August 07, 2010

Tahukah Tuan? [1]

Ada aliran listrik di genggaman tangan Tuan.

August 04, 2010

Tahukah Tuan? [2]

Tuan sudah melangkah terlalu jauh.

June 25, 2010

I'M CRAZY ABOUT KRATFWERK





June 10, 2010

I STOP WRITING FOR A WHILE

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

(Sepotong Senja Untuk Pacarku - Seno Gumira Ajidarma)


May 12, 2010

CORALINE: A REVIEW



Perkenalan saya dengan gadis kecil bernama Coraline berawal tanpa sengaja. Saat itu saya baru saja selesai menonton film animasi Mary and Max. Setelahnya, saya ketagihan, dan hasil googling mempertemukan saya dengan film animasi lainnya berjudul Coraline.

Film ini diangkat dari sebuah buku anak-anak karangan Neil Gaiman. Karena satu dan lain hal, akhirnya saya malah lebih dulu mendapatkan bukunya daripada filmnya. Berkisah tentang Coraline, gadis kecil pemberani yang baru saja menempati flat baru bersama orang tuanya. Sebagai anak tunggal, ia sering merasa kesepian. Kedua orang tuanya sibuk bekerja, dan jika sedang tidak sibuk, Ayahnya suka memasak resep eksperimen yang sama sekali tak disukainya. Ia sering mengeluhkan keadaan di rumah yang menurutnya tidak menyenangkan.

Coraline yang suka bertualang akhirnya pergi menjelajahi kebun. Ketika semua tempat telah selesai dijelajahi, ia memutuskan untuk menjelajahi bagian dalam flat yang luas. Di dalam ruang duduk, Coraline menemukan pintu rahasia yang akhirnya membawanya ke sebuah tempat yang hampir-hampir tak ada bedanya dengan rumahnya sendiri. Benda-benda di dalam ruangannya sama. Karpetnya sama. Kertas dindingnya juga sama. Di rumah itu bahkan ada dua orang yang begitu persis dengan Ayah dan Ibunya. Yang lebih menyenangkan lagi, di sana Ayah dan Ibunya tidak sibuk bekerja, dan masakan yang tersedia jauh lebih lezat dibanding masakan Ayahnya yang aneh.

Awalnya Coraline luar biasa gembira berada di sana. Namun semuanya berubah jadi seperti mimpi buruk ketika Ibu yang satunya tidak memperbolehkannya pulang. Ia ingin memiliki Coraline. Ia bahkan menculik kedua orangtua Coraline yang asli. Coraline harus berjuang agar bisa mendapatkan kehidupannya kembali.

Pesan moral dalam cerita ini adalah agar kita berhati-hati dengan keinginan kita, karena kita bisa saja mendapatkanya, namun dalam bentuk yang sama sekali tak terduga. Jangan pernah mengeluhkan suatu keadaan, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok: keadaan jadi bertambah buruk, dan kita akan begitu merindukan apa-apa yang pernah kita keluhkan.

Cerita ini sangat memikat hati saya. Pengarangnya lebih dari cerdas dalam merangkai kata. Buku yang diciptakan untuk anak-anak ini sanggup menciptakan ketegangan yang bisa juga dirasakan oleh orang dewasa. Segalanya serba misterius dan membuat penasaran. Saya bahkan ikut-ikutan takut ketika Coraline mendapati Ayah dan Ibunya tiba-tiba hilang tanpa jejak.

Selesai dengan bukunya, saya wajib berburu filmnya. Pengisi suara Coraline diperankan oleh aktris cilik Dakota Fanning. Saya yakin filmnya tidak kalah menghibur. Kalau tidak percaya, silakan intip dulu trailer-nya di bawah ini.

Reply from NY

"..., the one who is perfect is the one who is standing next to her."

I know it's a bullshit, but still, i love it, it's a beautiful bullshit :)

May 06, 2010

BETAPA KEPARATNYA NEGERI ITU

Betapa keparatnya negeri itu. Beli saja semua pemerintahnya yang senang menggadaikan rakyat demi kekuasaan. Gadai sekalian semua isinya, biar rakyat yang sengsara itu lekas mati dicekik hutang. Sudah bosan mereka menonton skenario-skenario murahan. Sudah terlalu lama mereka tersiksa dalam sekarat.

Ah, tapi syukurlah, kami tidak tinggal di negeri nista macam itu. Negeri yang kami tinggali ini aman dan sejahtera. Negeri kami dipenuhi dengan partai-partai yang politikusnya saling berlomba-lomba untuk mensejahterakan rakyat. Negeri kami penuh dengan orang cerdik pandai yang mencintai rakyat di atas segala-galanya.

Hahaha.

April 28, 2010

BEEN THERE DONE THAT

Tadi pagi saya mampir ke bank terdekat. Biasa, tanggal-tanggal gajian memang waktunya untuk melunasi tagihan-tagihan. Salah satu tagihan yang saya selesaikan adalah tagihan pulsa yang saya bayarkan tiap bulan. Sesuai prosedur, di slip setor tunai, saya tuliskan alamat rekening dituju, nama pemilik rekening, dan nama saya selaku penyetor.

Teller yang menerima saya, jika ditilik dari wajahnya yang masih muda, dan dilihat dari pakaiannya yang hanya kemeja putih polos, saya duga statusnya masih training atau yang sejenisnya. Benar saja, dugaan saya terbukti. Dari awal hingga akhir kami bertransaksi, berkali-kali dia salah menyebut nama saya. Dia memanggil nama saya sesuai nama yang saya cantumkan di kolom pemilik rekening. Mungkin ia masih belum paham benar konsep setor tunai. Ia belum bisa membedakan yang mana pemilik rekening, dan yang mana penyetor uang.

Melihat itu semua, saya jadi teringat diri saya sendiri waktu pertama kali bekerja hampir lima tahun yang lalu: sarjana bau kencur yang tidak punya pengalaman sama sekali. Saya benar-benar tidak paham apa yang dimaksud dengan ordner. Saya tidak tahu cara mempergunakan mesin fax dan mesin fotokopi. Saya bahkan memberi tahu seseorang bahwa ada telepon yang berdering berkali-kali dan perlu diangkat, padahal itu dering mesin fax. Dan saya masih ingat betul closing pertama pada bulan pertama saya bekerja: saya dan pak bos lembur sampai tengah malam membetulkan hasil pekerjaan saya yang kacau semua. Haha.

Jadi, untuk teller barusan, tak usah berkecil hati. Saya maklum semaklum-maklumnya. Been there done that!

April 25, 2010

SEPINGGAN SAJAK SEPI

(Esha Tegar Putra)

tentunya kita tak bakal saling melupa, sekarang aku sepinggan
sajak sepi, sedangkan kau sebentuk kata hati

tentunya kau tak akan pernah mengira bahwasanya aku akan
mempunyai sepasang mata berbahaya, mata yang bisa memandang
tembus lewat sesela angin (maka dari jauh, dari jarak yang tak bisa
kau tebak, pastinya aku akan menatapmu dengan penuh malu)

aku juga seorang penujum yang tahu di tempat mana kau
sembunyikan rasa sakit, ke sudut mana kau benamkan kenangan geli
yang selalu ingin kau nikmati sendiri

pastinya aku tak akan banyak berucap dan bergumam lagi
tapi piuhan mantra dan jimat penghela akan kudedahkan
(bagi siapa saja yang menyembunyikan kenangan
ke pucuk paling rahasia)

aku juga akan mengobati kau, jika dalam sakit
aku akan menyajikan sepunggung tulang
agar kau kuat dalam mengingat dan sigap berucap

tetap saja aku akan kau maknai sepinggan sajak sepi
sebab kau sebentuk kata hati
dan kita pastinya akan cepat bertemu jika sakit melibatkan diri

April 21, 2010

Selamat Hari Bumi

Seseorang yang tidak saya kenal bernama Marshall McLuhan pernah berkata, there are no passengers on Spaceship Earth. We are all crew. Dan saya setuju dengan perkataannya.

Karena itu saya mau mengingatkan: jangan mengandalkan petugas kebersihan, buang sendiri sampahmu ke tempatnya. We are all crew!

Selamat Hari Bumi.

Yuk mari.

April 20, 2010

I Understand

Berdasarkan pengalaman yang telah teruji berkali-kali, saya menyimpulkan bahwa ada dua jenis orang yang pada saat bersangkutan, mereka begitu ingin dimengerti, hanya ingin dimengerti:

1. Orang yang sedang hamil
2. Orang yang sedang mempersiapkan pernikahan

Berhubung saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya hamil dan mengalami serangan badai hormon yang luar biasa, juga belum punya rencana menikah dalam waktu dekat sehingga tidak punya bayangan sama sekali mengenai hidup di bawah tekanan persiapan pernikahan, maka saya tidak akan berpanjang kata.

Saya cuma mau mengerti.

Takut kualat. :D :D :D

April 19, 2010

A Beautiful Irony

The days we best understand each other are the days when we are no longer together.

April 16, 2010

I WILL GO TO TIMBUKTU SOMEDAY

Timbuktu's lovely women

Timbuktu adalah sebuah kota di Mali, Afrika Barat. Kota ini adalah rumah dari Universitas Sankore dan madrasah lainnya, dan juga, kota ini adalah pusat dari penyebaran Islam di Afrika pada abad ke-15 dan abad ke-16. 3 Masjid utamanya, Djingareyber, Sankore dan Sidi Yahya, mengingatkan kembali kepada zaman keemasan Timbuktu. Walaupun terus bangkit, monumen ini sekarang dibawah ancaman dari desertifikasi.

Kota ini dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Kota ini sering kali dibilang terletak di Sungai Niger, namun sebenarnya terletak 15 km utara sungai itu. Kota ini juga berada di daerah persimpangan dari Perdagangan Trans-Sahara baik dari barat ke timur, sampai utara ke selatan. Kota ini dulu dan sekarang, merupakan tempat penyaluran garam dari Taoudenni.

Letak geografisnya membuatnya sebuah tempat pertemuan alami bagi populasi Afrika di sekitarnya dan suku Berber yang nomaden dan orang Arab dari utara. Sejarahnya yang panjang sebagai pos perdagangan yang menghubungkan Afrika Barat dengan Berber, Arab dan Yahudi melalui Afrika Utara, dan juga secara tidak langsung dengan pedagang dari Eropa, telah memberikannya status fabel, dan di barat, dia merupakan sebuah metafora untuk tanah jauh yang eksotik. Kontribusi Timbuktu yang panjang kepada kebudayaan Islam dan dunia adalah pelajar.

Kontribusi Timbukti terhadap dunia Islam adalah ilmu pengetahuan. Pada abad ke-14 banyak buku penting ditulis dan dikopi di Timbuktu, membuat kota ini sebagai pusat tradisi tertulis penting di Afrika.

http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu
http://www.wildlifeadventures.com/Africa/images/timbuktu_mosque.jpg

April 14, 2010

Bookshelf of Osin


Our bookshelf at Omah Sinau.
Simply beautiful.

April 06, 2010

UGORAN PRASAD DAN MELANCHOLIC BITCH

Sensasi awalnya persis seperti ketika saya berkenalan dengan Zeke and the Popo: nama Melancholic Bitch luntang-lantung di hadapan saya sejak setahun terakhir, namun tak sekali pun membangkitkan rasa penasaran. Sampai akhirnya, saya mendengarkan album Starlit Carousel milik Frau -Regina Spektor dari Jogja- yang berduet dengan seorang laki-laki di lagu Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Suara laki-laki tersebut entah bagaimana caranya berhasil menggerakan mata saya untuk sejenak melirik namanya. Dialah sang vokalis Melancholic Bitch. Ugoran Prasad.



Mendapati nama Ugoran Prasad, kalau saya diizinkan untuk sedikit berlebihan, rasanya seperti menemukan kawan lama. Ialah penulis yang beberapa tahun silam sempat membuat saya bersungut sekaligus takjub dengan karyanya. Di Etalase, adalah novel debutannya yang waktu itu asal saja saya beli sebab tertarik dengan sampul depannya. Novel yang membuat saya mengumpatnya sebagai gila, dalam artian yang lebih cocok disebut pujian, karena isinya yang kelewat rumit.



Lalu di tahun 2005, Ugoran Prasad membuat kejutan dengan memenangkan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas lewat cerpennya yang berjudul Ripin. Cerpen sederhana tapi realistis dan bermakna dalam yang membuat saya takjub sebab ia berasal dari rahim yang sama dengan rahim yang telah melahirkan Di Etalase. Sejak saat itu, Ugoran Prasad tersimpan dengan indah di bagian belakang kepala saya. Lalu pelan-pelan dia redup tergerus berbagai macam informasi baru yang menerjang saya.



Sampai akhirnya, di awal tahun 2010, saya menemukannya kembali dalam Melancholic Bitch. Dan saya tenggelam dalam nostalgia yang dipenuhi banyak kejutan: Melancholic Bitch ternyata telah malang melintang di scene indie Jogja, jauh sebelum saya mengenal tulisan Ugoran Prasad. Saya juga menemukan sejumlah cerpen baru Ugoran Prasad yang bertebaran di dunia maya. Masih berbau-bau Melayu. Masih tentang orang-orang kampung. Masih dengan gaya khas yang sama.

Semuanya jadi makin menyenangkan, ketika Melancholic Bitch di mata saya pelan-pelan bukan lagi hanya tentang Ugoran Prasad. Saya cinta musiknya. Adalah Tentang Cinta, yang membuat saya pertama kali jatuh hati. Disusul oleh Mars Penyembah Berhala, yang menghadirkan sensasi seperti Koil, namun dengan dosis yang lebih manis. Terakhir, hati saya mentok di lagu Distopia, di mana Ugoran Prasad berduet dengan pesinden Silir Pujiwati. Di telinga saya, kalau saya masih diizinkan untuk bersikap berlebihan, lagu itu ibarat Zero 7 yang dikawinkan dengan Waljinah.



Demikianlah, Ugoran Prasad yang menulis sama indahnya dengan Ugoran Prasad yang bermusik.

February 25, 2010

A Dream Comes True


Omah Sinau a.k.a OSIN

(Thanks guys for the amazing collaboration)

February 24, 2010

ELENA [2]

Elena yang mungil dan lucu. Apakah kau sudah tahu? Dalam hidup, ada mimpi-mimpi yang ditakdirkan untuk tidak jadi kenyataan. Meski kata-kata bijak pernah berkata, bahwa seisi semesta akan saling bekerja sama untuk mengarahkanmu pada mimpi-mimpimu, akan selalu ada mimpi yang digariskan untuk kandas di tengah jalan. Sekeras apapun kau berusaha.

Satu diantaranya, adalah mimpiku, Elena. Mimpi untuk hidup bersama Ayahmu, lalu memperoleh anak perempuan yang mungil dan lucu: ya, engkau, Elena. Mimpi itu terpaksa pecah berkeping-keping setelah kutemukan surat-surat itu. Surat cinta antara Ayahmu, dan Ibu yang kelak akan melahirkanmu.

Namun Elena, kehidupan ternyata tidak begitu saja berhenti menuruti kisah cinta yang kandas. Sepeninggal Ayahmu, langit masih selalu berada di tempatnya, mentari masih hangat seperti biasa, dan aku, aku baik-baik saja, Elena.

Ah, Elena yang mungil dan lucu, sebenarnya aku sadar, engkau masih terlalu muda untuk memahami mimpi yang kandas dan rasa kehilangan. Engkau kini bahkan masih melayang-layang di alam roh. Tapi toh, pada akhirnya suatu hari nanti kau akan lahir jua, besar, dan mengenal cinta. Jadi mungkin akan lebih baik bila kau mengetahui semua ini dari awal sekali.

Baiklah, Elena, akan kuceritakan padamu bagaimana rasanya kehilangan mimpi dalam sekejap libasan waktu. Rasanya, sakit, Elena. Namun rupanya, dalam sakit ada kekuatan yang mendewasakan. Bilur-bilur perih itu akan memaksamu untuk merenungkan segalanya, menakar segalanya, menjajal-jajal setiap sudut supaya bisa menemukan penawarnya. Dan penawar itu, apalagi kalau bukan ikhlas namanya. Satu kata yang sanggup menyelesaikan seluruh permasalahan. 1

Tapi, Elena, ikhlas itu rupanya begitu luas, seluas dunia. Mungkin karena itulah Tuhan mengganjar pemilik keikhlasan dengan hadiah yang amat manis. Sebab ikhlas, adalah perjuangan seumur hidup. Sementara aku, ah, aku baru beroleh sekerat saja dari ikhlas yang sebesar dunia itu. Tapi cukup buatku untuk mampu melihat cinta yang tak habis-habisnya. Kurasa, di sanalah tempat berkumpulnya segala cinta di dunia.

Elena, di dalam dunia ikhlas itu, aku melihat Ayahmu, yang meski tampak sedang menggandeng mesra lengan bakal Ibumu, tak berkurang jua cintaku padanya. Kau mungkin berpikir bahwa aku tengah membual, atau jangan-jangan aku mungkin sudah tidak waras. Percayalah padaku, Elena. Aku masih waras, dan aku tidak sedang membual. Banyak hal ajaib memang bisa terjadi di dalam dunia ikhlas. Jauh di dalam sana, ada kekuatan besar yang sanggup menyihir perih seketika menjelma cinta yang luar biasa.

Nah, apa yang barusan kuceritakan, itu belum seberapa. Aku masih punya kejutan untukmu. Kau harus tahu, Elena, kadang-kadang, aku seperti merasa bahwa aku bukan hanya menyayangi Ayahmu, melainkan juga, bakal Ibumu. Aku suka membayangkan kami duduk berdua pada suatu senja membicarakan apa saja. Mungkin film kesukaannya, atau masa kecilnya, atau impian-impiannya, atau apapun tentangnya.

Aku juga sering mengira-ngira bagaimana sifatnya, bagaimana caranya tersenyum, dan segala tentangnya. Meski belum satu kalipun aku pernah bertemu dengannya, dalam dunia ikhlas — di mana arti cinta tak lagi sama dengan apa yang didefinisikan oleh dunia biasa — aku bisa saja menyayanginya seperti saudara. Atau kami bisa saja jadi teman baik, sebab kami menyayangi laki-laki yang sama. Apakah kau setuju padaku, Elena?

***


Elena yang mungil dan lucu. Kau kini tentu sudah mengerti tentang mimpi yang kandas dan rasa kehilangan. Dan mimpi yang kandas itu, seperti pernah terjadi padaku, bisa juga terjadi pada siapapun. Tak terkecuali wanita yang kuduga bakal menjadi Ibumu. Oleh sebab itu, waktu tadi pagi kita sama-sama mendengar kabar bahwa dia dan Ayahmu berpisah, kau tentu sudah tidak kaget lagi, bukan?

Karena persis seperti yang telah kukatakan padamu, dalam hidup ada mimpi-mimpi yang ditakdirkan untuk tidak jadi kenyataan. Meski kata-kata bijak pernah berkata, bahwa seisi semesta akan saling bekerja sama untuk mengarahkanmu pada mimpi-mimpimu, akan selalu ada mimpi yang digariskan untuk kandas di tengah jalan. Sekeras apapun kau berusaha.

Bahkan seorang penyair besar pernah berkata, bahwa kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita atasi. Kita tak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tak selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. 2

Ah, syukurlah Elena, aku keburu terjungkal ke dalam dunia ikhlas, sebelum sempat membenci wanita yang kini gagal menjadi Ibumu. Karena toh, pada akhirnya, nasibnya berujung sama denganku. Nah, kalau begitu, sampaikan saja pada Ayahmu: selamat menempuh perjalanan ke hati yang berikutnya, demi mencari Ibu yang terbaik untukmu kelak. Mungkin besok lusa dia sudah akan sampai, mungkin juga hingga tahun depan dia masih harus terus berjalan. Kita tak akan pernah tahu. Tapi siapapun yang akhirnya akan mendampinginya kelak, percayalah padaku, Elena, kami akan tetap bisa jadi teman baik: sebab kami menyayangi laki-laki yang sama.

(..., and in another place, I see a different you) 3

Februari 2010

1. Meminjam kalimat seorang kawan, Amanda Angela Soenoko: Apalagi kalau bukan ikhlas namanya. Satu kata yang sanggup menyelesaikan seluruh permasalahan.
2. Meminjam kalimat dari novel karya SGA “Jazz, Parfum & Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996
3. Koop - I see A Different You

February 18, 2010

SILENCE IS GOLDEN

Ada yang tengah menelan segala perihnya bulat-bulat.

Tanpa dikecap, tanpa dikunyah, tanpa dirasa-rasa, tanpa ditimbang-timbang, tanpa prasangka, tanpa banyak tanya. Dalam sunyi.

Sebab, diam itu emas.

February 17, 2010

Surat kepada Presiden: Pak, Saya Perlu Pemimpin yang Inspiratif

Pak Presiden, di paruh akhir 1990-an saya berjumpa dengan perempuan Iran penjaga stand pada pameran dagang negara-negara Islam yang digelar di Kemayoran. Pakaiannya menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, dan ia ramah sekali menjelaskan apa yang mereka bawa dalam pameran: hanya jagung. Memang, stand Iran waktu itu datang hanya untuk memamerkan jagung dan produk-produk turunan yang bisa dihasilkan dari jagung, seperti minyak, tepung, dan sebagainya.

“Hanya ini yang kami punya,” katanya. Tetapi suaranya terdengar gembira, mungkin bahkan bangga.

Kesulitan setelah perang delapan tahun melawan Irak, yang didukung oleh AS, masih terasakan di negeri bangsa Arya itu. Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya melancarkan embargo yang membuat perekonomian Iran tersuruk-suruk. “Kami hidup dari apa yang kami punya,” kata penjaga stand itu, “dan mengolah sebaik-baiknya apa yang ada di negeri kami. Hari ini kami hanya punya jagung dan kami bisa bangkit dari jagung milik kami.”

Ia menjadi kian bersemangat ketika membicarakan bagaimana mereka menghadapi embargo. Katanya, dulu Imam Husein juga dikepung musuh di padang Kerbala dan tak bisa mendapatkan bahan makanan di tengah kepungan musuh. Namun cucu Nabi itu tak pernah menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. “Sekarang kami hanya mencontoh apa yang dilakukan oleh cucu Nabi,” katanya. “Ia teladan kami; ia pemimpin kami.”

Kami bercakap-cakap tidak lama, tetapi ia memberi sesuatu yang inspiratif dan saya selalu bisa mengingatnya sampai sekarang. Perempuan penjaga stand itu juga dengan ringan hati menceritakan bahwa negaranya sedang miskin. Dan kondisi itu disadari sepenuhnya oleh seluruh warga. Pemerintah Iran waktu itu membuat pengakuan kepada seluruh warganya tentang kondisi negara mereka dan kemudian melakukan “kampanye miskin”. Dan saya kira mereka beruntung punya teladan dalam diri Imam Husein.

Anda tahu, Pak Presiden, kampanye semacam ini dengan sendirinya efektif untuk mengusir nafsu-nafsu hedonistik para pejabat publik. Kemabukan akan kemewahan niscaya akan tampak memalukan dan sama sekali tidak punya tempat di sana. Saya yakin tak ada tuntutan-tuntutan berlebihan oleh pejabat publik di saat pemerintah membuat pengakuan kepada warganya bahwa negara sedang miskin. Yang terpenting dari itu, pemerintah sendiri rasa-rasanya agak musykil untuk membelanjakan uang negara demi mobil mewah menteri-menteri atau anggota parlemen. Mereka akan menjadi orang-orang yang memalukan jika di mata publik tampak sebagai orang-orang yang serakah.

Sekarang, kita tahu, Iran bisa bangkit dari rongrongan embargo, dengan tetap gagah. Dan mereka benar-benar bangkit dengan bertumpu pada apa yang mereka punya. Ketika politik membuat negeri itu dikucilkan, diplomasi budaya membuat mereka diterima dengan hangat. Sejak beberapa tahun lalu dunia bisa menyaksikan para sineas mereka menghasilkan film-film yang menakjubkan. Dari sanalah antara lain mereka memasuki pergaulan dunia.

Tak lama setelah pertemuan dengan penjaga stand itu, Pak Presiden, saya membaca berita kecil tentang salah seorang wakil presiden Iran yang berangkat ke kantornya dengan bersepeda. Orang-orang lain segera mengikutinya. Lalu mereka dengan mudah membuat kebijakan bahwa hari Rabu adalah hari bersepeda. Orang-orang mematuhi kebijakan itu dengan senang hati.

Sampai sekarang sesungguhnya saya tak terlalu mengenal Iran, tidak khusus menekuni seluk-beluk negara itu atau Islam syiah yang mereka anut, dan hanya suatu ketika pernah berjumpa dan bercakap-cakap dengan penjaga stand. Namun itu pembicaraan yang terus bisa saya ingat dan, terus terang, “kampanye miskin” yang disampaikannya benar-benar melekat di pikiran saya. Menurut saya itu kebijakan brilian yang bisa disetarakan dengan “New Deal”-nya Franklin Delano Roosevelt ketika Amerika menghadapi depresi besar pasca Perang Dunia I.

Begitulah, Pak Presiden, saya pikir dalam situasi sulit yang diperlukan memang pemimpin yang sanggup memberikan inspirasi melalui kebijakan yang ia tawarkan. Dengan pemimpin semacam itu orang-orang yang paling kesulitan pun bisa memiliki keparcayaan diri untuk bangkit. Sebaliknya, pemimpin yang terlalu defensif hanya akan mengundang kesulitan bagi diri sendiri, dan juga bagi warganya.

Salam dari saya,

A.S. Laksana

http://www.detiknews.com/read/2010/02/12/104523/1298151/103/pak-saya-perlu-pemimpin-yang-inspiratif

PS. Dengan sangat terpaksa, saya akhirnya menodai blog ini dengan mengkopi tulisan yang agak berbau politik. Setelah muak dengan perasaan pesimis yang selalu dan selalu muncul tiap kali selesai membaca surat kabar dengan berita-beritanya yang bikin miris, saya tidak kuasa untuk tidak mengabadikan tulisan AS Laksana yang sangat mencerahkan ini. Saya tidak perduli apakah kolom Surat Kepada Presiden yang selalu rajin saya baca itu mengandung unsur propaganda politik atau apa, tapi yang baik-baik di dalamnya, pasti akan saya ambil.

February 06, 2010

LEBIH BAIK MEMIKIRKAN KAMU

Selain meraih Nobel Perdamaian, Ia juga dibuatkan patung di Taman Menteng, tapi tahukah kau apa yang dilakukannya? Ia terus menambah pasukan ke Afghanistan.

Ah, sudahlah.

Sudahlah, tinggalkan sejenak kekonyolan tentang dia. Abaikan dulu kesumpekan Jakarta. Let me forget that dirty big world. Malam ini hendak kututup dengan memikirkan kamu.

Yes, you.

You, and the pretty disorder you bring into my quite little world.

Desember 2009

February 05, 2010

SAJAK TENTANG PERIH

Entah kenapa, aku sedang enggan bicara tentang perih.
Aku juga tak hendak menuliskannya dalam sajak ini.
Atau di manapun.

Aku bahkan pura-pura tak merasakannya.

Februari 2010

February 04, 2010

CONGRATULATION

Tak habis-habisnya aku dibuat takjub: betapa Tuhan sangat menyayangimu.

January 04, 2010

PENGAMEN

Harusnya sekarang sedang asyik baca buku di rumah
supaya besok gede bisa jadi pengacara
atau mungkin ahli fisika.

Tapi gara-gara miskin
jadinya terpaksa nyanyi-nyanyi di atas bus kota.

Ah, sedih aku dek membayangkan masa depanmu.

Januari 2010

January 03, 2010

AIR WUDU

Aduh damainya waktu kita sedang saling bersinggungan.
Syukurlah kau bisa kutemui lima kali dalam sehari.

Januari 2010

January 02, 2010

PERCERAIAN DI MATA IBU MANAJER

Pada suatu pagi, saya mendengar Ibu Manajer menerima panggilan di ponselnya. Biasanya, beliau selalu ramai lagi penuh canda tawa tiap kali ngobrol-ngobrol di telepon. Tapi pagi itu, berbeda dari biasanya, beliau bicara sambil merendahkan suara. Dari gayanya, nampak pembicaraan itu cukup serius.

Sambil bekerja, terdengar oleh saya sayup-sayup kalimat yang terlontar dari mulut Ibu Manajer. Meski saya sama sekali tidak berniat menguping pembicaraan beliau, jarak meja kami yang berdekatan memungkinkan saya mendengar segalanya, sepelan apapun Ibu Manajer merendahkan volume suaranya.

Dari potongan-potongan kalimat yang terucap, Ibu Manajer dan si penelepon di seberang sana tampak sedang berbicara tentang urusan perceraian. Mungkin si penelepon tersebut sedang punya masalah rumah tangga, lalu minta saran pada Ibu Manajer.

Ibu Manajer saya, di umurnya yang hampir menginjak kepala empat, sama sekali belum pernah menikah. Dan seperti pernah saya ceritakan di waktu dahulu, beliau sama sekali tidak anti, atau menghindari, atau membenci, hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan maupun perceraian. Beliau bersikap begitu wajar, sewajar perawan usia tujuh belas yang belum menikah karena memang belum ketemu jodohnya.

Setelah beberapa saat menyimak ucapan si penelepon di seberang sana, Ibu Manajer dengan enteng merendah:

“Wah, kamu serius mau percaya sama nasehat saya tentang perceraian? wong saya ini kan belum menikah, masa sudah ditanya-tanya soal cerai,..” ujar beliau kemudian tertawa berderai-derai.

Agaknya, si penelepon di seberang sana ngotot minta nasehat Ibu Manajer, hingga akhirnya dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya, beliau berujar dengan kalimat yang kira-kira begini bunyinya:

“Cobalah jangan pikir soal cerai, hanya karena semata-mata kalian dibolehkan bercerai. Coba pikir ikatan kalian itu seperti ikatan saudara, mau ribut kek, mau benci kek, ya harus belajar terima apa adanya, wong gak bisa cerai.”

Demikianlah kalimat pamungkas Ibu Manajer sebelum akhirnya pembicaraan itu selesai. Kalimat naif yang diucapkan oleh seseorang yang belum pernah menikah. Dan saya, setuju seribu persen dengan beliau. Kenapa? Karena saya ngefens sama beliau. Karena saya percaya beliau bijaksana. Karena beliau telah menyebutkan kata kuncinya: belajar terima apa adanya. Terakhir, ya mungkin karena kami sama-sama naif, wong kami sama-sama belum menikah. :-P

January 01, 2010

HUJAN TURUN DI PAGI HARI IBU [1]

Setelah berhari-hari dilanda kering, hujan turun di pagi Hari Ibu, dan seketika bumi jadi basah. Benar-benar persis seperti Ibuku: air pelepas dahaga yang tiada henti-hentinya mengaliri hidupku.

22 Desember 2009

HUJAN TURUN DI PAGI HARI IBU [2]

Hujan turun di pagi Hari Ibu.
Manis dan syahdu.
Seperti cinta Ibuku buat aku.

22 Desember 2009