February 24, 2009

BIRTHDAY GIFT [2]

Tradisi bertukar kado ulang tahun, tentu saja berlaku juga di antara saya dan geng kawan-kawan semasa kuliah. Dan persis seperti sekumpulan rekan kantor saya yang bernasib malang itu, mereka juga saya titipi pesan, tentang kado apa yang saya inginkan kali ini.

Di hadapan perempuan yang manis-manis itu, rupanya permintaan saya disambut dengan lebih mulus. Karena tidak mau repot, acara pembelian kado malah direncanakan untuk mengikutsertakan saya langsung ke tokonya, supaya praktis dan tidak bertele-tele.

Akhirnya, pada sebuah hari sabtu, berangkatlah saya dan salah seorang kawan satu geng ke sebuah pusat perbelanjaan, untuk sama-sama membeli kado saya. Seperti terhipnotis pada sihir simbolisasi, rencananya bakal kado yang hendak dibeli itu, akan dibawa pulang oleh kawan saya, guna diserahkan kembali pada saya, tepat pada hari ulang tahun. Hahaha. Ini agak konyol memang, tapi benar demikianlah yang terjadi.

Kemudian sampailah kami di toko pakaian yang barang dagangannya saya taksir. Sebentar saja memilih, saya langsung menjatuhkan pilihan pada sebuah atasan. Tanpa diduga, kawan saya itu ikut-ikutan jatuh hati pada sebuah celana panjang. Akhirnya, dia berbelanja juga untuk dirinya sendiri.

Di hadapan kasir, kawan saya baru sadar bahwa uang di dompetnya tidak cukup untuk membayar belanjaannya. Terpaksa dia harus menggunakan kartu debit. Sialnya, kawan saya (dan juga saya kebetulan) adalah pemegang kartu debit Lippo, sementara toko tempat kami berbelanja cuma menerima pembayaran lewat debit BCA, sehingga kawan saya harus menanggung charge sebesar tiga persen dari total belanjaannya.

Saya langsung menampik ide pembayaran dengan kartu, karena teringat bahwa di dompet saya masih ada beberapa lembar cash. Pikir saya, buat apa buang uang kalau masih bisa bayar tunai. Tapi teman saya menolak, dia bilang saya tidak boleh membayar untuk kado saya sendiri. Antara geli dan kesal saya jelaskan padanya, keluar dari toko kami bisa langsung mampir di ATM, dan mengganti uang saya, sehingga saya tidak perlu membayar kado saya sendiri. Tapi teman saya ngotot, katanya biar bagaimana pun saya akan menalangi kado saya sendiri, dan itu sungguh tidak pantas. Kami berdebat cukup lama, sampai petugas kasir di hadapan kami memotong dengan ucapan yang mengesalkan, katanya kalau teman saya kebanyakan uang, kenapa harus dilarang.

Aduh, rasanya saya ingin tampar petugas kasir itu. Tapi karena tidak ingin membuat keadaan jadi tidak mengenakkan, saya diam saja, dan membiarkan kawan saya membayar dengan kartu debit Lipponya. Dalam hati saya jadi menyesal, andai saya tidak lancang minta ikut saat pembelian kado, mungkin teman saya tidak perlu susah payah begini.

February 19, 2009

JARAK USIA

Usiaku lagi-lagi bertambah satu.
Entah sudah kali yang keberapa,
semenjak aku mengenalmu.
Namun sampai hari ini,
aku masih belum dapat menyusul kamu.

Tentu saja,
aku memang tidak bakal bisa mengejar kamu.
Waktu aku lahir,
kamu sudah berlari jauh di depanku.
Dan tiap kali usiaku tambah satu,
begitu pula yang terjadi dengan usiamu.

Kadang-kadang aku membayangkan,
andai kita merayakan usia tujuh belas bersama,
mungkin saat ini kita bisa berjalan berdampingan.
Kamu tidak perlu berada jauh di depan,
sementara aku susah payah menyusul berlarian,
dan berharap kamu sudi mengurangi kecepatan.
Lalu pada saat kita duduk berhadapan,
usiaku sudah mantab dibalut kedewasaan,
sehingga tidak ragu bicara tentang masa depan.

Tapi tentu saja semua itu hanya andaikan.
Kamu sudah melesat jauh ke depan,
dan sampai pada haluan.
Aku pun tak hendak lagi mempertanyakan.
Jawabannya kurasa telah aku temukan:
Tersembunyi pada jarak di mana usia kita berpautan.

Februari 2009

February 11, 2009

BIRTHDAY GIFT [1]

Jadi ceritanya, pada tanggal 8 yang lalu, saya merayakan ulang tahun yang ke dua puluh lima. Sudah merupakan tradisi diantara saya dan beberapa kawan dekat di kantor, untuk memberikan kado pada hari ulang tahun masing-masing.

Nah, pada giliran saya kali ini, setelah bertahun-tahun puas dengan sensasi menerka kado, saya memutuskan untuk menentukan sendiri kado apa yang saya mau. Selain karena ingin memenuhi keinginan pribadi atas sebuah benda (hahaha), saya rasa keputusan itu cukup tepat, karena kawan-kawan saya jadi tidak perlu repot mondar-mandir di pusat perbelanjaan sambil susah payah menerka keinginan saya tahun ini (percayalah, setelah berulang kali mencari kado untuk orang yang sama, pada tahun ketiga semua ide akan macet, karena benda-benda yang mungkin diinginkan telah terbeli pada tahun-tahun sebelumnya).

Ketika keinginan soal kado itu saya utarakan pada kawan-kawan saya, mereka langsung terkikik geli sambil memandang saya dengan tatapan sejuta makna. Tapi saya tetap ngotot. Saya tetap pantang mundur sambil ngoceh menjelaskan apa keinginan saya. Sudah begitu lama saya mendamba sebuah perangkat audio untuk mendengarkan musik. Namun entah bagaimana caranya tiap kali saya gajian, selalu ada benda-benda yang lebih perlu dibeli dibanding benda yang satu itu. Jadi saya pikir, daripada kawan-kawan saya salah membelikan kado, sementara saya jelas-jelas menginginkan sebuah benda, kenapa tidak saya pesan saja benda itu sebagai hadiah.

Keesokan harinya, di luar dugaan saya, salah satu kawan saya berkata bahwa kado untuk saya sudah mulai dipikirkan. Saya langsung gembira sambil berkata dengan nada jumawa: apa gue bilang, jadi memudahkan kalian, kan? Lalu serta merta saya menambahkan, bahwa saya tidak mau kado yang murahan. Dalam artian, mereka harus memastikan bahwa perangkat audio itu tidak berbahaya bagi telinga saya. Apabila dengan anggaran yang telah mereka siapkan, ada kemungkinan bahwa hasilnya membahayakan, lebih baik dibatalkan saja (ya, saya tau saya sangat menyebalkan, hahaha). Walaupun air mukanya terlihat begitu ingin mencekik saya, kawan saya menyarankan agar saya tenang saja. Anggaran yang mereka sediakan tidak bakal berbahaya bagi telinga saya. Mereka sudah berkonsultasi pada Bapak IT, dan menyerahkan urusan pembelian kado itu pada beliau. Haha. Lagi-lagi beliau. Orang yang sama yang dulu pernah mengurusi PC saya yang terjangkit spyware. Tapi justru itu, saya percaya pada pilihan beliau. Sekejap saya langsung lega demi mengetahui bakal kado saya berada di tangan yang tepat.

Demikianlah segalanya membuat hari-hari penantian saya berjalan menegangkan, dan membuat saya begitu tidak sabaran. Sampai akhirnya pada suatu pagi yang hujan, kado itu tiba juga di meja saya. Dibungkus kertas biru. Ditempeli kertas ucapan selamat. Dan saya masih harus menunggu jam kantor usai untuk melihat isinya, karena kombinasi bungkusan besar dan histeria saya yang ajaib, pasti akan menimbulkan kehebohan yang mengganggu ketertiban sekitar.

Ketika sore tiba, saya dan kawan-kawan bergegas berkumpul di ruangan kasir yang tertutup, demi menyaksikan upacara pembukaan kado. Dan di sanalah dia, kado saya yang manis itu: perangkat audio berupa headphone paling keren di seantero jagat raya. Benda yang membuat saya begitu berbahagia, bukan hanya karena dia bisa mengalirkan bunyi musik di dalamnya, tapi juga karena kawan-kawan saya tercinta, dengan bantuan Bapak IT, telah bersusah payah menghadirkannya untuk saya.

Akhir kata, tentu saja, terima kasih saya yang tak terhingga untuk kawan-kawan saya tercinta, dan Bapak IT yang baik hati :)