April 25, 2010

SEPINGGAN SAJAK SEPI

(Esha Tegar Putra)

tentunya kita tak bakal saling melupa, sekarang aku sepinggan
sajak sepi, sedangkan kau sebentuk kata hati

tentunya kau tak akan pernah mengira bahwasanya aku akan
mempunyai sepasang mata berbahaya, mata yang bisa memandang
tembus lewat sesela angin (maka dari jauh, dari jarak yang tak bisa
kau tebak, pastinya aku akan menatapmu dengan penuh malu)

aku juga seorang penujum yang tahu di tempat mana kau
sembunyikan rasa sakit, ke sudut mana kau benamkan kenangan geli
yang selalu ingin kau nikmati sendiri

pastinya aku tak akan banyak berucap dan bergumam lagi
tapi piuhan mantra dan jimat penghela akan kudedahkan
(bagi siapa saja yang menyembunyikan kenangan
ke pucuk paling rahasia)

aku juga akan mengobati kau, jika dalam sakit
aku akan menyajikan sepunggung tulang
agar kau kuat dalam mengingat dan sigap berucap

tetap saja aku akan kau maknai sepinggan sajak sepi
sebab kau sebentuk kata hati
dan kita pastinya akan cepat bertemu jika sakit melibatkan diri

April 21, 2010

Selamat Hari Bumi

Seseorang yang tidak saya kenal bernama Marshall McLuhan pernah berkata, there are no passengers on Spaceship Earth. We are all crew. Dan saya setuju dengan perkataannya.

Karena itu saya mau mengingatkan: jangan mengandalkan petugas kebersihan, buang sendiri sampahmu ke tempatnya. We are all crew!

Selamat Hari Bumi.

Yuk mari.

April 20, 2010

I Understand

Berdasarkan pengalaman yang telah teruji berkali-kali, saya menyimpulkan bahwa ada dua jenis orang yang pada saat bersangkutan, mereka begitu ingin dimengerti, hanya ingin dimengerti:

1. Orang yang sedang hamil
2. Orang yang sedang mempersiapkan pernikahan

Berhubung saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya hamil dan mengalami serangan badai hormon yang luar biasa, juga belum punya rencana menikah dalam waktu dekat sehingga tidak punya bayangan sama sekali mengenai hidup di bawah tekanan persiapan pernikahan, maka saya tidak akan berpanjang kata.

Saya cuma mau mengerti.

Takut kualat. :D :D :D

April 19, 2010

A Beautiful Irony

The days we best understand each other are the days when we are no longer together.

April 16, 2010

I WILL GO TO TIMBUKTU SOMEDAY

Timbuktu's lovely women

Timbuktu adalah sebuah kota di Mali, Afrika Barat. Kota ini adalah rumah dari Universitas Sankore dan madrasah lainnya, dan juga, kota ini adalah pusat dari penyebaran Islam di Afrika pada abad ke-15 dan abad ke-16. 3 Masjid utamanya, Djingareyber, Sankore dan Sidi Yahya, mengingatkan kembali kepada zaman keemasan Timbuktu. Walaupun terus bangkit, monumen ini sekarang dibawah ancaman dari desertifikasi.

Kota ini dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Kota ini sering kali dibilang terletak di Sungai Niger, namun sebenarnya terletak 15 km utara sungai itu. Kota ini juga berada di daerah persimpangan dari Perdagangan Trans-Sahara baik dari barat ke timur, sampai utara ke selatan. Kota ini dulu dan sekarang, merupakan tempat penyaluran garam dari Taoudenni.

Letak geografisnya membuatnya sebuah tempat pertemuan alami bagi populasi Afrika di sekitarnya dan suku Berber yang nomaden dan orang Arab dari utara. Sejarahnya yang panjang sebagai pos perdagangan yang menghubungkan Afrika Barat dengan Berber, Arab dan Yahudi melalui Afrika Utara, dan juga secara tidak langsung dengan pedagang dari Eropa, telah memberikannya status fabel, dan di barat, dia merupakan sebuah metafora untuk tanah jauh yang eksotik. Kontribusi Timbuktu yang panjang kepada kebudayaan Islam dan dunia adalah pelajar.

Kontribusi Timbukti terhadap dunia Islam adalah ilmu pengetahuan. Pada abad ke-14 banyak buku penting ditulis dan dikopi di Timbuktu, membuat kota ini sebagai pusat tradisi tertulis penting di Afrika.

http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu
http://www.wildlifeadventures.com/Africa/images/timbuktu_mosque.jpg

April 14, 2010

Bookshelf of Osin


Our bookshelf at Omah Sinau.
Simply beautiful.

April 06, 2010

UGORAN PRASAD DAN MELANCHOLIC BITCH

Sensasi awalnya persis seperti ketika saya berkenalan dengan Zeke and the Popo: nama Melancholic Bitch luntang-lantung di hadapan saya sejak setahun terakhir, namun tak sekali pun membangkitkan rasa penasaran. Sampai akhirnya, saya mendengarkan album Starlit Carousel milik Frau -Regina Spektor dari Jogja- yang berduet dengan seorang laki-laki di lagu Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Suara laki-laki tersebut entah bagaimana caranya berhasil menggerakan mata saya untuk sejenak melirik namanya. Dialah sang vokalis Melancholic Bitch. Ugoran Prasad.



Mendapati nama Ugoran Prasad, kalau saya diizinkan untuk sedikit berlebihan, rasanya seperti menemukan kawan lama. Ialah penulis yang beberapa tahun silam sempat membuat saya bersungut sekaligus takjub dengan karyanya. Di Etalase, adalah novel debutannya yang waktu itu asal saja saya beli sebab tertarik dengan sampul depannya. Novel yang membuat saya mengumpatnya sebagai gila, dalam artian yang lebih cocok disebut pujian, karena isinya yang kelewat rumit.



Lalu di tahun 2005, Ugoran Prasad membuat kejutan dengan memenangkan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas lewat cerpennya yang berjudul Ripin. Cerpen sederhana tapi realistis dan bermakna dalam yang membuat saya takjub sebab ia berasal dari rahim yang sama dengan rahim yang telah melahirkan Di Etalase. Sejak saat itu, Ugoran Prasad tersimpan dengan indah di bagian belakang kepala saya. Lalu pelan-pelan dia redup tergerus berbagai macam informasi baru yang menerjang saya.



Sampai akhirnya, di awal tahun 2010, saya menemukannya kembali dalam Melancholic Bitch. Dan saya tenggelam dalam nostalgia yang dipenuhi banyak kejutan: Melancholic Bitch ternyata telah malang melintang di scene indie Jogja, jauh sebelum saya mengenal tulisan Ugoran Prasad. Saya juga menemukan sejumlah cerpen baru Ugoran Prasad yang bertebaran di dunia maya. Masih berbau-bau Melayu. Masih tentang orang-orang kampung. Masih dengan gaya khas yang sama.

Semuanya jadi makin menyenangkan, ketika Melancholic Bitch di mata saya pelan-pelan bukan lagi hanya tentang Ugoran Prasad. Saya cinta musiknya. Adalah Tentang Cinta, yang membuat saya pertama kali jatuh hati. Disusul oleh Mars Penyembah Berhala, yang menghadirkan sensasi seperti Koil, namun dengan dosis yang lebih manis. Terakhir, hati saya mentok di lagu Distopia, di mana Ugoran Prasad berduet dengan pesinden Silir Pujiwati. Di telinga saya, kalau saya masih diizinkan untuk bersikap berlebihan, lagu itu ibarat Zero 7 yang dikawinkan dengan Waljinah.



Demikianlah, Ugoran Prasad yang menulis sama indahnya dengan Ugoran Prasad yang bermusik.