July 28, 2008

EXTRA ORDINARY WEEKEND

Rencananya, pada akhir pekan kemarin, saya dan para sahabat akan berlibur ke Bandung. Rencana itu sudah tercetus dari jauh-jauh hari. Cukup lama saya menanti saat itu tiba, sampai akhirnya beberapa hari sebelumnya salah satu sahabat saya datang membawa kabar tidak menyenangkan: dia tidak bisa berangkat karena alasan pekerjaan. Kami batal ke Bandung.

Walaupun sedikit kecewa, kami mencoba membuat plan B. Karena kemungkinan pergi berlibur sambil menginap sudah tidak mungkin dilaksanakan, kami sepakat untuk jalan-jalan seharian ke Bogor pada hari minggunya. Menurut saya, ide itu juga tidak kalah menarik. Terbayang di kepala saya kami bertiga keliling Bogor sambil wisata kuliner, dan tentu saja, sambil foto-foto. Lagi-lagi, saya tak sabar menanti.

Tapi rupanya, pergi berlibur bertiga belum menjadi rejeki kami bulan ini. Hari jumat malam sahabat saya yang satu lagi mengirim kabar. Dia tidak bisa berangkat ke Bogor. Kali ini karena alasan pendidikan.

Sahabat saya yang satu itu memang sedang dalam proses mengurus beasiswa sekolah. Sudah setahun ini dia mengikuti serangkaian tes dan wawancara yang tidak habis-habisnya. Dia bilang dia baru saja menerima berita mendadak, bahwa tes yang selanjutnya akan diadakan hari selasa. Jadi, tidak mungkin dia pergi berlibur. Dia harus menggunakan waktu akhir pekannya untuk mempersiapkan diri menghadapi tes. Kami batal ke Bogor.

Jumat malam menjelang tidur, saya uring-uringan sendirian. Besoknya dua hari saya libur, dan saya tidak punya rencana cadangan untuk pergi kemana pun. Ngomong-ngomong, haruskah saya begitu sibuk memikirkan kemana saya akan menghabiskan akhir pekan? tidak harus. Tidak sama sekali. Dan biasanya pun, saya tidak begitu. Jika tidak punya acara, saya lebih senang menghabiskan seharian di rumah. Tapi kali ini, saya ingin sekali pergi berlibur entah kemana. Bukan ke mal, atau sekedar merumpi di rumah teman. Saya sedang bosan. Saya ingin liburan yang berbeda.

Tiba-tiba, saya teringat sebuah acara yang kemarin saya baca di papan pengumuman Friendster. Salah seorang teman saya semasa SMU yang mempublikasikan acara itu. Sejujurnya, saya tidak begitu mengenal teman saya itu. Tapi saya tahu pasti dia satu almamater dengan saya. Kemarin saya sempat berkirim email dengannya, dan bertanya-tanya mengenai acaranya. Walaupun saya yakin bahwa saya akan pergi berlibur ke Bogor, diam-diam saya tertarik pada acara itu.

Acara itu digelar oleh komunitas relawan buku dan taman bacaan anak 1001buku. Saya sudah sering mendengar tentang organisasi itu, tapi mengenai bentuk acara yang akan mereka gelar, saya tidak punya gambaran sama sekali. Yang saya tahu, pada hari minggu besoknya mereka akan mengadakan acara yang bertajuk Olimpiade Taman Bacaan Anak 2008 dan membutuhkan relawan untuk membantu mengurusi anak-anak. Teman SMU saya yang bernama Lala itu kemarin berkata lewat email, dia pernah menjadi relawan dan kegiatannya sangat menyenangkan. Dia juga berkata, bahwa dia akan mendaftar lagi jadi relawan pada acara besok.

Akhirnya, saya ceritakan semuanya pada adik saya yang perempuan. Sambil berharap-harap dia akan tertarik, lalu mau pergi bersama saya untuk mendaftar jadi relawan dan menghadiri technical meeting yang saya ingat akan diadakan besok hari sabtu jam 2 siang.

Ketika saya sedang seru-serunya bercerita, tiba-tiba adik saya menyela dengan pertanyaan. Dia bertanya siapa nama lengkap teman SMU saya itu. Saya katakan padanya bahwa nama lengkapnya adalah Kemala. Turut pula saya sertakan informasi, bahwa dia dulunya kuliah di FIB UI.

Sekonyong-konyong adik saya tertawa keras. Dia bilang saya pikun. Dia bilang Lala itu sebenarnya bukan teman seangkatan saya. Memang benar kami satu SMU, tapi sebenarnya dia adalah teman sekelas adik saya -dari mulai SD sampai SMU, saya dan adik saya bersekolah di tempat yang sama. Akhirnya saya ikut tertawa. Lebih karena lega daripada malu. Karena apabila seorang kawan yang bernama Lala itu ternyata adalah temannya, tentu kemungkinan besar adik saya akan bersedia bergabung.

Tapi ternyata, lagi-lagi saya harus kembali kecewa. Adik saya berkata bahwa besok dia sudah punya acara. Maka, kalau saya mau mendaftar jadi relawan, saya harus pergi sendiri, baru mungkin bertemu Lala di tempat acara. Jadilah saya berangkat tidur dengan bimbang.

Besoknya hari sabtu, saya bangun tidur pagi-pagi, padahal biasanya saya selalu bangun siang kalau hari libur. Saya masih bimbang, belum bisa menentukan apakah akan berangkat mendaftar jadi relawan siang nanti. Saya lalu mencoba menghabiskan pagi hari saya mendengarkan beberapa file lagu baru. Tapi rupanya, ketika file-file itu telah selesai saya eksekusi, waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, dan saya masih belum tahu harus pergi kemana untuk memuaskan hasrat saya akan akhir pekan yang tidak biasa. Akhirnya, tekad saya bulat. Saya memutuskan mandi dan bersiap-siap untuk berangkat mendaftar jadi relawan siang nanti. Apapun yang bakal terjadi, saya tidak perduli.

Sampai di tempat pendaftaran, saya sama sekali tidak menemukan Lala, yang ada hanya wajah-wajah yang sama sekali tidak saya kenal. Sebelumnya saya memang sudah menduga, bahwa acara ini pasti akan didominasi oleh komunitas mahasiswa UI. Tapi rupanya dugaan saya salah. Acara itu tidak sekedar didominasi oleh mahasiswa UI. SEMUA ORANG YANG BERADA DI TEMPAT ITU ADALAH MAHASISWA UI. Tahulah saya bahwa Tuhan rupanya telah mendengar doa saya. Akhir pekan saya akan berjalan lebih tidak biasa dari yang saya harapkan.

Saya cuma bisa duduk diam mendapati kenyataan bahwa semua orang di sekeliling saya telah saling mengenal. Tadinya saya pikir akan ada setidaknya beberapa orang yang merasa asing satu sama lain, sehingga saya tidak perlu merasa asing sendirian. Tapi saya sudah terlanjur berada di sini. Tidak mungkin saya berbalik pulang. Lagipula, saya sudah mendapatkan keinginan saya: akhir pekan yang tidak biasa. Saya harus mengakhirinya sampai tuntas.

Tapi akhirnya, semuanya tidak seburuk yang saya bayangkan. Saya dengar beberapa orang di sekitar saya bukan mahasiswa UI. Dan setelah beberapa menit menyesuaikan diri dengan pemandangan sekeliling, di komunitas UI itu saya bisa melihat beberapa wajah yang saya kenali sebagai adik kelas atau senior saya di SMU. Bahwa saya cuma sebatas kenal wajah dengan mereka, malah membuat saya lega. Saya tidak perlu repot-repot berbasa-basi dengan mereka. Cukup keberadaan mereka membuat saya tenang bahwa saya tidak benar-benar asing.

Saya mulai merasa nyaman mendengarkan arahan panitia di depan yang menjelaskan tentang apa yang harus kami lakukan besok hari minggu. Kami para relawan sudah terbagi-bagi ke dalam kelompok. Saya berada di kelompok yang bertugas mengurusi lomba. Tugas saya adalah membacakan pertanyaan kuis untuk para peserta lomba.

Di kejauhan, saya lihat Lala baru saja datang, rupanya teman saya itu terlambat. Dia langsung bergabung ke dalam kelompok di seberang sana. Rupanya dia kebagian mengurusi taman bacaan anak. Dia tidak melihat saya. Jadi kami tidak langsung bertegur sapa.

Ketika saya sedang duduk manis mendengarkan pengarahan, perempuan di sebelah saya tersenyum sambil menawarkan tangan tanda perkenalan. Jujur saja, walaupun saya datang sendirian, saya sama sekali tidak berencana untuk mendapatkan teman baru. Niat saya datang kesini untuk mendapatkan akhir pekan yang tidak biasa, mendaftar jadi relawan, bermain dengan anak-anak, bergembira dengan anak-anak, lalu pulang. Saya merasa tidak punya urusan dengan para mahasiswa UI ini.

Tapi perempuan di samping saya itu bukan main sopannya, sehingga akhirnya saya tidak berdaya. Kami pun berkenalan. Ternyata dia mahasiswa FIB angkatan 2007. Namanya Arien. Saya lalu dikenalkannya pula pada beberapa temannya yang lain. Kebanyakan dari jurusan Ilmu Perpustakaan, dan mereka semua masih muda. Selain orang asing, rupanya saya tergolong yang paling tua di sini. Benar-benar akhir pekan yang tidak biasa, saya terkikik dalam hati.

Akhirnya, akhir pekan saya itu memang berlangsung menakjubkan. Sampai hari minggunya, seharian saya bersenang-senang mengurusi lomba anak-anak bersama teman-teman baru saya para mahasiswa yang masih muda-muda itu. Kami tidak habis-habisnya tertawa-tawa dan berfoto-foto. Sebelum berpisah kami tidak lupa bertukar email dan nomor telepon sambil berjanji untuk mengadakan pertemuan lagi.

Malam harinya, ketika akhirnya saya berhasil berbaring di tempat tidur, dengan badan pegal akibat kelelahan, saya merasa seperti tertimpa surga. Rasanya bahagia sekali. Saya berhasil mendapatkan akhir pekan yang menakjubkan. Semoga anak-anak yang mengikuti lomba hari itu, bahagia pula seperti saya. Amin.

PS. Terima kasih Lala, wouldn’t make it without you :)

0 comments:

Post a Comment