October 28, 2008

I’M SLIPPING A STEP

(10/31/2008 3:26 PM)

Ratna,
Noted that you go out of office before lunch time without my permission today. In future, pls get my permission first before going out of office in working hours. Take this as the 1st warning, don’t let this happen again.
Rgds,


(Yah, seperti seorang penyair pernah berkata: into each life some rain must fall, hidup tentu saja bukan sekedar bekerja dengan tenang sambil mendengarkan musik, lalu sepulangnya duduk santai sambil minum susu dingin, bersama seorang finger-clicking musician dan seorang violin player, sambil berbincang tentang Kangen Band sampai Dewi Lestari, bak sekumpulan krikitikus handal, lalu pulang ke rumah dan tidur nyenyak, melainkan juga berjuang –tapi belum tentu berhasil–, atau dipermalukan, atau mengambil keputusan yang salah. Yah, namanya juga hidup –tapi menangis tentu saja juga wajar.)

October 27, 2008

HATI

Ah, hati, tetap saja hati.

Walau telah banyak diterangi, tetap saja suram kala rindu menghampiri.

Walau telah berhenti disirami, tetap saja hidup tak jua mati.

Oktober 2008

October 26, 2008

PEOPLE ARE STRANGE

Mulai dari orang-orang sekeliling, sampai mbak-mbak penjaga Hey Folks, tiba-tiba bersikap sangat tidak ramah.

Is it just me, or are people really getting strange?

October 25, 2008

THE RAINY DAY

Henry Wadsworth Longfellow

The day is cold, and dark, and dreary;
It rains, and the wind is never weary;
The vine still clings to the moldering wall,
But at every gust the dead leaves fall,
And the day is dark and dreary.

My life is cold, and dark, and dreary;
It rains, and the wind is never weary;
My thoughts still cling to the moldering past,
But the hopes of youth fall thick in the blast
And the days are dark and dreary.

Be still, sad heart! and cease repining;
Behind the clouds is the sun still shining;
Thy fate is the common fate of all,
Into each life some rain must fall,
Some days must be dark and dreary.

October 24, 2008

LIFE’S TOO SHORT FOR THE WRONG JOB…



(…I warn myself)



source: Jobsintown

October 22, 2008

IF

Rudyard Kipling

If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you;
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too:
If you can wait and not be tired by waiting,
Or, being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated don’t give way to hating,
And yet don’t look too good, nor talk too wise;

If you can dream - and not make dreams your master;
If you can think - and not make thoughts your aim,
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same:.
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
And stoop and build’em up with worn-out tools;

If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings,
And never breathe a word about your loss:
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: “Hold on!”

If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with Kings - nor lose the common touch,
If neither foes nor loving friends can hurt you,
If all men count with you, but none too much:
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
And - which is more - you’ll be a Man, my son!

October 20, 2008

MY BESTFRIEND IS ENGAGED!

Acaranya diadakan hari minggu kemarin, dan terbatas hanya untuk keluarga inti. Jadi, saya tidak hadir di sana.

Selesai acara, saya telepon dia.

“Lin, is it already there?”
“What?”
“It!”
“Hah? WHAT?”
“IT! is it already on your finger?”
“Oh, YES! Hahaha”

Well, congratulation, dear!
May it stay endlessly on your finger! :)

October 19, 2008

TRAGEDI PAYUNG MERAH

(Untuk Ijul)

Payung yang berwarna merah itu sebenarnya adalah payung biasa. Seperti yang sering dijual di pinggir-pinggir jalan, atau di atas-atas jembatan penyeberangan. Tapi apa yang dialami kawan saya Ijul dengan payung merah itu, adalah kejadian yang sangat tidak biasa. Saking luar biasanya, sampai membuat saya merasa perlu mengabadikannya dalam tulisan.

Hari itu hari minggu. Saya dan tiga orang kawan laki-laki tengah berkumpul di TIM. Kami memang biasa mengadakan pertemuan di tempat tersebut, karena selain tempat itu sangat mendukung minat dan gaya hidup tiga orang kawan laki-laki saya yang sangat seniman, tempat itu cukup nyaman untuk berjam-jam ngobrol membahas segala macam hal, dari mulai yang serius, sampai lelucon yang bisa membuat kami tertawa terbahak tanpa henti -kenyataannya, kami hampir tidak pernah membahas hal yang serius, hahahah.

Lalu, pembicaraan hari itu sampai pada rencana untuk berjalan-jalan mengunjungi rumah salah satu dari kami, Rangga namanya, di bilangan Jakarta Timur. Siang itu juga, diiringi panas terik yang sangat tidak bersahabat, kami berbondong-bondong keluar dari pelataran TIM. Nampaknya agar sesuai dengan gaya hidup seniman yang selalu bersahaja, kawan saya Rangga mengusulkan untuk terus berjalan kaki sampai ke halte bus Transjakarta. Tapi berhubung panasnya minta ampun, kawan saya Ijul menolak usul Rangga tersebut. Akhirnya, kami sepakat untuk menumpang kopaja, menuju halte bus Transjakarta.

Ketika kami tengah menunggu kopaja yang tidak juga melintas di depan TIM, kawan saya Ijul tiba-tiba membuka ransel hitam yang selalu setia bertengger di punggungnya. Dengan gaya yang agak demonstratif, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya: sebuah payung berwarna merah. Kami bertiga yang menyaksikan, spontan menyorakinya. Lebih karena iri ketimbang geli. Sebab guyuran panas yang amat terik itu, tidak sanggup dihalau hanya dengan gengsi.

Tapi untunglah, kami tidak perlu berlama-lama menatap kesal pada Ijul, yang pura-pura jumawa dengan payung merahnya. Kopaja yang kami tunggu tiba juga. Kawan saya Tala dan Rangga, buru-buru melompat masuk ke dalamnya. Menyusul saya yang sekilas sempat mendengar keluhan Ijul bahwa payungnya macet dan sulit ditutup. Tapi dalam waktu sepersekian detik, kawan saya itu menyuruh saya untuk segera menaiki kopaja, lalu diikutinya jejak saya.

Di dalam kopaja yang separuh kursinya sudah terisi, kawan saya Tala dan Rangga segera duduk manis di kursi paling belakang. Saya memilih duduk di kursi kosong di depan mereka, di sebelah seorang ibu.

Lalu, di kursi manakah kawan saya Ijul duduk?

Ketika saya memutar kepala untuk melihat ke arah depan, di sanalah dia kawan saya itu berada. Tepat di depan pintu masuk. Tidak duduk, melainkan berdiri. Sambil memegang payung merahnya yang masih terbuka lebar.

Apakah gerangan yang tepatnya terjadi pada kawan saya itu?

Ya Tuhan, rupanya payung dalam genggamannya itu macet dan tidak bisa ditutup. Dengan panik kawan saya itu mengguncang-guncangkan payungnya yang tetap saja membandel, diiringi tawa membahana dua kawan saya lainnya, dan tatapan geli seluruh penumpang kopaja. Sementara saya sendiri, sibuk cekikikan seperti tidak ada lagi hari esok.

Seumur hidup saya, tidak ada atraksi yang lebih lucu daripada atraksi yang dipertontonkan oleh kawan saya Ijul dengan payung merahnya itu. Selama hampir sepuluh menit dia berdiri di hadapan seluruh penumpang kopaja, mencoba menutup payungnya yang sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan tertutup, sambil sesekali menatap penuh makna pada kami kawan-kawannya, yang terus saja tergelak-gelak sambil berurai air mata.

Demikianlah akhirnya sampai payung merah itu kemudian mau tertutup juga. Kawan saya Ijul segera melesat duduk dekat Tala dan Rangga di kursi belakang, sambil ikut-ikutan menertawai dirinya sendiri. Tapi tidak bisa dipungkiri, betapa dia malu setengah mati, karena wajahnya pucat pasi. Sampai berjam-jam setelahnya, kami masih saja menertawakan kejadian itu dengan tidak henti-hentinya. Di perjalanan pulang, saya masih terus tertawa. Malam menjelang tidur, saya sedikit pun tidak bisa menahan tawa. Bahkan pada saat menuliskan semua ini, saya masih belum dapat berhenti tertawa.

Setelah tragedi payung merah itu, rasanya hidup kawan saya Ijul tidak akan pernah sama lagi.

Oktober 2008

October 17, 2008

SENSE OF A MOTHER

Selama masa hampir tiga tahun saya bekerja, sudah dua kali saya menyaksikan secara dekat dua kawan akrab satu kantor yang masing-masing hamil pada tahun yang berurutan. Saya bukan hanya menyaksikan bagaimana tubuh mereka berangsur-angsur membesar, melainkan juga bagaimana sikap mereka berangsur-angsur berubah, jadi lebih perasa dan pendiam.

Maka, ketika Asisten Manajer saya yang tengah hamil tujuh bulan menampilkan sikap yang sama, saya (kira saya) tidak kaget lagi. Sore kemarin kebetulan kami sedang berdua saja di dalam toilet perempuan. Tiba-tiba dia memperhatikan saya dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ratna, kamu tambah kurus, ya?” ujarnya sambil mengernyit seolah-olah itu kali pertama dia melihat saya yang kurus ini.

“Masa, sih, Mbak?” sahut saya ringan.

“Iya kok. Tuh, tangannya aja kecil banget. Makanya makan yang banyak dong” ujarnya serius.

“Aku makannya udah banyak, lho, Mbak” balas saya sambil senyum-senyum.

“Tapi minum susu, gak?” tanyanya lagi. Masih dengan wajah serius yang membuat saya jadi salah tingkah. Seingat saya, dua kawan akrab saya dulu tidak pernah seperhatian ini.

“Minum kok, setiap hari, tapi yaaaah, kadang-kadang gak sih”

“Kok masih tetep kurus, ya?” balasnya, sambil berpikir dengan ekspresi khas mantan-auditor yang selalu ditampilkannya setiap kali kami menganalisa jurnal bersama-sama.

Tidak lama, wajahnya seperti menemukan ide cemerlang.

“…, oh, apa jangan-jangan cacingan kali? coba minum obat cacing, deh, Rat” sambungnya tanpa rasa berdosa, dengan wajah yang polos.

” APAAAAA??!” teriak saya dalam hati. Saya kaget bukan main. Saya sama sekali tidak menduga dia akan menyuruh saya minum obat cacing.

Tapi untunglah, saya segera sadar. Perempuan di hadapan saya itu sedang hamil tua. Hormon di dalam tubuhnya sedang bergejolak sedemikian rupa. Saya cuma sedang jadi korban calon Ibu yang mungkin belum dapat mengendalikan naluri keibuannya.

“Boleh juga sih dicoba, siapa tau iya,…” jawab saya akhirnya sambil tersenyum ringan. Bukan karena sinis, melainkan tersanjung.

Tapi jujur saja, dalam hati saya merinding. Saya sama sekali tidak siap dituduh cacingan. Selama ini saya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Mata saya tidak pernah gatal-gatal. Bokong saya juga tidak pernah gatal-gatal. Saya tidak mungkin cacingan. Tidak mungkin. Hahahahaha.

October 16, 2008

I’M SO PROUD OF HIM

Siang itu dia berkisah, lagi-lagi tentang kabar gembira. Di sela-sela kesibukannya dengan proyek bermusik, dia menyeberang karir ke arah yang sama sekali tidak pernah saya duga. Arah yang sederhana, tapi mulia. Salah satu arah yang pernah juga jadi impian saya. Dan dia berhasil sampai di sana.

Dengan segala cinta saya padanya yang telah berevolusi ke dalam bentuk yang berbeda, saya begitu bangga padanya. Persis seperti seorang Ibu yang bangga pada prestasi anaknya. Saya gembira untuknya. Sungguh.

Oktober 2008

October 15, 2008

WHAT A WONDERFUL WORLD

Malam itu, pukul dua, saya terbangun tiba-tiba. Padahal saya tidak bermimpi buruk, tidak sedang banyak pikiran, atau yang semacamnya. Pokoknya, saya baik-baik saja.

Daripada cuma melamun di tempat tidur, saya putuskan keluar dari kamar, lalu turun ke bawah. Iseng-iseng, saya cek pintu dan jendela, semuanya terkunci rapat. Aman. Masih dalam rangka iseng-iseng, saya tengok satu-satu kamar penghuni rumah, semuanya tidur nyenyak. Bagus.

Tapi, saya tetap belum mau tidur. Akhirnya, saya bergegas masuk dapur dan mulai mencari-cari kudapan. Selera saya langsung terbit melihat bungkus sup ayam instan. Tidak sampai lima menit, jadilah sup kental yang mengepul panas di dalam mangkuk saya. Kembali saya masuk kamar, dan menikmatinya sambil membaca buku. Sedap.

Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan sup ayam yang telah habis, mata saya langsung mengantuk karena kekenyangan. Perasaan saya pun jadi bertambah baik karenanya. Aman. Nyaman. Bahagia. Dan tertidurlah saya dengan pulas sampai pagi menjemput.

Jadi, kadang-kadang, keindahan hadir dengan cara yang terlalu sederhana. Tinggal bagaimana kita mampu merasainya atau tidak. Bayangkan, tengah malam menikmati sup hangat sambil membaca buku. Kegiatan yang biasa-biasa saja yang mungkin sekali luput untuk dihargai. Tapi untunglah, malam itu, keindahan bersedia memberikan isyarat kehadirannya dengan jelas pada saya.

October 10, 2008

HAPPY BIRTHDAY, MOM!

Ibu saya tercinta, adalah Ibu yang begitu lembut hatinya. Terhadap kami anak-anaknya, beliau tidak pernah bisa benar-benar marah. Sedikit saja kami merayunya, beliau sudah langsung luluh dan menyerah.

Ibu saya tercinta, adalah Ibu yang tidak pernah menuntut apa-apa. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk jadi juara umum di sekolah. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikah di usia 25. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikahi laki-laki A, atau laki-laki B, atau laki-laki C. Beliau tidak pernah menuntut banyak tentang hal-hal yang bersifat duniawi.

Hanya satu keinginan beliau: melihat saya berjilbab. Keinginan yang tidak pernah dipaksakannya, namun saya tahu benar betapa beliau mengharapkannya.

Hari ini, pada hari ulang tahunnya, diantara segenap doa untuk beliau, saya juga meminta pada Tuhan: semoga suatu hari nanti, entah kapan, saya bisa mewujudkan keinginan beliau. Amin.