February 14, 2008

MY BIRTHDAY-EVE STORY

Malam ini hari ketujuh di bulan Februari, saya tidak bisa memejamkan mata barang sekejap pun. Maklum, ini malam pergantian hari menuju hari ulang tahun saya. Kurang dari setengah jam lagi. Saya terlalu tidak sabar menanti ulang tahun saya tiba, dan tentunya tidak sabar menerima segala ucapan dan doa-doa. Buat saya, menerima ucapan selamat ulang tahun adalah salah satu hal paling indah yang terjadi dalam hidup (saya mengasumsikan orang lain juga berpendapat sama, karena itulah mengingat hari ulang tahun orang lain adalah salah satu kelebihan saya :P).

Sejujurnya, beberapa menit yang lalu ada dua orang teman saya yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun, saya begitu bergembira mendapatkan simulasi itu, haha. Tapi demi sebuah kebenaran, saya paksa mereka untuk jangan tidur dulu sampai jam 12 tiba, karena mereka harus memberikan ucapan lagi tepat pada harinya. Untungnya, mereka dengan senang hati mengiyakan permintaan saya.

Demi membunuh waktu yang rasanya berjalan sangat lambat, saya mencoba menulis. Tapi tidak ada secuil pun ide yang hinggap di kepala saya. Beberapa menit berlalu, saya cuma bisa menatap kosong layar di hadapan saya. Saya tidak bisa mengalihkan konsentrasi dari jam yang bertengger manis di dinding kamar saya. Berkali-kali saya melirik benda itu. Sementara suasana rumah sunyi senyap. Seluruh penghuninya sudah memasuki kamar masing-masing sejak beberapa jam yang lalu. Cuma tinggal saya dan si ketidaksabaran yang menimbulkan kegaduhan di dalam kepala.

Tiba- tiba, pintu kamar saya diketuk dari luar. Adik laki-laki saya masuk dengan wajah sumringah. Dia bertanya kenapa saya belum tidur. Saya bilang saja saya sedang sibuk menulis. Lalu saya balik menanyainya, kenapa dia belum tidur. Dia menjawab sambil tersenyum, katanya teman perempuannya mau berulang tahun, jadi dia menunggu jam 12 tiba untuk mengucapkan selamat pada temannya itu -entah siapa, namun dari cara dia tersipu, saya menduga perempuan yang bakal berulang tahun itu adalah teman dekatnya.

Saya mengira-ngira dalam hati, apakah adik saya ini ingat bahwa ada seseorang lainnya yang juga akan berulang tahun pada hari yang sama. Saya memancing dia dengan pertanyaan, memangnya ada berapa orang perempuan yang bakal berulangtahun jam 12 malam nanti. Adik saya menjawab cepat, tentu saja cuma satu orang. Seakan dia ingin menegaskan pada saya bahwa dia adalah laki-laki yang baik. Cuma punya satu teman dekat. Saya bertanya lagi, coba jawab yang benar ada berapa perempuan. Adik saya malah jadi defensif, sambil menyeringai dia jawab, memangnya dia laki-laki apaan.

Payah.

Rupanya dia tidak mengerti maksud pertanyaan saya.

Rupanya dia memang benar-benar tidak ingat bahwa kakaknya ini juga akan berulangtahun.

Payah.

Demi mengetahui hal itu, saya bersungut-sungut sambil bercanda. Saya katakan padanya bahwa beberapa menit lagi saya juga akan berulang tahun. Kenapa sampai bisa-bisanya dia melewatkan saya dari daftar orang yang perlu mendapat ucapan selamat. Malah, semestinya saya yang lebih patut mendapat ucapan, karena saya ini kakaknya, sulung lagi- saya akui saya terlalu mendramatisir suasana, haha. Adik saya segera menepuk keningnya. Dia terlihat amat kaget. Benar-benar khilaf. Lalu dia minta maaf. Katanya dia lupa.

Tiba-tiba, alarm di telepon genggam adik saya berbunyi. Rupanya dia sampai memasang alarm segala untuk menandai tibanya jam 12. Bertepatan dengan itu, buru-buru diraihnya tangan kanan saya, lalu ditempelkannya di keningnya sambil mengucapkan selamat ulang tahun, yang diikuti dengan beberapa butir doa untuk saya. Dalam hitungan detik, dilepaskannya kembali tangan saya, lalu dia melesat keluar dari kamar saya sambil membawa telepon genggamnya. Saya cuma bisa mematung memandangi kepergiannya. Sementara saya tidak sabar menerima ucapan selamat ulang tahun, adik laki-laki saya begitu tidak sabar ingin mengucapkan kalimat itu pada seorang perempuan di luar sana. Dalam hati saya bergumam, awas saja perempuan itu kalau berani mempermainkan adik saya. Saya akan kasih pelajaran dia. Saya akan,…

Ah, telepon genggam saya berbunyi.

Bunyi yang sudah saya nantikan sejak tadi.

Seperti ada sesuatu yang meledak di kepala saya. Seketika saya langsung tersenyum lebar sendirian. Secepat kilat saya sambar benda itu. Saya sudah tidak punya waktu lagi untuk mengurusi perempuan mana pun di dunia ini, kecuali diri saya sendiri.

I’m the birthday girl.

Here it comes my day.

0 comments:

Post a Comment