Adik saya yang perempuan, punya motivasi belajar yang sangat tinggi. Terutama kalau musim ujian tiba, kami sekeluarga sampai harus mengingatkan dia untuk mengurangi belajar dan memperbanyak hiburan. Karena dia sanggup belajar dari malam sampai pagi, dengan konsentrasi yang menakjubkan, terus hingga berhari-hari berturut-turut, dengan ketabahan yang malah jadi mengkhawatirkan.
Selepas lulus kuliah dari fakultas Pertanian beberapa bulan yang lalu, nasib membawanya menyeberang ke tempat yang sama sekali berbeda: dia diterima bekerja di dunia Perbankan. Sebagai seorang Sarjana Pertanian yang sama sekali buta tentang dunia Perbankan, adik saya harus belajar lagi dari nol. Tapi alih-alih menyerah, dia malah merasa tertantang. Hampir setiap pulang bekerja, dia berkutat dengan serius di hadapan tumpukan buku-buku Ekonomi. Dan hampir setiap akhir pekan, dia duduk dengan tekun di hadapan saya, demi sebuah kursus singkat dari seorang kakak yang kuliah di jurusan Akuntansi, betapa pun payahnya penjelasan saya, betapa pun bencinya saya pada ilmu yang satu itu.
Tapi rupanya semesta memang benar-benar adil. Atas semua jerih payah dan kerja kerasnya, adik saya memetik hasil yang cukup manis. Dan terpujilah adik saya, yang begitu mudah kecanduan pada kenikmatan menyumbangkan sejumlah uang buat keluarganya, walaupun cuma sekedarnya. Tidak bosan-bosannya dia, atas keinginannya sendiri, membayari jajan kami sekeluarga, termasuk saya yang notabene punya penghasilan sendiri tapi tidak punya pengeluaran berarti. Dia mengakui pada saya, bahwa ternyata membayari jajan keluarganya, walaupun cuma sekedarnya, adalah sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Sore ini, waktu jam pulang kantor tiba, saya masih asyik menekuni jurnal saya. Kalau sedang suntuk dan kepingin sendirian, saya paling suka menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan. Daripada harus repot-repot memikirkan kesuntukkan, saya lebih suka menggunakan pikiran saya untuk pekerjaan, betapa pun pekerjaan yang kini saya jalani, bukanlah dunia saya.
Tiba-tiba, telepon genggam saya berbunyi. Ada pesan masuk. Rupanya dari adik saya, yang kebetulan gedung kantornya berada satu area dengan gedung kantor saya. Dia mengabarkan bahwa dirinya tengah berada di dalam patas, dan patas yang ditumpanginya sedang menuju gedung kantor saya. Dia menyuruh saya segera turun supaya bisa pulang bersama-sama dengannya, terutama karena kebetulan patas itu tidak penuh penumpang. Cepat-cepat saya balas pesannya, saya katakan bahwa hari ini saya berniat lembur. Tapi adik saya belum mau menyerah, dia menawari untuk membayari ongkos saya pulang. Saya bisa melihat nada bangga yang apa adanya di dalam susunan kata-katanya. Tapi sayangnya hari ini saya sedang benar-benar kepingin sendirian, sehingga dengan teramat menyesal saya tolak tawaran manisnya.
Entah bagaimana caranya, setelah membalas pesan adik saya, saya langsung menangis tersedu-sedu. Bukan atas kesombongan seorang kakak yang merasa tidak pantas dibayari adiknya. Tapi, karena saya benar-benar terharu. Saya terharu pada bagaimana dia begitu kepingin membahagiakan keluarganya. Padahal selama ini dia telah membuat saya bangga. Motivasi belajarnya yang menakjubkan itu sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan bapak dan ibu saya. Bahkan andaikata dia hanya seorang mahasiswa drop out karena tiba-tiba malas menyelesaikan kuliah, saya akan tetap bangga padanya. Karena di atas segalanya, dia adalah adik saya. Ah, terpujilah adik saya itu.


0 comments:
Post a Comment