Kurang dari satu minggu, kita akan sampai di penghujung bulan ramadhan. Seperti tahun-tahun yang lalu, ada sedih yang terasa menjelang berakhirnya ramadhan, sekaligus juga gembira menyambut lebaran, dengan segenap esensi dan tradisi yang menyertainya.
Salah satu tradisi lebaran, apalagi kalau bukan mudik lebaran. Fenomena yang sedari kecil begitu saya minati, namun sayangnya belum pernah saya alami. Nenek saya, dan hampir semua anggota keluarga besar saya tinggal di Jakarta. Keluarga saya yang tinggal di luar kota yang malah mudik ke Jakarta untuk merayakan lebaran di rumah nenek. Sehingga akhirnya, belum pernah saya merayakan lebaran di manapun selain di Jakarta.
Atas nama keinginan mudik lebaran yang belum pernah kesampaian itu, saya selalu penuh perhatian menyaksikan kesibukan orang-orang di sekeliling tiap kali mereka mulai bersiap-siap mudik. Hampir semua kawan saya sibuk membahas persiapan mudik mereka ke tempat tujuan masing-masing. Sementara dua sahabat saya, yang satu mudik ke Purwekerto, yang satunya lagi mudik ke Sukabumi. Setiap musim lebaran, mereka berdua bukan lagi milik saya, melainkan milik kampung halamannya masing-masing.
Selalu juga saya perhatikan bagaimana kompleks perumahan yang saya tinggali berangsur-angsur sepi menjelang lebaran. Yang biasanya mudik jauh-jauh hari adalah tetangga saya sebelah kiri. Sebelum berangkat mereka selalu pamit dan menitipkan rumah pada kami. Pada saat itulah biasanya saya akan menatap penuh minat pada tumpukan koper yang satu-persatu mereka masukkan ke dalam bagasi mobil. Membayangkan saya yang jadi mereka. Packing. Preparing. Travelling. Mudik lebaran. Oh, betapa menyenangkannya!
Berita di televisi tentang mudik lebaran pun tak pernah luput dari perhatian saya. Itu malah bagian yang paling menarik. Menyaksikan bagaimana mayoritas penduduk Jabodetabek berbondong-bondong memenuhi terminal-terminal dan stasiun kereta, atau beriringan menggunakan sepeda motor, lalu mulai memacetkan jalur pantura, adalah pemandangan yang menakjubkan. Andaikan saya jadi salah satu dari mereka yang mudik menggunakan kereta api lalu berdesakkan di dalamnya sambil membawa kardus, saya akan jadi pemudik yang sangat berbahagia. Karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa jadi bagian dari semua itu. Betapa saya bosan cuma jadi penonton. Apalagi menikmati suasana lebaran di kampung halaman yang tentunya jauh berbeda dari suasana lebaran di Jakarta. Ah, andaikan saya bisa ikut merasakan mudik lebaran!
Tapi, saya juga sadar, sekedar mudik bukanlah esensinya. Inti di balik semua itu adalah berkumpul bersama keluarga. Berada di rumah. Sedangkan rumah saya di mana lagi kalau bukan di rumah nenek di Jakarta. Tempat segalanya berawal. Tempat saya menghabiskan masa kecil. Tempat keluarga saya berkumpul untuk merayakan lebaran. Ya, memang di sanalah saya seharusnya selalu berada.
PS. Selamat mudik buat yang mudik. Jangan banyak mengeluh kalau macet. You just don’t know how lucky you are! :-D
September 24, 2008
September 15, 2008
You're a Star!
Congratulation, sist’!
You’re a star!*
(*what Miss Rebecka Bloomwood always says whenever she feels proud of her bestfriend, Suze.)
You’re a star!*
(*what Miss Rebecka Bloomwood always says whenever she feels proud of her bestfriend, Suze.)
Labels:
an unquiet mind
September 14, 2008
HAPPY BIRTHDAY
You know it doesn’t make much sense
There ought to be a law against
Anyone who takes offense
At a day in your celebration
‘Cause we all know in our minds
That there ought to be a time
That we can set aside
To show just how much we love you
And I’m sure you would agree
It couldn’t fit more perfectly
Than to have a world party on the day you came to be
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
I just never understood
How a man who died for good
Could not have a day that would
Be set aside for his recognition
Because it should never be
Just because some cannot see
The dream as clear as he
that they should make it become an illusion
And we all know everything
That he stood for time will bring
For in peace our hearts will sing
Thanks to Martin Luther King
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
The time is overdue
For people like me and you
Who know the way to truth
Is love and unity to all God’s children
It should never be a great event
And the whole day should be spent
In full remembrance
Of those who lived and died for the oneness of all people
So let us all begin
We know that love can win
Let it out don’t hold it in
Sing it loud as you can
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
by: Ratna Wonder :-p
There ought to be a law against
Anyone who takes offense
At a day in your celebration
‘Cause we all know in our minds
That there ought to be a time
That we can set aside
To show just how much we love you
And I’m sure you would agree
It couldn’t fit more perfectly
Than to have a world party on the day you came to be
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
I just never understood
How a man who died for good
Could not have a day that would
Be set aside for his recognition
Because it should never be
Just because some cannot see
The dream as clear as he
that they should make it become an illusion
And we all know everything
That he stood for time will bring
For in peace our hearts will sing
Thanks to Martin Luther King
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
The time is overdue
For people like me and you
Who know the way to truth
Is love and unity to all God’s children
It should never be a great event
And the whole day should be spent
In full remembrance
Of those who lived and died for the oneness of all people
So let us all begin
We know that love can win
Let it out don’t hold it in
Sing it loud as you can
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
by: Ratna Wonder :-p
Labels:
an unquiet mind
September 08, 2008
FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [2]
Ibunda bayi Joanna tiba-tiba mengirim kabar mengejutkan pada kami semua. Lewat Ibu manajer saya dia bercerita bahwa dia akan mengundurkan diri dari kantor kami tercinta. Bukan untuk pindah ke kantor lain di Singapura, atau kantor manapun di Jakarta, melainkan memang benar-benar berhenti bekerja. Kami semua terkaget-kaget dibuatnya.
Ibu manajer saya bilang, Ibunda bayi Joanna telah mantab dengan keputusannya. Konon di Singapura sana, dia dan suaminya tidak memiliki siapa-siapa. Selama mereka bekerja, tidak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi Joanna. Demikianlah akhirnya, Ibunda bayi Joanna memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, demi kebaikan putrinya.
Memutuskan keluar dari pekerjaan, tentu bukan hal yang mudah dilakukan, terutama bagi perempuan seperti Ibunda bayi Joanna. Dia perempuan cerdas yang suka bekerja keras. Karirnya tengah menanjak pasti ke posisi yang gemilang, sementara usianya belum lagi menginjak tiga puluh. Jalannya masih teramat panjang. Dia punya kesempatan besar untuk kelak menduduki posisi puncak di kantor kami. Kalau dia mau, dia bisa menggaji pengasuh bayi dari biro ternama di tempat tinggalnya, meninggalkan bayi Joanna di rumah, lalu melanjutkan perannya sebagai wanita pekerja. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Dia malah memilih tinggal di rumah dan mengurus bayi Joanna.
Segelintir orang di kantor kami agak menyesalkan keputusan yang diambil Ibunda bayi Joanna. Menurut mereka, dia telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidupnya. Saya sendiri, cukup sedih mendengar kabar itu. Dan kalau mau lebih jujur lagi, saya takut mengalami kesulitan dalam pekerjaan sepeninggal dia. Saya akan kehilangan tempat bertanya.
Tapi di balik segala keegoisan saya itu, di mata saya Ibunda bayi Joanna nyaris sempurna. Dia benar-benar tahu memaknai keperempuanannya dengan tepat. Perempuan yang sanggup berkarya di dalam rumah dan berkarir di luar rumah, tentu tak salah apabila mendapat sebutan perempuan yang hebat. Tidak mudah melakukan semua itu sekaligus. Tapi saya percaya, sehebat-hebatnya perempuan, adalah dia yang ketika jalan setapaknya menemui persimpangan, memutuskan keluarganya sebagai pilihan. Pulang ke rumah.
Untuk yang kesekian kalinya, saya dibuat kagum oleh Ibunda bayi Joanna.
Ibu manajer saya bilang, Ibunda bayi Joanna telah mantab dengan keputusannya. Konon di Singapura sana, dia dan suaminya tidak memiliki siapa-siapa. Selama mereka bekerja, tidak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi Joanna. Demikianlah akhirnya, Ibunda bayi Joanna memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, demi kebaikan putrinya.
Memutuskan keluar dari pekerjaan, tentu bukan hal yang mudah dilakukan, terutama bagi perempuan seperti Ibunda bayi Joanna. Dia perempuan cerdas yang suka bekerja keras. Karirnya tengah menanjak pasti ke posisi yang gemilang, sementara usianya belum lagi menginjak tiga puluh. Jalannya masih teramat panjang. Dia punya kesempatan besar untuk kelak menduduki posisi puncak di kantor kami. Kalau dia mau, dia bisa menggaji pengasuh bayi dari biro ternama di tempat tinggalnya, meninggalkan bayi Joanna di rumah, lalu melanjutkan perannya sebagai wanita pekerja. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Dia malah memilih tinggal di rumah dan mengurus bayi Joanna.
Segelintir orang di kantor kami agak menyesalkan keputusan yang diambil Ibunda bayi Joanna. Menurut mereka, dia telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidupnya. Saya sendiri, cukup sedih mendengar kabar itu. Dan kalau mau lebih jujur lagi, saya takut mengalami kesulitan dalam pekerjaan sepeninggal dia. Saya akan kehilangan tempat bertanya.
Tapi di balik segala keegoisan saya itu, di mata saya Ibunda bayi Joanna nyaris sempurna. Dia benar-benar tahu memaknai keperempuanannya dengan tepat. Perempuan yang sanggup berkarya di dalam rumah dan berkarir di luar rumah, tentu tak salah apabila mendapat sebutan perempuan yang hebat. Tidak mudah melakukan semua itu sekaligus. Tapi saya percaya, sehebat-hebatnya perempuan, adalah dia yang ketika jalan setapaknya menemui persimpangan, memutuskan keluarganya sebagai pilihan. Pulang ke rumah.
Untuk yang kesekian kalinya, saya dibuat kagum oleh Ibunda bayi Joanna.
Labels:
an unquiet mind
August 27, 2008
FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [1]
(8/22/2008 6:28 PM)
Hi everyone,
Today is my last day here. Thank you for all the assistance and support you have given me. Here are PIC who will take over my duties:
- for IDO matters and Cognos pls liase with Pek Bee Yuen
- for BASS matters pls liase with Annie Han
I wish you all the best in your future endeavour.
Regards,
Paula
Hi everyone,
Today is my last day here. Thank you for all the assistance and support you have given me. Here are PIC who will take over my duties:
- for IDO matters and Cognos pls liase with Pek Bee Yuen
- for BASS matters pls liase with Annie Han
I wish you all the best in your future endeavour.
Regards,
Paula
Labels:
an unquiet mind
August 14, 2008
YEAR OF MARRIAGE
Kalau saya ditanya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan tahun 2008, jawaban saya adalah: pernikahan. Tahun ini terjadi hujan pernikahan di dalam dunia sosialisasi saya. Dimulai dengan pernikahan mantan pacar saya tercinta ketika tahun ini belum separuhnya terlewati, satu persatu kawan-kawan saya bergiliran mengirimkan undangan, atau setidaknya rencana yang sudah matang, terus tanpa berhenti hingga akhir tahun.
Kawan-kawan saya yang kebetulan belum mendapat giliran, atau sedang dalam proses mempersiapkan diri menuju gilirannya, menampilkan reaksi yang beraneka ragam tiap kali menerima undangan baru. Ada yang panik. Ada yang pasrah. Ada yang sedih. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang jadi termovitasi dan tambah bersemangat.
Saya sendiri, termasuk dalam golongan yang biasa-biasa saja. Selain memang tidak memiliki pasangan untuk diajak menikah, kalau boleh jujur, saya belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan. Sahabat saya sering berkata, apabila nanti sudah tiba waktunya, saya juga pasti akan merasa tidak sabar untuk segera dilamar. Hahah. Mungkin saja. Mungkin juga tidak.
Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut budaya untuk tidak harus menikah muda. Hampir semua anggota keluarga besar saya baru menikah ketika usianya menjelang 30. Ibu saya sendiri menikah pada usia 31. Saya dan para sepupu hampir tidak pernah didesak untuk buru-buru menikah sebagaimana yang lazimnya terjadi pada keluarga kebanyakan. Kami terbiasa menganggap diri kami masih muda dan nyaman berlama-lama tinggal dengan orang tua, walaupun pada akhirnya mungkin akan tersadar bahwa ternyata kami sudah sangat cukup umur untuk menikah, hahah.
Selain itu, saya juga punya sedikit alasan pribadi yang membuat antusiasme untuk menikah tidak kunjung menghampiri saya. Bukan, bukan sekedar soal trauma takut ditinggal pergi seperti kebanyakan tema dalam cerita fiksi, melainkan lebih kepada pemikiran soal visi dan misi, tanggung jawab, anak, dan beberapa hal absurd yang sahabat saya bilang terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekedar dibayangkan.
Tapi, tentu saja, tentu saja, hal itu tidak akan pernah mengurangi makna pernikahan buat saya. Malah saya menduga, segala pemikiran absurd itu timbul akibat harapan saya yang terlalu muluk atas sebuah pernikahan. Buat saya, pernikahan itu terlalu agung untuk disegerakan dengan terburu-buru. Pernikahan itu terlalu sakral untuk dilakukan oleh pasangan muda yang kemungkinan belum sadar benar atas tindakan yang dipilihnya. Apalagi yang di dalamnya terjadi kudeta uang atas value. Buat saya, cinta dan segala macam hal yang sifatnya priceless adalah segala-galanya. Saya sering terguncang apabila mendapati kasus yang mencoreng nilai-nilai yang saya anut. Kalau menyangkut urusan cinta, komitmen, apalagi pernikahan, saya ini memang terkenal naif, utopis, dan tidak realistis. Sahabat saya sering bilang, saya seperti hidup di dunia sendiri, sehingga sulit menerima bahwa orang lain tidak selalu menggunakan standar yang sama dengan yang saya anut.
Maka, atas nama keagungan sebuah pernikahan, saya mencoba menghayati dengan baik setiap persiapan yang dilakukan oleh beberapa teman saya yang berencana menikah bulan ini, walaupun mereka bukan teman akrab saya, dan walaupun yang saya lakukan hanya sepele saja. Sebagai informasi, mereka mempercayakan urusan distribusi beberapa undangan pada saya. Karena menurut mereka, selama ini saya merupakan orang yang paling aktif mengerahkan masa tiap kali ada rencana kumpul-kumpul. Selain itu mobilitas saya dianggap cukup baik, terutama mobilitas dunia maya, karena selain dalam bentuk kertas, mereka juga turut mengundang via email dan sms. Jadilah tempo hari saya turut sibuk mengkoordinir siapa-siapa saja yang belum kebagian undangan, baik yang dalam bentuk kertas, email, maupun sms. Saya juga dimintai tolong untuk melacak teman-teman yang lama tidak terdengar kabarnya, lewat search engine di Friendster. Lalu mem-forward email atau sms yang berisi undangan, karena para calon pengantin itu benar-benar sibuk mengurusi tetek-bengek lainnya.
Terus terang saja, tugas itu cukup berat dan menakutkan buat saya. Berat karena kemarin-kemarin saya harus melakukannya di sela-sela pekerjaan kantor dan kegiatan lain yang tenggat waktunya jatuh hampir bersamaan. Sepulang kerja saya harus menyempatkan diri mampir bertemu beberapa teman untuk menyerahkan undangan, atau terpaksa menitipkannya lagi pada mereka yang punya akses lebih mudah daripada saya. Menakutkan karena saya sangat khawatir undangan-undangan itu terlambat sampai ke tangan yang berhak, lalu pesta pernikahan yang sakral itu terpaksa tidak dihadiri oleh beberapa tamu yang diharapkan akibat kelalaian saya dalam mendistribusikan undangan. Jadilah di sela-sela kemacetan di dalam bus kota, atau di tengah malam menjelang tidur, pikiran saya sering bergerilya mengingat-ingat undangan mana lagi yang belum saya sampaikan, atau sms mana lagi yang belum saya forward. Jujur, saya cukup tertekan waktu itu.
Untungnya, saya dapat melaksanakan tugas dengan baik, walaupun dari ketiga teman saya yang menikah itu, tidak satupun pestanya dapat saya hadiri, karena kebetulan kantor saya mengadakan acara di luar kota. Tapi meskipun berhalangan hadir, saya cukup gembira telah memberikan dukungan lewat urusan distribusi undangan. Cukuplah segala keruwetan itu buat bekal mengahadapi persiapan pernikahan saya sendiri kelak, entah kapan, entah bersama siapa :D
Kawan-kawan saya yang kebetulan belum mendapat giliran, atau sedang dalam proses mempersiapkan diri menuju gilirannya, menampilkan reaksi yang beraneka ragam tiap kali menerima undangan baru. Ada yang panik. Ada yang pasrah. Ada yang sedih. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang jadi termovitasi dan tambah bersemangat.
Saya sendiri, termasuk dalam golongan yang biasa-biasa saja. Selain memang tidak memiliki pasangan untuk diajak menikah, kalau boleh jujur, saya belum memiliki antusiasme terhadap pernikahan. Sahabat saya sering berkata, apabila nanti sudah tiba waktunya, saya juga pasti akan merasa tidak sabar untuk segera dilamar. Hahah. Mungkin saja. Mungkin juga tidak.
Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut budaya untuk tidak harus menikah muda. Hampir semua anggota keluarga besar saya baru menikah ketika usianya menjelang 30. Ibu saya sendiri menikah pada usia 31. Saya dan para sepupu hampir tidak pernah didesak untuk buru-buru menikah sebagaimana yang lazimnya terjadi pada keluarga kebanyakan. Kami terbiasa menganggap diri kami masih muda dan nyaman berlama-lama tinggal dengan orang tua, walaupun pada akhirnya mungkin akan tersadar bahwa ternyata kami sudah sangat cukup umur untuk menikah, hahah.
Selain itu, saya juga punya sedikit alasan pribadi yang membuat antusiasme untuk menikah tidak kunjung menghampiri saya. Bukan, bukan sekedar soal trauma takut ditinggal pergi seperti kebanyakan tema dalam cerita fiksi, melainkan lebih kepada pemikiran soal visi dan misi, tanggung jawab, anak, dan beberapa hal absurd yang sahabat saya bilang terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekedar dibayangkan.
Tapi, tentu saja, tentu saja, hal itu tidak akan pernah mengurangi makna pernikahan buat saya. Malah saya menduga, segala pemikiran absurd itu timbul akibat harapan saya yang terlalu muluk atas sebuah pernikahan. Buat saya, pernikahan itu terlalu agung untuk disegerakan dengan terburu-buru. Pernikahan itu terlalu sakral untuk dilakukan oleh pasangan muda yang kemungkinan belum sadar benar atas tindakan yang dipilihnya. Apalagi yang di dalamnya terjadi kudeta uang atas value. Buat saya, cinta dan segala macam hal yang sifatnya priceless adalah segala-galanya. Saya sering terguncang apabila mendapati kasus yang mencoreng nilai-nilai yang saya anut. Kalau menyangkut urusan cinta, komitmen, apalagi pernikahan, saya ini memang terkenal naif, utopis, dan tidak realistis. Sahabat saya sering bilang, saya seperti hidup di dunia sendiri, sehingga sulit menerima bahwa orang lain tidak selalu menggunakan standar yang sama dengan yang saya anut.
Maka, atas nama keagungan sebuah pernikahan, saya mencoba menghayati dengan baik setiap persiapan yang dilakukan oleh beberapa teman saya yang berencana menikah bulan ini, walaupun mereka bukan teman akrab saya, dan walaupun yang saya lakukan hanya sepele saja. Sebagai informasi, mereka mempercayakan urusan distribusi beberapa undangan pada saya. Karena menurut mereka, selama ini saya merupakan orang yang paling aktif mengerahkan masa tiap kali ada rencana kumpul-kumpul. Selain itu mobilitas saya dianggap cukup baik, terutama mobilitas dunia maya, karena selain dalam bentuk kertas, mereka juga turut mengundang via email dan sms. Jadilah tempo hari saya turut sibuk mengkoordinir siapa-siapa saja yang belum kebagian undangan, baik yang dalam bentuk kertas, email, maupun sms. Saya juga dimintai tolong untuk melacak teman-teman yang lama tidak terdengar kabarnya, lewat search engine di Friendster. Lalu mem-forward email atau sms yang berisi undangan, karena para calon pengantin itu benar-benar sibuk mengurusi tetek-bengek lainnya.
Terus terang saja, tugas itu cukup berat dan menakutkan buat saya. Berat karena kemarin-kemarin saya harus melakukannya di sela-sela pekerjaan kantor dan kegiatan lain yang tenggat waktunya jatuh hampir bersamaan. Sepulang kerja saya harus menyempatkan diri mampir bertemu beberapa teman untuk menyerahkan undangan, atau terpaksa menitipkannya lagi pada mereka yang punya akses lebih mudah daripada saya. Menakutkan karena saya sangat khawatir undangan-undangan itu terlambat sampai ke tangan yang berhak, lalu pesta pernikahan yang sakral itu terpaksa tidak dihadiri oleh beberapa tamu yang diharapkan akibat kelalaian saya dalam mendistribusikan undangan. Jadilah di sela-sela kemacetan di dalam bus kota, atau di tengah malam menjelang tidur, pikiran saya sering bergerilya mengingat-ingat undangan mana lagi yang belum saya sampaikan, atau sms mana lagi yang belum saya forward. Jujur, saya cukup tertekan waktu itu.
Untungnya, saya dapat melaksanakan tugas dengan baik, walaupun dari ketiga teman saya yang menikah itu, tidak satupun pestanya dapat saya hadiri, karena kebetulan kantor saya mengadakan acara di luar kota. Tapi meskipun berhalangan hadir, saya cukup gembira telah memberikan dukungan lewat urusan distribusi undangan. Cukuplah segala keruwetan itu buat bekal mengahadapi persiapan pernikahan saya sendiri kelak, entah kapan, entah bersama siapa :D
Labels:
an unquiet mind
August 13, 2008
AMANDA’S WORDS
“Kenyataan apapun buatlah dengan goresan tangan lo, jangan biarkan termakan situasi, sampai lo ketemu titik sudah -dan lo orang yang cukup bijaksana untuk mendetermin kata SUDAH.”
Labels:
an unquiet mind

