Malam itu, pukul dua, saya terbangun tiba-tiba. Padahal saya tidak bermimpi buruk, tidak sedang banyak pikiran, atau yang semacamnya. Pokoknya, saya baik-baik saja.
Daripada cuma melamun di tempat tidur, saya putuskan keluar dari kamar, lalu turun ke bawah. Iseng-iseng, saya cek pintu dan jendela, semuanya terkunci rapat. Aman. Masih dalam rangka iseng-iseng, saya tengok satu-satu kamar penghuni rumah, semuanya tidur nyenyak. Bagus.
Tapi, saya tetap belum mau tidur. Akhirnya, saya bergegas masuk dapur dan mulai mencari-cari kudapan. Selera saya langsung terbit melihat bungkus sup ayam instan. Tidak sampai lima menit, jadilah sup kental yang mengepul panas di dalam mangkuk saya. Kembali saya masuk kamar, dan menikmatinya sambil membaca buku. Sedap.
Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan sup ayam yang telah habis, mata saya langsung mengantuk karena kekenyangan. Perasaan saya pun jadi bertambah baik karenanya. Aman. Nyaman. Bahagia. Dan tertidurlah saya dengan pulas sampai pagi menjemput.
Jadi, kadang-kadang, keindahan hadir dengan cara yang terlalu sederhana. Tinggal bagaimana kita mampu merasainya atau tidak. Bayangkan, tengah malam menikmati sup hangat sambil membaca buku. Kegiatan yang biasa-biasa saja yang mungkin sekali luput untuk dihargai. Tapi untunglah, malam itu, keindahan bersedia memberikan isyarat kehadirannya dengan jelas pada saya.


0 comments:
Post a Comment