Aku kini tengah kecanduan pada rumahku sendiri.
Karena Ayahku yang kemarin pergi jauh itu telah pulang kembali
dan Ibuku yang kemarin kesepian itu sekarang sudah ceria kembali.
Rumahku yang sempat muram itu sekejap berubah terang
hingga aku mencanduinya laksana induk ayam mengeram telur di dalam kandang.
Januari 2009
January 21, 2009
January 07, 2009
SHOW SOME PRIDE
Sebuah email masuk ke dalam inbox saya pada suatu pagi. Saat melihat nama pengirimnya, saya sudah bisa menduga apa isi email tersebut. Pasti salah satu dari pertanyaan usang yang sudah berkali-kali diajukan pada saya.
Tersebutlah si laki-laki pengirim email tersebut. Status saya dan dia cuma sekedar teman sekolah, dan saya tidak pernah benar-benar mengenalnya. Namun kami akhirnya bersinggungan hidup lebih dekat, karena laki-laki itu jatuh cinta pada sahabat saya.
Dari sejak masa sekolah dulu, laki-laki itu tidak habis-habisnya mencintai sahabat saya. Saya masih ingat betul, ketika lulus sekolah, saya dan para sahabat terpaksa menjalani long distance relationship, karena sahabat saya diterima di perguruan tinggi negeri, masing-masing di Purwokerto dan di Bandung, sehingga cuma bisa bertemu setiap beberapa bulan sekali, tapi di antara sesi curhat kami yang waktunya terlalu singkat bila dibandingkan dengan begitu banyaknya cerita yang ingin dibagi, selalu sempat terselip keluhan dari mulut sahabat saya bahwa laki-laki yang satu itu masih selalu saja menghubunginya, dengan cara yang tidak sama dengan pertemanan biasa.
Dan ketika selepas kuliah saya dan para sahabat akhirnya berkumpul lagi di Jakarta, laki-laki itu masih tetap mencintai sahabat saya. Cinta yang dirasanya itu mungkin sudah beranak pinak di dalam hatinya, sehingga membuat dia merasa perlu mengabarkannya pula lewat saya. Lewat email saya. Lewat sms ke ponsel saya. Lewat teman yang lain. Tak lupa pula dia menyelipkan pertanyaan usang yang berinti pada apakah sahabat saya sudah punya pasangan, betapa pun sudah berulang kali saya menjawabnya.
Pertanyaan yang sama itulah yang tiba di email saya pagi itu.
Pertanyaan usang yang sampai saat ini masih enggan saya untuk membalasnya.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan sederhana itu. Tapi saking sederhananya, pertanyaan itu sama sekali tidak disertai dengan basa-basi, atau apapun yang menunjukkan bahwa laki-laki itu menyadari eksistensi saya, bukan sekedar berfokus pada apa yang akan saya jawab — namun sudahlah, kita maklumi saja, karena sebagian kita memang bisa tiba-tiba jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta.
Lalu, tidak pula ada yang salah dengan laki-laki tersebut. Secara fisik, dia baik-baik saja. Kepribadiannya pun sejauh yang saya tahu, cukup baik. Sementara karirnya, menurut saya baik sekali. Dan bahwa dia jatuh cinta pada sahabat saya, itu sangat normal. Sahabat saya, dengan segala keindahan yang melekat pada dirinya, memang selalu membuat laki-laki normal minimal diam-diam tertarik padanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya laki-laki yang itu cuma salah satu diantaranya. Namun, laki-laki itu telah membuat satu kesalahan fatal, yang membuat dia jadi berbeda dari sekian banyak laki-laki yang jatuh cinta pada sahabat saya.
Menurut hemat saya, rasa cinta adalah anugerah yang tidak seorang pun di muka bumi ini berhak membunuhnya. Siapa pun berhak mencintai siapa pun, sejak kapan pun, sampai kapan pun. Namun memaksa seseorang untuk membalas cinta, adalah hal yang berbeda. Mr. Beautiful juga pernah bilang, bahwa Tuhan bukan Ibu mertuamu, maka tak satupun dari kita bisa memaksakan cinta. Jadi, itulah kesalahan fatal yang dilakukan laki-laki tersebut. Secara halus, dengan berbagai cara yang tendensius, dia telah memaksa sahabat saya untuk balas mencintai dirinya. Dan yang lebih parah, ketika dia mulai mengajak orang-orang terdekat sahabat saya, untuk bersimpati pada dia dan segala rasa cintanya yang hebat itu. Seakan-akan dia merasa bangga, apabila seisi dunia menaruh kasihan padanya. Oh come on, show some pride!
Di mata saya, pendekatan berlebihan yang dilakukan laki-laki itu telah merendahkan keagungan cinta. Dia telah membuat rasa cinta seolah-olah jadi sesuatu yang memalukan. Padahal, mengetahui bahwa masih ada rasa hangat bersarang di dalam hati, yang khusus ditujukan untuk satu orang tertentu, adalah keindahan yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Dia telah membuat kegiatan mencintai jadi tak lebih dari drama murahan yang menuntut belas kasihan. Sama sekali tidak ada harga diri yang diselipkan di dalam sana. Memalukan menurut saya. Padahal, mencintai itu seharusnya bisa jadi gelar yang hebat. Tidak banyak orang yang sanggup mencintai selama yang laki-laki itu lakukan. Dan seharusnya, sahabat saya bisa merasa tersanjung demi dicintai dengan begitu hebatnya, kalau saja laki-laki itu mau sedikit mengangkat kepalanya, dan mencintai dengan cara yang lebih terpuji.
Bahwa dia mencintai sahabat saya dengan segenap urat nadinya, adalah kebebasan miliknya yang tidak akan diganggu-gugat. Dia boleh mencintai sahabat saya sambil jungkir balik dengan hatinya sendiri, sambil guling-gulingan dengan hatinya sendiri, sambil menangis tujuh hari tujuh malam sekalipun, dengan hatinya sendiri. Tapi dia tidak berhak memaksakan cinta di hati siapa pun. Dia juga harus sadar, bahwa sahabat saya berhak mencintai laki-laki manapun di jagat raya ini. Dan bahwa dia harus menghormati cinta yang sahabat saya miliki, kemana pun cinta itu ditujukan, sebagaimana dia menginginkan cintanya yang hebat itu dihormati.
So come on buddy, show us some pride!
Tersebutlah si laki-laki pengirim email tersebut. Status saya dan dia cuma sekedar teman sekolah, dan saya tidak pernah benar-benar mengenalnya. Namun kami akhirnya bersinggungan hidup lebih dekat, karena laki-laki itu jatuh cinta pada sahabat saya.
Dari sejak masa sekolah dulu, laki-laki itu tidak habis-habisnya mencintai sahabat saya. Saya masih ingat betul, ketika lulus sekolah, saya dan para sahabat terpaksa menjalani long distance relationship, karena sahabat saya diterima di perguruan tinggi negeri, masing-masing di Purwokerto dan di Bandung, sehingga cuma bisa bertemu setiap beberapa bulan sekali, tapi di antara sesi curhat kami yang waktunya terlalu singkat bila dibandingkan dengan begitu banyaknya cerita yang ingin dibagi, selalu sempat terselip keluhan dari mulut sahabat saya bahwa laki-laki yang satu itu masih selalu saja menghubunginya, dengan cara yang tidak sama dengan pertemanan biasa.
Dan ketika selepas kuliah saya dan para sahabat akhirnya berkumpul lagi di Jakarta, laki-laki itu masih tetap mencintai sahabat saya. Cinta yang dirasanya itu mungkin sudah beranak pinak di dalam hatinya, sehingga membuat dia merasa perlu mengabarkannya pula lewat saya. Lewat email saya. Lewat sms ke ponsel saya. Lewat teman yang lain. Tak lupa pula dia menyelipkan pertanyaan usang yang berinti pada apakah sahabat saya sudah punya pasangan, betapa pun sudah berulang kali saya menjawabnya.
Pertanyaan yang sama itulah yang tiba di email saya pagi itu.
Pertanyaan usang yang sampai saat ini masih enggan saya untuk membalasnya.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan sederhana itu. Tapi saking sederhananya, pertanyaan itu sama sekali tidak disertai dengan basa-basi, atau apapun yang menunjukkan bahwa laki-laki itu menyadari eksistensi saya, bukan sekedar berfokus pada apa yang akan saya jawab — namun sudahlah, kita maklumi saja, karena sebagian kita memang bisa tiba-tiba jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta.
Lalu, tidak pula ada yang salah dengan laki-laki tersebut. Secara fisik, dia baik-baik saja. Kepribadiannya pun sejauh yang saya tahu, cukup baik. Sementara karirnya, menurut saya baik sekali. Dan bahwa dia jatuh cinta pada sahabat saya, itu sangat normal. Sahabat saya, dengan segala keindahan yang melekat pada dirinya, memang selalu membuat laki-laki normal minimal diam-diam tertarik padanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya laki-laki yang itu cuma salah satu diantaranya. Namun, laki-laki itu telah membuat satu kesalahan fatal, yang membuat dia jadi berbeda dari sekian banyak laki-laki yang jatuh cinta pada sahabat saya.
Menurut hemat saya, rasa cinta adalah anugerah yang tidak seorang pun di muka bumi ini berhak membunuhnya. Siapa pun berhak mencintai siapa pun, sejak kapan pun, sampai kapan pun. Namun memaksa seseorang untuk membalas cinta, adalah hal yang berbeda. Mr. Beautiful juga pernah bilang, bahwa Tuhan bukan Ibu mertuamu, maka tak satupun dari kita bisa memaksakan cinta. Jadi, itulah kesalahan fatal yang dilakukan laki-laki tersebut. Secara halus, dengan berbagai cara yang tendensius, dia telah memaksa sahabat saya untuk balas mencintai dirinya. Dan yang lebih parah, ketika dia mulai mengajak orang-orang terdekat sahabat saya, untuk bersimpati pada dia dan segala rasa cintanya yang hebat itu. Seakan-akan dia merasa bangga, apabila seisi dunia menaruh kasihan padanya. Oh come on, show some pride!
Di mata saya, pendekatan berlebihan yang dilakukan laki-laki itu telah merendahkan keagungan cinta. Dia telah membuat rasa cinta seolah-olah jadi sesuatu yang memalukan. Padahal, mengetahui bahwa masih ada rasa hangat bersarang di dalam hati, yang khusus ditujukan untuk satu orang tertentu, adalah keindahan yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Dia telah membuat kegiatan mencintai jadi tak lebih dari drama murahan yang menuntut belas kasihan. Sama sekali tidak ada harga diri yang diselipkan di dalam sana. Memalukan menurut saya. Padahal, mencintai itu seharusnya bisa jadi gelar yang hebat. Tidak banyak orang yang sanggup mencintai selama yang laki-laki itu lakukan. Dan seharusnya, sahabat saya bisa merasa tersanjung demi dicintai dengan begitu hebatnya, kalau saja laki-laki itu mau sedikit mengangkat kepalanya, dan mencintai dengan cara yang lebih terpuji.
Bahwa dia mencintai sahabat saya dengan segenap urat nadinya, adalah kebebasan miliknya yang tidak akan diganggu-gugat. Dia boleh mencintai sahabat saya sambil jungkir balik dengan hatinya sendiri, sambil guling-gulingan dengan hatinya sendiri, sambil menangis tujuh hari tujuh malam sekalipun, dengan hatinya sendiri. Tapi dia tidak berhak memaksakan cinta di hati siapa pun. Dia juga harus sadar, bahwa sahabat saya berhak mencintai laki-laki manapun di jagat raya ini. Dan bahwa dia harus menghormati cinta yang sahabat saya miliki, kemana pun cinta itu ditujukan, sebagaimana dia menginginkan cintanya yang hebat itu dihormati.
So come on buddy, show us some pride!
Labels:
an unquiet mind
January 05, 2009
BACKPACKING JOGJA
Aku kembali dalam keadaan miskin
dan kulitku coklat terbakar matahari Jogja,
namun aku sangat sehat
dan tak ada yang bisa lebih hebat dari perasaanku.
Januari 2009
dan kulitku coklat terbakar matahari Jogja,
namun aku sangat sehat
dan tak ada yang bisa lebih hebat dari perasaanku.
Januari 2009
Labels:
poem

