October 12, 2009

MAGIC INSIDE HIS VOICE

Beberapa waktu lalu, Bapak Ibu saya pulang kampung alias mudik. Tinggalah saya dan adik-adik dipercayakan menjaga rumah. Namun pada prakteknya, saya lebih sering berada sendirian di rumah ketimbang bertiga. Sebab adik saya yang perempuan sering bolak-balik ke luar kota, sementara adik saya yang laki-laki, sudah sejak lama punya jadwal menginap di tempat kos kawannya — maklum, dia punya kebiasaan terlambat kuliah yang cukup menimbulkan masalah.

Pada suatu malam di mana saya harus tidur sendirian di rumah, komplek perumahan saya terkena giliran pemadaman listrik. Sayangnya saya terlambat mengetahuinya. Kalau saja saya sudah mengetahuinya sejak sore, tentulah saya akan tinggal dulu di kantor, atau menghabiskan waktu kemana saja supaya tidak perlu tinggal sendirian di rumah.

Waktu malam itu saya turun dari bis kota, suasana sudah gelap gulita. Hujan pula. Sempat terpikir oleh saya untuk mampir saja ke rumah sahabat saya yang masih berada satu area. Tapi saya pikir-pikir lagi, tentu merepotkan kalau saya bertamu di saat mati lampu. Akhirnya, saya teguhkan hati untuk langsung pulang.

Sampai di depan pintu, terus terang tekad saya agak goyah demi membayangkan di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Saya takut. Tapi, yah, biar bagaimanapun keadaannya, lebih aman ya berada di dalam rumah sendiri, pikir saya. Dalam kegelapan, saya meraba-raba lilin di lemari dapur. Di saat kebingungan kemana hendak mencari api untuk menyalakan lilin, terdengarlah dari kejauhan suara tukang sate yang biasa lewat di depan rumah. Langsung saya hadang gerobak satenya, minta dinyalakan lilin, sekaligus memesan satu porsi untuk makan malam. Sambil berusaha tabah saya nikmati sepiring sate tersebut di tengah cahaya lilin. Terdengar sungguh mengenaskan, tapi memang begitulah kenyataannya malam itu: saya ketakutan.

Lantas, daripada meringkuk sendirian di tengah kegelapan, saya putuskan untuk mengobrol saja dengan Bapak atau Ibu saya di telepon. Biasanya, kalau sudah mendengar suara Bapak saya yang tenang itu, keadaan seberat apapun jadi terasa ringan.

Benar saja, demi mendengar suara beliau nun jauh di seberang sana, saya langsung merasa tenang. Suara itu sanggup mengubah suasana hati jadi jauh lebih baik. Bahkan belum sampai sepuluh menit kami mengobrol, tiba-tiba lampu menyala. Ajaib.

Dan sejak saat itu saya percaya, bahwa mungkin, memang ada semacam keajaiban di balik suaranya.

0 comments:

Post a Comment