Salah satu sahabat saya, sibuknya bukan main-main. Di kantornya, dia diserahi tanggungjawab untuk menyusun kajian ekonomi yang membuat mejanya selalu dipenuhi setumpuk buku ekonomi makro. Setiap saya mampir ke kantornya, layar PC-nya selalu dipenuhi pemandangan statistik ekonomi yang bikin dahi saya berkerut dan perut saya mual, padahal saya kuliah ekonomi juga. Sahabat saya lebih mirip dengan orang yang sedang belajar daripada bekerja -dan tentu kita semua tau bahwa belajar lebih membutuhkan konsentrasi daripada bekerja. Tambahan lagi, dia terobsesi untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah di sebuah universitas di belahan dunia lain, yang sudah cukup lama diincarnya. Jadi, demi obsesinya itu, dia kembali belajar giat hampir setiap malam. Dan sebagaimana layaknya seseorang yang sedang bersiap-siap untuk menuntut ilmu di negeri asing, dia juga mengikuti kursus yang mempelajari bahasa asing tersebut.
Selain itu, sahabat saya ini juga bercita-cita untuk mengajar biola pada suatu hari nanti. Jadi, untuk melengkapi sebagian besar waktunya yang telah dihabiskan untuk belajar, dia juga belajar biola. Belum pernah saya ketemu orang yang begitu sibuk belajar seperti dia.
Dengan kesibukannya yang tidak biasa, maka tidaklah mengherankan jika sahabat saya ini jadi sering lupa soal hal-hal kecil. Mirip dengan tokoh profesor di film-film, yang digambarkan pikun gara-gara kebanyakan melakukan riset di dalam laboratorium. Dia sering lupa membawa buku yang seharusnya dibawanya ke kantor. Dia pernah ketinggalan tas jinjingnya yang berisi laporan hasil seminar di dalam bis kota. Dia sering lupa membalas sms saya. Dan dia sering lupa kalau kita janjian untuk makan siang bersama. Tapi saya sudah sangat maklum. Tentu berat bagi dia membagi satu hari yang cuma 24 jam untuk begitu banyak kepentingan. Pun kalau misalnya dia lupa nama lengkap saya, sungguh saya maklum. Karena saya tau dia sibuk dan lelah.
Kemarin malam, ketika saya sedang asyik tidur-tiduran sambil baca buku, saya dikagetkan oleh sebuah sms. Penasaran, langsung saya sambar ponsel saya yang tergeletak manis di dekat jempol kaki saya. Ternyata, sahabat saya itu yang kirim sms. Saya langsung menduga ada sesuatu yang penting, karena hari sudah hampir tengah malam, dan biasanya sahabat saya itu pasti sudah tidur. Segera saya baca kata-katanya, yang seperti biasa, banyak yang dipersingkat dengan bebas.
“ Ta, gw ada utang y sm lo? yg wkt itu gw lp bayar makan di sunkel waktu lo pd mo nonton festival film, trus wkt arisan di lely mkn mie, trus pas lo ma lina ke kntr gw bli baso itu? ya ampun taaaa gw lupa…ada lg ga y? ingetin dong…wiken ini y gw bayar pas kt ktemuan, k? “
Selesai baca smsnya, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain tertawa terbahak-bahak, sampai lupa keadaan sekitar yang sudah sunyi senyap. Sungguh saya geli bukan main. Entah apa yang merasuki sahabat saya itu sehingga di tengah malam buta dia tiba-tiba teringat rentetan hal yang diklaimnya sebagai utangnya pada saya. Bahwa dia pikun, itu memang saya akui. Tapi soal dia berhutang begitu sering tanpa sengaja pada saya, rasanya dia sedang mengigau. Dan kalaupun memang benar, sungguh saya sudah tidak ingat. Kembali saya terbahak-bahak lagi. Hebat juga sahabat saya itu, bisa teringat sesuatu yang bahkan saya sudah lupa –terlepas dari benar atau salahnya.
Segera saya balas smsnya. Jujur saya bilang padanya bahwa saya sudah tidak ingat, dan langsung saya tampik ‘tuduhannya’ supaya dia tidak merasa bersalah. Akhirnya dia menyerah dan kita berhenti berbalas sms. Mungkin di dalam kamar kosnya nun jauh di sana, dia sudah berhenti mengigau dan melanjutkan kembali tidurnya. Saya senyum-senyum sendiri. Mungkin dia terlalu sibuk belajar seharian itu, sehingga tiba-tiba isi alam bawah sadarnya muncul ke permukaan.
Tapi ketika beberapa jam yang lalu kami bertemu untuk makan bakmie bareng di dekat komplek rumahnya, sahabat saya itu sudah tidak sepasrah kemarin malam. Dia bersikeras membayari bakmie saya dan sahabat saya yang satu lagi. Saya tidak kuasa menolak permintaannya. Akhirnya, saya biarkan saja dia yang membayar. Biarlah, biar dia tidak penasaran lagi. Biar dia tidak perlu terjaga di tengah malam gara-gara teringat hal yang tidak penting. Biar nyenyak tidurnya.


0 comments:
Post a Comment