Elena yang mungil dan lucu. Apakah kau sudah tahu? Dalam hidup, ada mimpi-mimpi yang ditakdirkan untuk tidak jadi kenyataan. Meski kata-kata bijak pernah berkata, bahwa seisi semesta akan saling bekerja sama untuk mengarahkanmu pada mimpi-mimpimu, akan selalu ada mimpi yang digariskan untuk kandas di tengah jalan. Sekeras apapun kau berusaha.
Satu diantaranya, adalah mimpiku, Elena. Mimpi untuk hidup bersama Ayahmu, lalu memperoleh anak perempuan yang mungil dan lucu: ya, engkau, Elena. Mimpi itu terpaksa pecah berkeping-keping setelah kutemukan surat-surat itu. Surat cinta antara Ayahmu, dan Ibu yang kelak akan melahirkanmu.
Namun Elena, kehidupan ternyata tidak begitu saja berhenti menuruti kisah cinta yang kandas. Sepeninggal Ayahmu, langit masih selalu berada di tempatnya, mentari masih hangat seperti biasa, dan aku, aku baik-baik saja, Elena.
Ah, Elena yang mungil dan lucu, sebenarnya aku sadar, engkau masih terlalu muda untuk memahami mimpi yang kandas dan rasa kehilangan. Engkau kini bahkan masih melayang-layang di alam roh. Tapi toh, pada akhirnya suatu hari nanti kau akan lahir jua, besar, dan mengenal cinta. Jadi mungkin akan lebih baik bila kau mengetahui semua ini dari awal sekali.
Baiklah, Elena, akan kuceritakan padamu bagaimana rasanya kehilangan mimpi dalam sekejap libasan waktu. Rasanya, sakit, Elena. Namun rupanya, dalam sakit ada kekuatan yang mendewasakan. Bilur-bilur perih itu akan memaksamu untuk merenungkan segalanya, menakar segalanya, menjajal-jajal setiap sudut supaya bisa menemukan penawarnya. Dan penawar itu, apalagi kalau bukan ikhlas namanya. Satu kata yang sanggup menyelesaikan seluruh permasalahan
. 1Tapi, Elena, ikhlas itu rupanya begitu luas, seluas dunia. Mungkin karena itulah Tuhan mengganjar pemilik keikhlasan dengan hadiah yang amat manis. Sebab ikhlas, adalah perjuangan seumur hidup. Sementara aku, ah, aku baru beroleh sekerat saja dari ikhlas yang sebesar dunia itu. Tapi cukup buatku untuk mampu melihat cinta yang tak habis-habisnya. Kurasa, di sanalah tempat berkumpulnya segala cinta di dunia.
Elena, di dalam dunia ikhlas itu, aku melihat Ayahmu, yang meski tampak sedang menggandeng mesra lengan bakal Ibumu, tak berkurang jua cintaku padanya. Kau mungkin berpikir bahwa aku tengah membual, atau jangan-jangan aku mungkin sudah tidak waras. Percayalah padaku, Elena. Aku masih waras, dan aku tidak sedang membual. Banyak hal ajaib memang bisa terjadi di dalam dunia ikhlas. Jauh di dalam sana, ada kekuatan besar yang sanggup menyihir perih seketika menjelma cinta yang luar biasa.
Nah, apa yang barusan kuceritakan, itu belum seberapa. Aku masih punya kejutan untukmu. Kau harus tahu, Elena, kadang-kadang, aku seperti merasa bahwa aku bukan hanya menyayangi Ayahmu, melainkan juga, bakal Ibumu. Aku suka membayangkan kami duduk berdua pada suatu senja membicarakan apa saja. Mungkin film kesukaannya, atau masa kecilnya, atau impian-impiannya, atau apapun tentangnya.
Aku juga sering mengira-ngira bagaimana sifatnya, bagaimana caranya tersenyum, dan segala tentangnya. Meski belum satu kalipun aku pernah bertemu dengannya, dalam dunia ikhlas — di mana arti cinta tak lagi sama dengan apa yang didefinisikan oleh dunia biasa — aku bisa saja menyayanginya seperti saudara. Atau kami bisa saja jadi teman baik, sebab kami menyayangi laki-laki yang sama. Apakah kau setuju padaku, Elena?
***
Elena yang mungil dan lucu. Kau kini tentu sudah mengerti tentang mimpi yang kandas dan rasa kehilangan. Dan mimpi yang kandas itu, seperti pernah terjadi padaku, bisa juga terjadi pada siapapun. Tak terkecuali wanita yang kuduga bakal menjadi Ibumu. Oleh sebab itu, waktu tadi pagi kita sama-sama mendengar kabar bahwa dia dan Ayahmu berpisah, kau tentu sudah tidak kaget lagi, bukan?
Karena persis seperti yang telah kukatakan padamu, dalam hidup ada mimpi-mimpi yang ditakdirkan untuk tidak jadi kenyataan. Meski kata-kata bijak pernah berkata, bahwa seisi semesta akan saling bekerja sama untuk mengarahkanmu pada mimpi-mimpimu, akan selalu ada mimpi yang digariskan untuk kandas di tengah jalan. Sekeras apapun kau berusaha.
Bahkan seorang penyair besar pernah berkata, bahwa kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita atasi. Kita tak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tak selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.
2Ah, syukurlah Elena, aku keburu terjungkal ke dalam dunia ikhlas, sebelum sempat membenci wanita yang kini gagal menjadi Ibumu. Karena toh, pada akhirnya, nasibnya berujung sama denganku. Nah, kalau begitu, sampaikan saja pada Ayahmu: selamat menempuh perjalanan ke hati yang berikutnya, demi mencari Ibu yang terbaik untukmu kelak. Mungkin besok lusa dia sudah akan sampai, mungkin juga hingga tahun depan dia masih harus terus berjalan. Kita tak akan pernah tahu. Tapi siapapun yang akhirnya akan mendampinginya kelak, percayalah padaku, Elena, kami akan tetap bisa jadi teman baik: sebab kami menyayangi laki-laki yang sama.
(..., and in another place, I see a different you) 3 Februari 20101. Meminjam kalimat seorang kawan, Amanda Angela Soenoko: Apalagi kalau bukan ikhlas namanya. Satu kata yang sanggup menyelesaikan seluruh permasalahan.
2. Meminjam kalimat dari novel karya SGA “Jazz, Parfum & Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996
3. Koop - I see A Different You