June 03, 2009

LESSON FROM MISTAKES

Hari ini saya mendapat pelajaran berharga sekali. Tentang menyikapi perbedaan pendapat. Tentang memahami orang lain dari posisi dia berada. Tentang pertemanan. Dan tentang maaf.

Bermula dari kasus yang terjadi antara Ibu Prita dan RS. Omni yang ramai diberitakan media, dan mengundang banyak simpati. Jadilah saya ikut merasa terpanggil rasa kepeduliannya, karena sebagai seorang blogger, saya merasa perlu benar ada kejelasan dan keadilan soal bagaimana kebebasan berpendapat dilindungi dalam undang-undang. Dan sebagai seorang awam penyakitan yang sering merasakan menginap di rumah sakit, saya tahu benar bagaimana rasanya merasa kecil dan tak berdaya di hadapan dokter rumah sakit yang kebanyakan angkuh.

Menurut hemat saya, pangkal kasus ini terjadi akibat kecenderungan sebagian besar dokter dan rumah sakit yang arogan, ditambah lagi dengan ketidakmengertian pasien, dan sikap mereka yang pasif. Waktu tadi pagi artikel di sebuah surat kabar mengurai hal yang sama dengan analisa saya, giranglah saya. Lantas saya kutiplah isi artikelnya yang menyebutkan tentang lima hak pasien, saya cantumkan di halaman status yang disediakan oleh situs Facebook.

Harapan saya, bukan cuma para dokter yang berintrospeksi, dengan berbekal sepotong info mengenai hak-haknya, para pasien diharapkan bisa keluar dari lembah ketidakmengertian dan bisa berubah jadi lebih aktif. Mereka biar bisa punya bargaining power untuk mereduksi kearoganan institusi kedokteran.

Nah, salah satu teman baik saya, kebetulan adalah karyawan RS. Omni. Awalnya dia netral saja terhadap kasus ini, paling-paling cuma khawatir imbas buruknya berpengaruh ke karyawan yang tak berdosa seperti dirinya. Tanpa saya duga, siang tadi, waktu saya mencantumkan status itu, dia protes lewat sms. Dia bilang dia tidak senang membaca status saya karena dianggapnya memojokkan rumah sakit tempatnya bekerja.

Terus terang, saya langsung kesal membaca kalimatnya. Padahal jelas-jelas isinya cuma menyebutkan lima hak pasien yang sama sekali tidak menyebutkan nama institusi manapun. Dengan emosi, saya balas smsnya. Isinya, ya kurang lebih mengungkapkan kekesalan saya padanya. Walaupun perasaan saya rada tidak tega karena dia teman baik saya sendiri, saya sudah tidak bisa mengendalikan diri. Kalimat saya cukup emosional.

Setelah berjam-jam, sms saya tak dibalasnya. Terus terang, saya jadi menunggu-nunggu. Penasaran mau tahu apa balasnya, karena teman baik saya ini kebetulan adalah seorang yang reaksioner. Tak disangka tak dinyana, ketika akhirnya balasan sms itu tiba juga, isinya jauh sekali dari dugaan saya. Kalimat pertama dibukanya dengan ucapan maaf, lalu dia mengakui, dia tidak seharusnya menuduh saya. Dia bilang, dia jadi defensif karena khawatir terjadi hal-hal buruk terhadap kantornya, yang jelas berpengaruh terhadap masa depannya. Lantas dia menjelaskan, sulit baginya bersikap netral, tapi pada akhirnya dia sadar dan mencoba menilai semuanya secara proporsional. Terakhir, dia bilang dia tidak mau kehilangan teman baik cuma gara-gara perdebatan sepele.

Duh, hati siapa yang tega kalau sudah membaca kalimat seperti itu. Apalagi, saya sendiri jelas punya salah. Saya tadi terlalu emosi dalam membalas smsnya. Harusnya saya bisa membalas smsnya dengan cara yang lebih anggun dan menyejukkan. Andai tadi saya mau sebentar saja membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi sulit seperti dia, tentu tidak akan begini jadinya. Langsung saya balas smsnya dengan berondongan kata maaf yang tak kalah panjangnya. Sambil dengan mata berkaca-kaca.

Baru saya sadari, ini semua konyol sekali, kami nyaris kehilangan satu sama lain cuma gara-gara perdebatan sepele. Lagipula, bukan begini cara berdebat yang baik dan benar. Kalau salah satu dari kami sudah mulai emosi, harusnya kan salah satunya mencoba mendinginkan, bukan malah membalas dengan statement yang memprovokasi.

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, di balik sikapnya yang kadang reaksioner, kawan baik saya itu punya kualitas unggul yang tidak saya miliki. Dia berani berbesar hati meminta maaf terlebih dulu. Taruhan, andaikata tadi dia tidak meminta maaf duluan, mungkin kami masih akan terus menyimpan kesal sampai entah kapan.

Berbekal kejadian hari ini, saya berjanji pada diri sendiri, untuk jangan pernah lagi bertindak menuruti emosi. Belajar melihat segala sesuatu dengan bijaksana. Dan, belajar untuk mau meminta maaf. Duh, betapa maaf itu manis rasanya, obat mujarab untuk segala persoalan.

PS. Lima hak pasien, yaitu mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat dokter atau dokter lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis, dan mendapatkan isi rekam medis

0 comments:

Post a Comment