Tiap kali terjebak macet, aku suka merinding membayangkan detik-detik yang berloncatan ke jalan lalu berlarian secepat kilat meninggalkan pemiliknya, yang hanya bisa duduk pasrah dalam kendaraan yang cuma bergerak barang satu dua inci tiap lima belas menit sekali. Karena ketika iring-iringan kendaraan itu seakan membeku, detik-detik itu tidak berhenti. Ia kabur bersama tabungan waktu yang telah kukais dengan susah payah. Dicurinya waktu untuk kuhabiskan bersama Ibuku. Dicurinya pula waktu istirahatku. Bahkan usiaku.
Kalau sudah begini, aku jadi sering berkhayal aku bisa menghentikan waktu. Hanya itu pilihan yang masuk akal.
Sebab aku sudah lama sadar bahwa macet rupanya mirip kematian. Tak mungkin dihentikan.
Desember 2009


0 comments:
Post a Comment