lama-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa menukarnya sepanjang waktu.

Perkembangan ini ternyata menjadi berita dimana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau Baya diam-diam memuji dan ingin sekali praktik yang sama juga diterapkan di pulau mereka. Bayangkan, dari semula melakukan jual beli dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super canggih yang bisa membantu mereka melakukan transaksi dengan sangat mudah dan efisien.

Tak sabar, mereka mengutus duta menemui Gago dan Sago. Mereka minta agar sistem yang mereka bawa juga bisa diterapkan di pulau Baya. Gago menyanggupi. Dia meminta Sago untuk membuka cabang Bank Aya di pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai manajernya. Hanya bedanya, di sini hanya sedikit penduduknya yang memiliki koin emas.

“Anda tidak perlu kecil hati,” kata Sago menghibur. “Tanpa koin emas pun anda bisa mengenyam kenikmatan sebagaimana tetangga pulau anda,” dia bermanis-manis menerangkan. Tentu saja keterangan ini disambut gembira oleh penduduk pulau Baya.

Sago betul-betul agen kami yang cemerlang. Otak bulusnya benar-benar tidak menyimpang dari program yang sudah kami tanamkan: keserakahan.

Begitulah. Mulailah Sago membagikan uang kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu. Setiap kepala keluarga diberikan 1000 lembar uang. Jadi total uang yang tersirkulasi di pulau itu mencapai 100.000. “Karena anda tidak menyimpan koin emas seperti halnya penduduk pulau seberang, sebagai gantinya, anda bisa menggunakan uang yang telah saya bagikan.”

Apa yang dikatakan Sago itu disambut dengan senang. Tepuk tangan riuh membahana. Mereka bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Namun kemeriahan itu sempat hening ketika Sago menyela, “Harap diingat. Uang yang saya bagikan tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman, namun setahun setelah saat ini, anda harus mengembalikan uang ini plus 100 lembar uang tambahan.”

“Kenapa harus ada tambahan 100? Kenapa tidak mengembalikan sejumlah yang kami pinjam?” seorang pemuka suku Tukus menyela.

“Huh! Dasar manusia bebal,” umpat kami yang tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago.

“Betul anda memang hanya meminjam 1000. Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang kami sediakan,” Sago dengan senyum lepas menjelaskan. Penjelasan brilian. Kami turut puas mendengar Sago. Tak terasa air liur kami berloncatan di sela-sela taring kami yang panjang. Menunggu agar para manusia bodoh itu tak lagi rewel menyoal tambahan yang wajar.

Meski ada yang masih mengganjal, penjelasan Sago cukup tepat untuk membungkam naluri kritis warga Tukus. Itu terlihat dari tak surutnya minat warga Tukus untuk mengambil tawaran Sago. Paling tidak, mereka bisa merasakan mudahnya bertransaksi dengan uang kertas. Dan yang lebih penting lagi, menikmati status sebagai warga dunia baru. Modern dan prestisius.

Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai memainkan kartu truf. Dari pengamatan Gago, di pulau Aya, rata-rata hanya sekitar 10 persen uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada setiap waktu. Sisanya, 90 persen tetap berada di kotak penyimpanan di Bank Aya. Mencermati bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat tukar, kami pun tergelak.

“Hai Gago, kenapa tidak kau cetak uang lagi? Bukankah hanya sedikit dari mereka yang menukarkan uang kertasnya dengan koin emas? Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak cerdasmu,” begitu kami tak henti menggelitiki Gago.

Dan benar, Gago memang agen kami yang jempolan. Ia lalu mencetak uang kertas lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga 900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, ditambah jumlah uang kertas yang telah dibagikan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada orang yang datang hendak menukarkan uang kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang terjadi, bukankah ia menyimpan 100.000 koin emas, yang tidak lain adalah koin yang telah disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi, bukankah cadangan koin emas yang diperlukan sudah cukup?

Fantastic! Creating money from nothing!

Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya orang-orang seperti Gago, kawan kami, yang bisa. Begitulah. Akal bulus Gago bergerak. Ia pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru dicetaknya kepada warga Sukus yang memerlukan. Kalau di pulau Baya, Sago mengutip tambahan ekstra sebesar 10 persen dari pokok, nah Gago meningkatkan kutipan hingga 15 persen. Artinya kalau seseorang meminjam 1000 lembar uang kertas, di akhir tahun ia harus mengembalikan 1.150 uang kertas, dimana 150 adalah charge dari layanan yang diberikan.

Hari pun berganti. Bulan berjalan begitu cepat. Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi pada suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti, penduduk pulau Aya merasakan harga-harga kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka tidak tahu apa penyebabnya. Banyak diantara orang yang meminjam uang dari Gago itu mengalami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras, mereka masih kesulitan melunasi utang berikut bunganya.

Dan mereka memang tidak akan pernah bisa.

Bahkan ketika mereka menjadikan 24 jam untuk bekerja.

Lihatlah, uang yang dipinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15 persen, berarti senilai 135.000, sehingga jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal, jumlah uang yang beredar hanya 1.000.000 (100.000 diberikan sebagai ganti 100.000 keping koin emas, ditambah uang baru 900.000 yang dicetak Gago).

Dan inilah panen raya yang kami tunggu: kesuksesan Gago dan Sago. Kami sebut begitu, karena sistem yang dikenalkan dua agen top kami itulah yang pertama kali mengubah watak bisnis kekeluargaan menjadi bisnis yang individual kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong, perlahan luntur. Masing-masing kepala -apalagi yang berhutang- harus bekerja keras demi mengejar uang untuk melunasi kewajibannya. Sehingga, ketika ada ombak besar menyapu sebagian rumah penduduk, kebiasaan mereka untuk saling bantu luntur. Prinsip saling membantu berubah menjadi time is money. Membantu orang boleh, tapi harus ada kompensasinya: uang. Sisi kehidupan sosial yang akrab perlahan berubah individual. Masing-masing mulai terbebani untuk berusaha keras demi kepentingan masing-masing. Sungguh perubahan yang sulit sekali kami capai sendirian, bila tanpa dua kaki tangan kami si Gago dan Sago.

Hal yang sama pun dialami oleh suku Tukus. Awalnya mereka tidak menyadari. Namun, lambat laun mereka merasakan perubahan. Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak tahu kenapa, tanpa terasa dengan berlalunya waktu, harga-harga terus merambat naik. Padahal mereka telah membanting tulang dan bekerja keras. Kerjasama antar warga yang semula menjadi tradisi, lama-kelamaan juga mulai luntur. Mereka menjadi egois, diburu kebutuhan masing-masing.

Melihat perkembangan ini, kami di dunia setan pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakusan menjadi ideologi, disitulah singgasana kami dibangun. Karena itu, kami pun semakin rajin membisiki Gago dan Sago untuk tidak hanya berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin menguasai manusia-manusia bodoh yang dulunya berlagak saling bantu itu.

Gago dan Sago memang sangat impresif. Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk memenangkan keadaan. Kepada para penunggak sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya, dengan menyita harta benda mereka. Rumah, sawah, ternak dan maupun harta benda lainnya pun segera berpindah tangan. Sementara penunggak yang mempunyai hubungan baik dengan Gago dan Sago diberi kesempatan untuk memperpanjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pim¬pinan suku Tukus, salah seorang di antara penunggak. Maka atas nama “kebaikan hati” Sago bukan saja memberikan tambahan waktu mengangsur utang, tapi juga memberikan tambahan utang baru. Kenapa? Dia beralasan utang ini biar bisa dipakai untuk melancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka kembali tak bisa melunasi utangnya.

Malu karena tak bisa membayar kewajiban, Taka menarik diri dan menghindari bertemu dengan Sago. la mulai kehilangan kepercayaan diri. Kewibawaannya sebagai kepala Suku Tukus berbalik ke titik nadir. Sementara, Sago yang semula berlagak membantu, kini tinggal melakukan eksekusi. la semakin kaya. la pun berubah lagaknya Tuan Besar. Dalam dunia kami, kedua agen ini memang layak sombong. Karena kepintaran dan kejeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja yang menyebut cara-caranya menguasai manusia-manusia bodoh itu sebagai keculasan. Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal, persetan dengan moral.

Setelah beberapa tahun berselang, Gago dan Sago yang semula datang ke Aya dan Baya dengan modal mesin pencetak uang, kini telah menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik negeri itu.
Sementara masyarakat dua pulau itu tinggalah sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba seperti menjadi endemik yang terus menyebar cepat. Mereka bekerja keras, untuk hasil yang sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara dan tetangga. Mereka semakin jarang melakukan upacara keagamaan. Lebih parah lagi, mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.

Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang sering mereka dengar dari negara antah berantah, kini menghampiri mereka di depan hidung mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang, mereka mengorbankan anak dan bahkan istrinya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya baru. Semua budaya yang datang dari Gago dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun lambat laun punah. Gago dan Sago telah menguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi, budaya, kekuasaan, dan keadilan yang bisa mereka beli melalui uang.

Namun ini bukan akhir petualangan mereka. Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di dunia berada dalam pengaruh kekuasaan mereka. Target mereka bukan untuk menaklukkan tentara musuh di negara-negara jauh. Tapi, menaklukkan ekonomi mereka. Membuat mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba, mencekik mereka dengan sekali hentak: melalui uang kertas tanpa jaminan, aturan cadangan 10 persen, dan bunga. Tiga kombinasi jurus ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua penduduk negeri sudah mereka kuasai.

Perangkap inilah yang dengan cerita dan intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami kembangkan, sehingga segelintir agen kami yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu sekarang sudah mulai recovery, sasaran bisa dialihkan ke tempat lain. Boleh juga, di kawasan yang sama, tentu menunggu saat yang tepat muncul kembali. Saat-saat balon ekonomi dan keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat ketika kami untuk kesekian kali merayakan kemenangan karena tiga pilar utama setan -fiat money, fractional reserve requirement, dan interest- berhasil menggoyang ekonomi.

*Diadaptasi dari buku The Theft of Nation (2004) karangan Ahamed Kameel Mydin Meera

(The Satanic Finance – A. Riawan Amin)