August 06, 2009

MENGHITUNG HARI [2]

Waktu malam itu saya dan sahabat saya duduk berdua saja sambil mengobrol di dapur rumahnya, hitungan kalender tinggal menyisakan waktu satu minggu saja sebelum keberangkatannya ke New York.

Di hadapan kami, teronggok kantung-kantung belanja berisi obat dan segala macam keperluannya untuk bulan-bulan pertama. Di kamarnya terhampar juga koper besar yang isinya belum selesai dibenahi. Dan sahabat saya masih juga berceloteh dengan nada yang biasa-biasa saja, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa, seolah dia tidak hendak pergi kemana-mana, dan tumpukan barang-barang itu cuma belanjaan biasa.

Tapi saya, sungguh saya tidak bisa. Pikiran saya sudah tidak berada di dapur rumahnya, melainkan jauh mengembara pada hal-hal sentimentil yang saya pikirkan sendiri. Walaupun sahabat saya telah merevisi rencana kepergiannya jadi tinggal dua tahun saja, tetap tidak ada gunanya buat saya. Apalah bedanya dua tahun dan dua setengah tahun? Saya tak bisa berhenti memikirkan semua itu.

Akhirnya, jam sepuluh malam saya pamit pulang dengan hati berat, sebab tahu bahwa itulah terakhir kalinya saya bisa mengobrol santai di dapur rumahnya, untuk dua tahun ke depan. Juga sambil menyesal, sebab sama sekali tidak saya nikmati acara terakhir tadi, malah dengan bodohnya saya melamunkan kepergiannya, padahal saya bakalan punya tujuh ratus tiga puluh hari untuk melakukan itu.

0 comments:

Post a Comment