Siang itu dia berkisah, lagi-lagi tentang kabar gembira. Di sela-sela kesibukannya dengan proyek bermusik, dia menyeberang karir ke arah yang sama sekali tidak pernah saya duga. Arah yang sederhana, tapi mulia. Salah satu arah yang pernah juga jadi impian saya. Dan dia berhasil sampai di sana.
Dengan segala cinta saya padanya yang telah berevolusi ke dalam bentuk yang berbeda, saya begitu bangga padanya. Persis seperti seorang Ibu yang bangga pada prestasi anaknya. Saya gembira untuknya. Sungguh.
Oktober 2008
October 16, 2008
October 15, 2008
WHAT A WONDERFUL WORLD
Malam itu, pukul dua, saya terbangun tiba-tiba. Padahal saya tidak bermimpi buruk, tidak sedang banyak pikiran, atau yang semacamnya. Pokoknya, saya baik-baik saja.
Daripada cuma melamun di tempat tidur, saya putuskan keluar dari kamar, lalu turun ke bawah. Iseng-iseng, saya cek pintu dan jendela, semuanya terkunci rapat. Aman. Masih dalam rangka iseng-iseng, saya tengok satu-satu kamar penghuni rumah, semuanya tidur nyenyak. Bagus.
Tapi, saya tetap belum mau tidur. Akhirnya, saya bergegas masuk dapur dan mulai mencari-cari kudapan. Selera saya langsung terbit melihat bungkus sup ayam instan. Tidak sampai lima menit, jadilah sup kental yang mengepul panas di dalam mangkuk saya. Kembali saya masuk kamar, dan menikmatinya sambil membaca buku. Sedap.
Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan sup ayam yang telah habis, mata saya langsung mengantuk karena kekenyangan. Perasaan saya pun jadi bertambah baik karenanya. Aman. Nyaman. Bahagia. Dan tertidurlah saya dengan pulas sampai pagi menjemput.
Jadi, kadang-kadang, keindahan hadir dengan cara yang terlalu sederhana. Tinggal bagaimana kita mampu merasainya atau tidak. Bayangkan, tengah malam menikmati sup hangat sambil membaca buku. Kegiatan yang biasa-biasa saja yang mungkin sekali luput untuk dihargai. Tapi untunglah, malam itu, keindahan bersedia memberikan isyarat kehadirannya dengan jelas pada saya.
Daripada cuma melamun di tempat tidur, saya putuskan keluar dari kamar, lalu turun ke bawah. Iseng-iseng, saya cek pintu dan jendela, semuanya terkunci rapat. Aman. Masih dalam rangka iseng-iseng, saya tengok satu-satu kamar penghuni rumah, semuanya tidur nyenyak. Bagus.
Tapi, saya tetap belum mau tidur. Akhirnya, saya bergegas masuk dapur dan mulai mencari-cari kudapan. Selera saya langsung terbit melihat bungkus sup ayam instan. Tidak sampai lima menit, jadilah sup kental yang mengepul panas di dalam mangkuk saya. Kembali saya masuk kamar, dan menikmatinya sambil membaca buku. Sedap.
Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan sup ayam yang telah habis, mata saya langsung mengantuk karena kekenyangan. Perasaan saya pun jadi bertambah baik karenanya. Aman. Nyaman. Bahagia. Dan tertidurlah saya dengan pulas sampai pagi menjemput.
Jadi, kadang-kadang, keindahan hadir dengan cara yang terlalu sederhana. Tinggal bagaimana kita mampu merasainya atau tidak. Bayangkan, tengah malam menikmati sup hangat sambil membaca buku. Kegiatan yang biasa-biasa saja yang mungkin sekali luput untuk dihargai. Tapi untunglah, malam itu, keindahan bersedia memberikan isyarat kehadirannya dengan jelas pada saya.
Labels:
an unquiet mind
October 10, 2008
HAPPY BIRTHDAY, MOM!
Ibu saya tercinta, adalah Ibu yang begitu lembut hatinya. Terhadap kami anak-anaknya, beliau tidak pernah bisa benar-benar marah. Sedikit saja kami merayunya, beliau sudah langsung luluh dan menyerah.
Ibu saya tercinta, adalah Ibu yang tidak pernah menuntut apa-apa. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk jadi juara umum di sekolah. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikah di usia 25. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikahi laki-laki A, atau laki-laki B, atau laki-laki C. Beliau tidak pernah menuntut banyak tentang hal-hal yang bersifat duniawi.
Hanya satu keinginan beliau: melihat saya berjilbab. Keinginan yang tidak pernah dipaksakannya, namun saya tahu benar betapa beliau mengharapkannya.
Hari ini, pada hari ulang tahunnya, diantara segenap doa untuk beliau, saya juga meminta pada Tuhan: semoga suatu hari nanti, entah kapan, saya bisa mewujudkan keinginan beliau. Amin.
Ibu saya tercinta, adalah Ibu yang tidak pernah menuntut apa-apa. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk jadi juara umum di sekolah. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikah di usia 25. Beliau tidak pernah mewajibkan saya untuk menikahi laki-laki A, atau laki-laki B, atau laki-laki C. Beliau tidak pernah menuntut banyak tentang hal-hal yang bersifat duniawi.
Hanya satu keinginan beliau: melihat saya berjilbab. Keinginan yang tidak pernah dipaksakannya, namun saya tahu benar betapa beliau mengharapkannya.
Hari ini, pada hari ulang tahunnya, diantara segenap doa untuk beliau, saya juga meminta pada Tuhan: semoga suatu hari nanti, entah kapan, saya bisa mewujudkan keinginan beliau. Amin.
Labels:
an unquiet mind
September 24, 2008
MUDIK LEBARAN
Kurang dari satu minggu, kita akan sampai di penghujung bulan ramadhan. Seperti tahun-tahun yang lalu, ada sedih yang terasa menjelang berakhirnya ramadhan, sekaligus juga gembira menyambut lebaran, dengan segenap esensi dan tradisi yang menyertainya.
Salah satu tradisi lebaran, apalagi kalau bukan mudik lebaran. Fenomena yang sedari kecil begitu saya minati, namun sayangnya belum pernah saya alami. Nenek saya, dan hampir semua anggota keluarga besar saya tinggal di Jakarta. Keluarga saya yang tinggal di luar kota yang malah mudik ke Jakarta untuk merayakan lebaran di rumah nenek. Sehingga akhirnya, belum pernah saya merayakan lebaran di manapun selain di Jakarta.
Atas nama keinginan mudik lebaran yang belum pernah kesampaian itu, saya selalu penuh perhatian menyaksikan kesibukan orang-orang di sekeliling tiap kali mereka mulai bersiap-siap mudik. Hampir semua kawan saya sibuk membahas persiapan mudik mereka ke tempat tujuan masing-masing. Sementara dua sahabat saya, yang satu mudik ke Purwekerto, yang satunya lagi mudik ke Sukabumi. Setiap musim lebaran, mereka berdua bukan lagi milik saya, melainkan milik kampung halamannya masing-masing.
Selalu juga saya perhatikan bagaimana kompleks perumahan yang saya tinggali berangsur-angsur sepi menjelang lebaran. Yang biasanya mudik jauh-jauh hari adalah tetangga saya sebelah kiri. Sebelum berangkat mereka selalu pamit dan menitipkan rumah pada kami. Pada saat itulah biasanya saya akan menatap penuh minat pada tumpukan koper yang satu-persatu mereka masukkan ke dalam bagasi mobil. Membayangkan saya yang jadi mereka. Packing. Preparing. Travelling. Mudik lebaran. Oh, betapa menyenangkannya!
Berita di televisi tentang mudik lebaran pun tak pernah luput dari perhatian saya. Itu malah bagian yang paling menarik. Menyaksikan bagaimana mayoritas penduduk Jabodetabek berbondong-bondong memenuhi terminal-terminal dan stasiun kereta, atau beriringan menggunakan sepeda motor, lalu mulai memacetkan jalur pantura, adalah pemandangan yang menakjubkan. Andaikan saya jadi salah satu dari mereka yang mudik menggunakan kereta api lalu berdesakkan di dalamnya sambil membawa kardus, saya akan jadi pemudik yang sangat berbahagia. Karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa jadi bagian dari semua itu. Betapa saya bosan cuma jadi penonton. Apalagi menikmati suasana lebaran di kampung halaman yang tentunya jauh berbeda dari suasana lebaran di Jakarta. Ah, andaikan saya bisa ikut merasakan mudik lebaran!
Tapi, saya juga sadar, sekedar mudik bukanlah esensinya. Inti di balik semua itu adalah berkumpul bersama keluarga. Berada di rumah. Sedangkan rumah saya di mana lagi kalau bukan di rumah nenek di Jakarta. Tempat segalanya berawal. Tempat saya menghabiskan masa kecil. Tempat keluarga saya berkumpul untuk merayakan lebaran. Ya, memang di sanalah saya seharusnya selalu berada.
PS. Selamat mudik buat yang mudik. Jangan banyak mengeluh kalau macet. You just don’t know how lucky you are! :-D
Salah satu tradisi lebaran, apalagi kalau bukan mudik lebaran. Fenomena yang sedari kecil begitu saya minati, namun sayangnya belum pernah saya alami. Nenek saya, dan hampir semua anggota keluarga besar saya tinggal di Jakarta. Keluarga saya yang tinggal di luar kota yang malah mudik ke Jakarta untuk merayakan lebaran di rumah nenek. Sehingga akhirnya, belum pernah saya merayakan lebaran di manapun selain di Jakarta.
Atas nama keinginan mudik lebaran yang belum pernah kesampaian itu, saya selalu penuh perhatian menyaksikan kesibukan orang-orang di sekeliling tiap kali mereka mulai bersiap-siap mudik. Hampir semua kawan saya sibuk membahas persiapan mudik mereka ke tempat tujuan masing-masing. Sementara dua sahabat saya, yang satu mudik ke Purwekerto, yang satunya lagi mudik ke Sukabumi. Setiap musim lebaran, mereka berdua bukan lagi milik saya, melainkan milik kampung halamannya masing-masing.
Selalu juga saya perhatikan bagaimana kompleks perumahan yang saya tinggali berangsur-angsur sepi menjelang lebaran. Yang biasanya mudik jauh-jauh hari adalah tetangga saya sebelah kiri. Sebelum berangkat mereka selalu pamit dan menitipkan rumah pada kami. Pada saat itulah biasanya saya akan menatap penuh minat pada tumpukan koper yang satu-persatu mereka masukkan ke dalam bagasi mobil. Membayangkan saya yang jadi mereka. Packing. Preparing. Travelling. Mudik lebaran. Oh, betapa menyenangkannya!
Berita di televisi tentang mudik lebaran pun tak pernah luput dari perhatian saya. Itu malah bagian yang paling menarik. Menyaksikan bagaimana mayoritas penduduk Jabodetabek berbondong-bondong memenuhi terminal-terminal dan stasiun kereta, atau beriringan menggunakan sepeda motor, lalu mulai memacetkan jalur pantura, adalah pemandangan yang menakjubkan. Andaikan saya jadi salah satu dari mereka yang mudik menggunakan kereta api lalu berdesakkan di dalamnya sambil membawa kardus, saya akan jadi pemudik yang sangat berbahagia. Karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa jadi bagian dari semua itu. Betapa saya bosan cuma jadi penonton. Apalagi menikmati suasana lebaran di kampung halaman yang tentunya jauh berbeda dari suasana lebaran di Jakarta. Ah, andaikan saya bisa ikut merasakan mudik lebaran!
Tapi, saya juga sadar, sekedar mudik bukanlah esensinya. Inti di balik semua itu adalah berkumpul bersama keluarga. Berada di rumah. Sedangkan rumah saya di mana lagi kalau bukan di rumah nenek di Jakarta. Tempat segalanya berawal. Tempat saya menghabiskan masa kecil. Tempat keluarga saya berkumpul untuk merayakan lebaran. Ya, memang di sanalah saya seharusnya selalu berada.
PS. Selamat mudik buat yang mudik. Jangan banyak mengeluh kalau macet. You just don’t know how lucky you are! :-D
Labels:
an unquiet mind
September 15, 2008
You're a Star!
Congratulation, sist’!
You’re a star!*
(*what Miss Rebecka Bloomwood always says whenever she feels proud of her bestfriend, Suze.)
You’re a star!*
(*what Miss Rebecka Bloomwood always says whenever she feels proud of her bestfriend, Suze.)
Labels:
an unquiet mind
September 14, 2008
HAPPY BIRTHDAY
You know it doesn’t make much sense
There ought to be a law against
Anyone who takes offense
At a day in your celebration
‘Cause we all know in our minds
That there ought to be a time
That we can set aside
To show just how much we love you
And I’m sure you would agree
It couldn’t fit more perfectly
Than to have a world party on the day you came to be
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
I just never understood
How a man who died for good
Could not have a day that would
Be set aside for his recognition
Because it should never be
Just because some cannot see
The dream as clear as he
that they should make it become an illusion
And we all know everything
That he stood for time will bring
For in peace our hearts will sing
Thanks to Martin Luther King
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
The time is overdue
For people like me and you
Who know the way to truth
Is love and unity to all God’s children
It should never be a great event
And the whole day should be spent
In full remembrance
Of those who lived and died for the oneness of all people
So let us all begin
We know that love can win
Let it out don’t hold it in
Sing it loud as you can
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
by: Ratna Wonder :-p
There ought to be a law against
Anyone who takes offense
At a day in your celebration
‘Cause we all know in our minds
That there ought to be a time
That we can set aside
To show just how much we love you
And I’m sure you would agree
It couldn’t fit more perfectly
Than to have a world party on the day you came to be
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
I just never understood
How a man who died for good
Could not have a day that would
Be set aside for his recognition
Because it should never be
Just because some cannot see
The dream as clear as he
that they should make it become an illusion
And we all know everything
That he stood for time will bring
For in peace our hearts will sing
Thanks to Martin Luther King
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
The time is overdue
For people like me and you
Who know the way to truth
Is love and unity to all God’s children
It should never be a great event
And the whole day should be spent
In full remembrance
Of those who lived and died for the oneness of all people
So let us all begin
We know that love can win
Let it out don’t hold it in
Sing it loud as you can
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
by: Ratna Wonder :-p
Labels:
an unquiet mind
September 08, 2008
FAREWELL FROM BABY JOANNA’S MOTHER [2]
Ibunda bayi Joanna tiba-tiba mengirim kabar mengejutkan pada kami semua. Lewat Ibu manajer saya dia bercerita bahwa dia akan mengundurkan diri dari kantor kami tercinta. Bukan untuk pindah ke kantor lain di Singapura, atau kantor manapun di Jakarta, melainkan memang benar-benar berhenti bekerja. Kami semua terkaget-kaget dibuatnya.
Ibu manajer saya bilang, Ibunda bayi Joanna telah mantab dengan keputusannya. Konon di Singapura sana, dia dan suaminya tidak memiliki siapa-siapa. Selama mereka bekerja, tidak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi Joanna. Demikianlah akhirnya, Ibunda bayi Joanna memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, demi kebaikan putrinya.
Memutuskan keluar dari pekerjaan, tentu bukan hal yang mudah dilakukan, terutama bagi perempuan seperti Ibunda bayi Joanna. Dia perempuan cerdas yang suka bekerja keras. Karirnya tengah menanjak pasti ke posisi yang gemilang, sementara usianya belum lagi menginjak tiga puluh. Jalannya masih teramat panjang. Dia punya kesempatan besar untuk kelak menduduki posisi puncak di kantor kami. Kalau dia mau, dia bisa menggaji pengasuh bayi dari biro ternama di tempat tinggalnya, meninggalkan bayi Joanna di rumah, lalu melanjutkan perannya sebagai wanita pekerja. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Dia malah memilih tinggal di rumah dan mengurus bayi Joanna.
Segelintir orang di kantor kami agak menyesalkan keputusan yang diambil Ibunda bayi Joanna. Menurut mereka, dia telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidupnya. Saya sendiri, cukup sedih mendengar kabar itu. Dan kalau mau lebih jujur lagi, saya takut mengalami kesulitan dalam pekerjaan sepeninggal dia. Saya akan kehilangan tempat bertanya.
Tapi di balik segala keegoisan saya itu, di mata saya Ibunda bayi Joanna nyaris sempurna. Dia benar-benar tahu memaknai keperempuanannya dengan tepat. Perempuan yang sanggup berkarya di dalam rumah dan berkarir di luar rumah, tentu tak salah apabila mendapat sebutan perempuan yang hebat. Tidak mudah melakukan semua itu sekaligus. Tapi saya percaya, sehebat-hebatnya perempuan, adalah dia yang ketika jalan setapaknya menemui persimpangan, memutuskan keluarganya sebagai pilihan. Pulang ke rumah.
Untuk yang kesekian kalinya, saya dibuat kagum oleh Ibunda bayi Joanna.
Ibu manajer saya bilang, Ibunda bayi Joanna telah mantab dengan keputusannya. Konon di Singapura sana, dia dan suaminya tidak memiliki siapa-siapa. Selama mereka bekerja, tidak ada yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi Joanna. Demikianlah akhirnya, Ibunda bayi Joanna memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, demi kebaikan putrinya.
Memutuskan keluar dari pekerjaan, tentu bukan hal yang mudah dilakukan, terutama bagi perempuan seperti Ibunda bayi Joanna. Dia perempuan cerdas yang suka bekerja keras. Karirnya tengah menanjak pasti ke posisi yang gemilang, sementara usianya belum lagi menginjak tiga puluh. Jalannya masih teramat panjang. Dia punya kesempatan besar untuk kelak menduduki posisi puncak di kantor kami. Kalau dia mau, dia bisa menggaji pengasuh bayi dari biro ternama di tempat tinggalnya, meninggalkan bayi Joanna di rumah, lalu melanjutkan perannya sebagai wanita pekerja. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Dia malah memilih tinggal di rumah dan mengurus bayi Joanna.
Segelintir orang di kantor kami agak menyesalkan keputusan yang diambil Ibunda bayi Joanna. Menurut mereka, dia telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam hidupnya. Saya sendiri, cukup sedih mendengar kabar itu. Dan kalau mau lebih jujur lagi, saya takut mengalami kesulitan dalam pekerjaan sepeninggal dia. Saya akan kehilangan tempat bertanya.
Tapi di balik segala keegoisan saya itu, di mata saya Ibunda bayi Joanna nyaris sempurna. Dia benar-benar tahu memaknai keperempuanannya dengan tepat. Perempuan yang sanggup berkarya di dalam rumah dan berkarir di luar rumah, tentu tak salah apabila mendapat sebutan perempuan yang hebat. Tidak mudah melakukan semua itu sekaligus. Tapi saya percaya, sehebat-hebatnya perempuan, adalah dia yang ketika jalan setapaknya menemui persimpangan, memutuskan keluarganya sebagai pilihan. Pulang ke rumah.
Untuk yang kesekian kalinya, saya dibuat kagum oleh Ibunda bayi Joanna.
Labels:
an unquiet mind

