April 06, 2010

UGORAN PRASAD DAN MELANCHOLIC BITCH

Sensasi awalnya persis seperti ketika saya berkenalan dengan Zeke and the Popo: nama Melancholic Bitch luntang-lantung di hadapan saya sejak setahun terakhir, namun tak sekali pun membangkitkan rasa penasaran. Sampai akhirnya, saya mendengarkan album Starlit Carousel milik Frau -Regina Spektor dari Jogja- yang berduet dengan seorang laki-laki di lagu Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Suara laki-laki tersebut entah bagaimana caranya berhasil menggerakan mata saya untuk sejenak melirik namanya. Dialah sang vokalis Melancholic Bitch. Ugoran Prasad.



Mendapati nama Ugoran Prasad, kalau saya diizinkan untuk sedikit berlebihan, rasanya seperti menemukan kawan lama. Ialah penulis yang beberapa tahun silam sempat membuat saya bersungut sekaligus takjub dengan karyanya. Di Etalase, adalah novel debutannya yang waktu itu asal saja saya beli sebab tertarik dengan sampul depannya. Novel yang membuat saya mengumpatnya sebagai gila, dalam artian yang lebih cocok disebut pujian, karena isinya yang kelewat rumit.



Lalu di tahun 2005, Ugoran Prasad membuat kejutan dengan memenangkan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas lewat cerpennya yang berjudul Ripin. Cerpen sederhana tapi realistis dan bermakna dalam yang membuat saya takjub sebab ia berasal dari rahim yang sama dengan rahim yang telah melahirkan Di Etalase. Sejak saat itu, Ugoran Prasad tersimpan dengan indah di bagian belakang kepala saya. Lalu pelan-pelan dia redup tergerus berbagai macam informasi baru yang menerjang saya.



Sampai akhirnya, di awal tahun 2010, saya menemukannya kembali dalam Melancholic Bitch. Dan saya tenggelam dalam nostalgia yang dipenuhi banyak kejutan: Melancholic Bitch ternyata telah malang melintang di scene indie Jogja, jauh sebelum saya mengenal tulisan Ugoran Prasad. Saya juga menemukan sejumlah cerpen baru Ugoran Prasad yang bertebaran di dunia maya. Masih berbau-bau Melayu. Masih tentang orang-orang kampung. Masih dengan gaya khas yang sama.

Semuanya jadi makin menyenangkan, ketika Melancholic Bitch di mata saya pelan-pelan bukan lagi hanya tentang Ugoran Prasad. Saya cinta musiknya. Adalah Tentang Cinta, yang membuat saya pertama kali jatuh hati. Disusul oleh Mars Penyembah Berhala, yang menghadirkan sensasi seperti Koil, namun dengan dosis yang lebih manis. Terakhir, hati saya mentok di lagu Distopia, di mana Ugoran Prasad berduet dengan pesinden Silir Pujiwati. Di telinga saya, kalau saya masih diizinkan untuk bersikap berlebihan, lagu itu ibarat Zero 7 yang dikawinkan dengan Waljinah.



Demikianlah, Ugoran Prasad yang menulis sama indahnya dengan Ugoran Prasad yang bermusik.

2 comments:

nonabdinegara said...

Minggu besok bawain ye cerpen-cerpennya :D

ratna said...

Banyak sih cerpennya yang beredar online, tar dah gw bagi link-nya :D

Post a Comment