Sun is shining in the sky. There ain’t a cloud in sight. It’s stopped raining. Everybody’s in a play. And don’t you know it’s beautiful new day. (Lily Allen - Mr. Blue Sky)
Rasanya belum pernah saya melihatmu begitu bersinar-sinar seperti hari ini, sehingga tiba-tiba saya jadi kepingin jatuh cinta.
Apalagi ketika pandangan saya menyusuri permukaanmu yang begitu luas bagaikan tak kenal batas, mengingatkan saya pada deretan cita-cita yang juga sama tak terhingganya.
Yang juga sama tak terjangkaunya sepertimu, namun nyata berada di atas sana.
Selalu ada ketika saya mendongakkan kepala.
Impian saya.
Selalu ada.
Oh, jangan biarkan saya berhenti percaya.
February 26, 2008
February 21, 2008
Sepotong Senja Untuk Pacarku
Kukirimkan kepadamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
Dan barangkali juga sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi.
(Seno Gumira Ajidarma)
Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
Dan barangkali juga sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi.
(Seno Gumira Ajidarma)
Labels:
poem
February 18, 2008
SIALAN
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
(somehow, cursing is healing!)
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
sialan.
(somehow, cursing is healing!)
Labels:
an unquiet mind
February 14, 2008
MY BIRTHDAY-EVE STORY
Malam ini hari ketujuh di bulan Februari, saya tidak bisa memejamkan mata barang sekejap pun. Maklum, ini malam pergantian hari menuju hari ulang tahun saya. Kurang dari setengah jam lagi. Saya terlalu tidak sabar menanti ulang tahun saya tiba, dan tentunya tidak sabar menerima segala ucapan dan doa-doa. Buat saya, menerima ucapan selamat ulang tahun adalah salah satu hal paling indah yang terjadi dalam hidup (saya mengasumsikan orang lain juga berpendapat sama, karena itulah mengingat hari ulang tahun orang lain adalah salah satu kelebihan saya :P).
Sejujurnya, beberapa menit yang lalu ada dua orang teman saya yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun, saya begitu bergembira mendapatkan simulasi itu, haha. Tapi demi sebuah kebenaran, saya paksa mereka untuk jangan tidur dulu sampai jam 12 tiba, karena mereka harus memberikan ucapan lagi tepat pada harinya. Untungnya, mereka dengan senang hati mengiyakan permintaan saya.
Demi membunuh waktu yang rasanya berjalan sangat lambat, saya mencoba menulis. Tapi tidak ada secuil pun ide yang hinggap di kepala saya. Beberapa menit berlalu, saya cuma bisa menatap kosong layar di hadapan saya. Saya tidak bisa mengalihkan konsentrasi dari jam yang bertengger manis di dinding kamar saya. Berkali-kali saya melirik benda itu. Sementara suasana rumah sunyi senyap. Seluruh penghuninya sudah memasuki kamar masing-masing sejak beberapa jam yang lalu. Cuma tinggal saya dan si ketidaksabaran yang menimbulkan kegaduhan di dalam kepala.
Tiba- tiba, pintu kamar saya diketuk dari luar. Adik laki-laki saya masuk dengan wajah sumringah. Dia bertanya kenapa saya belum tidur. Saya bilang saja saya sedang sibuk menulis. Lalu saya balik menanyainya, kenapa dia belum tidur. Dia menjawab sambil tersenyum, katanya teman perempuannya mau berulang tahun, jadi dia menunggu jam 12 tiba untuk mengucapkan selamat pada temannya itu -entah siapa, namun dari cara dia tersipu, saya menduga perempuan yang bakal berulang tahun itu adalah teman dekatnya.
Saya mengira-ngira dalam hati, apakah adik saya ini ingat bahwa ada seseorang lainnya yang juga akan berulang tahun pada hari yang sama. Saya memancing dia dengan pertanyaan, memangnya ada berapa orang perempuan yang bakal berulangtahun jam 12 malam nanti. Adik saya menjawab cepat, tentu saja cuma satu orang. Seakan dia ingin menegaskan pada saya bahwa dia adalah laki-laki yang baik. Cuma punya satu teman dekat. Saya bertanya lagi, coba jawab yang benar ada berapa perempuan. Adik saya malah jadi defensif, sambil menyeringai dia jawab, memangnya dia laki-laki apaan.
Payah.
Rupanya dia tidak mengerti maksud pertanyaan saya.
Rupanya dia memang benar-benar tidak ingat bahwa kakaknya ini juga akan berulangtahun.
Payah.
Demi mengetahui hal itu, saya bersungut-sungut sambil bercanda. Saya katakan padanya bahwa beberapa menit lagi saya juga akan berulang tahun. Kenapa sampai bisa-bisanya dia melewatkan saya dari daftar orang yang perlu mendapat ucapan selamat. Malah, semestinya saya yang lebih patut mendapat ucapan, karena saya ini kakaknya, sulung lagi- saya akui saya terlalu mendramatisir suasana, haha. Adik saya segera menepuk keningnya. Dia terlihat amat kaget. Benar-benar khilaf. Lalu dia minta maaf. Katanya dia lupa.
Tiba-tiba, alarm di telepon genggam adik saya berbunyi. Rupanya dia sampai memasang alarm segala untuk menandai tibanya jam 12. Bertepatan dengan itu, buru-buru diraihnya tangan kanan saya, lalu ditempelkannya di keningnya sambil mengucapkan selamat ulang tahun, yang diikuti dengan beberapa butir doa untuk saya. Dalam hitungan detik, dilepaskannya kembali tangan saya, lalu dia melesat keluar dari kamar saya sambil membawa telepon genggamnya. Saya cuma bisa mematung memandangi kepergiannya. Sementara saya tidak sabar menerima ucapan selamat ulang tahun, adik laki-laki saya begitu tidak sabar ingin mengucapkan kalimat itu pada seorang perempuan di luar sana. Dalam hati saya bergumam, awas saja perempuan itu kalau berani mempermainkan adik saya. Saya akan kasih pelajaran dia. Saya akan,…
Ah, telepon genggam saya berbunyi.
Bunyi yang sudah saya nantikan sejak tadi.
Seperti ada sesuatu yang meledak di kepala saya. Seketika saya langsung tersenyum lebar sendirian. Secepat kilat saya sambar benda itu. Saya sudah tidak punya waktu lagi untuk mengurusi perempuan mana pun di dunia ini, kecuali diri saya sendiri.
I’m the birthday girl.
Here it comes my day.
Sejujurnya, beberapa menit yang lalu ada dua orang teman saya yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun, saya begitu bergembira mendapatkan simulasi itu, haha. Tapi demi sebuah kebenaran, saya paksa mereka untuk jangan tidur dulu sampai jam 12 tiba, karena mereka harus memberikan ucapan lagi tepat pada harinya. Untungnya, mereka dengan senang hati mengiyakan permintaan saya.
Demi membunuh waktu yang rasanya berjalan sangat lambat, saya mencoba menulis. Tapi tidak ada secuil pun ide yang hinggap di kepala saya. Beberapa menit berlalu, saya cuma bisa menatap kosong layar di hadapan saya. Saya tidak bisa mengalihkan konsentrasi dari jam yang bertengger manis di dinding kamar saya. Berkali-kali saya melirik benda itu. Sementara suasana rumah sunyi senyap. Seluruh penghuninya sudah memasuki kamar masing-masing sejak beberapa jam yang lalu. Cuma tinggal saya dan si ketidaksabaran yang menimbulkan kegaduhan di dalam kepala.
Tiba- tiba, pintu kamar saya diketuk dari luar. Adik laki-laki saya masuk dengan wajah sumringah. Dia bertanya kenapa saya belum tidur. Saya bilang saja saya sedang sibuk menulis. Lalu saya balik menanyainya, kenapa dia belum tidur. Dia menjawab sambil tersenyum, katanya teman perempuannya mau berulang tahun, jadi dia menunggu jam 12 tiba untuk mengucapkan selamat pada temannya itu -entah siapa, namun dari cara dia tersipu, saya menduga perempuan yang bakal berulang tahun itu adalah teman dekatnya.
Saya mengira-ngira dalam hati, apakah adik saya ini ingat bahwa ada seseorang lainnya yang juga akan berulang tahun pada hari yang sama. Saya memancing dia dengan pertanyaan, memangnya ada berapa orang perempuan yang bakal berulangtahun jam 12 malam nanti. Adik saya menjawab cepat, tentu saja cuma satu orang. Seakan dia ingin menegaskan pada saya bahwa dia adalah laki-laki yang baik. Cuma punya satu teman dekat. Saya bertanya lagi, coba jawab yang benar ada berapa perempuan. Adik saya malah jadi defensif, sambil menyeringai dia jawab, memangnya dia laki-laki apaan.
Payah.
Rupanya dia tidak mengerti maksud pertanyaan saya.
Rupanya dia memang benar-benar tidak ingat bahwa kakaknya ini juga akan berulangtahun.
Payah.
Demi mengetahui hal itu, saya bersungut-sungut sambil bercanda. Saya katakan padanya bahwa beberapa menit lagi saya juga akan berulang tahun. Kenapa sampai bisa-bisanya dia melewatkan saya dari daftar orang yang perlu mendapat ucapan selamat. Malah, semestinya saya yang lebih patut mendapat ucapan, karena saya ini kakaknya, sulung lagi- saya akui saya terlalu mendramatisir suasana, haha. Adik saya segera menepuk keningnya. Dia terlihat amat kaget. Benar-benar khilaf. Lalu dia minta maaf. Katanya dia lupa.
Tiba-tiba, alarm di telepon genggam adik saya berbunyi. Rupanya dia sampai memasang alarm segala untuk menandai tibanya jam 12. Bertepatan dengan itu, buru-buru diraihnya tangan kanan saya, lalu ditempelkannya di keningnya sambil mengucapkan selamat ulang tahun, yang diikuti dengan beberapa butir doa untuk saya. Dalam hitungan detik, dilepaskannya kembali tangan saya, lalu dia melesat keluar dari kamar saya sambil membawa telepon genggamnya. Saya cuma bisa mematung memandangi kepergiannya. Sementara saya tidak sabar menerima ucapan selamat ulang tahun, adik laki-laki saya begitu tidak sabar ingin mengucapkan kalimat itu pada seorang perempuan di luar sana. Dalam hati saya bergumam, awas saja perempuan itu kalau berani mempermainkan adik saya. Saya akan kasih pelajaran dia. Saya akan,…
Ah, telepon genggam saya berbunyi.
Bunyi yang sudah saya nantikan sejak tadi.
Seperti ada sesuatu yang meledak di kepala saya. Seketika saya langsung tersenyum lebar sendirian. Secepat kilat saya sambar benda itu. Saya sudah tidak punya waktu lagi untuk mengurusi perempuan mana pun di dunia ini, kecuali diri saya sendiri.
I’m the birthday girl.
Here it comes my day.
Labels:
an unquiet mind
February 11, 2008
February 05, 2008
LISA ONO BERBUAH SPYWARE
Hari itu, jumat sore itu, sungguh tidak saya sangka kegiatan iseng-iseng saya bisa menjadi malapetaka. Sudah sejak lama, kebiasaan saya di kantor kala sore hari adalah mendownload lagu. Biasanya saya bakal memulainya dengan browsing asal-asalan sampai menemukan lagu-lagu yang akhirnya menarik hati saya. Hari jumat itu, ketika jam pulang kantor tiba, saya memutuskan browsing sebentar sambil menunggu kemacetan di bawah sedikit reda.
Mulailah saya mencari-cari mangsa, dan pilihan saya jatuh ketika melihat playlist yang berisi sederet nama Lisa Ono. Ya, saya kepingin Lisa Ono, saya belum punya satupun lagunya. Namun entah apa yang merasuki konsentrasi saya saat itu, saya ternyata salah meng-klik ikon. Sudah terlambat ketika akhirnya saya menyadari saya malah menginstal sebuah aplikasi asing, karena proses instalasi itu tidak bisa dibatalkan. Sampai saat itu, saya belum punya firasat buruk. Tapi ketika aplikasi asing itu selesai ter-instal di PC saya, seketika sambungan Yahoo Messenger saya disconnected, tampilan Google saya lenyap dari layar, dan sambungan intranet yang berisi sejumlah program Accounting saya ikut disconnected. Saya mulai panik, dan cuma bisa terperangah selama beberapa detik. Tapi saya masih belum mau percaya atas kejadian buruk yang menimpa saya, saya masih berharap koneksi internet kantor saya putus gara-gara servernya down atau apa. Saya coba open lagi halaman Google saya, namun yang muncul malah istilah-istilah asing, dan ketika mata saya menangkap kata warning, attacked, Trojan, clean, scan, virus, barulah saya sadar apa yang terjadi. Aplikasi asing yang dengan bodohnya saya instal tanpa sengaja barusan, rupanya adalah semacam virus. Dan karena tadi saya mendapati kata Trojan, saya identifikasi segera bahwa PC saya terjangkit virus Trojan!
Seumur hidup, saya tidak pernah berurusan dengan Trojan, tapi firasat saya mengatakan bahwa saya berada dalam masalah. Saya langsung panik, saya langsung lemas. Satu-satunya hal yang ingin saya lakukan adalah segera berkemas-kemas lalu lari pulang sambil berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi tentu saja itu pilihan yang tidak mungkin, saya harus membereskan kerusakan yang sudah saya buat, saya harus bertanggung-jawab. Akhirnya saya melesat ke ruang Bapak IT untuk mencari bala bantuan, tapi sayang sekali beliau sudah pulang sejak tadi. Lalu saya teringat hari sabtu besoknya jadwal saya libur, dan kalau Bapak IT ternyata jadwalnya sama dengan saya, maka terpaksa saya harus menunggu sampai hari senin untuk minta bantuan beliau.
Ya Tuhan, senin pagi, saat semua orang sibuk bekerja, saat sejuta pekerjaan menumpuk di meja, Bapak IT akan nongkrong di tempat saya sambil tentunya akan menginterogasi saya dengan bermacam pertanyaan tentang apa yang sudah saya lakukan sampai berakibat fatal seperti itu, apalagi kalau ternyata PC saya tidak bisa disembuhkan dan harus dibawa entah kemana untuk diservis, lalu Ibu manajer saya bakal tau, lalu Bapak GM bakal tau, lalu koneksi internet saya bakal dicabut selamanya, atau saya mungkin akan dipecat karena melanggar peraturan perusahaan karena saya sering mendownload sembarangan, dan lebih parah lagi karena saya meng-instal aplikasi sembarangan, padahal telah ada larangan tertulis mengenai hal itu dan sangsinya cukup berat. Ya Tuhan, karir saya hancur cuma gara-gara Lisa Ono!
Langsung saya mengirim pesan pendek pada kedua sahabat saya, mengabarkan soal musibah yang saya alami, berharap mereka akan segera menghibur saya dengan ucapan menenangkan seperti biasanya kalau saya sedang panik. Walaupun sejujurnya, saat itu, tidak ada yang lebih ingin saya dengar selain kalimat dari siapapun yang sekiranya profesional di bidang itu, yang menyatakan dengan segenap profesionalisme bahwa semuanya bakal baik-baik saja, dan bahwa reaksi saya sangat berlebihan. Akhirnya, saya teringat salah satu teman saya, kami sering menghabiskan banyak waktu untuk membahas musik, bertukar playlist, dan dia sering memberikan pada saya beraneka macam link untuk didownload beserta sejumlah trik agar mudah mengeksekusinya, maka saya anggap dia mengerti dengan baik mengenai hal semacam itu. Segera saya hubungi ponsel teman saya itu, rupanya dia sudah berada di rumah, sedang makan, tapi saya tidak perduli, saya langsung mengoceh tidak karuan sambil mengungkapkan segala kepanikan dan kecemasan saya. Teman saya cuma cengengesan sambil bilang Trojan emang ngerusak koneksi internet, dan sorry to say agak susah membasminya.
Ugh, saya menyesal sebelumnya sudah memaksa dia untuk berkata jujur. Kenapa sih dia tidak menghibur saya dengan berkata bahwa kepanikan saya keterlaluan, dan bahwa yang saya anggap virus itu ternyata cuma sedikit gangguan entah-apa-namanya-tapi-pokoknya-cemen, ugh! Lalu dia bertanya memangnya apa yang sedang saya download sampai harus salah meng-instal aplikasi segala. Saya jawab, saya sedang (akan) mendownload lagu-lagunya Lisa Ono. Lalu dia kembali terbahak-bahak. Dia bilang, untuk apa repot-repot download padahal dia punya Lisa Ono kok, dan lumayan lengkap. Arrgh, saya jadi merasa tolol. Saya bilang, mana saya tau?! Dia jawab, makanya tanya doong! Arrgh, saya makin merasa tolol. Sebagai usaha penghiburan diri, saya merengek-rengek sambil bilang bahwa ini semua salah dia. Ini semua terjadi gara-gara dia dulu pernah lupa memberikan The Postmarks yang saya minta, sehingga membuat saya berpikir bahwa dia juga akan lupa kalau saya minta koleksi Lisa Ono-nya, sehingga membuat saya memutuskan untuk mendownload sendiri saja. Lagi-lagi, dia terbahak-bahak. Tapi akhirnya, mau tidak mau saya terhibur juga demi mendengar dia yang sempat-sempatnya tertawa. Karena kalau memang masalahnya gawat, dia tidak akan sanggup menertawai saya, bukan?
Sejenak saya jadi teringat sejumlah teman-teman saya yang berencana hendak kumpul-kumpul di TIM sore itu, tapi batal gara-gara salah satu teman kami tidak bisa hadir. Ugh, kalau saja teman kami itu tidak berhalangan hadir, kalau saja acara itu jadi diadakan, saya tidak perlu berlama-lama di kantor, saya pasti bakal langsung melesat ke sana, dan saya tidak perlu menemukan Lisa Ono sialan itu -saking stresnya, sore itu otak saya giat mencari kambing hitam, hahaha.
Sebelum pulang, saya memutuskan mampir dulu di rumah sahabat saya yang untungnya sudah pulang kantor, lalu mengisahkan malapetaka yang menimpa saya dari awal hingga akhir. Seperti biasa sahabat saya tercinta itu memberikan kalimatnya yang bijaksana, dia bilang saya tidak bakal kenapa-napa, dan kalaupun memang terjadi apa-apa, memang saya salah, jadi saya harus menanggung konsekuensinya. Dia benar, sahabat saya benar. Akhirnya saya pulang dengan sejumlah keberanian, maksudnya, apalagi yang bisa dilakukan oleh orang yang telah berbuat salah selain menanggung akibat dari kesalahannya, bukan? ok, habis perkara.
Tapi sampai di rumah, keberanian saya menguap. Novel yang saya pikir akan sanggup mengusir kecemasan saya ternyata tidak bisa memberikan pertolongan apa-apa. Saya tidak bisa konsentrasi membaca, saya tidak bisa konsentrasi menonton acara TV, saya tidak berminat menulis, saya bahkan tidak kepingin mendengarkan musik. Sampai tengah malam saya bolak-balik badan dengan gelisah di atas tempat tidur, dengan kepala dipenuhi pikiran buruk yang tidak mempan dihalau dengan doa-doa.
Paginya, saya kembali gelisah menanti jam kantor tiba -kebetulan saya tidak punya nomor ponsel Bapak IT, dan saya terlalu takut untuk bertanya pada teman saya yang lain, takut rahasia ini terbongkar, hahaha. Tepat jam 9 langsung saya menghubungi kantor sambil berharap-harap Bapak IT masuk kerja sehingga bisa segera memeriksa PC saya. Alhamdulilah, terimakasih Tuhan, Bapak IT masuk kantor hari itu. Langsung saya mengadu pada beliau, lengkap dengan bujukan agar persoalan itu jadi rahasia antara saya dan dia, jangan sampai ibu bawel yang duduk di belakang saya tau, karena pasti dia bakal laporan pada ibu manajer saya, dan seterusnya, dan seterusnya. Bapak IT menyatakan menyanggupi, dan menyuruh saya tenang-tenang saja, beliau bakal mengecek dulu PC saya. Wuaaah, benang kusut dalam kepala saya seketika rapih dalam sekejap demi mendengar kata-kata beliau. Jangankan menjudge bahwa saya bersalah, bertanya macam-macam tentang apa yang sudah saya perbuat pun tidak. Akhirnya, untuk pertama kalinya semenjak saya melihat kata TROJAN di layar PC saya, saya bisa bernafas sedikit lega. Tidak lama berselang saya sudah melebur ke dalam acara TV hari sabtu pagi bersama Ibu saya. Ketika acara TV yang saya tonton selesai pada jam setengah dua belas siang, saya terpaksa kembali ke dunia nyata. Lalu teringat bahwa sudah berjam-jam yang lalu semenjak Bapak IT bilang bahwa beliau bakal mengecek PC saya. Apakah yang terjadi dengan PC saya? apakah semuanya beres? apakah PC saya malah meledak atau apa? kembali saya menghubungi beliau dengan perasaan ketar-ketir.
Ternyata, oh ternyata, dugaan saya salah. Bapak IT bilang PC saya bukan terjangkit Trojan, melainkan Spyware. Sesuai dengan arti istilahnya, Spyware ini gunanya untuk mencuri data di PC lalu dikirimkan pada si pembuat aplikasi. Saya tanya pada beliau, data macam apa yang diinginkan mereka, apakah data kantor, atau data password Friendster (haha). Bapak IT terbahak-bahak persis seperti teman saya kemarin. Dia bilang tentu saja bukan, mereka mencuri data yang bisa menghasilkan uang seperti password kartu kredit. Aiih, bahaya juga, untung saya tidak pernah menggunakan layanan internet banking, untung saya gaptek soal yang begitu-begitu, hahaha. Beliau juga bilang, si Spyware ini rupanya agak sulit diberantas, jadi daripada membuang-buang waktu, beliau memutuskan untuk meng-instal ulang PC saya. Lalu beliau menambahkan, baru kali ini di kantor ada karyawan bandel yang PC-nya terjangkit Spyware, hahaha.
Akhirnya, senin pagi, ketika saya kembali ke kantor, saya dapati PC saya dalam keadaan baik-baik saja. Hampir seperti tidak terjadi apa-apa. Sejumlah ikon yang bertengger di desktop saya masih terlihat sama. Sesaat saya kepingin lompat-lompat kegirangan, rasanya tidak percaya hidup saya masih bisa berjalan normal. Duh, saya tiba-tiba jadi ingin memeluk Bapak IT erat-erat, karena beliau sudah membereskan masalah saya tanpa banyak bicara. Beres. Selesai. Saya selamat.
Saya putuskan, sekedar mengucapkan terima kasih saja rasanya tidak cukup. Siang harinya langsung saya melesat ke Plasa Semanggi membeli setengah lusin donat, lalu diam-diam saya letakkan bungkusan donat itu di meja Bapak IT, kemudian mengendap-endap pergi -malas kalau sampai kelihatan oleh orang kantor saya yang selalu mau tau urusan orang. Lewat email saya katakan bahwa saya sangat berterimakasih pada beliau -saya tidak bisa bicara lewat telepon, tidak ada privacy di ruangan saya, ugh. Tidak lama berselang, Bapak IT membalasnya. Beliau bilang sambil bercanda, sering-sering saja PC saya dijangkiti virus, karena beliau senang dihadiahi donat. Saya nyengir membacanya. Lalu beliau menambahkan, kali ini serius, saya tidak perlu repot-repot memberikan sesuatu, karena semua itu sudah menjadi tugasnya, lebih baik uangnya saya tabung saja buat menikah. Saya langsung terbahak-bahak. Saya balas lagi emailnya. Saya bilang, saya mengerti itu memang tugas beliau, tapi bukan itu intinya. Saya berterimakasih untuk sikapnya yang sangat kooperatif dan tanpa judgement sama sekali. Beliau bukan hanya telah mengurusi PC saya, tapi juga menyelamatkan saya dari depresi. Beliau lalu membalas lagi, katanya saya ada-ada saja. Hahaha.
Mungkin orang lain yang tidak mengenal saya akan menilai sikap saya sebagai upaya penyogokan, tapi saya akan membantahnya mentah-mentah. Karena memang bukan begitu maksud saya. Dan karena memang saya tidak berniat meloloskan dari konsekuensi. Sebagai hukumannya, selain Jet Audio Player dan Photoshop saya hilang akibat tindakan instal ulang, Bapak IT memblokir PC saya agar saya tidak bisa lagi melakukan kegiatan download ria. Sungguh suatu hukuman yang sangat FAIR untuk saya. Dan saya terima dengan riang gembira. PC yang diblokir jauh lebih lumayan daripada saya harus kehilangan akses internet, apalagi kalau saya harus kehilangan pekerjaan, ouch, membayangkannya saja saya langsung frustasi!
Dan semenjak kejadian itu, saya merasa hubungan saya dengan Bapak IT jadi berbeda. Beliau jadi lebih ramah kalau saya meminta tolong mengecek intranet saya yang terkadang error. Sementara saya, jadi lebih hormat pada beliau. Walaupun kami berdua tidak pernah lagi membahasnya, kejadian itu selalu tergambar di sorot mata jahil Bapak IT setiap kali kami berpapasan di koridor kantor, lalu biasanya kami akan saling tersenyum geli, hahaha.
PS. Terima kasih untuk sahabat saya, Lina, yang sampai rela menghubungi mantan pacarnya yang jago IT yang sedang berada di luar kota, demi mencari informasi untuk saya. Terima kasih untuk kawan I.W yang walaupun acara makannya saya ganggu, masih saja sabar menghibur saya.
Mulailah saya mencari-cari mangsa, dan pilihan saya jatuh ketika melihat playlist yang berisi sederet nama Lisa Ono. Ya, saya kepingin Lisa Ono, saya belum punya satupun lagunya. Namun entah apa yang merasuki konsentrasi saya saat itu, saya ternyata salah meng-klik ikon. Sudah terlambat ketika akhirnya saya menyadari saya malah menginstal sebuah aplikasi asing, karena proses instalasi itu tidak bisa dibatalkan. Sampai saat itu, saya belum punya firasat buruk. Tapi ketika aplikasi asing itu selesai ter-instal di PC saya, seketika sambungan Yahoo Messenger saya disconnected, tampilan Google saya lenyap dari layar, dan sambungan intranet yang berisi sejumlah program Accounting saya ikut disconnected. Saya mulai panik, dan cuma bisa terperangah selama beberapa detik. Tapi saya masih belum mau percaya atas kejadian buruk yang menimpa saya, saya masih berharap koneksi internet kantor saya putus gara-gara servernya down atau apa. Saya coba open lagi halaman Google saya, namun yang muncul malah istilah-istilah asing, dan ketika mata saya menangkap kata warning, attacked, Trojan, clean, scan, virus, barulah saya sadar apa yang terjadi. Aplikasi asing yang dengan bodohnya saya instal tanpa sengaja barusan, rupanya adalah semacam virus. Dan karena tadi saya mendapati kata Trojan, saya identifikasi segera bahwa PC saya terjangkit virus Trojan!
Seumur hidup, saya tidak pernah berurusan dengan Trojan, tapi firasat saya mengatakan bahwa saya berada dalam masalah. Saya langsung panik, saya langsung lemas. Satu-satunya hal yang ingin saya lakukan adalah segera berkemas-kemas lalu lari pulang sambil berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi tentu saja itu pilihan yang tidak mungkin, saya harus membereskan kerusakan yang sudah saya buat, saya harus bertanggung-jawab. Akhirnya saya melesat ke ruang Bapak IT untuk mencari bala bantuan, tapi sayang sekali beliau sudah pulang sejak tadi. Lalu saya teringat hari sabtu besoknya jadwal saya libur, dan kalau Bapak IT ternyata jadwalnya sama dengan saya, maka terpaksa saya harus menunggu sampai hari senin untuk minta bantuan beliau.
Ya Tuhan, senin pagi, saat semua orang sibuk bekerja, saat sejuta pekerjaan menumpuk di meja, Bapak IT akan nongkrong di tempat saya sambil tentunya akan menginterogasi saya dengan bermacam pertanyaan tentang apa yang sudah saya lakukan sampai berakibat fatal seperti itu, apalagi kalau ternyata PC saya tidak bisa disembuhkan dan harus dibawa entah kemana untuk diservis, lalu Ibu manajer saya bakal tau, lalu Bapak GM bakal tau, lalu koneksi internet saya bakal dicabut selamanya, atau saya mungkin akan dipecat karena melanggar peraturan perusahaan karena saya sering mendownload sembarangan, dan lebih parah lagi karena saya meng-instal aplikasi sembarangan, padahal telah ada larangan tertulis mengenai hal itu dan sangsinya cukup berat. Ya Tuhan, karir saya hancur cuma gara-gara Lisa Ono!
Langsung saya mengirim pesan pendek pada kedua sahabat saya, mengabarkan soal musibah yang saya alami, berharap mereka akan segera menghibur saya dengan ucapan menenangkan seperti biasanya kalau saya sedang panik. Walaupun sejujurnya, saat itu, tidak ada yang lebih ingin saya dengar selain kalimat dari siapapun yang sekiranya profesional di bidang itu, yang menyatakan dengan segenap profesionalisme bahwa semuanya bakal baik-baik saja, dan bahwa reaksi saya sangat berlebihan. Akhirnya, saya teringat salah satu teman saya, kami sering menghabiskan banyak waktu untuk membahas musik, bertukar playlist, dan dia sering memberikan pada saya beraneka macam link untuk didownload beserta sejumlah trik agar mudah mengeksekusinya, maka saya anggap dia mengerti dengan baik mengenai hal semacam itu. Segera saya hubungi ponsel teman saya itu, rupanya dia sudah berada di rumah, sedang makan, tapi saya tidak perduli, saya langsung mengoceh tidak karuan sambil mengungkapkan segala kepanikan dan kecemasan saya. Teman saya cuma cengengesan sambil bilang Trojan emang ngerusak koneksi internet, dan sorry to say agak susah membasminya.
Ugh, saya menyesal sebelumnya sudah memaksa dia untuk berkata jujur. Kenapa sih dia tidak menghibur saya dengan berkata bahwa kepanikan saya keterlaluan, dan bahwa yang saya anggap virus itu ternyata cuma sedikit gangguan entah-apa-namanya-tapi-pokoknya-cemen, ugh! Lalu dia bertanya memangnya apa yang sedang saya download sampai harus salah meng-instal aplikasi segala. Saya jawab, saya sedang (akan) mendownload lagu-lagunya Lisa Ono. Lalu dia kembali terbahak-bahak. Dia bilang, untuk apa repot-repot download padahal dia punya Lisa Ono kok, dan lumayan lengkap. Arrgh, saya jadi merasa tolol. Saya bilang, mana saya tau?! Dia jawab, makanya tanya doong! Arrgh, saya makin merasa tolol. Sebagai usaha penghiburan diri, saya merengek-rengek sambil bilang bahwa ini semua salah dia. Ini semua terjadi gara-gara dia dulu pernah lupa memberikan The Postmarks yang saya minta, sehingga membuat saya berpikir bahwa dia juga akan lupa kalau saya minta koleksi Lisa Ono-nya, sehingga membuat saya memutuskan untuk mendownload sendiri saja. Lagi-lagi, dia terbahak-bahak. Tapi akhirnya, mau tidak mau saya terhibur juga demi mendengar dia yang sempat-sempatnya tertawa. Karena kalau memang masalahnya gawat, dia tidak akan sanggup menertawai saya, bukan?
Sejenak saya jadi teringat sejumlah teman-teman saya yang berencana hendak kumpul-kumpul di TIM sore itu, tapi batal gara-gara salah satu teman kami tidak bisa hadir. Ugh, kalau saja teman kami itu tidak berhalangan hadir, kalau saja acara itu jadi diadakan, saya tidak perlu berlama-lama di kantor, saya pasti bakal langsung melesat ke sana, dan saya tidak perlu menemukan Lisa Ono sialan itu -saking stresnya, sore itu otak saya giat mencari kambing hitam, hahaha.
Sebelum pulang, saya memutuskan mampir dulu di rumah sahabat saya yang untungnya sudah pulang kantor, lalu mengisahkan malapetaka yang menimpa saya dari awal hingga akhir. Seperti biasa sahabat saya tercinta itu memberikan kalimatnya yang bijaksana, dia bilang saya tidak bakal kenapa-napa, dan kalaupun memang terjadi apa-apa, memang saya salah, jadi saya harus menanggung konsekuensinya. Dia benar, sahabat saya benar. Akhirnya saya pulang dengan sejumlah keberanian, maksudnya, apalagi yang bisa dilakukan oleh orang yang telah berbuat salah selain menanggung akibat dari kesalahannya, bukan? ok, habis perkara.
Tapi sampai di rumah, keberanian saya menguap. Novel yang saya pikir akan sanggup mengusir kecemasan saya ternyata tidak bisa memberikan pertolongan apa-apa. Saya tidak bisa konsentrasi membaca, saya tidak bisa konsentrasi menonton acara TV, saya tidak berminat menulis, saya bahkan tidak kepingin mendengarkan musik. Sampai tengah malam saya bolak-balik badan dengan gelisah di atas tempat tidur, dengan kepala dipenuhi pikiran buruk yang tidak mempan dihalau dengan doa-doa.
Paginya, saya kembali gelisah menanti jam kantor tiba -kebetulan saya tidak punya nomor ponsel Bapak IT, dan saya terlalu takut untuk bertanya pada teman saya yang lain, takut rahasia ini terbongkar, hahaha. Tepat jam 9 langsung saya menghubungi kantor sambil berharap-harap Bapak IT masuk kerja sehingga bisa segera memeriksa PC saya. Alhamdulilah, terimakasih Tuhan, Bapak IT masuk kantor hari itu. Langsung saya mengadu pada beliau, lengkap dengan bujukan agar persoalan itu jadi rahasia antara saya dan dia, jangan sampai ibu bawel yang duduk di belakang saya tau, karena pasti dia bakal laporan pada ibu manajer saya, dan seterusnya, dan seterusnya. Bapak IT menyatakan menyanggupi, dan menyuruh saya tenang-tenang saja, beliau bakal mengecek dulu PC saya. Wuaaah, benang kusut dalam kepala saya seketika rapih dalam sekejap demi mendengar kata-kata beliau. Jangankan menjudge bahwa saya bersalah, bertanya macam-macam tentang apa yang sudah saya perbuat pun tidak. Akhirnya, untuk pertama kalinya semenjak saya melihat kata TROJAN di layar PC saya, saya bisa bernafas sedikit lega. Tidak lama berselang saya sudah melebur ke dalam acara TV hari sabtu pagi bersama Ibu saya. Ketika acara TV yang saya tonton selesai pada jam setengah dua belas siang, saya terpaksa kembali ke dunia nyata. Lalu teringat bahwa sudah berjam-jam yang lalu semenjak Bapak IT bilang bahwa beliau bakal mengecek PC saya. Apakah yang terjadi dengan PC saya? apakah semuanya beres? apakah PC saya malah meledak atau apa? kembali saya menghubungi beliau dengan perasaan ketar-ketir.
Ternyata, oh ternyata, dugaan saya salah. Bapak IT bilang PC saya bukan terjangkit Trojan, melainkan Spyware. Sesuai dengan arti istilahnya, Spyware ini gunanya untuk mencuri data di PC lalu dikirimkan pada si pembuat aplikasi. Saya tanya pada beliau, data macam apa yang diinginkan mereka, apakah data kantor, atau data password Friendster (haha). Bapak IT terbahak-bahak persis seperti teman saya kemarin. Dia bilang tentu saja bukan, mereka mencuri data yang bisa menghasilkan uang seperti password kartu kredit. Aiih, bahaya juga, untung saya tidak pernah menggunakan layanan internet banking, untung saya gaptek soal yang begitu-begitu, hahaha. Beliau juga bilang, si Spyware ini rupanya agak sulit diberantas, jadi daripada membuang-buang waktu, beliau memutuskan untuk meng-instal ulang PC saya. Lalu beliau menambahkan, baru kali ini di kantor ada karyawan bandel yang PC-nya terjangkit Spyware, hahaha.
Akhirnya, senin pagi, ketika saya kembali ke kantor, saya dapati PC saya dalam keadaan baik-baik saja. Hampir seperti tidak terjadi apa-apa. Sejumlah ikon yang bertengger di desktop saya masih terlihat sama. Sesaat saya kepingin lompat-lompat kegirangan, rasanya tidak percaya hidup saya masih bisa berjalan normal. Duh, saya tiba-tiba jadi ingin memeluk Bapak IT erat-erat, karena beliau sudah membereskan masalah saya tanpa banyak bicara. Beres. Selesai. Saya selamat.
Saya putuskan, sekedar mengucapkan terima kasih saja rasanya tidak cukup. Siang harinya langsung saya melesat ke Plasa Semanggi membeli setengah lusin donat, lalu diam-diam saya letakkan bungkusan donat itu di meja Bapak IT, kemudian mengendap-endap pergi -malas kalau sampai kelihatan oleh orang kantor saya yang selalu mau tau urusan orang. Lewat email saya katakan bahwa saya sangat berterimakasih pada beliau -saya tidak bisa bicara lewat telepon, tidak ada privacy di ruangan saya, ugh. Tidak lama berselang, Bapak IT membalasnya. Beliau bilang sambil bercanda, sering-sering saja PC saya dijangkiti virus, karena beliau senang dihadiahi donat. Saya nyengir membacanya. Lalu beliau menambahkan, kali ini serius, saya tidak perlu repot-repot memberikan sesuatu, karena semua itu sudah menjadi tugasnya, lebih baik uangnya saya tabung saja buat menikah. Saya langsung terbahak-bahak. Saya balas lagi emailnya. Saya bilang, saya mengerti itu memang tugas beliau, tapi bukan itu intinya. Saya berterimakasih untuk sikapnya yang sangat kooperatif dan tanpa judgement sama sekali. Beliau bukan hanya telah mengurusi PC saya, tapi juga menyelamatkan saya dari depresi. Beliau lalu membalas lagi, katanya saya ada-ada saja. Hahaha.
Mungkin orang lain yang tidak mengenal saya akan menilai sikap saya sebagai upaya penyogokan, tapi saya akan membantahnya mentah-mentah. Karena memang bukan begitu maksud saya. Dan karena memang saya tidak berniat meloloskan dari konsekuensi. Sebagai hukumannya, selain Jet Audio Player dan Photoshop saya hilang akibat tindakan instal ulang, Bapak IT memblokir PC saya agar saya tidak bisa lagi melakukan kegiatan download ria. Sungguh suatu hukuman yang sangat FAIR untuk saya. Dan saya terima dengan riang gembira. PC yang diblokir jauh lebih lumayan daripada saya harus kehilangan akses internet, apalagi kalau saya harus kehilangan pekerjaan, ouch, membayangkannya saja saya langsung frustasi!
Dan semenjak kejadian itu, saya merasa hubungan saya dengan Bapak IT jadi berbeda. Beliau jadi lebih ramah kalau saya meminta tolong mengecek intranet saya yang terkadang error. Sementara saya, jadi lebih hormat pada beliau. Walaupun kami berdua tidak pernah lagi membahasnya, kejadian itu selalu tergambar di sorot mata jahil Bapak IT setiap kali kami berpapasan di koridor kantor, lalu biasanya kami akan saling tersenyum geli, hahaha.
PS. Terima kasih untuk sahabat saya, Lina, yang sampai rela menghubungi mantan pacarnya yang jago IT yang sedang berada di luar kota, demi mencari informasi untuk saya. Terima kasih untuk kawan I.W yang walaupun acara makannya saya ganggu, masih saja sabar menghibur saya.
Labels:
an unquiet mind
February 01, 2008
JANGAN SALAHKAN HUJAN
Bukan hujannya yang salah, sayang!
yang salah adalah kita,
yang tidak menyisakan tempat pada tanah,
untuk menampung setiap tetes air.
(pada hari pertama di bulan Februari, yang ditandai dengan hujan deras yang tak kunjung berhenti)
yang salah adalah kita,
yang tidak menyisakan tempat pada tanah,
untuk menampung setiap tetes air.
(pada hari pertama di bulan Februari, yang ditandai dengan hujan deras yang tak kunjung berhenti)
Labels:
poem

