September 15, 2008

You're a Star!

Congratulation, sist’!
You’re a star!*

(*what Miss Rebecka Bloomwood always says whenever she feels proud of her bestfriend, Suze.)

September 14, 2008

HAPPY BIRTHDAY

You know it doesn’t make much sense
There ought to be a law against
Anyone who takes offense
At a day in your celebration
‘Cause we all know in our minds
That there ought to be a time
That we can set aside
To show just how much we love you
And I’m sure you would agree
It couldn’t fit more perfectly
Than to have a world party on the day you came to be

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

I just never understood
How a man who died for good
Could not have a day that would
Be set aside for his recognition
Because it should never be
Just because some cannot see
The dream as clear as he
that they should make it become an illusion
And we all know everything
That he stood for time will bring
For in peace our hearts will sing
Thanks to Martin Luther King

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

The time is overdue
For people like me and you
Who know the way to truth
Is love and unity to all God’s children
It should never be a great event
And the whole day should be spent
In full remembrance
Of those who lived and died for the oneness of all people
So let us all begin
We know that love can win
Let it out don’t hold it in
Sing it loud as you can

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday

by: Ratna Wonder :-p

September 08, 2008

FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [2]

Ibunda bayi Joanna tiba-tiba mengirim kabar mengejutkan pada kami semua. Lewat Ibu manajer saya dia bercerita bahwa dia akan mengundurkan diri dari kantor kami tercinta. Bukan untuk pindah ke kantor lain di Singapura, atau kantor manapun di Jakarta, melainkan memang benar-benar berhenti bekerja. Kami semua terkaget-kaget dibuatnya.

Ibu manajer saya bilang, Ibunda bayi Joanna telah mantab dengan keputusannya. Konon di Singapura sana, dia dan suaminya tidak memiliki siapa-siapa. Selama mereka bekerja, tidak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi Joanna. Demikianlah akhirnya, Ibunda bayi Joanna memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, demi kebaikan putrinya.

Memutuskan keluar dari pekerjaan, tentu bukan hal yang mudah dilakukan, terutama bagi perempuan seperti Ibunda bayi Joanna. Dia perempuan cerdas yang suka bekerja keras. Karirnya tengah menanjak pasti ke posisi yang gemilang, sementara usianya belum lagi menginjak tiga puluh. Jalannya masih teramat panjang. Dia punya kesempatan besar untuk kelak menduduki posisi puncak di kantor kami. Kalau dia mau, dia bisa menggaji pengasuh bayi dari biro ternama di tempat tinggalnya, meninggalkan bayi Joanna di rumah, lalu melanjutkan perannya sebagai wanita pekerja. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Dia malah memilih tinggal di rumah dan mengurus bayi Joanna.

Segelintir orang di kantor kami agak menyesalkan keputusan yang diambil Ibunda bayi Joanna. Menurut mereka, dia telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidupnya. Saya sendiri, cukup sedih mendengar kabar itu. Dan kalau mau lebih jujur lagi, saya takut mengalami kesulitan dalam pekerjaan sepeninggal dia. Saya akan kehilangan tempat bertanya.

Tapi di balik segala keegoisan saya itu, di mata saya Ibunda bayi Joanna nyaris sempurna. Dia benar-benar tahu memaknai keperempuanannya dengan tepat. Perempuan yang sanggup berkarya di dalam rumah dan berkarir di luar rumah, tentu tak salah apabila mendapat sebutan perempuan yang hebat. Tidak mudah melakukan semua itu sekaligus. Tapi saya percaya, sehebat-hebatnya perempuan, adalah dia yang ketika jalan setapaknya menemui persimpangan, memutuskan keluarganya sebagai pilihan. Pulang ke rumah.

Untuk yang kesekian kalinya, saya dibuat kagum oleh Ibunda bayi Joanna.

August 27, 2008

FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [1]

(8/22/2008 6:28 PM)

Hi everyone,

Today is my last day here. Thank you for all the assistance and support you have given me. Here are PIC who will take over my duties:

- for IDO matters and Cognos pls liase with Pek Bee Yuen

- for BASS matters pls liase with Annie Han

I wish you all the best in your future endeavour.

Regards,

Paula

August 14, 2008

YEAR OF MARRIAGE

Kalau saya ditanya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan tahun 2008, jawaban saya adalah: pernikahan. Tahun ini terjadi hujan pernikahan di dalam dunia sosialisasi saya. Dimulai dengan pernikahan mantan pacar saya tercinta ketika tahun ini belum separuhnya terlewati, satu persatu kawan-kawan saya bergiliran mengirimkan undangan, atau setidaknya rencana yang sudah matang, terus tanpa berhenti hingga akhir tahun.

Kawan-kawan saya yang kebetulan belum mendapat giliran, atau sedang dalam proses mempersiapkan diri menuju gilirannya, menampilkan reaksi yang beraneka ragam tiap kali menerima undangan baru. Ada yang panik. Ada yang pasrah. Ada yang sedih. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang jadi termovitasi dan tambah bersemangat.

Saya sendiri, termasuk dalam golongan yang biasa-biasa saja. Selain memang tidak memiliki pasangan untuk diajak menikah, kalau boleh jujur, saya belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan. Sahabat saya sering berkata, apabila nanti sudah tiba waktunya, saya juga pasti akan merasa tidak sabar untuk segera dilamar. Hahah. Mungkin saja. Mungkin juga tidak.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut budaya untuk tidak harus menikah muda. Hampir semua anggota keluarga besar saya baru menikah ketika usianya menjelang 30. Ibu saya sendiri menikah pada usia 31. Saya dan para sepupu hampir tidak pernah didesak untuk buru-buru menikah sebagaimana yang lazimnya terjadi pada keluarga kebanyakan. Kami terbiasa menganggap diri kami masih muda dan nyaman berlama-lama tinggal dengan orang tua, walaupun pada akhirnya mungkin akan tersadar bahwa ternyata kami sudah sangat cukup umur untuk menikah, hahah.

Selain itu, saya juga punya sedikit alasan pribadi yang membuat antusiasme untuk menikah tidak kunjung menghampiri saya. Bukan, bukan sekedar soal trauma takut ditinggal pergi seperti kebanyakan tema dalam cerita fiksi, melainkan lebih kepada pemikiran soal visi dan misi, tanggung jawab, anak, dan beberapa hal absurd yang sahabat saya bilang terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekedar dibayangkan.

Tapi, tentu saja, tentu saja, hal itu tidak akan pernah mengurangi makna pernikahan buat saya. Malah saya menduga, segala pemikiran absurd itu timbul akibat harapan saya yang terlalu muluk atas sebuah pernikahan. Buat saya, pernikahan itu terlalu agung untuk disegerakan dengan terburu-buru. Pernikahan itu terlalu sakral untuk dilakukan oleh pasangan muda yang kemungkinan belum sadar benar atas tindakan yang dipilihnya. Apalagi yang di dalamnya terjadi kudeta uang atas value. Buat saya, cinta dan segala macam hal yang sifatnya priceless adalah segala-galanya. Saya sering terguncang apabila mendapati kasus yang mencoreng nilai-nilai yang saya anut. Kalau menyangkut urusan cinta, komitmen, apalagi pernikahan, saya ini memang terkenal naif, utopis, dan tidak realistis. Sahabat saya sering bilang, saya seperti hidup di dunia sendiri, sehingga sulit menerima bahwa orang lain tidak selalu menggunakan standar yang sama dengan yang saya anut.

Maka, atas nama keagungan sebuah pernikahan, saya mencoba menghayati dengan baik setiap persiapan yang dilakukan oleh beberapa teman saya yang berencana menikah bulan ini, walaupun mereka bukan teman akrab saya, dan walaupun yang saya lakukan hanya sepele saja. Sebagai informasi, mereka mempercayakan urusan distribusi beberapa undangan pada saya. Karena menurut mereka, selama ini saya merupakan orang yang paling aktif mengerahkan masa tiap kali ada rencana kumpul-kumpul. Selain itu mobilitas saya dianggap cukup baik, terutama mobilitas dunia maya, karena selain dalam bentuk kertas, mereka juga turut mengundang via email dan sms. Jadilah tempo hari saya turut sibuk mengkoordinir siapa-siapa saja yang belum kebagian undangan, baik yang dalam bentuk kertas, email, maupun sms. Saya juga dimintai tolong untuk melacak teman-teman yang lama tidak terdengar kabarnya, lewat search engine di Friendster. Lalu mem-forward email atau sms yang berisi undangan, karena para calon pengantin itu benar-benar sibuk mengurusi tetek-bengek lainnya.

Terus terang saja, tugas itu cukup berat dan menakutkan buat saya. Berat karena kemarin-kemarin saya harus melakukannya di sela-sela pekerjaan kantor dan kegiatan lain yang tenggat waktunya jatuh hampir bersamaan. Sepulang kerja saya harus menyempatkan diri mampir bertemu beberapa teman untuk menyerahkan undangan, atau terpaksa menitipkannya lagi pada mereka yang punya akses lebih mudah daripada saya. Menakutkan karena saya sangat khawatir undangan-undangan itu terlambat sampai ke tangan yang berhak, lalu pesta pernikahan yang sakral itu terpaksa tidak dihadiri oleh beberapa tamu yang diharapkan akibat kelalaian saya dalam mendistribusikan undangan. Jadilah di sela-sela kemacetan di dalam bus kota, atau di tengah malam menjelang tidur, pikiran saya sering bergerilya mengingat-ingat undangan mana lagi yang belum saya sampaikan, atau sms mana lagi yang belum saya forward. Jujur, saya cukup tertekan waktu itu.

Untungnya, saya dapat melaksanakan tugas dengan baik, walaupun dari ketiga teman saya yang menikah itu, tidak satupun pestanya dapat saya hadiri, karena kebetulan kantor saya mengadakan acara di luar kota. Tapi meskipun berhalangan hadir, saya cukup gembira telah memberikan dukungan lewat urusan distribusi undangan. Cukuplah segala keruwetan itu buat bekal mengahadapi persiapan pernikahan saya sendiri kelak, entah kapan, entah bersama siapa :D

August 13, 2008

AMANDA’S WORDS

“Kenyataan apapun buatlah dengan goresan tangan lo, jangan biarkan termakan situasi, sampai lo ketemu titik sudah -dan lo orang yang cukup bijaksana untuk mendetermin kata SUDAH.”

August 02, 2008

KISS FROM A ROSE

There used to be a graying tower alone on the sea
You became the light on the dark side of me
Love remained a drug that’s the high and not the pill

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
The light that you shine can be seen

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels,
And now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave

There is so much a man can tell you,
So much he can say

You remain,
My power, my pleasure, my pain.
Baby, to me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby?

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave
The more I get of you
The stranger it feels

Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave

I’ve been kissed by a rose on the grave,
I’ve been kissed by a rose
…And if I should fall, would it all go away
I’ve been kissed by a rose

There is so much a man can tell you,
So much he can say

You remain-
My power, my pleasure, my pain

To me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy, baby

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
the light that you shine can be seen.

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grave,
The more I get of you
The stranger it feels,

Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grave

[..., to me you're like a growing addiction that I can't deny]