January 04, 2010

PENGAMEN

Harusnya sekarang sedang asyik baca buku di rumah
supaya besok gede bisa jadi pengacara
atau mungkin ahli fisika.

Tapi gara-gara miskin
jadinya terpaksa nyanyi-nyanyi di atas bus kota.

Ah, sedih aku dek membayangkan masa depanmu.

Januari 2010

January 03, 2010

AIR WUDU

Aduh damainya waktu kita sedang saling bersinggungan.
Syukurlah kau bisa kutemui lima kali dalam sehari.

Januari 2010

January 02, 2010

PERCERAIAN DI MATA IBU MANAJER

Pada suatu pagi, saya mendengar Ibu Manajer menerima panggilan di ponselnya. Biasanya, beliau selalu ramai lagi penuh canda tawa tiap kali ngobrol-ngobrol di telepon. Tapi pagi itu, berbeda dari biasanya, beliau bicara sambil merendahkan suara. Dari gayanya, nampak pembicaraan itu cukup serius.

Sambil bekerja, terdengar oleh saya sayup-sayup kalimat yang terlontar dari mulut Ibu Manajer. Meski saya sama sekali tidak berniat menguping pembicaraan beliau, jarak meja kami yang berdekatan memungkinkan saya mendengar segalanya, sepelan apapun Ibu Manajer merendahkan volume suaranya.

Dari potongan-potongan kalimat yang terucap, Ibu Manajer dan si penelepon di seberang sana tampak sedang berbicara tentang urusan perceraian. Mungkin si penelepon tersebut sedang punya masalah rumah tangga, lalu minta saran pada Ibu Manajer.

Ibu Manajer saya, di umurnya yang hampir menginjak kepala empat, sama sekali belum pernah menikah. Dan seperti pernah saya ceritakan di waktu dahulu, beliau sama sekali tidak anti, atau menghindari, atau membenci, hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan maupun perceraian. Beliau bersikap begitu wajar, sewajar perawan usia tujuh belas yang belum menikah karena memang belum ketemu jodohnya.

Setelah beberapa saat menyimak ucapan si penelepon di seberang sana, Ibu Manajer dengan enteng merendah:

“Wah, kamu serius mau percaya sama nasehat saya tentang perceraian? wong saya ini kan belum menikah, masa sudah ditanya-tanya soal cerai,..” ujar beliau kemudian tertawa berderai-derai.

Agaknya, si penelepon di seberang sana ngotot minta nasehat Ibu Manajer, hingga akhirnya dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya, beliau berujar dengan kalimat yang kira-kira begini bunyinya:

“Cobalah jangan pikir soal cerai, hanya karena semata-mata kalian dibolehkan bercerai. Coba pikir ikatan kalian itu seperti ikatan saudara, mau ribut kek, mau benci kek, ya harus belajar terima apa adanya, wong gak bisa cerai.”

Demikianlah kalimat pamungkas Ibu Manajer sebelum akhirnya pembicaraan itu selesai. Kalimat naif yang diucapkan oleh seseorang yang belum pernah menikah. Dan saya, setuju seribu persen dengan beliau. Kenapa? Karena saya ngefens sama beliau. Karena saya percaya beliau bijaksana. Karena beliau telah menyebutkan kata kuncinya: belajar terima apa adanya. Terakhir, ya mungkin karena kami sama-sama naif, wong kami sama-sama belum menikah. :-P

January 01, 2010

HUJAN TURUN DI PAGI HARI IBU [1]

Setelah berhari-hari dilanda kering, hujan turun di pagi Hari Ibu, dan seketika bumi jadi basah. Benar-benar persis seperti Ibuku: air pelepas dahaga yang tiada henti-hentinya mengaliri hidupku.

22 Desember 2009

HUJAN TURUN DI PAGI HARI IBU [2]

Hujan turun di pagi Hari Ibu.
Manis dan syahdu.
Seperti cinta Ibuku buat aku.

22 Desember 2009

December 04, 2009

KISAH SEPATU BARU

Ceritanya, saya baru beli sepatu. Sepatunya sih, sepatu biasa. Harganya juga biasa, harga standar sepatu. Modelnya apalagi, sangat biasa. Saya tidak tahu nama apa yang pantas disebut untuk sepatu model begitu, pokoknya bukan sepatu berhak yang punya lekuk-lekuk anggun.



Yang menjadikannya luar biasa adalah, kenyataan bahwa sepatu yang baru saya beli itu hampir-hampir sama persis model dan warnanya dengan sepatu lama saya. Entah bagaimana caranya, sejak lama saya tergila-gila pada model sepatu macam begitu.



Lihatlah betapa busuknya sepatu lama saya di atas. Berbulan-bulan saya ngotot mempertahankannya, mungkin jauh melebihi waktu guna pakainya, sebab belum menemukan lagi model yang serupa dengannya, dan yang senyaman dirinya.

Beberapa kawan kantor tak hentinya terbahak geli melihat loyalitas saya terhadap satu buah model sepatu, apalagi ini bukan kali pertama saya berbuat begitu. Buat saya, itulah model sepatu tercantik di dunia.

Yah, mungkin ini cuma masalah selera, atau memang saya kelewat setia, atau mungkin sepatu model begitu nyamannya kelewatan, atau karena saya ini adalah perempuan yang membosankan. Yang pasti, mau tak mau saya terbahak juga demi melihat betapa miripnya mereka saat benar-benar sudah disandingkan. Hahaha.



Those must be comfortable shoes, I bet you could walk all day in shoes like those and not feel a thing.

(Forrest Gump)

December 03, 2009

MENGHENTIKAN MACET, EH, WAKTU

Tiap kali terjebak macet, aku suka merinding membayangkan detik-detik yang berloncatan ke jalan lalu berlarian secepat kilat meninggalkan pemiliknya, yang hanya bisa duduk pasrah dalam kendaraan yang cuma bergerak barang satu dua inci tiap lima belas menit sekali. Karena ketika iring-iringan kendaraan itu seakan membeku, detik-detik itu tidak berhenti. Ia kabur bersama tabungan waktu yang telah kukais dengan susah payah. Dicurinya waktu untuk kuhabiskan bersama Ibuku. Dicurinya pula waktu istirahatku. Bahkan usiaku.

Kalau sudah begini, aku jadi sering berkhayal aku bisa menghentikan waktu. Hanya itu pilihan yang masuk akal.

Sebab aku sudah lama sadar bahwa macet rupanya mirip kematian. Tak mungkin dihentikan.

Desember 2009