September 08, 2008

FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [2]

Ibunda bayi Joanna tiba-tiba mengirim kabar mengejutkan pada kami semua. Lewat Ibu manajer saya dia bercerita bahwa dia akan mengundurkan diri dari kantor kami tercinta. Bukan untuk pindah ke kantor lain di Singapura, atau kantor manapun di Jakarta, melainkan memang benar-benar berhenti bekerja. Kami semua terkaget-kaget dibuatnya.

Ibu manajer saya bilang, Ibunda bayi Joanna telah mantab dengan keputusannya. Konon di Singapura sana, dia dan suaminya tidak memiliki siapa-siapa. Selama mereka bekerja, tidak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi Joanna. Demikianlah akhirnya, Ibunda bayi Joanna memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, demi kebaikan putrinya.

Memutuskan keluar dari pekerjaan, tentu bukan hal yang mudah dilakukan, terutama bagi perempuan seperti Ibunda bayi Joanna. Dia perempuan cerdas yang suka bekerja keras. Karirnya tengah menanjak pasti ke posisi yang gemilang, sementara usianya belum lagi menginjak tiga puluh. Jalannya masih teramat panjang. Dia punya kesempatan besar untuk kelak menduduki posisi puncak di kantor kami. Kalau dia mau, dia bisa menggaji pengasuh bayi dari biro ternama di tempat tinggalnya, meninggalkan bayi Joanna di rumah, lalu melanjutkan perannya sebagai wanita pekerja. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Dia malah memilih tinggal di rumah dan mengurus bayi Joanna.

Segelintir orang di kantor kami agak menyesalkan keputusan yang diambil Ibunda bayi Joanna. Menurut mereka, dia telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidupnya. Saya sendiri, cukup sedih mendengar kabar itu. Dan kalau mau lebih jujur lagi, saya takut mengalami kesulitan dalam pekerjaan sepeninggal dia. Saya akan kehilangan tempat bertanya.

Tapi di balik segala keegoisan saya itu, di mata saya Ibunda bayi Joanna nyaris sempurna. Dia benar-benar tahu memaknai keperempuanannya dengan tepat. Perempuan yang sanggup berkarya di dalam rumah dan berkarir di luar rumah, tentu tak salah apabila mendapat sebutan perempuan yang hebat. Tidak mudah melakukan semua itu sekaligus. Tapi saya percaya, sehebat-hebatnya perempuan, adalah dia yang ketika jalan setapaknya menemui persimpangan, memutuskan keluarganya sebagai pilihan. Pulang ke rumah.

Untuk yang kesekian kalinya, saya dibuat kagum oleh Ibunda bayi Joanna.

0 comments:

Post a Comment