Belakangan ini, saya memperhatikan kecenderungan semua orang di sekeliling saya yang tiba-tiba merasa perlu menjadi pemilik dua buah telepon genggam. Lantas, apakah hal tersebut salah? tentu saja tidak. Saya cuma sedang kepingin membahas tentang kecenderungan mayoritas.
Fenomena ini timbul setelah munculnya teknologi CDMA. Teknologi yang mengubah image percakapan telepon genggam yang tadinya mahal, menjadi tiba-tiba ramah kantung yang bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Tunggu, saya ralat, belum tentu di manapun, karena teknologi ini sinyalnya masih lemah. Seakan sadar dirinya begitu dibutuhkan orang, dia suka ngadat di lokasi-lokasi tertentu. Itulah alasannya mengapa sebagian besar orang masih berat melepaskan telepon genggam GSM, takut kalau-kalau sedang mengunjungi tempat tertentu, sinyal CDMA-nya ngadat dan tidak bisa digunakan, sementara mereka juga butuh teknologi CDMA untuk mengakomodir kebutuhan atas percakapan panjang. Sehingga tidak ada pilihan lain, terpaksa mengorbankan efektivisme melalui kepemilikan dua buah telepon genggam, walaupun sudah ada provider telepon genggam yang menggabungkan teknologi CDMA dan GSM sekaligus dalam satu pesawat telepon, cuma saja harganya mahal dan baru segelintir orang yang menggunakannya.
Bicara soal mayoritas, dalam hal ini saya mendapati diri saya tidak berada di barisan mereka. Diantara teman-teman saya, rasanya cuma saya yang tidak menggunakan telepon genggam CDMA. Agak aneh memang, mengingat saya ini tipikal orang yang hobi mengobrol panjang lebar di telepon. Harusnya, saya jadi orang pertama yang menyambut teknologi murah ini dengan penuh suka cita, tapi kenyataannya, sampai detik ini saya sama sekali belum merasa perlu membeli telepon genggam CDMA.
Mungkin hobi mengobrol saya sudah berkurang, mungkin juga secara tidak sadar saya terpaksa mengundurkan diri, karena dunia saat ini sudah berputar terlalu cepat. Segala jenis informasi dari belahan dunia manapun bisa didapatkan dengan begitu mudah. Perubahan terjadi dalam hitungan detik. Teknologi informasi seakan memaksa kita menjadi manusia yang harus selalu berlari. Contoh yang gampang ditemui dalam kehidupan sehari-hari: betapapun sibuknya seseorang dengan pekerjaan kantornya, dia harus selalu siap bertukar informasi dengan sekelilingnya via Yahoo Messenger, sejauh apapun seseorang bersembunyi dan melarikan diri, siapapun akan selalu bisa menghubunginya via teknologi 3G.
Ya, mungkin alasan sesungguhnya adalah karena saya merasa kedodoran dengan dunia yang serba interconnected. Dan tambahan teknologi CDMA akan membuat saya semakin terengah-engah dalam arus informasi yang begitu derasnya. Rasanya sudah terlalu banyak waktu saya yang didedikasikan untuk entitas di luar diri saya sendiri. Saya bekerja lebih dari sepuluh jam sehari, dan diantara bilangan yang tidak sedikit itu, saya masih harus menjadi budak teknologi yang mau tidak mau membuat isi kepala saya berputar terlalu cepat. Saya sering merasa seperti pemain akrobat yang diwajibkan untuk membagi konsentrasi pada banyak hal sekaligus. Sementara memutuskan kabur lalu mengisolir diri adalah sebuah pilihan yang tidak mungkin.
Betapapun kedodorannya saya dengan semua itu, saya tidak bisa berbalik arah. Tidak mungkin saya mematikan telepon genggam berhari-hari lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal orang lain butuh menghubungi saya, sebagaimana saya tentu saja butuh menghubungi orang lain. Tidak mungkin saya keras kepala menolak membaca Detik.com, karena pasti isi kepala saya bakal kosong tanpa informasi. Tidak mungkin saya kabur dari conference chat via Yahoo Messenger dengan rekan-rekan saya, karena saya butuh informasinya. Tidak mungkin saya membumihanguskan Friendster dan My Space saya begitu saja, karena saya akan kehilangan informasi yang berputar di dalamnya. Tidak mungkin saya berhenti mengakses internet, karena di sanalah pusat segala informasi. Malah sebaliknya, diam-diam saya jadi begitu membutuhkan semua itu, seakan tanpanya hidup saya berhenti berputar.
Istilah yang saya rasa paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah: maju salah mundur salah -alias serba salah. Jadi sekarang, yang bisa saya lakukan adalah mengurangi kecepatan, dan menolak menggunakan telepon genggam CDMA adalah salah satu cara saya untuk tidak berlari. Saya kepingin berjalan sambil bernapas dengan normal, bukannya terengah-engah. Saya tidak ingin terus diburu oleh arus informasi yang tidak berujung, saya kepingin punya waktu untuk diri saya sendiri. Saya sudah cukup ngeri membayangkan si penelepon di ujung sana terus bicara tanpa ada kemungkinan mengucapkan “udah dulu ya, mahal nih!” kalau saya menggunakan telepon genggam CDMA. Soal kebiasaan saya mengobrol lama di telepon, rasanya konteksnya berbeda. Saya cuma bisa bicara panjang lebar dengan orang-orang yang dekat di hati. Apalagi pada prakteknya, saya lebih sering diam daripada bicara. Saya lebih sering mendengarkan, sungguh. Coba saja tanya sahabat-sahabat saya kalau tidak percaya. Lagipula, saya ini orangnya kooperatif. Mungkin saya lebih gampang dihubungi daripada orang yang punya telepon genggam CDMA sekalipun. Jadi rasanya, tidak banyak bedanya untuk orang lain apakah saya ini menggunakan telepon genggam CDMA atau tidak. Coba saja tanya sahabat-sahabat saya kalau tidak percaya.


0 comments:
Post a Comment