Saya bukan penggemar berat film. Bukan jenis orang yang saban akhir pekan rajin mengunjungi bioskop, lantas getol berburu DVD apabila tak sempat nonton di bioskop. Tapi setiap kali mengunjungi penjual DVD bajakan yang banyak tersebar di mal maupun di pinggir-pinggir jalan, selalu saya dibuat takjub oleh mereka.
Para penjual DVD selalu tampak begitu menguasai pekerjaannya. Apapun yang saya minta, judul apapun yang saya sebutkan, selalu direspon dalam waktu yang sedemikian singkatnya. Sebut saja misalnya, saya minta dicarikan film My Life Without Me yang diproduksi sekitar enam tahun yang lalu, si penjual DVD akan dengan sigap meraih tumpukan film yang diawali dengan abjad ’M’ kemudian secepat kilat menarik film tersebut keluar dari bagian belakang tumpukan.
Ajaib, hampir-hampir seperti sulap. Bagaimana penjual DVD tersebut tahu dengan pasti bahwa diantara sekian puluh film yang diawali dengan huruf ‘M’, film yang saya maksud berada di tumpukan bagian belakang? mungkin dia menghafalnya, mungkin pula ada klasifikasi tingkat kedua yang didasarkan pada tahun keluaran film, atau berdasarkan huruf kedua, semisal: M-A, M-B, dan seterusnya. Hanya penjual DVD yang tahu rahasianya. Yang pasti, ada hal baik yang bisa saya petik dari sana. Betapa penjual DVD bajakan sangat menguasai pekerjaannya. Ada rencana matang yang disusun sebelum dagangan itu siap digelar, ada pengklasifikasian yang memudahkan, ada kesigapan yang efektif dan efisien, padahal segala sesuatunya dilakukan secara manual.
Saya tidak hendak menganjurkan anda untuk berhenti belanja DVD original lalu beralih pada yang bajakan. Saya pun tidak lantas pro terhadap pembajakan. Namun mari sejenak kita renungkan, jika profesi yang tergolong dalam ranah ilegal itu sedemikian sanggup mengusung efektifitas, dan sedemikian berdedikasi untuk memuaskan hati pelanggan, bagaimana dengan kita yang mungkin berprofesi jauh lebih baik daripada hanya sekedar penjual DVD bajakan. Bagaimana dengan saya, karyawan swasta di perusahaan jasa yang ternyata orientasi utamanya tiba di kantor lebih awal adalah untuk main farmville? Bagaimana dengan anda, pegawai puskesmas yang butuh waktu lebih dari setengah jam hanya untuk mengukur tekanan darah pasien? Bagaimana dengan Jasa Marga, yang menciptakan jalan bebas hambatan justru untuk membunuh pelan-pelan pengguna jalan dalam kemacetan?
Sebab itu, kalau anda sedang berjalan-jalan di sekitar kolong jembatan Benhil, misalnya, cobalah tengok sebentar sekumpulan penjual DVD bajakan yang mangkal di sana, tak perlu belanja kalau anda tak hendak membeli produk bajakan, perhatikan saja baik-baik ritme kerja mereka yang begitu efektif, dengan senyum dan semangat untuk memuaskan pelanggan. Berkacalah sejenak dari mereka. Terdengar konyol dan ironis, mungkin. Tapi demikianlah adanya.


0 comments:
Post a Comment