May 25, 2009

You Are What You Eat

Jadi ceritanya, malam itu saya dan adik saya yang perempuan sedang duduk di depan televisi. Tidak berapa lama, muncul di hadapan kami iklan makanan beku dalam kaleng. Perhatian saya langsung tertuju pada sekawanan ikan segar sebagai bahan baku makanan kaleng tersebut.

“Ih, ikan teri,..!” celetuk saya spontan.

“Yeeee, itu mah ikan tunaa,..” adik saya kontan protes. Nada suaranya terdengar sangat terganggu, demi mendapati kakaknya yang tiada sanggup membedakan jenis ikan. Walaupun sesungguhnya dia harus memakluminya, karena bertahun-tahun tinggal satu rumah, dia tahu benar saya tidak pandai membedakan makanan. (Saya bahkan tidak bisa membedakan tekstur daging: kambing atau sapi. Hahaha).

Nah, ketika saya sedang tertawa geli dalam hati mengingat kebodohan sendiri, tiba-tiba adik saya ikut-ikutan tertawa. Tawanya sungguh menyebalkan. Dan seolah-olah seperti baru saja mendapatkan ilham, di sela-sela tawanya dia berujar:

“You are what you eat! Hahahaha!”

Tawanya membahana makin kencang. Lama-lama makin menyebalkan. Sungguh memalukan sekali. Padahal, kalau menu makan saya selama ini teri, harusnya dia juga begitu, wong kami serumah. Sial. Tapi yah sudahlah, teri itu kan sehat, banyak kalsiumnya. Hahaha.

0 comments:

Post a Comment