May 25, 2009

You Are What You Eat

Jadi ceritanya, malam itu saya dan adik saya yang perempuan sedang duduk di depan televisi. Tidak berapa lama, muncul di hadapan kami iklan makanan beku dalam kaleng. Perhatian saya langsung tertuju pada sekawanan ikan segar sebagai bahan baku makanan kaleng tersebut.

“Ih, ikan teri,..!” celetuk saya spontan.

“Yeeee, itu mah ikan tunaa,..” adik saya kontan protes. Nada suaranya terdengar sangat terganggu, demi mendapati kakaknya yang tiada sanggup membedakan jenis ikan. Walaupun sesungguhnya dia harus memakluminya, karena bertahun-tahun tinggal satu rumah, dia tahu benar saya tidak pandai membedakan makanan. (Saya bahkan tidak bisa membedakan tekstur daging: kambing atau sapi. Hahaha).

Nah, ketika saya sedang tertawa geli dalam hati mengingat kebodohan sendiri, tiba-tiba adik saya ikut-ikutan tertawa. Tawanya sungguh menyebalkan. Dan seolah-olah seperti baru saja mendapatkan ilham, di sela-sela tawanya dia berujar:

“You are what you eat! Hahahaha!”

Tawanya membahana makin kencang. Lama-lama makin menyebalkan. Sungguh memalukan sekali. Padahal, kalau menu makan saya selama ini teri, harusnya dia juga begitu, wong kami serumah. Sial. Tapi yah sudahlah, teri itu kan sehat, banyak kalsiumnya. Hahaha.

May 24, 2009

Natural Born Striker

Andaikata kamu terlahir sebagai pemain sepak bola, aku yakin kamu akan jadi striker yang andal. Betapa kamu berbakat melakukannya. Sungguh.

May 18, 2009

Another Long Distance Relationship

Salah satu dari dua sahabat saya yang indah itu, yang selama ini berjuang demi beasiswa untuk melanjutkan sekolah, akhirnya mendapatkan ganjaran manis dari serangkaian perjuangannya yang seolah tiada akhir itu. Beberapa bulan yang lalu dia mendapat kabar diterima pada pilihan pertama dari tiga universitas yang dilamarnya: Cornell University.

Cornell University yang terletak di New York ini, adalah salah satu dari delapan universitas bergengsi di Amerika Serikat yang tergabung dalam Ivy League, termasuk di dalamnya Harvard dan Yale. Untuk saya yang kerdil jiwanya dan kurang motivasinya ini, terus terang, tidak pernah berani bermimpi menuntut ilmu jauh sampai ke Amerika. Tapi sahabat saya yang cerdas nan pekerja keras itu telah membuktikan pada saya sebuah kalimat yang sering dikutipnya: bahwa Tuhan tidak pernah bermain dadu. Siapapun yang berani memperjuangkan mimpinya, akan mendapatkan mimpi itu dalam genggamannya.

Bicara tentang Amerika, sudah pasti bicara pula tentang negara adikuasa dengan paham kapitalismenya yang telah meminta banyak korban, termasuk Indonesia. Terbayang oleh saya, betapa sahabat saya akan bersinggungan ideologi begitu dekat dengan semua itu. Namun, tak bisa dipungkiri, Amerika juga adalah sebuah lambang pencapaian. Betapa sahabat saya akan pulang sebagai calon ekonom yang mudah-mudahan bisa memberikan sumbangsih buat tanah airnya. Dan terus terang, di balik semua harapan dan kekhawatiran, saya sangat bangga padanya.

Pernah pada suatu siang yang panas, kami duduk bertiga di dalam kamar kos sahabat saya di Menteng, sambil histeris membayangkan tentang Amerika. Jangankan kami, Miss Bloomwood yang tinggal di London saja tak luput dari histeria ketika pertama kali menginjakkan kaki di New York. Kami membayangkan bagaimana rasanya hidup sendirian di tengah-tengah hiruk pikuk si Big Apple. Oh, Amerika, disanalah sahabat saya akan tinggal selama dua setengah tahun ke depan. Awal Agustus dia sudah akan berangkat, demi mengikuti serangkaian persiapan untuk perkuliahan yang akan dimulai pada September ini.

Selama beberapa bulan yang masih tersisa, sahabat saya sungguh-sungguh memanfaatkan waktu dengan baik. Sejak awal tahun, dia sudah berhenti tinggal di tempat kosnya, dan memutuskan untuk bolak-balik Menteng-Karawaci supaya bisa punya banyak waktu untuk sahabat dan keluarganya. Hampir tiap minggu kami bertiga menyempatkan diri untuk bertemu, yang setiap akhir pertemuannya selalu membuat malam hari saya dipenuhi dengan tangisan cengeng karena membayangkan dua setengah tahun yang panjangnya seperti selamanya — tapi saya tidak pernah mengakui itu di hadapannya, sebab sahabat saya sangat menghindari percakapan yang akan membuat kami bertangisan.

Di belakang segala ketegarannya, sahabat saya didukung pula oleh ibu yang tegar. Dari jauh-jauh hari ibunda sahabat saya malah telah memberikan pesan yang isinya cukup ekstrim, bahwa kelak di Amerika nanti, apabila sahabat saya mengalami masalah, atau terkena penyakit yang masih bisa ditanggulangi, dia harus belajar menyimpannya sendirian. Segala kesulitan harus bisa diselesaikan sendiri. Cuma kabar gembira yang boleh diberitakan ke tanah air, selain itu, dilarang keras untuk mengabarkannya. Kabar buruk cuma akan membuat hati ibundanya hancur, karena tiket ke Amerika tidak murah, dan mengurus visa ke Amerika tidak mudah. Sahabat saya telah sepakat dengan perjanjian itu, dan saya pun mencoba tegar.

Yah, sejujurnya, kami bertiga telah terbiasa hidup berjauhan. Sewaktu kuliah, kami terpisah empat tahun lamanya: saya di Jakarta, sahabat saya di Bandung, sementara yang satunya lagi di Purwokerto. Tapi waktu itu, walaupun sebagian besar komunikasi dilakukan lewat email dan sms, selalu ada waktu dimana mereka akhirnya berpulangan setiap enam bulan sekali.

Sementara kali ini, tiga puluh bulan ke depan itu kecil kemungkinan akan memberikan jeda bagi sahabat saya untuk pulang. Saya bisa mati karena rindu. Air mata saya bisa kering karena menangisinya. Dan selama jangka waktu yang tidak sebentar itu, akan ada banyak hal yang bisa terjadi. Saya atau sahabat saya yang satu lagi bisa saja menemukan jodoh kami masing-masing, lalu kami menikah, lalu punya anak, dan sahabat saya yang pergi tidak bisa menyaksikannya. Duh, Tuhan, betapa saya benci perpisahan.

Belum lagi kalau sahabat saya itu dilanda masalah di sana. Dia sendirian. Dia kesusahan. Dia kebingungan. Betapa dia membutuhkan kami seperti layaknya kemarin saat dia sedang membutuhkan kami. Oh, terkutuklah saya dan tulisan saya yang mengerdilkan hati ini.

Tapi, kalau saya pikir-pikir lagi, tegakah saya melihat sahabat saya yang sudah setengah jalan itu mundur ke belakang gara-gara kami yang ditinggalkan cengeng berlebihan? dan bukankah semua orang hebat di luar sana melakukan apa yang sahabat saya lakukan? mereka meninggalkan rumah dan segala kenyamanan, meninggalkan sarang dan keluarga, demi hidup yang sebenar-benarnya.

Ah, sudahlah, usah menangis. Saya percaya sahabat saya adalah bagian dari rencana besar semesta. Dan saya percaya dia akan baik-baik saja. Tuhan selalu bersama orang-orang yang memeluk mimpinya, bukan?

“Pemahaman memang membutuhkan usaha. Barangkali kamu tidak akan mengagumi seorang teman yang pandai dalam segala hal jika untuk itu dia tidak perlu banyak berusaha.” (Dunia Sophie)

May 15, 2009

TAPI,…

“Kalau terlalu banyak tapi, setiap kisah dan dongeng tidak akan pernah berlanjut. Diam dia menggantung tak ke mana-mana.”

Andi Eriawan

May 01, 2009

FLIRTATION

It can be very, very sexy to drive a car, and completely unsexy to flirt with someone at a bar.

Bjork