(untuk RK)
Duhai perpisahan,
Sejujurnya aku tiada sedikit pun terkejut ketika kutemui kau di penghujung petang, menyeruak datang, lantas menghamburkan duka. Sebab dulu sempat kupergoki wajahmu menyelinap dalam perjumpaan, diam-diam menyetorkan waktu pada semesta. Dan sejak saat itu, hidup bagai menghitung mundur sampai tiba saatnya kau jemput kembali tiap-tiap yang pernah berjumpa.
Duhai perpisahan,
Aku tak hendak main kucing-kucingan. Aku pasrah pada kodrat bahwa kau mesti hadir sebagai penutup segala perjumpaan. Sebab tanpa campur tanganmu dalam adonan hukum alam, kue bernama perjumpaan takkan pernah matang dari loyang semesta.
Duhai perpisahan,
Selayaknya pelawak yang telah menandatangani kontrak, aku tahu mangkuk yang menampung perjumpaan itu sudah waktunya retak. Dia lalu mesti pecah, lantas dibiarkan tumpah. Tak apa, aku bisa mengerti. Sejatinya perjumpaan memang cuma datang bertandang, selebihnya dia harus kau bawa pulang.
Agustus 2009


0 comments:
Post a Comment