December 04, 2009

KISAH SEPATU BARU

Ceritanya, saya baru beli sepatu. Sepatunya sih, sepatu biasa. Harganya juga biasa, harga standar sepatu. Modelnya apalagi, sangat biasa. Saya tidak tahu nama apa yang pantas disebut untuk sepatu model begitu, pokoknya bukan sepatu berhak yang punya lekuk-lekuk anggun.



Yang menjadikannya luar biasa adalah, kenyataan bahwa sepatu yang baru saya beli itu hampir-hampir sama persis model dan warnanya dengan sepatu lama saya. Entah bagaimana caranya, sejak lama saya tergila-gila pada model sepatu macam begitu.



Lihatlah betapa busuknya sepatu lama saya di atas. Berbulan-bulan saya ngotot mempertahankannya, mungkin jauh melebihi waktu guna pakainya, sebab belum menemukan lagi model yang serupa dengannya, dan yang senyaman dirinya.

Beberapa kawan kantor tak hentinya terbahak geli melihat loyalitas saya terhadap satu buah model sepatu, apalagi ini bukan kali pertama saya berbuat begitu. Buat saya, itulah model sepatu tercantik di dunia.

Yah, mungkin ini cuma masalah selera, atau memang saya kelewat setia, atau mungkin sepatu model begitu nyamannya kelewatan, atau karena saya ini adalah perempuan yang membosankan. Yang pasti, mau tak mau saya terbahak juga demi melihat betapa miripnya mereka saat benar-benar sudah disandingkan. Hahaha.



Those must be comfortable shoes, I bet you could walk all day in shoes like those and not feel a thing.

(Forrest Gump)

December 03, 2009

MENGHENTIKAN MACET, EH, WAKTU

Tiap kali terjebak macet, aku suka merinding membayangkan detik-detik yang berloncatan ke jalan lalu berlarian secepat kilat meninggalkan pemiliknya, yang hanya bisa duduk pasrah dalam kendaraan yang cuma bergerak barang satu dua inci tiap lima belas menit sekali. Karena ketika iring-iringan kendaraan itu seakan membeku, detik-detik itu tidak berhenti. Ia kabur bersama tabungan waktu yang telah kukais dengan susah payah. Dicurinya waktu untuk kuhabiskan bersama Ibuku. Dicurinya pula waktu istirahatku. Bahkan usiaku.

Kalau sudah begini, aku jadi sering berkhayal aku bisa menghentikan waktu. Hanya itu pilihan yang masuk akal.

Sebab aku sudah lama sadar bahwa macet rupanya mirip kematian. Tak mungkin dihentikan.

Desember 2009

December 02, 2009

BERKACA PADA PENJUAL DVD BAJAKAN

Saya bukan penggemar berat film. Bukan jenis orang yang saban akhir pekan rajin mengunjungi bioskop, lantas getol berburu DVD apabila tak sempat nonton di bioskop. Tapi setiap kali mengunjungi penjual DVD bajakan yang banyak tersebar di mal maupun di pinggir-pinggir jalan, selalu saya dibuat takjub oleh mereka.

Para penjual DVD selalu tampak begitu menguasai pekerjaannya. Apapun yang saya minta, judul apapun yang saya sebutkan, selalu direspon dalam waktu yang sedemikian singkatnya. Sebut saja misalnya, saya minta dicarikan film My Life Without Me yang diproduksi sekitar enam tahun yang lalu, si penjual DVD akan dengan sigap meraih tumpukan film yang diawali dengan abjad ’M’ kemudian secepat kilat menarik film tersebut keluar dari bagian belakang tumpukan.

Ajaib, hampir-hampir seperti sulap. Bagaimana penjual DVD tersebut tahu dengan pasti bahwa diantara sekian puluh film yang diawali dengan huruf ‘M’, film yang saya maksud berada di tumpukan bagian belakang? mungkin dia menghafalnya, mungkin pula ada klasifikasi tingkat kedua yang didasarkan pada tahun keluaran film, atau berdasarkan huruf kedua, semisal: M-A, M-B, dan seterusnya. Hanya penjual DVD yang tahu rahasianya. Yang pasti, ada hal baik yang bisa saya petik dari sana. Betapa penjual DVD bajakan sangat menguasai pekerjaannya. Ada rencana matang yang disusun sebelum dagangan itu siap digelar, ada pengklasifikasian yang memudahkan, ada kesigapan yang efektif dan efisien, padahal segala sesuatunya dilakukan secara manual.

Saya tidak hendak menganjurkan anda untuk berhenti belanja DVD original lalu beralih pada yang bajakan. Saya pun tidak lantas pro terhadap pembajakan. Namun mari sejenak kita renungkan, jika profesi yang tergolong dalam ranah ilegal itu sedemikian sanggup mengusung efektifitas, dan sedemikian berdedikasi untuk memuaskan hati pelanggan, bagaimana dengan kita yang mungkin berprofesi jauh lebih baik daripada hanya sekedar penjual DVD bajakan. Bagaimana dengan saya, karyawan swasta di perusahaan jasa yang ternyata orientasi utamanya tiba di kantor lebih awal adalah untuk main farmville? Bagaimana dengan anda, pegawai puskesmas yang butuh waktu lebih dari setengah jam hanya untuk mengukur tekanan darah pasien? Bagaimana dengan Jasa Marga, yang menciptakan jalan bebas hambatan justru untuk membunuh pelan-pelan pengguna jalan dalam kemacetan?

Sebab itu, kalau anda sedang berjalan-jalan di sekitar kolong jembatan Benhil, misalnya, cobalah tengok sebentar sekumpulan penjual DVD bajakan yang mangkal di sana, tak perlu belanja kalau anda tak hendak membeli produk bajakan, perhatikan saja baik-baik ritme kerja mereka yang begitu efektif, dengan senyum dan semangat untuk memuaskan pelanggan. Berkacalah sejenak dari mereka. Terdengar konyol dan ironis, mungkin. Tapi demikianlah adanya.

December 01, 2009

POSTCARD FROM NY

Friendship IXX

And a youth said, ‘Speak to us of Friendship.’

Your friend is your needs answered.

He is your field which you sow with love and reap with thanksgiving.

And he is your board and your fireside.

For you come to him with your hunger, and you seek him for peace.

When your friend speaks his mind you fear not the ‘nay’ in your own mind, nor do you withhold the ‘ay.’

And when he is silent your heart ceases not to listen to his heart;

For without words, in friendship, all thoughts, all desires, all expectations are born and shared, with joy that is unacclaimed.

When you part from your friend, you grieve not;

For that which you love most in him may be clearer in his absence, as the mountain to the climber is clearer from the plain.

And let there be no purpose in friendship save the deepening of the spirit.

For love that seeks aught but the disclosure of its own mystery is not love but a net cast forth: and only the unprofitable is caught.

And let your best be for your friend.

If he must know the ebb of your tide, let him know its flood also.

For what is your friend that you should seek him with hours to kill?

Seek him always with hours to live.

For it is his to fill your need, but not your emptiness.

And in the sweetness of friendship let there be laughter, and sharing of pleasures.

For in the dew of little things the heart finds its morning and is refreshed.

Khalil Gibran

PS. This poem has soo much reminds me of Vita and Lina. For all Gibran has define I had the big pictures on my mind. It ain’t words neither sentences. It’s picture of both of you.

Miss You,
Resya

November 18, 2009

JAKARTA

"Nak, Jakarta itu bukan melulu monas yang tiangnya megah menopang bongkahan emas, bukan cuma wahana bermain mewah yang seolah mampu membeli semua mimpi anak-anak, bukan hanya gedung-gedung bertingkat yang gemerlapan dengan lampu ribuan watt.

Jakarta itu Nak, adalah penghamburan waktu luar biasa akibat macet di mana-mana, adalah banjir setinggi lutut tiap kali musim hujan tiba, adalah manusia paruh baya yang tidur menggigil di kolong jembatan. Jakarta adalah bayi masih merah yang diajak mengemis di bawah terik matahari, adalah perempuan hamil yang berlarian mengejar bus kota, lalu kena sikut dan jatuh tersungkur waktu sedang berebut di pintu masuk. Jakarta, adalah juga pemuda-pemuda yang gentayangan di pinggir jalan, sambil mengamen sambil menodong sebab perut mereka lapar.

Jakarta, Nak, sudah penuh sesak oleh kemiskinan. Ia tidak mengharapkan kedatanganmu. Sementara becak tua yang kau kayuh saban hari melewati seluruh penjuru kampung sampai betismu yang kerempeng itu bengkak sebesar kelapa, jauh lebih membutuhkanmu." sahut Ibuku waktu kuutarakan padanya niat hendak merantau ke Jakarta.

Jakarta, November 2009

November 06, 2009

BERJALAN MENUJU IKHLAS

Perjalanan ini perlahan tapi pasti mengarahkan aku ke sebuah bilik tersembunyi di sudut hati, dimana kutemui di dalamnya pasrah yang sering datang dan pergi, benci yang sering datang dan pergi, berganti-ganti menempati hanya satu posisi, hingga pada akhirnya aku tersadar bahwa ikhlas ternyata adalah perjalanan seumur hidup, dan pada tiap tapak jalan panjang yang masih harus terus kulalui ini, aku belajar untuk dewasa.

November 2009

October 30, 2009

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)

Sehubungan dengan lowongan CPNS yang sedang marak dimana-mana, berikut saya tuliskan hal-hal yang diperlukan untuk mendapatkan selembar kertas bernama Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK):
* Fotokopi KTP
* Surat pengantar dari kelurahan
* Foto berwarna ukuran 4×6 (tiga lembar)

Tapi, kalau anda hanya mau memperpanjang surat yang sayangnya cuma berlaku tiga bulan tersebut, berikut syaratnya:
* Fotokopi KTP
* SKCK lama
* Foto berwarna ukuran 4×6 (dua lembar)

Semua data di atas adalah valid, sebab saya lihat sendiri pengumumannya yang ditempel di loket. Oh ya, jangan tanya berapa biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan SKCK, karena berbeda dengan syarat-syarat di atas, saya tidak pernah menemukan informasi resmi mengenai ini.

Pengalaman saya yang terakhir sih, selesai mengurus perpanjang dan melegalisir surat, si petugas bergumam tidak jelas sambil celingak-celinguk resah, yang isi gumamannya saya sinyalir sebagai berikut: bayar seikhlasnya saja.

Kemudian saya rogoh dompet, kebetulan cuma ada selembar lima puluh ribu di sana, lalu menyerahkannya pada si petugas sambil bilang, ambil sepuluh ribu Pak. Tak diduga, masih dengan tampang resah, si petugas menolak uang saya dengan alasan repot mengambil kembalian, lantas saya disuruhnya menukarnya dulu menjadi recehan.

Yah, berhubung perintahnya tadi cuma bayar seikhlasnya saja, saya kok ya tiba-tiba jadi tidak ikhlas kalau harus berepot-repot dulu merecehkan uang tersebut. Akhirnya, saya putuskan langsung meloyor pulang saja.

Akhir kata, selamat mengurus SKCK, kawan-kawan!

October 27, 2009

Antara aku dan Tuhan

Apa yang tengah aku rasakan
tak hendak kuceritakan:
hanya aku dan Tuhan yang tahu,
romantis bukan?

Oktober 2009

October 12, 2009

MAGIC INSIDE HIS VOICE

Beberapa waktu lalu, Bapak Ibu saya pulang kampung alias mudik. Tinggalah saya dan adik-adik dipercayakan menjaga rumah. Namun pada prakteknya, saya lebih sering berada sendirian di rumah ketimbang bertiga. Sebab adik saya yang perempuan sering bolak-balik ke luar kota, sementara adik saya yang laki-laki, sudah sejak lama punya jadwal menginap di tempat kos kawannya — maklum, dia punya kebiasaan terlambat kuliah yang cukup menimbulkan masalah.

Pada suatu malam di mana saya harus tidur sendirian di rumah, komplek perumahan saya terkena giliran pemadaman listrik. Sayangnya saya terlambat mengetahuinya. Kalau saja saya sudah mengetahuinya sejak sore, tentulah saya akan tinggal dulu di kantor, atau menghabiskan waktu kemana saja supaya tidak perlu tinggal sendirian di rumah.

Waktu malam itu saya turun dari bis kota, suasana sudah gelap gulita. Hujan pula. Sempat terpikir oleh saya untuk mampir saja ke rumah sahabat saya yang masih berada satu area. Tapi saya pikir-pikir lagi, tentu merepotkan kalau saya bertamu di saat mati lampu. Akhirnya, saya teguhkan hati untuk langsung pulang.

Sampai di depan pintu, terus terang tekad saya agak goyah demi membayangkan di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Saya takut. Tapi, yah, biar bagaimanapun keadaannya, lebih aman ya berada di dalam rumah sendiri, pikir saya. Dalam kegelapan, saya meraba-raba lilin di lemari dapur. Di saat kebingungan kemana hendak mencari api untuk menyalakan lilin, terdengarlah dari kejauhan suara tukang sate yang biasa lewat di depan rumah. Langsung saya hadang gerobak satenya, minta dinyalakan lilin, sekaligus memesan satu porsi untuk makan malam. Sambil berusaha tabah saya nikmati sepiring sate tersebut di tengah cahaya lilin. Terdengar sungguh mengenaskan, tapi memang begitulah kenyataannya malam itu: saya ketakutan.

Lantas, daripada meringkuk sendirian di tengah kegelapan, saya putuskan untuk mengobrol saja dengan Bapak atau Ibu saya di telepon. Biasanya, kalau sudah mendengar suara Bapak saya yang tenang itu, keadaan seberat apapun jadi terasa ringan.

Benar saja, demi mendengar suara beliau nun jauh di seberang sana, saya langsung merasa tenang. Suara itu sanggup mengubah suasana hati jadi jauh lebih baik. Bahkan belum sampai sepuluh menit kami mengobrol, tiba-tiba lampu menyala. Ajaib.

Dan sejak saat itu saya percaya, bahwa mungkin, memang ada semacam keajaiban di balik suaranya.

October 01, 2009

GIRL IN POSTCARD

(untuk FS)

Gadis manis berkulit sawo matang itu kukira hanya hidup di dalam kartu pos. Ada gambarnya di pinggir jembatan di Leiden. Ada pula gambarnya di kaki Eiffel yang megah. Dan semuanya, memang cuma sebentuk gambar di kartu pos.

Tapi pada suatu petang, tiba-tiba gadis itu datang. Sambil tersenyum hangat dia duduk di hadapanku, lantas kita berbincang-bincang, persis seperti dua kawan lama. Waktu malam menjelang, dia pamit pulang, lalu meluncur masuk ke dalam kopaja. Ah, begitu manis hingga terasa seperti mimpi saja.

30 September 2009

September 06, 2009

MUSEUM ULLEN SENTALU


Terus terang, baru setahun terakhir ini saya mengetahui di pojokan yang sepi di daerah Kaliurang-Jogjakarta, berdiri sebuah museum cantik bernama Ullen Sentalu. Seorang kawan untuk pertama kali bercerita tentang segala keindahannya, sambil menjamin bahwa saya pasti akan suka pada museum tersebut.

Sayang, beberapa orang yang saya anggap cukup mengenal Jogja, tidak mengetahui keberadaan museum tersebut. Lewat milis dan blog para traveler baru saya tahu bahwa museum yang asing di mata orang ’awam’ tersebut rupanya telah ramai dibicarakan di kalangan pewisata budaya.

Pada pertengahan tahun ini, akhirnya saya berkesempatan jalan-jalan ke Jogja. Agenda nomor satu dalam perjalanan tersebut adalah mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Saya dan dua sahabat berangkat ke Kaliurang diantar mobil oleh kerabat dari sahabat saya.

Perjalanan menemukan museum tersebut di dalam kompleks wisata Kaliurang tergolong sulit, karena letak museumnya yang agak terpencil. Kerabat sahabat saya yang adalah orang asli Jogja bahkan sama sekali tidak mengetahui keberadaan museum tersebut, baru ketika telah sampai di depannya dia menyadari bahwa dulu sekali rupanya dia sudah pernah datang ke sana untuk mengantar kawannya.

Museum Ullen Sentalu berdiri tegak di dataran yang agak menanjak. Untuk sampai di pintu masuknya, harus melewati beberapa anak tangga dari semen. Pintu masuk dijaga oleh seorang pria berbatik yang pendiam dan tidak banyak berbasa-basi.

Waktu kami tiba di sana, tampak beberapa kelompok kecil keluarga, dan serombongan anak muda yang tengah menunggu di halaman. Rupanya saat itu museum sedang mati listrik. Menurut si penjaga berbatik, di daerah Kaliurang memang sering terjadi mati listrik, yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya dan berapa lama. Dan sayangnya, museum ini tidak dilengkapi dengan mesin genset.

Karena sudah terlanjur berhasrat untuk melihat isi di dalamnya, saya dan para sahabat memutuskan menunggu bersama rombongan lain di halaman. Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya listrik menyala. Dengan tiket seharga Rp. 25.000/ orang, kami serombongan masuk dengan disambut oleh seorang pemandu perempuan yang juga berbaju batik.

Sampai di dalam barulah saya tahu, kenapa pihak museum tega membuat kami semua yang datang dari jauh, menunggu sampai listrik benar-benar menyala. Tanpa lampu, ruangan di dalam museum gelap layaknya terowongan. Ada aroma-aroma tertentu yang membuat kami seperti berada di dalam gua sejarah. Meski udara sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan, suasana terasa hangat sebab cahaya lampu dibuat jatuh temaram.

Pemandu kami memperkenalkan diri dengan logat jawa halus. Meski tidak menggunakan mikrofon, suaranya terdengar jelas sebab rombongan kami tertib dan larut dalam suasana yang teduh. Dia menjelaskan susunan pemilik dan pengelola museum tersebut yang rupanya bukan pemerintah.

Kemudian dia menerangkan bahwa Ullen Sentalu adalah museum sejarah budaya jawa. Nama Ullen Sentalu sendiri berasal dari kata bahasa jawa Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, yang artinya kurang lebih: Pelita Kehidupan.

Kami dibawanya menyusuri satu persatu bagian lorong. Di sepanjang dinding berderet lukisan dan foto para raja dan permaisuri keraton beserta keluarganya. Spot pertama bercerita tentang Gusti Nurul yang adalah putri dari Mangkunegara VIII. Beliau pintar main piano dan menari, sekaligus pandai berkuda. Saat ini beliau telah berusia sekitar delapan puluh tahun, dan tinggal di Bandung.

Satu persatu anggota keluarga keraton dijelaskan oleh pemandu kami. Berderet foto perempuan keraton dengan masing-masing karakternya yang mengagumkan, dalam bermacam-macam busana tradisional jawa, begitu menghipnotis saya. Rasanya seperti tengah berada di jaman lampau. Pikiran saya berkelana jauh membayangkan diri saya duduk di ruangan yang sama dengan mereka. Momen berkhayal di dalam museum itu waktu itu, sungguh tak terlupakan.

Spot lain berisi puluhan model kain batik kuno, dan pemandu kami menjelaskan tentang segala macam nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Bermacam corak batik yang indah dan langka terhampar di hadapan saya dengan begitu mengagumkan.

Salah satu spot yang paling berkesan adalah sebuah lukisan tentang sembilan perempuan keraton yang tengah khusyuk menarikan tarian Bedhaya Ketawang. Pemandu kami menjelaskan, tarian tersebut adalah tarian sakral yang tidak sembarang putri keraton boleh dan bisa menarikannya. Tariannya panjang dan rumit, dan hanya bisa ditarikan oleh orang-orang pilihan.

Menurut kepercayaan, tiap kali tarian itu dipertunjukan, Kanjeng Ratu Kidul akan datang berkunjung untuk menyaksikannya, dan ikut menari sebagai penari yang kesepuluh. Dalam hati saya bercita-cita, semoga satu kali saja seumur hidup, bisa berkesempatan menyaksikan tarian tersebut, entah bagaimana caranya.

Tapi di atas segalanya, bagian favorit saya adalah sebuah ruangan yang di dalamnya penuh dengan pigura berisi macam-macam surat. Menurut keterangan pemandu, surat-surat tersebut adalah surat pribadi yang ditulis tangan oleh keluarga keraton untuk seorang anggota keluarga yang tengah putus cinta. Ada yang berbahasa indonesia, ada pula yang berbahasa belanda. Isinya nasehat berisi kata-kata mutiara untuk menghibur hati. Kebanyakan dikirim dari anggota keluarga yang tengah jauh bersekolah di negeri belanda.

Ruangan itu jadi favorit saya karena di dalam sana pengunjung seperti diajak untuk mengenal putri-putri keraton itu jauh lebih dalam, hampir-hampir secara personal. Tidak ada yang bisa lebih mewah dari diizinkan mengetahui hal yang bersifat pribadi dari orang lain, apalagi surat-surat itu berasal jauh dari lembaran sejarah. Putri-putri keraton itu pandai sekali menulis kata-kata, hampir semuanya puitis dan filosofis bak Kahlil Gibran. Belum lagi tulisan tangan ala jaman dulu kala yang bersambung miring. Saya sampai ketinggalan rombongan karena tidak mau melewatkan barang satu kata pun dari surat-surat itu.

Akhirnya tur satu jam di dalam Museum Ullen Sentalu selesai sudah. Waktu satu jam benar-benar pilihan yang paling tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Setelah berjalan melewati ruangan demi ruangan yang naik turun karena dibuat untuk menyesuaikan dengan kontur daerah Kaliurang yang memang naik turun, sampailah kami di ruangan terakhir di mana kami dijamu dengan minuman tradisonal keraton semacam teh.

Sambil istirahat dan menikmati minuman, sekali lagi saya mengedarkan pandang ke segala penjuru museum. Museum Ullen Sentalu adalah museum dengan interor paling indah yang pernah saya lihat. Oh ya, satu hal yang lupa saya ceritakan, pemandu kami bahkan tidak pernah lupa mematikan lampu dan pendingin ruangan manakali kami hendak berpindah ke rungan lain. Tidak ada aliran listrik yang dibiarkan percuma. Betapa museum ini telah dikelola dengan baik sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.

Kalau ada orang yang berpikir bahwa bukan orang jawa sia-sia saja mendatangi museum sejarah budaya jawa ini, orang itu sungguh merugi. Sejarah itu milik setiap orang, untuk diambil segala hal yang baik-baik tentangnya. Kunjungan ke museum ini tidak pernah membuat saya berpikir bahwa suku jawa jauh lebih baik ketimbang suku-suku lainnya, ataupun sebaliknya. Museum ini ditujukan untuk orang-orang yang mau belajar dari dan tentang sejarah, juga untuk mereka yang menikmati dan menghargai keindahan.

Ah, jadi teringat saya pada kawan berjasa yang telah memperkenalkan saya pada museum ini. Betapa dia salah besar, bukan hanya saya sekedar suka, melainkan jatuh cinta pada Museum Ullen Sentalu.

September 05, 2009

CARD KEEPER

Karena kartu telepon genggamnya tidak bisa digunakan selama berada di New York, sahabat saya menitipkan kartu itu kepada saya dan sahabat saya yang satu lagi. Pada saat kepulangannya ke tanah air kelak, dia bercita-cita untuk terus menggunakan kartu yang sudah dipakainya selama hampir delapan tahun tersebut.

Dia meminta tolong kepada kami, untuk rajin-rajin mengecek masa kedaluwarsa kartu telepon genggamnya, lalu berjanji untuk mengirim sejumlah uang guna membeli isi ulang kartu tersebut. Supaya tidak mubazir, kami sepakat menggunakan pulsa kartu tersebut untuk meneleponnya ke New York.

Karena dianggap lebih peka terhadap urusan-urusan macam begitu, didaulatlah saya untuk menyimpan kartu tersebut. Sebenarnya sih, saya agak cemas, takut kartu tersebut hilang atau apa. Tapi sahabat saya yang satu lagi bersikeras mempercayakannya pada saya.

Jadi, sekarang, kartu itu tersimpan di bagian dompet saya yang paling aman. Kalau sedang teringat akan keberadaan kartu tersebut, di malam hari saya sering sengaja mengecek dompet untuk memastikan bahwa kartu itu masih berada di tempatnya, lalu berangkat tidur dengan lega demi mengetahui dia masih berada di sana. Ajaib, betapa benda semungil itu sanggup membuat saya merasa jadi seseorang yang amat penting.

September 04, 2009

HATRED

Maybe it’s just me but I could sense hatred there
and i don’t think it’s something that i deserve.

September 03, 2009

Saturday Morning Story

Sudahkah saya bercerita tentang kelanjutan kisah Ayah saya yang pergi dinas ke tempat jauh, hampir setahun yang lalu itu?

Singkat cerita, Ayah saya telah pulang ke tanah air dalam keadaan selamat, tidak kurang suatu apa. Kehidupan kami pun kembali normal seperti sedia kala. Saya sudah bisa tidur nyenyak lagi. Rumah kami sudah ramai kembali. Sementara Ayah saya, masih tetap seperti yang dulu: galak kalau sedang marah, lucu dan ajaib kalau sedang tidak marah.

Tidak percaya kalau Ayah saya masih seperti yang dulu? biar saya ceritakan sepotong kisah yang terjadi beberapa minggu sebelum ramadhan.

Saat itu, saya dan Ayah saya sedang menikmati sabtu pagi di halaman. Saya sambil mengepel lantai teras. Ayah saya sambil duduk santai menghadap ikan-ikan di dalam akuarium. Tak lama, datang tetangga sebelah mengucap permisi di depan pagar, lantas menghambur masuk ke dalam teras. Ia mampir mengantarkan sepiring ketan untuk sarapan pagi, kemudian pamit setelah piring ketannya saya terima dengan ucapan terima kasih.

Sepulangnya sang tetangga, Ayah saya kumat anehnya.

Ayah saya: wah, pagi-pagi ada tetangga nganterin makanan, kamu yang untung (nyeletuk tiba-tiba)
Saya: untung? kenapa? kan aku gak doyan ketan
Ayah saya: iya, untung kamu lagi ngepel, pasti langsung disangkain rajin (tanpa dosa)
Saya: … (cck cck cck)

Hahaha.

Apa saya bilang, Ayah saya masih seperti yang dulu.

PS. Jadi teringat lirik lagunya Dian Pisesha: aku masih seperti yang dulu (yang waktu saya SD lagu-lagunya selalu diputar Ayah saya setiap hari sampai akhirnya saya hafal liriknya satu album)




image from: http://ti4n81.multiply.com/photos/album/4/Dian_Pisesha

August 18, 2009

THE HOLY LONELY PLANET

Semenjak berkenalan dengan Mbak Trinity lewat bukunya The Naked Traveler beberapa bulan yang lalu, saya dan adik saya yang perempuan akhirnya jadi ikut mengenal si buku panduan perjalanan bernama Lonely Planet yang kondang itu.

Berdua kami pernah tertawa geli membaca sebuah artikel, yang menceritakan tentang warung makan kecil nan sederhana di belahan dunia lain, yang ramai dikunjungi oleh para backpacker ‘cuma’ gara-gara warung tersebut direkomendasikan di dalam Lonely Planet. Sementara warung makan saingan yang berdiri di sebelahnya, sibuk membujuk pelanggan lain dengan berjanji bahwa mudah-mudahan tempat mereka sudah akan masuk di Lonely Planet edisi berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu, adik saya perempuan pergi liburan ke Jogja bersama kawan-kawannya. Di perjalanan, dia melihat seorang perempuan yang penampilannya kurang lebih persis seperti TKW yang sering terlihat di tivi. Tapi, yah, TKW atau bukan TKW, adik saya sih tidak ada masalah sama sekali dengan semua itu. Dia kembali duduk manis menikmati perjalanan.

Tiba-tiba, adik saya melihat perempuan yang diduga kuat sebagai TKW itu, mengeluarkan Lonely Planet dari dalam tasnya. Tidak jelas edisi yang mana, tapi pokoknya adik saya yakin betul bahwa buku itu adalah kitab panduan yang kondang tersebut.

Mendadak, pandangan adik saya terhadap perempuan itu berubah drastis. Dibayangkannya bahwa perempuan itu mungkin adalah backpacker yang sudah keliling Indonesia. Sudah merambah pulau-pulau terpencil nan eksotis. Dan ketika diceritakannya hal itu pada saya saat sudah tiba di rumah, kami berdua lagi-lagi tertawa geli. Kali ini menertawakan dia, yang rupanya sudah ikut terkena sihir si kitab kondang itu.

MENJELANG RAMADHAN

Kepada beras, kepada kangkung
kepada segala macam sayuran
kepada tempe, kepada tahu
dan segala rupa lauk-laukan:

sebentar lagi ramadhan
semoga harga kalian, tidak berlonjakkan
mereka tidak kuat, puasa sehari semalaman.

Agustus 2009

August 13, 2009

ANTARA AYAM WIJEN DAN BUBUR UBI

Wanita yang sedang hamil tua itu berusia empat puluh dua. Dengan enam anak perempuan manis di sekelilingnya, mestinya hidup sudah boleh disebutnya sempurna. Namun atas nama adat, dia belum boleh berhenti beranak sebelum berhasil melahirkan anak laki-laki.

Wanita itu bersandar pada tiang jemuran. Peluhnya hinggap pada pakaian basah yang baru selesai dijemurnya. Dalam hidupnya, mengandung adalah semata-mata persoalan perut yang membuncit. Soal istirahat dan kesehatan, adalah perkara lain lagi. Memasak dan mencuci tetap dikerjakannya seperti sehari-hari.

Sejujurnya, wanita itu hampir tidak pernah memikirkan kesehatan. Satu-satunya hal yang diperdulikannya adalah jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Seolah-olah hidup dan matinya cuma untuk melahirkan anak laki-laki. Duh, betapa ingin dia mencicipi sepiring ayam wijen sehabis melahirkan. Persis seperti wanita yang tinggal di sebelah kiri rumah, yang tempo hari melahirkan bayi laki-laki. Tapi yang dia dapat cuma bubur ubi selama enam kali melahirkan. Maklum, semua bayinya perempuan.

***********************************************************************************

Pada hari kelahiran, wanita itu tak putus-putusnya memanjatkan doa. Persalinan kali ini, lebih membuatnya gugup daripada yang sudah-sudah. Ada beban berat di pundaknya, yang membuat segalanya jadi semakin berat. Ada kecewa yang selama bertahun-tahun mengendap di hatinya, membuat hidupnya begitu pilu dalam harap.

Tidak sampai tiga puluh menit, tangis bayi pecah di kamar itu. Wanita itu terlalu lelah untuk bisa menebak apa jenis kelamin yang bersembunyi dalam tangis itu. Tapi segala harap di dadanya telah berhasil menciptakan aroma ayam wijen di depan hidungnya, persis seperti nyata. Tepat ketika pintu kamar terbuka, dan seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan.

“Ini bubur ubimu yang ketujuh, Mei Hwa. Aku tidak pernah bisa mengerti, kenapa kau begitu doyan makan bubur ubi,…” ujar laki-laki itu sambil dengan kasar menyerahkan semangkuk bubur ke genggaman wanita itu. Dia lantas pergi tanpa sedikit pun menoleh pada bayinya yang telah dikandung dan dilahirkan dengan susah payah.

Wanita itu menangis pelan-pelan. Betapa selama bertahun-tahun dia telah terlatih menangis tanpa suara.

August 12, 2009

PERPISAHAN

(untuk RK)

Duhai perpisahan,

Sejujurnya aku tiada sedikit pun terkejut ketika kutemui kau di penghujung petang, menyeruak datang, lantas menghamburkan duka. Sebab dulu sempat kupergoki wajahmu menyelinap dalam perjumpaan, diam-diam menyetorkan waktu pada semesta. Dan sejak saat itu, hidup bagai menghitung mundur sampai tiba saatnya kau jemput kembali tiap-tiap yang pernah berjumpa.

Duhai perpisahan,

Aku tak hendak main kucing-kucingan. Aku pasrah pada kodrat bahwa kau mesti hadir sebagai penutup segala perjumpaan. Sebab tanpa campur tanganmu dalam adonan hukum alam, kue bernama perjumpaan takkan pernah matang dari loyang semesta.

Duhai perpisahan,

Selayaknya pelawak yang telah menandatangani kontrak, aku tahu mangkuk yang menampung perjumpaan itu sudah waktunya retak. Dia lalu mesti pecah, lantas dibiarkan tumpah. Tak apa, aku bisa mengerti. Sejatinya perjumpaan memang cuma datang bertandang, selebihnya dia harus kau bawa pulang.

Agustus 2009

August 08, 2009

HATI DAN SATU HAL YANG TAK KUNJUNG SELESAI

Kamu.

August 07, 2009

MENGHITUNG HARI [1]

Ada yang hampir gila
memikirkan bahwa
dua tahun itu
sama saja
dengan
tujuh
ratus
tiga
puluh
hari.

Agustus 2009

August 06, 2009

MENGHITUNG HARI [2]

Waktu malam itu saya dan sahabat saya duduk berdua saja sambil mengobrol di dapur rumahnya, hitungan kalender tinggal menyisakan waktu satu minggu saja sebelum keberangkatannya ke New York.

Di hadapan kami, teronggok kantung-kantung belanja berisi obat dan segala macam keperluannya untuk bulan-bulan pertama. Di kamarnya terhampar juga koper besar yang isinya belum selesai dibenahi. Dan sahabat saya masih juga berceloteh dengan nada yang biasa-biasa saja, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa, seolah dia tidak hendak pergi kemana-mana, dan tumpukan barang-barang itu cuma belanjaan biasa.

Tapi saya, sungguh saya tidak bisa. Pikiran saya sudah tidak berada di dapur rumahnya, melainkan jauh mengembara pada hal-hal sentimentil yang saya pikirkan sendiri. Walaupun sahabat saya telah merevisi rencana kepergiannya jadi tinggal dua tahun saja, tetap tidak ada gunanya buat saya. Apalah bedanya dua tahun dan dua setengah tahun? Saya tak bisa berhenti memikirkan semua itu.

Akhirnya, jam sepuluh malam saya pamit pulang dengan hati berat, sebab tahu bahwa itulah terakhir kalinya saya bisa mengobrol santai di dapur rumahnya, untuk dua tahun ke depan. Juga sambil menyesal, sebab sama sekali tidak saya nikmati acara terakhir tadi, malah dengan bodohnya saya melamunkan kepergiannya, padahal saya bakalan punya tujuh ratus tiga puluh hari untuk melakukan itu.

August 05, 2009

SETIA

Tak habis-habisnya
kamu percayakan padaku
kata tolong itu
seolah kamu tengah berendam
di sumur percaya
yang tiada akan mengering airnya

Tak bosan-bosannya
kamu pilihkan untukku
sepotong peran
seperti seakan-akan
aku ini
artis segala zaman

Maka buatmu
kusimpan setia
yang selalu.

Agustus 2009
Thanks for always asking help ;-)

August 02, 2009

A Midsummer Night’s Dream

Diantarnya saya ke Kota Tua
lantas di sana kita bersepeda
lalu pulang naik kereta.

Agustus 2009

July 27, 2009

MY BESTFRIEND’S GRANDMA

Salah satu sahabat saya, adalah bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakaknya semua sudah menikah dan punya anak, sehingga dia punya banyak keponakan. Seperti kebanyakan anak yang orangtuanya bekerja, semua keponakannya itu dititipkan di rumah neneknya. Sebab itu kalau saya sedang nongkrong di rumah sahabat saya, keadaannya selalu ramai oleh hilir mudik mereka.

Keponakan sahabat saya yang paling tua, sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Pada suatu hari, waktu saya sedang ngobrol di teras bersama sahabat saya, keponakannya itu keluar dari dalam rumah sambil menenteng telepon genggam. Dia duduk di seberang kami, lantas mulai menelepon.

Awalnya, saya tidak memperhatikan apa yang dilakukan bocah perempuan itu. Dia hanya sekedar bicara di telepon. Tapi ketika sudah hampir setengah jam, perhatian saya mulai terusik. Heran. Sebab dia bicara begitu lama, layaknya durasi bicara orang dewasa. Sahabat saya bilang, keponakannya itu sedang bicara dengan Mbah Putrinya yang tinggal di Jogja. Kalau mereka berdua sudah asyik ngobrol, lanjut sahabat saya, biasanya memang lama. Bisa sampai satu jam.

Wow. Saya takjub. Sehingga akhirnya mulai mendengarkan pembicaraan bocah itu dengan seksama. Dia sedang asyik bercerita tentang kegiatannya di sekolah, dengan nada curhat ala anak ABG, tapi kata-katanya polos. Sebentar dia diam mendengarkan sahutan neneknya di seberang sana, lantas sesekali mengiyakan, atau kadang membantah. Kemudian dia teruskan lagi ceritanya, kali ini mengadukan kelakuan nakal adiknya, lalu kembali mendengarkan sahutan.

Setelah beberapa saat, ganti dia yang bertanya keadaan neneknya, lalu diam menyimak. Begitu seterusnya, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Dan saya makin takjub. Kalau tidak langsung menyaksikan sendiri, saya tidak bakalan percaya bahwa di dunia ini ada anak kelas dua SD yang bisa bercakap-cakap begitu lama di telepon dengan neneknya.

Beberapa hari yang lalu, lama setelah kejadian percakapan di telepon itu, saya dan sahabat saya jalan-jalan ke Jogja. Salah satu agenda dalam perjalanan itu, adalah mampir berkunjung ke rumah keluarga sahabat saya di daerah Kalasan. Nah, inilah rumah Mbah Putri yang dimaksud di atas. Waktu beliau menyambut kami di teras rumahnya, pikiran saya langsung melayang pada percakapan telepon yang saya saksikan dulu. Dan segera saya langsung tahu jawabannya, kenapa keponakan sahabat saya bisa bersahabat dengan neneknya.

Beliau menyambut kami dengan ramah, lantas sibuk bolak-balik ke arah dapur mengeluarkan jamuan. Kalau saya jadi nenek-nenek kelak, rasanya saya bakalan ogah menjamu anak muda sambil repot-repot membawakan piring dan sendok sendirian, sementara saya bisa menyuruh anak-anak saya melakukannya. Tapi beliau lain, dilakukannya semua itu tanpa beban, lantas ikut duduk mengobrol bersama kami. Tatapannya hangat dan bersemangat. Sesekali beliau mengeluarkan wejangan dengan gaya yang sama sekali tidak menggurui, dan sisanya, diam menyimak cerita kami layaknya beliau adalah anak muda seperti kami.

Nah, itulah jawabannya, beliau bisa menempatkan diri sejajar dengan lawan bicaranya. Sungguh nyaman rasanya. Pantas saja cucunya yang masih kelas dua SD bisa merasa bersahabat dengan dirinya. Sementara saya, yah, berhubung saya bukan cucunya, cukuplah saja saya jadi penggemar beliau, dan membuat sepotong tulisan untuk mengabadikan kisahnya.

July 22, 2009

PERTUNJUKAN SATWA PINTAR

Kakak perempuan ibu saya, beserta keluarganya, tinggal di bilangan Cilandak. Lokasi rumahnya berdekatan dengan Kebun Binatang Ragunan. Kalau sedang ada kumpul-kumpul keluarga di sana, biasanya para sepupu kecil saya selalu merengek minta diajak jalan-jalan ke Kebun Binatang. Entah sudah berapa ratus kali saya menemani mereka pergi berkunjung ke sana.

Sore itu, kembali saya dan para sepupu mendatangi Kebun Binatang Ragunan. Biasanya kami akan putar-putar sebentar melihat hewan-hewan, lalu menghabiskan sisa sore dengan piknik di bawah pohon rindang. Mereka akan sibuk berlarian di tengah lapangan luas, sementara saya akan duduk santai di atas tikar, menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengamati tingkah dan penampilan pengunjung yang lalu lalang. Betapa saya sangat menikmati momen itu.

Waktu sedang asyik jalan-jalan, kami melintas di sebuah tempat berloket bernama Pertunjukan Satwa Pintar. Di dekatnya ada gambar hewan-hewan yang sedang beratraksi. Karena belum pernah menyaksikan pertunjukan tersebut, sepupu saya langsung merengek penasaran. Terpaksalah saya menurutinya. Setelah membayar tiket masing-masing orang empat ribu rupiah, kami diizinkan masuk. Di dalamnya, ada kursi penonton berundak-undak dari semen yang berderet lima baris ke belakang, menghadap ke tempat sejenis panggung berlantai keramik.

Setelah kursi penonton ramai terisi, pertunjukan pertama dimulai. Seekor burung kakatua menunjukkan kebolehannya dengan membuka kartu-kartu bertuliskan ucapan Selamat Datang. Lalu hewan itu menggerakkan tubuh dengan diiringi musik dangdut, sambil mengikuti instruksi pelatihnya, sehingga tampak persis seperti gerakan manusia. Para penonton yang menyaksikan, termasuk para sepupu kecil saya, tergelak-gelak sambil bertepuk tangan. Kami sungguh terhibur.

Atraksi kedua dibawakan oleh seekor simpanse, yang sebelum sempat menunaikan tugasnya, sudah buru-buru dibawa masuk ke balik panggung. Dari sini, saya mulai merasa tidak nyaman dengan segala pertunjukan ini, sebab pelatih yang menangani simpanse tadi memperlakukan satwanya dengan kasar. Waktu itu hari sudah sore, besar kemungkinan simpanse tadi sudah lelah, sehingga tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Dia tidak menghiraukan sama sekali bujukan pelatihnya. Sementara si pelatih yang mungkin juga sudah sama lelahnya, akhirnya kesal. Hingga akhirnya dia bertindak kasar, lupa bahwa pertunjukan itu disaksikan oleh banyak orang, dimana sebagian besar jumlahnya adalah anak-anak. Berkali-kali disepaknya tubuh simpanse itu dengan menggunakan kaki. Tidak sekuat tenaga memang, tapi tetap saja perbuatan itu tidak pantas. Si pelatih juga terlihat beberapa kali menempeleng kepala si simpanse, yang membuat hewan itu menjerit marah dan menepis lengan si pelatih, hingga akhirnya mahluk malang itu dibawa masuk.

Selanjutnya, masih ada lagi atraksi dari berang-berang yang pandai memasukkan bola ke dalam ring yang mirip seperti ring basket. Selain itu, berang-berang itu juga pandai berhitung. Pelatih menyuruh penonton menyebutkan soal perkalian acak, semisal enam dikali tiga, lalu berang-berang itu akan memutar engkol sebanyak hasil perkalian tersebut. Ajaib, dengan tangannya yang mungil, berang-berang itu benar-benar memutar engkol sebanyak delapan belas kali. Juga untuk soal penjumlahan, dia memutar engkolnya dengan tepat. Kembali penonton ramai bertepuk tangan, kecuali saya.

Buat saya, pertunjukan satwa pintar itu sudah tidak lucu lagi. Kakatua tadi sudah tidak lucu lagi. Berang-berang tadi sudah tidak lucu lagi. Semua gara-gara simpanse malang yang diperlakukan dengan kasar. Pada momen paksaan tadi, ketika si pelatih menempeleng kepalanya, simpanse itu dengan spontan (maaf) buang air besar. Semua penonton bisa dengan jelas menyaksikan ada kotoran meluncur keluar dari bagian belakang tubuh hewan itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi, saya tidak mengerti. Mungkin hewan itu hendak meledek, atau mungkin dia depresi, saya tidak paham. Kami semua cuma bisa terhenyak kaget. Sepupu-sepupu saya bahkan sampai terbengong-bengong dengan tampang ngeri.

Sejujurnya, saya sendiri juga kurang yakin apakah perlakuan pelatih tadi bisa dikategorikan kasar atau tidak. Kalau tendangan dan tempelengan dianggap sebagai hal yang tidak berperikemanusiaan dalam dunia manusia, mungkin hal tersebut wajar dalam dunia hewan. Entahlah. Saya cuma orang awam yang bahkan tidak menyukai hewan sama sekali. Tapi hati kecil saya yang terdalam mengatakan, perlakuan tadi tidak seharusnya terjadi.

Terus terang, saya jadi penasaran ingin mengetahui bagaimana kehidupan hewan-hewan tersebut di balik panggung. Apakah mereka diperlakukan dengan layak? Entahlah. Yang pasti, saya menyesal sore itu telah mengizinkan sepupu saya yang masih kecil-kecil menyaksikan pertunjukan tersebut.

July 21, 2009

Natural Born EO

Jangan pernah meninggalkan seorang control-freak bersama rundown acara yg belum fix. Ketahuilah bahwa dia adalah seorang EO sejati, yang tidak akan berangkat tidur sebelum memastikan bahwa everything is under control.

July 16, 2009

WHEN SHE'S NOT AROUND

Ibu manajer saya, yang sudah sering saya sebut-sebut namanya dalam beberapa tulisan, kira-kira seminggu yang lalu mendapat musibah. Pada suatu pagi beliau jatuh dari tangga rumahnya, lalu mengalami patah kaki. Waktu beliau mengabari kejadian tersebut, saya tidak pernah mengira hal ini akan jadi begitu berkesan, sehingga kelak saya akan menceritakannya dalam sebuah tulisan.

Karena tulang kakinya retak, Ibu manajer harus dioperasi. Sehari setelah operasi, saya dan beberapa rekan kantor menjenguknya di rumah sakit. Waktu melihat kami datang, beliau langsung tersenyum-senyum ceria seperti biasanya. Beliau duduk di atas tempat tidur, mengenakan baju piyama. Pergelangan kaki kanannya yang diperban tampak bengkak.

Menurut saya, yang sering tidak nyaman melihat perempuan bermake-up tebal, Ibu Manajer kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya. Rambutnya tidak kaku seperti kalau beliau sedang di kantor, melainkan tergerai bebas setengah berantakan. Kulit mukanya polos saja, tidak sedikitpun dipoles bedak, malah agak berminyak. Kami mengobrol sambil bercanda, dan beliau tertawa berderai-derai sambil mendekap sebuah guling lusuh yang nampaknya sengaja dibawa dari rumah. Beliau terlihat cantik dan apa adanya.

Setelah operasi, dokter melarang Ibu Manajer untuk masuk kerja dulu. Padahal beliau bilang pada kami, akan segera masuk dua atau tiga hari sesudahnya, diusahakan berjalan menggunakan tongkat atau semacamnya. Namun ternyata beliau disuruh beristirahat dua minggu di rumah. Kami satu departemen repot dan kelabakan, karena waktunya bertepatan dengan waktu closing laporan keuangan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya melakukan rekonsiliasi sendirian tanpa supervisi dari beliau. Meski awalnya kerepotan, pada akhirnya saya ternyata sanggup juga menyelesaikan semuanya. Pada saat itulah saya tersadar, bahwa selama ini rupanya saya sudah begitu dimanja. Selalu diterima dengan tangan terbuka tiap kali menemukan kerumitan. Dan apabila saya telah duduk di hadapan beliau, tidak pernah ada masalah yang tidak selesai. Padahal mungkin kalau saya mau mandiri, tidak perlu sampai beliau turun tangan mengatasi masalah. Mungkin-mungkin saja.

Dan untuk pertama kalinya pula dalam sejarah, Ibu Manajer cuti kerja begitu lama. Padahal kalau sedang berlibur pun, beliau tidak pernah pergi sampai satu minggu. Saat saya menghubungi beliau ke ponselnya untuk menanyakan beberapa hal, nada suaranya yang bersemangat menunjukkan bahwa beliau nampaknya sudah tak sabar untuk kembali ke kantor. Kalau boleh jujur, saya agak merindukan beliau. Yah, berlebihan mungkin, tapi memang begitu adanya.

June 22, 2009

SEMPU TRIP

Weekend yang lalu, saya dan kawan-kawan pergi jalan-jalan ke Malang. Tujuan utamanya sih, pergi ke Pulau Sempu. Kami berangkat naik kereta ekonomi Matarmaja, jurusan Jakarta-Malang, dengan tiket seharga lima puluh dua ribu perak, dari Stasiun Senen.

Keadaan di kereta Matarmaja, ternyata jauh lebih baik dari perkiraan saya. Mungkin karena saya ini adalah tipe orang yang mudah (dan murah) untuk dibuat senang. Atau mungkin karena saat itu belum musim liburan sehingga kereta ekonomi tidak padat seperti gambaran di televisi, pokoknya menurut saya, keadaan di Matarmaja cukup manusiawi. Kecuali toiletnya yang tidak ada air, sehingga kami harus sering-sering membeli air mineral guna keperluan kamar mandi, juga lalu lintas pengamennya yang frekuensinya cukup tinggi, sehingga kami harus banyak-banyak sedia uang receh.

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, kereta ekonomi Jakarta-Malang hampir tidak ada bedanya dengan kereta bisnis jurusan Bandung-Jogja yang harga tiketnya seratus sepuluh ribu rupiah. Keadaan toiletnya sama-sama menyedihkan. Hanya bedanya, di kereta bisnis kursinya bisa diputar, dan ada kipas anginnya. Itu saja.

Kami sampai di Malang besok paginya pukul delapan, lalu singgah di rumah seorang kawan, yang lokasinya kira-kira lima belas menit dari stasiun Malang. Dia inilah orangnya yang akan bertindak sebagai local guide, karena sudah pernah pergi ke Sempu sebelumnya. Rencananya, selepas zuhur kami akan berangkat ke Sempu, lalu bermalam di sana. Tapi mendadak, kawan saya punya urusan yang mesti diselesaikan sehingga keberangkatan kami mulur sampai menjelang jam lima sore.

Dari rumah kawan saya, kami bersembilan menyewa mobil menuju Sempu. Kira-kira hampir tiga jam bermobil, menjelang pukul delapan malam kami sampai di Pusat Konservasi Pulau Sempu, yang terletak di pinggir Pantai Sendang Biru. Untuk bisa mencapai pulau, dari sana kami harus menyeberang dengan perahu, tapi sayang, karena tiba terlalu malam, kami tidak diizinkan menyeberang dan harus menunggu sampai besok pagi. Terpaksa kami bermalam dengan mendirikan tenda di pinggir Pantai Sendang Biru.

Besok paginya pukul enam, kami menyeberang dengan perahu. Tidak sampai setengah jam, akhirnya sampai juga kami di Pulau Sempu. Sebelum turun, kami sempat mencatat nomor handphone si bapak penjaga perahu, sambil menitip pesan untuk minta dijemput sore sekitar pukul empat. Dari sana, kami masih harus berjalan kaki sekitar tiga jam menyusur hutan untuk sampai di puncak perjalanan ini: pantai yang konon sama cantiknya dengan pantai di film The Beach.

Memasuki hutan, sinyal handphone sudah tidak tertangkap. Kami benar-benar putus hubungan dengan dunia luar. Beberapa kilometer pertama, jalur trekking masih kering dan datar, tapi selanjutnya, karena tadi malam turun hujan, jalur tersebut makin becek dan licin, juga mulai berbukit-bukit. Bagi saya yang tergolong baru untuk kegiatan semacam ini, medan yang kami tempuh rasanya berat sekali. Belum lagi banyak batu besar dan tajam, juga batang pohon besar yang merintangi. Sementara, saya hanya bermodalkan sendal sepatu, yang meskipun jauh lebih aman ketimbang kawan saya yang cuma bersendal jepit, tetap tidak memadai untuk medan seberat itu.

Saking licinnya tanah yang kami lalui, kawan saya perempuan berkali-kali jatuh terjerembab, sehingga kakinya terkilir. Otomatis, kecepatan kami jadi melambat. Walaupun sangat bersemangat, terus terang perjalanan menyusur hutan itu bagi saya seperti berhari-hari lamanya. Setiap memandang jauh ke depan, rasanya jalan itu tak ada habis-habisnya. Kalau bukan karena bayangan tentang pantai indah yang akan kami temui, rasanya saya sudah kepingin menyerah.

Untungnya, perjalanan itu berhasil kami lalui tanpa hambatan yang berarti. Satu-satunya hal yang menyiutkan nyali saya adalah ketika hampir mencapai pantai, jalan berubah jadi menanjak, dengan lebar yang cuma bisa dilalui oleh satu orang, sementara di pinggirnya terbentang pemandangan air laut dan batu karang. Saya yang fobia pada ketinggian seketika panik dan ketakutan setengah mati, lantas cuma berani berjalan sambil merangkak.

Syukurlah tanjakan itu hanya beberapa meter saja. Pukul sepuluh kami sampai di tempat tujuan. Terbentang di hadapan saya pantai paling cantik yang pernah saya lihat. Airnya biru kehijauan, pasirnya putih. Di sekelilingnya penuh dengan pepohonan dan batu karang. Sementara jauh di sisi kiri seberang, ada air terjun kecil yang tiap beberapa menit sekali mendeburkan ombak dari balik karangnya.

Yang lebih menyenangkan, pantai itu amat sunyi sebab jauh dari keramaian. Kami tidak perlu membaginya dengan siapa-siapa, kecuali beberapa kelompok backpackers yang telah terlebih dulu bermalam di sana, dan mendirikan beberapa tenda. Di pulau yang sepi itu kami tidak mendengar suara apapun kecuali bunyi air, sehingga rasanya persis seperti berada di pulau pribadi.

Sekitar pukul dua kami memutuskan pulang, dan keluar dari pantai. Diharapkan, sebelum gelap kami sudah sampai di pinggir pulau, dan menyeberang dengan perahu yang tadi. Namun rupanya, jalan yang sebelumnya kami lalui, semakin bertambah-tambah licin. Kawan saya yang sudah sering naik gunung saja sampai mengakui, bahwa medan yang kami lalui itu sangat berat. Menurut teori, perjalanan pulang akan lebih mudah ketimbang waktu berangkat. Tapi kenyataannya, malah sebaliknya. Mungkin karena kami semua sudah kelelahan, berkali-kali salah satu dari kami jatuh tergelincir. Terutama kawan saya perempuan yang sejak berangkat sudah terkilir kakinya, kondisinya semakin memburuk sehingga dia harus dipapah.

Sementara saya, sejak awal kami keluar dari pantai, terus terang sudah jatuh mental. Medan yang memburuk itu membuat saya putus asa. Terbayang oleh saya perjalanan maha panjang yang sekali lagi akan kami lalui. Dalam keadaan stres dan lelah, saya jadi tidak fokus, sehingga berkali-kali tergelincir ke dalam kubangan lumpur. Tapi entah bagaimana caranya, setelah setengah jam pertama, kekuatan saya muncul kembali, dan saya jadi sangat bersemangat seperti waktu berangkat tadi.

Tanpa terasa, kami sudah berjalan berjam-jam dan langit di atas kepala mulai gelap. Waktu saya lihat jam tangan, rupanya sudah pukul setengah enam, dan sialnya, kami rupanya berjalan terpisah. Ada lima orang yang sudah menghilang terlebih dulu di depan. Sementara saya, berjalan dalam rombongan sisanya, termasuk di dalamnya kawan yang kakinya terkilir.

Dalam keadaan gelap menjelang magrib, saya mulai panik, namun tidak tega mengutarakannya pada kawan yang lain, sebab dari raut wajahnya, saya tahu mereka juga merasakan hal yang sama. Untungnya, tak lama berselang kami mendengar teriakan salah satu kawan dari rombongan depan, yang rupanya juga baru menyadari kalau kami semua sudah saling terpisah jauh. Lewat teriakan, rombongan depan mengatakan bahwa mereka akan berhenti berjalan, dan menunggu kami.

Ketika akhirnya kami semua telah saling berkumpul, hutan Sempu sudah benar-benar gelap. Celakanya, kawan saya yang laki-laki tidak sengaja meninggalkan senter di dalam mobil. Untungnya, seorang kawan membawa satu lampu darurat di dalam tasnya. Berbekal hanya sebuah lampu yang penerangannya tidak memadai, kami berjalan beriringan di dalam kegelapan hutan. Sementara jalur yang kami lalui, semakin sulit untuk ditempuh.

Karena tidak berani mengambil resiko terperosok dalam lubang, kami berjalan perlahan-lahan sambil terseok-seok. Hampir seluruh pakaian kami habis terbenam di tanah berlumpur. Keadaan saat itu, sungguh mengerikan sekali. Beberapa dari kami terlalu ketakutan untuk bisa bicara. Sebagian lagi, tak henti-henti menyebut nama Tuhan dengan paniknya.

Perjalanan dalam kegelapan itu rasanya seperti selamanya. Sempat terpikir oleh saya, bahwa kami semua mungkin tidak akan selamat. Kami mungkin akan mati diterkam binatang buas, mati tersasar, atau mati kelaparan. Terbayang oleh saya, besok pagi kami akan diberitakan, seperti berita hilangnya kelompok pendaki gunung yang pernah saya baca di koran-koran.

Tapi benar-benar ajaib, pada akhirnya segala ketakutan saya itu cuma ada di dalam hati. Selebihnya, saya ternyata sanggup menguasai diri. Padahal beberapa kawan, mentalnya sudah sangat down. Saya yang cengeng ini, ternyata sanggup tidak menangis. Saya juga berhasil mengabaikan segala nyeri di paha dan pergelangan kaki, yang sakitnya sungguh menyiksa. Saya bahkan berjalan tepat di belakang kawan laki-laki yang membawa lampu, lalu membantu yang lain menunjukkan jalan yang aman untuk dilalui. Entahlah, ada keinginan kuat di dalam diri saya untuk bisa bertahan hidup.

Berjam-jam kami dengan tabah menyusur jalanan yang licin. Akhirnya, pada suatu titik, kawan laki-laki yang berjalan paling depan menyatakan dengan girang bahwa kami telah sampai di bibir pantai. Katanya dia telah melihat air dan batu karang. Tapi beberapa detik kemudian dia berseru lagi, ternyata yang dilihatnya cuma batu dan batang pohon. Mungkin kawan saya itu berhalusinasi saking depresinya. Yang pasti, kekhilafan yang sempat membuat saya penuh harap itu rasanya amat menyakitkan. Dalam hati, saya kecewa dan sangat frustasi.

Namun entah bagaimana caranya, sekitar jam delapan malam, akhirnya kami sampai juga di bibir pantai. Sebelumnya saya tidak berani berharap lagi sampai melihat pemandangan air dengan mata kepala sendiri. Tapi ternyata, kami memang benar-benar sudah sampai. Yang paling membuat saya bersyukur adalah, bapak tukang perahu yang tadi mengantar kami, masih saja setia menunggu dari jam empat sore. Beliau menyambut kami dengan omelan, mungkin karena panik dan lelah menunggu. Ketika telah naik di atas perahu, hanya sedikit dari kami yang sanggup buka suara. Selebihnya cuma bisa terdiam. Mungkin masih shock. Mungkin juga karena disiram kelegaan yang terlalu, sehingga tidak sanggup berkata-kata.

Pulang ke Jakarta, saya membawa banyak oleh-oleh pelajaran berharga. Pengalaman di Pulau Sempu mengajarkan pada saya, bahwa alam liar ternyata kejam tak kenal ampun. Lebih kejam dari kemacetan Jakarta. Lebih kejam dari putus cinta. Bersombong diri, tak ada gunanya sama sekali. Tanpa persiapan dan bekal yang cukup, manusia hanya akan mati konyol di dalamnya. Dan bahwa kesetiaan dan kebersamaan, adalah syarat mutlak untuk dapat menaklukkannya.

Alam liar juga diam-diam memberi tahu saya, tentang sifat asli manusia yang secara alamiah akan muncul, apabila berada dalam keadaan terdesak. Yang mana yang tangguh, yang mana yang sabar, yang mana yang berjiwa pemimpin, dan sebagainya. Jauh di atas segalanya, alam liar telah mengajak saya untuk mengenal lebih jauh ke dalam diri saya sendiri, bahwa ternyata, saya tidak selemah yang selama ini saya bayangkan.

June 20, 2009

CATATAN PERJALANAN

Sejak dari dulu, setiap habis jalan-jalan ke luar kota, saya tidak pernah punya niat untuk membuat semacam catatan perjalanan. Kalaupun setelahnya saya membuat tulisan, pasti cuma mengangkat sisi perasaan saya akan kesan-kesan perjalanan tersebut. Menurut saya, catatan semacam itu rasanya kurang berguna, karena toh hampir semua orang pernah pergi ke Bandung, atau Jogja, misalnya.

Tapi semenjak ’mengenal’ Mbak Trinity, pikiran saya berubah sama sekali. Setelah membaca The Naked Traveler sampai habis, saya baru tersadar, catatan perjalanan itu bukan hanya tentang pergi ke Bandung, atau Jogja, misalnya, melainkan tentang pengalaman setiap orang yang masing-masing berbeda, meski tempat tujuannya sama. Betapa catatan itu amat berguna buat para pembacanya.

Namun, diam-diam, saya agak khawatir juga, karena kesuksesan catatan yang dibuat oleh Mbak Trinity, sangat dipengaruhi oleh gaya bertuturnya yang singkat namun padat. Sementara saya, seisi dunia juga tahu kalau saya ini paling ahli membuat tulisan yang berbelit-belit. Belum lagi gaya bahasa saya yang sentimentil nan sok puitis, wah, bisa-bisa butuh dua halaman sendiri untuk membahas keindahan sebuah kota yang saya datangi.

Tapi, yah, tentu semuanya harus dicoba. Entah bagaimana jadinya catatan perjalanan saya nanti, pokoknya saya berusaha supaya isinya informatif, sebab andaikata tulisan saya ini adalah seorang wanita, tentu akan sangat disayangkan apabila dia cuma sekedar cantik (setidaknya menurut saya, cantik itu kan relatif, haha), tapi tidak berisi, ya kan?

June 08, 2009

KADANG-KADANG, HIDUP ITU KEJAM

Belakangan ini, saya lagi banyak pikiran. Isinya, ya, tidak lain tidak bukan masalah kerjaan. Rekonsiliasi saya kusut dan acak-acakan, meski sudah jutaan kali saya telusuri angka-angka itu supaya bisa beres.

Puncak kekesalan saya, adalah hari senin kemarin. Berhari-hari lembur dan pulang malam, saya lelah dan frustasi. Seharian saya uring-uringan. Akhirnya, saya memutuskan pulang on time dan melupakan semuanya. Sayang, pak bos sedang ada acara, jadi saya tidak bisa nebeng seperti biasa.

Karena sedang bad mood, saya malas naik patas yang penuh, sehingga memutuskan balik arah ke Blok M demi sebuah kursi kosong. Karena baru saja hujan deras, jalanan seratus kali lipat lebih macet daripada biasanya. Hampir satu jam saya akhirnya sampai di Blok M.

Lalu, duduklah saya dengan manis di patas yang masih kosong melompong, di bawah AC yang sejuk, di pinggir jendela yang banyak pemandangan. Ketika baru mau memejamkan mata, datang penumpang baru dan duduk di sebelah saya. Sialnya, mas yang baru datang itu ukuran tubuhnya luar biasa besar. Jadi lengan saya sedikit tergencet tubuhnya yang berat. Yah, maksud hati mau duduk tenang, saya malah jadi kesal.

Tidak berapa lama, keadaan bertambah buruk lagi. Mas di sebelah saya itu tidur nyenyak, sambil mengorok! Saya yang seharian sudah frustasi, tambah frustasi. Apalagi di luar sana macetnya gila-gilaan, sehingga patas yang saya tumpangi cuma bisa bergerak seperti siput.

Duh, rasanya saya mau teriak-teriak memaki si mas itu sepuas hati, saking kesalnya. Atau malah ditambah dengan membenturkan kepala ke tembok, biar dramatis. Tapi apa daya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa duduk memajukan badan, sambil berpikir bahwa hidup itu kadang memang sempurna. Sempurna kejamnya!

June 06, 2009

IRISAN BOLU WAKTU

Andaikata waktuku satu minggu adalah seloyang kue bolu, yang harus dibagi untuk banyak hal penting dalam hidup, aku ragu telah membaginya dengan rata.

Karena kusaksikan di sebuah irisan yang tipis, kedua lengan ibuku menggapai-gapai mencari perhatian, memintaku untuk menebalkan irisan untuknya. Terlalu tipis, keluhnya.

Lalu, kulihat kawan-kawan baikku berebut bagian dari satu irisan tipis lainnya, yang tidak akan pernah bisa memuaskan satu orangpun. Terlalu sedikit untuk kami semua, protes mereka.

Sementara, tergeletak di sebelahnya, irisan setebal batu bata yang sanggup memberi makan sepuluh kepala. Namun, aku tak berdaya untuk membaginya pada siapa-siapa. Ada jurnal-jurnal yang dengan berkuasa memilikinya.

Dan, di dalam loyang yang sama, diantara irisan-irisan yang berat sebelah itu, berceceran remah-remah di sekelilingnya. Di sanalah bagianku.

Juni 2009

June 04, 2009

BUKAN TEMAN YANG BAIK

Salah satu teman baik saya, yang adalah teman baik sejak jaman SD, yang kemarin dulu sempat kecanduan novel Twilight itu, menikah sekitar sebulan lalu (atau dua bulan lalu, duh maap saya lupa). Berhubung orangtuanya sudah pindah dinas ke Palembang, yang mana juga adalah kampung halamannya, dan mengingat bahwa resepsi pernikahan adalah hajatan milik orangtua, maka resepsi pernikahannya digelar di kampung halamannya tersebut.

Saya tidak menghadiri acara itu, tentu sudah bisa diduga. Palembang terlalu jauh, dan waktu itu saya sedang pusing sekali dengan pekerjaan, sehingga sama sekali tidak berdaya. Untungnya, teman baik saya itu maklum.

Nah, sampai disitu, semua baik-baik saja. Yang menjadi persoalan adalah, saya lupa tanggal pernikahannya, dan tidak sempat mengucapkan secara langsung. Padahal sebelumnya, di kepala saya sudah terbayang skenario indah tentang membeli kado pernikahan, lalu menyempatkan bertemu dia di Jakarta sebelum acara. Tapi entah bagaimana caranya, saya sibuk sendiri, dan baru tiba-tiba tersadar tentang hal itu pada suatu malam. Detik itu juga, saya sms dia. Betapa hancur hati saya, waktu malam itu dia bilang, dia baru saja landing di Palembang, dan hari pernikahannya adalah besok lusa.

Terus terang, sampai hari ini, saya masih juga belum sempat menemuinya. Entahlah. Belakangan saya dapati saya ini semakin cuek saja pada teman-teman terdekat. Bahkan terhadap salah satu sahabat saya yang bakal berangkat sekolah itu, bisa dibilang saya harus sedikit dipaksa untuk bisa bertemu.

Lalu, masih ada lagi ‘dosa’ saya terhadap teman baik saya yang baru menikah itu. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja obrolan di status Facebook-nya menyatakan bahwa dia rupanya sudah mulai ngidam. Terus terang, saya sedih sekali harus mengetahuinya dengan cara seperti itu. Kalau saja dalam minggu-minggu ini saya sempat menemuinya, atau setidaknya menyenggol-nyenggol dia di yahoo messenger, mungkin saya bisa mendengar berita bahagia itu langsung dari mulutnya. Tapi nyatanya, saya sudah berubah jadi teman yang cuek sekali.

Dan sejujurnya, masih ada lagi daftar beberapa orang terdekat yang padanya saya merasa berdosa atas kecuekan saya. Tapi lain kali saja saya ceritakan, saya malu menuliskannya.

June 03, 2009

LESSON FROM MISTAKES

Hari ini saya mendapat pelajaran berharga sekali. Tentang menyikapi perbedaan pendapat. Tentang memahami orang lain dari posisi dia berada. Tentang pertemanan. Dan tentang maaf.

Bermula dari kasus yang terjadi antara Ibu Prita dan RS. Omni yang ramai diberitakan media, dan mengundang banyak simpati. Jadilah saya ikut merasa terpanggil rasa kepeduliannya, karena sebagai seorang blogger, saya merasa perlu benar ada kejelasan dan keadilan soal bagaimana kebebasan berpendapat dilindungi dalam undang-undang. Dan sebagai seorang awam penyakitan yang sering merasakan menginap di rumah sakit, saya tahu benar bagaimana rasanya merasa kecil dan tak berdaya di hadapan dokter rumah sakit yang kebanyakan angkuh.

Menurut hemat saya, pangkal kasus ini terjadi akibat kecenderungan sebagian besar dokter dan rumah sakit yang arogan, ditambah lagi dengan ketidakmengertian pasien, dan sikap mereka yang pasif. Waktu tadi pagi artikel di sebuah surat kabar mengurai hal yang sama dengan analisa saya, giranglah saya. Lantas saya kutiplah isi artikelnya yang menyebutkan tentang lima hak pasien, saya cantumkan di halaman status yang disediakan oleh situs Facebook.

Harapan saya, bukan cuma para dokter yang berintrospeksi, dengan berbekal sepotong info mengenai hak-haknya, para pasien diharapkan bisa keluar dari lembah ketidakmengertian dan bisa berubah jadi lebih aktif. Mereka biar bisa punya bargaining power untuk mereduksi kearoganan institusi kedokteran.

Nah, salah satu teman baik saya, kebetulan adalah karyawan RS. Omni. Awalnya dia netral saja terhadap kasus ini, paling-paling cuma khawatir imbas buruknya berpengaruh ke karyawan yang tak berdosa seperti dirinya. Tanpa saya duga, siang tadi, waktu saya mencantumkan status itu, dia protes lewat sms. Dia bilang dia tidak senang membaca status saya karena dianggapnya memojokkan rumah sakit tempatnya bekerja.

Terus terang, saya langsung kesal membaca kalimatnya. Padahal jelas-jelas isinya cuma menyebutkan lima hak pasien yang sama sekali tidak menyebutkan nama institusi manapun. Dengan emosi, saya balas smsnya. Isinya, ya kurang lebih mengungkapkan kekesalan saya padanya. Walaupun perasaan saya rada tidak tega karena dia teman baik saya sendiri, saya sudah tidak bisa mengendalikan diri. Kalimat saya cukup emosional.

Setelah berjam-jam, sms saya tak dibalasnya. Terus terang, saya jadi menunggu-nunggu. Penasaran mau tahu apa balasnya, karena teman baik saya ini kebetulan adalah seorang yang reaksioner. Tak disangka tak dinyana, ketika akhirnya balasan sms itu tiba juga, isinya jauh sekali dari dugaan saya. Kalimat pertama dibukanya dengan ucapan maaf, lalu dia mengakui, dia tidak seharusnya menuduh saya. Dia bilang, dia jadi defensif karena khawatir terjadi hal-hal buruk terhadap kantornya, yang jelas berpengaruh terhadap masa depannya. Lantas dia menjelaskan, sulit baginya bersikap netral, tapi pada akhirnya dia sadar dan mencoba menilai semuanya secara proporsional. Terakhir, dia bilang dia tidak mau kehilangan teman baik cuma gara-gara perdebatan sepele.

Duh, hati siapa yang tega kalau sudah membaca kalimat seperti itu. Apalagi, saya sendiri jelas punya salah. Saya tadi terlalu emosi dalam membalas smsnya. Harusnya saya bisa membalas smsnya dengan cara yang lebih anggun dan menyejukkan. Andai tadi saya mau sebentar saja membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi sulit seperti dia, tentu tidak akan begini jadinya. Langsung saya balas smsnya dengan berondongan kata maaf yang tak kalah panjangnya. Sambil dengan mata berkaca-kaca.

Baru saya sadari, ini semua konyol sekali, kami nyaris kehilangan satu sama lain cuma gara-gara perdebatan sepele. Lagipula, bukan begini cara berdebat yang baik dan benar. Kalau salah satu dari kami sudah mulai emosi, harusnya kan salah satunya mencoba mendinginkan, bukan malah membalas dengan statement yang memprovokasi.

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, di balik sikapnya yang kadang reaksioner, kawan baik saya itu punya kualitas unggul yang tidak saya miliki. Dia berani berbesar hati meminta maaf terlebih dulu. Taruhan, andaikata tadi dia tidak meminta maaf duluan, mungkin kami masih akan terus menyimpan kesal sampai entah kapan.

Berbekal kejadian hari ini, saya berjanji pada diri sendiri, untuk jangan pernah lagi bertindak menuruti emosi. Belajar melihat segala sesuatu dengan bijaksana. Dan, belajar untuk mau meminta maaf. Duh, betapa maaf itu manis rasanya, obat mujarab untuk segala persoalan.

PS. Lima hak pasien, yaitu mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat dokter atau dokter lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis, dan mendapatkan isi rekam medis

May 25, 2009

You Are What You Eat

Jadi ceritanya, malam itu saya dan adik saya yang perempuan sedang duduk di depan televisi. Tidak berapa lama, muncul di hadapan kami iklan makanan beku dalam kaleng. Perhatian saya langsung tertuju pada sekawanan ikan segar sebagai bahan baku makanan kaleng tersebut.

“Ih, ikan teri,..!” celetuk saya spontan.

“Yeeee, itu mah ikan tunaa,..” adik saya kontan protes. Nada suaranya terdengar sangat terganggu, demi mendapati kakaknya yang tiada sanggup membedakan jenis ikan. Walaupun sesungguhnya dia harus memakluminya, karena bertahun-tahun tinggal satu rumah, dia tahu benar saya tidak pandai membedakan makanan. (Saya bahkan tidak bisa membedakan tekstur daging: kambing atau sapi. Hahaha).

Nah, ketika saya sedang tertawa geli dalam hati mengingat kebodohan sendiri, tiba-tiba adik saya ikut-ikutan tertawa. Tawanya sungguh menyebalkan. Dan seolah-olah seperti baru saja mendapatkan ilham, di sela-sela tawanya dia berujar:

“You are what you eat! Hahahaha!”

Tawanya membahana makin kencang. Lama-lama makin menyebalkan. Sungguh memalukan sekali. Padahal, kalau menu makan saya selama ini teri, harusnya dia juga begitu, wong kami serumah. Sial. Tapi yah sudahlah, teri itu kan sehat, banyak kalsiumnya. Hahaha.

May 24, 2009

Natural Born Striker

Andaikata kamu terlahir sebagai pemain sepak bola, aku yakin kamu akan jadi striker yang andal. Betapa kamu berbakat melakukannya. Sungguh.

May 18, 2009

Another Long Distance Relationship

Salah satu dari dua sahabat saya yang indah itu, yang selama ini berjuang demi beasiswa untuk melanjutkan sekolah, akhirnya mendapatkan ganjaran manis dari serangkaian perjuangannya yang seolah tiada akhir itu. Beberapa bulan yang lalu dia mendapat kabar diterima pada pilihan pertama dari tiga universitas yang dilamarnya: Cornell University.

Cornell University yang terletak di New York ini, adalah salah satu dari delapan universitas bergengsi di Amerika Serikat yang tergabung dalam Ivy League, termasuk di dalamnya Harvard dan Yale. Untuk saya yang kerdil jiwanya dan kurang motivasinya ini, terus terang, tidak pernah berani bermimpi menuntut ilmu jauh sampai ke Amerika. Tapi sahabat saya yang cerdas nan pekerja keras itu telah membuktikan pada saya sebuah kalimat yang sering dikutipnya: bahwa Tuhan tidak pernah bermain dadu. Siapapun yang berani memperjuangkan mimpinya, akan mendapatkan mimpi itu dalam genggamannya.

Bicara tentang Amerika, sudah pasti bicara pula tentang negara adikuasa dengan paham kapitalismenya yang telah meminta banyak korban, termasuk Indonesia. Terbayang oleh saya, betapa sahabat saya akan bersinggungan ideologi begitu dekat dengan semua itu. Namun, tak bisa dipungkiri, Amerika juga adalah sebuah lambang pencapaian. Betapa sahabat saya akan pulang sebagai calon ekonom yang mudah-mudahan bisa memberikan sumbangsih buat tanah airnya. Dan terus terang, di balik semua harapan dan kekhawatiran, saya sangat bangga padanya.

Pernah pada suatu siang yang panas, kami duduk bertiga di dalam kamar kos sahabat saya di Menteng, sambil histeris membayangkan tentang Amerika. Jangankan kami, Miss Bloomwood yang tinggal di London saja tak luput dari histeria ketika pertama kali menginjakkan kaki di New York. Kami membayangkan bagaimana rasanya hidup sendirian di tengah-tengah hiruk pikuk si Big Apple. Oh, Amerika, disanalah sahabat saya akan tinggal selama dua setengah tahun ke depan. Awal Agustus dia sudah akan berangkat, demi mengikuti serangkaian persiapan untuk perkuliahan yang akan dimulai pada September ini.

Selama beberapa bulan yang masih tersisa, sahabat saya sungguh-sungguh memanfaatkan waktu dengan baik. Sejak awal tahun, dia sudah berhenti tinggal di tempat kosnya, dan memutuskan untuk bolak-balik Menteng-Karawaci supaya bisa punya banyak waktu untuk sahabat dan keluarganya. Hampir tiap minggu kami bertiga menyempatkan diri untuk bertemu, yang setiap akhir pertemuannya selalu membuat malam hari saya dipenuhi dengan tangisan cengeng karena membayangkan dua setengah tahun yang panjangnya seperti selamanya — tapi saya tidak pernah mengakui itu di hadapannya, sebab sahabat saya sangat menghindari percakapan yang akan membuat kami bertangisan.

Di belakang segala ketegarannya, sahabat saya didukung pula oleh ibu yang tegar. Dari jauh-jauh hari ibunda sahabat saya malah telah memberikan pesan yang isinya cukup ekstrim, bahwa kelak di Amerika nanti, apabila sahabat saya mengalami masalah, atau terkena penyakit yang masih bisa ditanggulangi, dia harus belajar menyimpannya sendirian. Segala kesulitan harus bisa diselesaikan sendiri. Cuma kabar gembira yang boleh diberitakan ke tanah air, selain itu, dilarang keras untuk mengabarkannya. Kabar buruk cuma akan membuat hati ibundanya hancur, karena tiket ke Amerika tidak murah, dan mengurus visa ke Amerika tidak mudah. Sahabat saya telah sepakat dengan perjanjian itu, dan saya pun mencoba tegar.

Yah, sejujurnya, kami bertiga telah terbiasa hidup berjauhan. Sewaktu kuliah, kami terpisah empat tahun lamanya: saya di Jakarta, sahabat saya di Bandung, sementara yang satunya lagi di Purwokerto. Tapi waktu itu, walaupun sebagian besar komunikasi dilakukan lewat email dan sms, selalu ada waktu dimana mereka akhirnya berpulangan setiap enam bulan sekali.

Sementara kali ini, tiga puluh bulan ke depan itu kecil kemungkinan akan memberikan jeda bagi sahabat saya untuk pulang. Saya bisa mati karena rindu. Air mata saya bisa kering karena menangisinya. Dan selama jangka waktu yang tidak sebentar itu, akan ada banyak hal yang bisa terjadi. Saya atau sahabat saya yang satu lagi bisa saja menemukan jodoh kami masing-masing, lalu kami menikah, lalu punya anak, dan sahabat saya yang pergi tidak bisa menyaksikannya. Duh, Tuhan, betapa saya benci perpisahan.

Belum lagi kalau sahabat saya itu dilanda masalah di sana. Dia sendirian. Dia kesusahan. Dia kebingungan. Betapa dia membutuhkan kami seperti layaknya kemarin saat dia sedang membutuhkan kami. Oh, terkutuklah saya dan tulisan saya yang mengerdilkan hati ini.

Tapi, kalau saya pikir-pikir lagi, tegakah saya melihat sahabat saya yang sudah setengah jalan itu mundur ke belakang gara-gara kami yang ditinggalkan cengeng berlebihan? dan bukankah semua orang hebat di luar sana melakukan apa yang sahabat saya lakukan? mereka meninggalkan rumah dan segala kenyamanan, meninggalkan sarang dan keluarga, demi hidup yang sebenar-benarnya.

Ah, sudahlah, usah menangis. Saya percaya sahabat saya adalah bagian dari rencana besar semesta. Dan saya percaya dia akan baik-baik saja. Tuhan selalu bersama orang-orang yang memeluk mimpinya, bukan?

“Pemahaman memang membutuhkan usaha. Barangkali kamu tidak akan mengagumi seorang teman yang pandai dalam segala hal jika untuk itu dia tidak perlu banyak berusaha.” (Dunia Sophie)

May 15, 2009

TAPI,…

“Kalau terlalu banyak tapi, setiap kisah dan dongeng tidak akan pernah berlanjut. Diam dia menggantung tak ke mana-mana.”

Andi Eriawan

May 01, 2009

FLIRTATION

It can be very, very sexy to drive a car, and completely unsexy to flirt with someone at a bar.

Bjork

April 29, 2009

KAMU

Duh, kamu,…

April 2009

April 23, 2009

TUKANG ES PODENG YANG BERANGKAT SHALAT JUMAT

Terpujilah tukang es podeng itu, yang karena kepergiannya untuk menunaikan shalat jumat, saya jadi batal menikmati dagangannya di tengah hari bolong ini. Begitu pula dengan mbak-mbak yang berjejer dengan wajah kehausan di kiri kanan saya. Semuanya batal menikmati es podeng.

Sekian orang dalam satu jumat. Minimal empat jumat dalam satu bulan. Entah berapa rupiah yang tidak jadi mengalir ke dalam pundi-pundi si tukang es podeng. Tapi dia tetap berangkat meninggalkan dagangannya demi menunaikan shalat jumat.

Sementara saya sendiri, yang gajinya tidak bakalan berkurang apabila meninggalkan meja dan komputer barang sejenak untuk pergi ke mushola, masih sering absen. Saya bahkan tidak bakalan dipecat apabila ingin berdzikir dan mengaji sekalian di mushola, tapi masih sering shalat dengan tergesa-gesa. Belum lagi pikiran yang melayang-layang ke dalam kertas kerja yang saya tinggalkan di atas meja, padahal kalau sedang tidak shalat saya bahkan tidak perduli dengan semua itu.

Nah, karena itulah saya katakan tukang es podeng itu sungguh terpuji. Dia berserah diri pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Semoga keberkahan selalu dilimpahkan kepadanya.

April 20, 2009

ELENA

Elena, betapa mengejutkannya hidup. Tawa dan duka datang silih berganti, tanpa petunjuk sama sekali. Seperti aku hari ini. Kemarin hidup bagiku masih sebuah kesendirian. Dingin dan membosankan. Tapi kini, semuanya sekejap berubah. Langit di atas kepalaku tiba-tiba cerah. Dan tak ada lagi yang ingin kulakukan, selain duduk manis dengan senyum merekah.

Seperti juga pertemuan kita, Elena. Kemarin bagiku kau masih serupa bulan yang berada jauh dari jangkauan. Namun hari ini, begitu dekatnya aku dengan engkau sebagai tujuan.

Elena, aku ini perempuan yang tengah jatuh cinta. Baru saja datang padaku laki-laki yang menawarkan masa depan. Dia seperti begitu saja jatuh dari langit, lalu berdiri di hadapanku dengan segenggam cinta. Hingga akhirnya, kami sepakat menjalin hubungan.

Oh, Elena, kalau bukan dia yang saat itu datang menjemputku, rasanya hari ini aku masih akan berteman dengan kesepian. Dialah laki-laki yang sanggup mendentangkan lonceng besar di dalam hatiku, hingga dentangan itu membuatku tersadar bahwa aku diciptakan bukan untuk merana sendirian. Dan sekarang, seperti bisa kau lihat sendiri, aku jatuh cinta.

Elena, dia bilang padaku, dia telah lama menikmati hidup sendirian, dan menemukan aku menerbitkan keinginan yang sama sekali baru dalam hidupnya. Dia tiba-tiba jadi ingin menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan. Dia tiba-tiba jadi ingin memperoleh anak perempuan. Dan semua itu akan diwujudkannya bersamaku. Dia mengajakku untuk menikah, dan mengajakku berdoa supaya kami dikaruniai seorang anak perempuan yang mungil dan lucu. Dia bahkan mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta kelak: Elena.

Ya, itulah engkau. Begitulah awal pertemuan kita. Begitulah awalnya mengapa aku jadi begitu tak sabar untuk mendekap anak perempuan yang kelak lahir dari rahimku sendiri: engkau, Elena.

***********************************************************************************

Elena, hidup memang selalu sanggup membuat siapa saja terkejut. Seperti aku hari ini. Sebuah kejadian tak disengaja mempertemukan aku dengan perempuan yang dulu pernah berbagi hidup dengan laki-laki yang kelak menjadi ayahmu. Kami duduk bersama seperti dua orang kawan lama, dan ia menceritakan banyak hal padaku.

Dia bilang, dulu bakal ayahmu baik hati dan lucu. Oh, aku sungguh setuju, karena itulah sikapnya yang selalu menawan hatiku. Kemudian perempuan itu juga bilang, bakal ayahmu dulu datang padanya menawarkan masa depan, lalu mengajaknya menikah agar dikaruniai anak perempuan. Sambil tergelak dia menambahkan, bakal ayahmu malah sudah mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta, namun hubungan mereka keburu kandas di tengah jalan sebelum semuanya sempat diwujudkan.

Dan kau tahu, siapa nama anak perempuan yang dulu telah disiapkan oleh laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu? Persis seperti nama yang disiapkannya untukmu. Namamu. Elena.

Oh, Elena, betapa aku terkejut mendengar semua itu. Kata-kata manis yang kemarin terlontar di hadapanku kini seperti berasal dari dunia yang jauh. Keinginan untuk menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena ternyata hanya sebuah kalimat usang. Dan aku terguncang.

Namun entah bagaimana caranya Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati. Kukatakan pada diriku sendiri, bakal ayahmu tidak lahir ke dunia lalu begitu saja tumbuh dewasa. Dia telah menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya berhasil menemukan aku. Mungkin jauh-jauh hari keinginan itu memang pernah terucap dari mulutnya, untuk kemudian urung di dalam hati, untuk kemudian di hadapanku kembali dilontarkan lagi.

Bagaimanapun, akulah orangnya yang telah berhasil menyuarakan kembali isi hati laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu. Sebagaimana dia telah berhasil mendentangkan kembali lonceng besar di dalam hatiku. Ya, Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati.

***********************************************************************************

Elena, betapa mengejutkannya hidup. Tawa dan duka datang silih berganti, seperti peran yang dimainkan dalam televisi. Seperti aku hari ini. Kemarin bagiku engkau begitu dekat dalam tujuan, kini dirimu laksana bulan yang jauh dari jangkauan.

Lagi-lagi tanpa sengaja, kutemukan petunjuk tentang laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu, Elena. Kutemukan surat-suratnya bersama seorang wanita entah siapa yang membuat hatiku amat terluka. Wanita lain yang bukan berasal dari masa lalunya. Tertulis di sana tentang cita-cita untuk hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan. Dan ketika akhirnya kutemukan lagi namamu turut berada di sana, Elena, aku tak lagi mampu membenahi hati.

Dengan bersimbah air mata kuputuskan untuk menyudahi semuanya. Kusudahi apa yang tengah kujalin bersamanya. Kusudahi mimpi indah untuk membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena. Elena yang manis dan lucu. Elena bakal anak perempuanku.

Semua itu kulakukan, Elena, karena sekarang aku sadar, tidak perempuan yang dahulu, tidak aku, mungkin tidak juga perempuan dalam surat itu, pernah dicintai oleh bakal ayahmu. Cuma engkau satu-satunya perempuan yang dicintainya, Elena. Demi engkau dia berjalan dari hati ke hati, untuk mencari yang terbaik. Dan karena aku juga sudah terlanjur mencintaimu Elena, kulepaskan dia pergi, kubiarkan dia mencari hati demi ibu yang terbaik untukmu kelak.

April 2009

April 14, 2009

KAU AKAN MENJELMA KEMBALI

Hatiku kini ibarat biksu muda yang tengah mempelajari Budha di sebuah kuil di Dharamsala: berusaha memaknai cinta melebihi cara yang ditawarkan dunia. Ingin mencintaimu, dengan cara yang lebih mulia.

Dan apabila hatiku adalah biksu muda yang setia pada seluruh silsilah Rinpochi, dia mencoba percaya bahwa kau juga tentu mengalami reinkarnasi. Semenjak hatiku kehilanganmu, aku mencoba percaya bahwa setiap keindahan yang kutemui mungkin saja adalah kamu.

Kau bisa menjelma kembang bermekaran, yang mencoba mengisyaratkan bahwa dunia begitu indahnya sehingga tangis tak diperlukan. Kau bisa menyamar ke dalam secangkir coklat panas, yang selalu sanggup menebarkan hangat. Kau bisa merasuk ke dalam alunan jazz, yang tak pernah gagal menciptakan gembira. Kau mungkin melebur di dalam cinta para sahabat, dan diam-diam berbisik padaku bahwa aku tak pernah sendirian. Kau menemani, dalam beragam bentuk yang mungkin tak kusadari.

Atau, kau mungkin menjelma ke dalam tubuh seseorang entah siapa, yang pada suatu hari datang menawarkan cinta. Dengan hati serupa penganut Budha yang beriman pada reinkarnasi, kurasa aku harus selalu percaya bahwa kau akan menjelma kembali.

April 2009

April 10, 2009

SILENCE

What shall I say to you?
What can I say better than silence is?
~Henry Wadsworth Longfellow

March 30, 2009

LETTER FOR REBECCA BLOOMWOOD [1]

Dear Miss Bloomwood,

Pertama-tama, aku ingin kau tahu bahwa sudah sejak lama aku berniat menulis banyak tentangmu. Tapi entah bagaimana caranya, aku sudah langsung kehabisan kata-kata, bahkan sebelum sempat menggoreskan kata yang pertama. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi, sungguh, aku begitu punya hasrat yang menggebu-gebu untuk menulis tentang dirimu. Karena itu, bagaimana kalau kita mulai saja semuanya dari awal sekali.

Tahukah kau Miss Bloomwood, aku sudah amat menyukaimu sejak awal perkenalan kita, beberapa tahun yang lalu. Aku langsung jatuh cinta pada kepribadianmu yang ceria, bersemangat, dan apa adanya. Kau sama sekali tidak pernah punya niat jahat pada orang lain, kau begitu setia pada sebuah persahabatan, dan kau tak pernah sekalipun sanggup menggadaikan nilai moral yang kau anut.

Aku tergila-gila pada caramu menyayangi Suze. Bagian favoritku adalah waktu kau terpesona menatapnya dari kejauhan, saat dia sedang hamil tua dan duduk di sebuah cafe menantimu. Kau bilang dia secantik malaikat. Aku juga tergila-gila menyaksikan hubunganmu yang serasi dengan Luke. Dan aku tergelak tidak karuan menyaksikan kekalapanmu ketika berbelanja keperluan bayi untuk Minnie. Oh, betapa aku punya sejuta alasan untuk jatuh sayang padamu.

Mengenai hasrat belanjamu yang mencengangkan itu, sejujurnya aku tidak begitu perduli. Aku menyayangimu apa adanya. Bahwa kau penggila belanja, atau penggila olahraga misalnya, tidak banyak bedanya buatku. Selama masih selalu dirimu yang jadi pemeran utamanya, cerita tentangmu akan tetap mempesona. Tapi, nyatanya, kau adalah seorang penggila belanja, dan itulah sebabnya Miss Kinsella membuat cerita tentang dirimu, sehingga aku tidak hendak mengabaikan kenyataan itu.

Baiklah, mari kita bicara sedikit mengenai itu. Terus terang, sebagai seorang wanita, yang tentu saja hobi juga berbelanja, aku tidak setuju bila hobi itu dibiarkan membabi buta. Aku sedih melihat kau menghabiskan separuh hidupmu di pusat-pusat berlanjaan mewah lalu memindahkan isinya ke dalam kamarmu, ke dalam lemari bajumu, ke dalam rak sepatumu.

Kuakui aku memang tidak sanggup mengikuti gaya hidupmu, dan tidak pernah tahu bagaimana rasanya kecanduan seperti dirimu. Namun ketahuilah Miss Bloomwood, ini bukan tentang sanggup atau tidak sanggup. Ini tentang sifat rakus yang ingin memiliki seluruh isi dunia, lantas menghambur-hamburkannya, sementara sebagian penduduk dunia lain kelaparan, dan sebagiannya lagi bekerja dengan upah minim, padahal barang-barang yang mereka hasilkan dijual dengan harga setinggi langit ketujuh, persis seperti tas tangan yang saat ini berada di atas meja riasmu itu.

Suatu hari nanti Miss Bloomwood, datanglah ke negaraku. Kau harus menginap di rumahku. Kita akan bersenda gurau di kamarku, sambil minum soda, sambil makan kudapan, sambil cekikikan sampai pagi menjelang, beserta adik perempuanku tentu saja, karena dia juga adalah penggemarmu. Lalu keesokan harinya, kita bisa jalan-jalan, dan akan kutunjukkan padamu bagaimana sedikit uang bisa memberikan kebahagiaan yang berlimpah. Kita akan mampir ke museum, lalu menikmati pemandangan indah di sana, sambil berfoto selayaknya dua orang sahabat. Kau tidak perlu membawa serta kartu kreditmu, karena di sepanjang jalan kau akan melihat begitu banyak pengemis dengan pakaian lusuh dan bau tak sedap, yang tidak akan terbantu hanya dengan sebuah kartu kredit. Mereka baru bisa hidup layak apabila segilintir orang di luar sana berhenti mementingkan diri sendiri.

Ah, betapapun kupaparkan sejuta fakta tentang orang-orang kelaparan itu, aku sadar kau tidak akan bisa berubah. Kau cuma sebuah tokoh di dalam novel. Kau cuma Rebecca Bloomwood yang kecanduan belanja. Tapi itu tak mengapa, biar aku dapat bercermin pada tingkah lakumu. Ya, kau tidak boleh pernah berubah. Biar semua pembaca novelmu bisa berkaca pada sisi burukmu. Kurasa sudah terlalu banyak penghuni bumi yang tergila-gila pada uang, terlalu banyak diantara mereka yang kecanduan belanja. Biar mereka semua merasa jera dan malu, tiap saat membaca kisah dirimu.

Selain itu, seperti telah kukatakan tadi, kau begitu punya banyak kebaikan untuk ditiru. Hal yang paling membuatku tergila-gila adalah caramu menikmati hidup. Demi Tuhan Miss Bloomwood, tak ada yang bisa melakukannya sebaik dirimu. Aku suka caramu menghayati hal-hal kecil. Yah, memang telah kutegaskan bahwa hobi belanja yang membabi buta adalah kesalahan, tapi aku suka caramu menceritakan betapa denting bel di pintu toko, harum toko, kilau lampu di dalamnya, dan lembutnya bahan sutra yang dijual di sana adalah deretan hal yang memabukkan. Oh, aku suka itu. Aku suka pada imajinasimu, tentang bank yang harus melakukan sale pada produknya, tentang buku cek warna-warni. Aku suka semua ide segarmu. Pantas saja Luke begitu mencintaimu, kau membuat dunia jadi lebih berseri-seri.

Oh, Miss Bloomwood, kurasa waktuku tak banyak. Aku harus menyudahi tulisan ini. Tulisan yang begitu sulit kumulai, dan ternyata lebih sulit lagi untuk diakhiri. Tapi lain kali aku akan menulis lagi. Terima kasih telah mendengarkan aku. Semoga kau selalu menjadi Rebecca Bloomwood yang kusayangi.

-peluk hangat dariku-

*Rebecca Bloomwood adalah karakter fiktif dalam novel Shopaholic Series karangan Sophie Kinsella.

March 27, 2009

HEARTLIST

Andaikata hatimu adalah sebuah playlist
aku sadar bahwa aku bukan (lagi) jawaranya,
namun meski begitu aku percaya
aku masih selalu mondar-mandir di chart-nya.

Maret 2009

March 24, 2009

JEJAK [2]

…, padahal kamu bisa saja pergi tanpa meninggalkan jejak.

Tapi kamu terlalu terburu-buru hingga lupa membersihkan kaki dulu. Dan lihatlah sekarang, jejak kakimu nyata berjajar di lantai hatiku. Akibatnya, aku jadi tahu kemana kamu pergi, dan bisa dengan mudah menyusul kamu.

Ah, tiba-tiba aku jadi curiga, jangan-jangan memang sengaja kamu tinggalkan jejak-jejak itu.

Maret 2009

JEJAK [1]

Kamu memang jagonya meninggalkan jejak.
Tak satupun kaki memiliki lekukan seindah jejak yang kamu tinggalkan, tak setengahnya, tak juga seperempatnya. Tak ada yang seindah kamu.

Tak pula ada debu selekat jejak yang kamu tinggalkan. Segala kebingungan dan ketidaknyamanan yang pernah kamu berikan masih jua berbekas meski rajin disikat waktu. Tak ada yang sesulit memahami kamu.

Kamu memang jagonya meninggalkan jejak.

Maret 2009

March 19, 2009

KEMBALI

Kamu tahu tidak, dulu setengah mati saya mengambil keputusan untuk menghapus semua hal tentang kamu. Susah payah saya iris-iris semua kenangan tentang kamu. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Lalu saya lempar jauh-jauh kamu dari hidup saya.

Sementara hati kamu, oh tolong jangan tanya tentang itu. Tentu saja saya tidak sanggup membuangnya. Saya membutuhkannya supaya bisa terus bertahan. Saya butuh untuk selalu dekat dengan hatimu. Maka, saya telan dia bulat-bulat, agar jangan pernah berpisah dari hidup saya.

Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika saya pikir hidup saya akan baik-baik saja berbekal tabungan sebentuk hatimu, tiba-tiba semuanya berantakan. Ibarat dulu melempar bumerang, sekonyong-konyong segala tentang kamu berceceran kembali di hadapan saya. Kepala kamu, tubuh kamu, kedua lengan dan sepasang kakimu. Kamu seperti begitu saja jatuh dari langit.

Lantas hati kamu, hati kamu yang selama ini berdiam tenang di dalam tubuh saya, serta-merta bergejolak. Dan saya tidak sanggup menenangkannya. Segala ketabahan dan kesabaran yang selama bertahun-tahun saya pendam, seperti hilang tidak berbekas. Saya tidak kuasa lagi meredam semuanya.

Saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan selain menyatukan kembali serpihan-serpihan tubuh kamu yang bertahun-tahun lalu telah sengaja saya iris, lalu meletakkan kembali hatimu di dalamnya. Sungguh, saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan, selain kembali memilikimu.

Maret 2009

March 16, 2009

SEPASANG HANTU

Aku tidak ingat kapan tepatnya semua ini bermula, tapi sepasang hantu seringkali berkunjung ke dalam bilik mimpiku yang kosong. Apabila gelap tiba, mereka berkeliaran di alam bawah sadarku. Sepanjang malam, aku seperti melihat mereka bercakap-cakap. Yang satu terkadang sambil duduk di depan meja makan, sementara yang satu bolak-balik ke arah dapur. Dunia mereka kelihatan begitu asing, percakapan mereka pun seperti film bisu, namun entah bagaimana caranya aku seperti telah memahami apa yang berlangsung di antara mereka.

Seseorang menyarankan aku untuk mencari teman tidur, supaya aku tidak ketakutan, dan supaya sepasang hantu itu berhenti mengunjungiku. Tapi ide itu kurasa hanya akan menambah buruk keadaan. Mana ada orang yang sudi berbaring bersama seseorang yang tidur malamnya tidak pernah tenang? Aku khawatir, dia akan lari ketakutan, demi mendengar igauanku yang tidak keruan, apabila sepasang hantu itu tengah datang menjenguk bilik mimpiku.

Seseorang lagi menerka-nerka, jangan-jangan semua itu bersumber dari persoalan hidupku yang belum selesai. Lalu harus kucari ke mana sepasang manusia yang kira-kira hendak berdamai dengan hidupku? Di gedung-gedung bertingkat? Di rumah makan? Di jalan raya? Di halte busway? Atau di atas ranjang? Aku tidak bisa menemukannya, karena aku berani bersumpah, aku tidak punya masalah dengan pasangan manapun di atas muka bumi ini. Satu-satunya yang muncul di benakku, hanyalah sepasang hantu yang setiap malam mendatangiku.

Namun setelah aku ingat-ingat kembali, aku ragu apakah benar mereka hendak menyakitiku. Mereka cuma bercakap-cakap sepanjang malam, persis seperti sebagaimana dilakukan oleh pasangan manapun di dunia nyata. Lantas kenapa percakapan sebuah pasangan jadi begitu menggangguku?

Oh Tuhan, aku takut. Bagaimana kalau ini semua memang hanya tentang aku? Bagaimana kalau ternyata satu-satunya persoalan hidupku adalah aku sendiri yang merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia?

Ya Tuhan, sekarang baru aku sadar, mungkin ini semua memang tentang aku. Bukan mereka yang hendak menyakitiku. Rupanya aku yang merasakan sakit di hati, demi menyaksikan mereka yang bercakap-cakap dengan bahagia.

Maret 2009

March 13, 2009

KALAU REJEKI TAK KEMANA

Kisah yang ini lagi-lagi terjadi di dalam angkot. Sewaktu pulang kerja, saya mendapati seorang teman lama duduk di angkot yang saya tumpangi. Dulu semasa kuliah, kami satu anggota paduan suara, dan sempat melewati begitu banyak masa menyenangkan bersama. Sekarang dia sudah menikah, lalu punya anak. Kali terakhir saya menjumpainya, adalah bulan puasa lalu, waktu menjenguk dia yang melahirkan anak pertama.

Ketika menyadari kehadirannya, tidak ada yang ingin saya lakukan selain menjerit histeris, lalu melanjutkannya dengan obrolan seru. Sayang, posisi duduk kami berjauhan: saya di pojok, sementara dia tepat di kursi depan pintu. Akhirnya kami cuma bisa saling menatap. Dia mengerling jahil, saya senyum-senyum kecil.

Di tengah perjalanan, dari tempat duduknya, teman saya itu bertanya, berapa ongkosnya andaikata dia hendak turun di mal yang sebentar lagi bakal kami lewati. Setelah saya jawab, dia bertanya lagi, di mana saya bakal turun, lantas berapa ongkosnya. Logika saya dengan sigap mengatakan, bahwa dia berniat turun di mal, lalu ingin sekalian membayari ongkos saya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung menolaknya — secara tersirat tentu saja. Sambil bercanda saya bilang saya kurang yakin berapa. Tapi dengan nada serius dia meyakinkan, bahwa dia memang hendak turun di tempat yang sama dengan saya.

Terus terang, saking seriusnya dia, diam-diam saya jadi malu pada penumpang satu angkot yang menyaksikan obrolan kami. Mereka pasti mencap saya ke-GR-an karena mengira bakal dibayari. Hahaha. Tapi walaupun sandiwara teman saya itu tergolong boleh juga, intuisi saya yang selalu bisa diandalkan tetap mengatakan bahwa dia memang cuma bersandiwara. Namun akhirnya saya beritahu juga berapa ongkos sebenarnya, takut bertambah malu, siapa tahu intuisi saya kali ini menyesatkan.

Ketika angkot kami berhenti di halte depan mal, barulah misteri itu terjawab. Tanpa ba bi bu, teman saya itu mengemasi tas kerjanya, lantas bergegas turun. Sambil membayar, dia memberi kode pada saya bahwa ongkos saya sudah dibayarinya sekalian. Nah, benar saja kan! Apa kata saya tadi, dia memang berniat membayari saya.

Berhubung belum sempat berterima kasih, saya kemudian mengiriminya sms pendek mengucapkan terima kasih. Dia membalasnya dengan nada penuh kepuasan. Haha. Sial, saya kecolongan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ya sudahlah, saya sudah mencoba mengelak tapi tetap gagal. Memang dasarnya rejeki saya, mau bagaimana lagi. Lumayan juga sebenarnya. Hahaha.

March 11, 2009

BAYI MUNGIL DI DALAM ANGKOT

Hujan rintik-rintik ketika malam itu saya pulang kantor. Turun dari bis kota, saya bergegas menaiki angkot yang sedang berjajar di seberang jalan. Baru sekejap duduk, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengan baju saya dari arah kanan. Saya sudah hampir menduga bahwa saya punya penggemar berat yang sedang histeris, ketika saya lihat siapa gerangan pelakunya.

Oh, seorang bayi rupanya. Mungil. Duduk di pangku ibunya persis di pojok kanan saya. Dalam kegelapan, sepasang matanya yang bulat bersinar-sinar menatap saya. Sementara ibunya cuma tersenyum kecil. Kasihan, mungkin sedari tadi dia bosan, duduk dalam angkot sepi yang cahayanya temaram, sehingga langsung terhibur melihat kedatangan saya yang berkemeja warna-warni.

Eh, cengkeramannya kuat, rasanya masih terasa bekas cakarnya di kulit saya.

Dan matanya yang bulat bersinar itu, sampai hari ini, rupanya juga masih membekas di kepala saya.

Aih, semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi.