Wanita yang sedang hamil tua itu berusia empat puluh dua. Dengan enam anak perempuan manis di sekelilingnya, mestinya hidup sudah boleh disebutnya sempurna. Namun atas nama adat, dia belum boleh berhenti beranak sebelum berhasil melahirkan anak laki-laki.
Wanita itu bersandar pada tiang jemuran. Peluhnya hinggap pada pakaian basah yang baru selesai dijemurnya. Dalam hidupnya, mengandung adalah semata-mata persoalan perut yang membuncit. Soal istirahat dan kesehatan, adalah perkara lain lagi. Memasak dan mencuci tetap dikerjakannya seperti sehari-hari.
Sejujurnya, wanita itu hampir tidak pernah memikirkan kesehatan. Satu-satunya hal yang diperdulikannya adalah jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Seolah-olah hidup dan matinya cuma untuk melahirkan anak laki-laki. Duh, betapa ingin dia mencicipi sepiring ayam wijen sehabis melahirkan. Persis seperti wanita yang tinggal di sebelah kiri rumah, yang tempo hari melahirkan bayi laki-laki. Tapi yang dia dapat cuma bubur ubi selama enam kali melahirkan. Maklum, semua bayinya perempuan.
***********************************************************************************
Pada hari kelahiran, wanita itu tak putus-putusnya memanjatkan doa. Persalinan kali ini, lebih membuatnya gugup daripada yang sudah-sudah. Ada beban berat di pundaknya, yang membuat segalanya jadi semakin berat. Ada kecewa yang selama bertahun-tahun mengendap di hatinya, membuat hidupnya begitu pilu dalam harap.
Tidak sampai tiga puluh menit, tangis bayi pecah di kamar itu. Wanita itu terlalu lelah untuk bisa menebak apa jenis kelamin yang bersembunyi dalam tangis itu. Tapi segala harap di dadanya telah berhasil menciptakan aroma ayam wijen di depan hidungnya, persis seperti nyata. Tepat ketika pintu kamar terbuka, dan seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan.
“Ini bubur ubimu yang ketujuh, Mei Hwa. Aku tidak pernah bisa mengerti, kenapa kau begitu doyan makan bubur ubi,…” ujar laki-laki itu sambil dengan kasar menyerahkan semangkuk bubur ke genggaman wanita itu. Dia lantas pergi tanpa sedikit pun menoleh pada bayinya yang telah dikandung dan dilahirkan dengan susah payah.
Wanita itu menangis pelan-pelan. Betapa selama bertahun-tahun dia telah terlatih menangis tanpa suara.
August 13, 2009
August 12, 2009
PERPISAHAN
(untuk RK)
Duhai perpisahan,
Sejujurnya aku tiada sedikit pun terkejut ketika kutemui kau di penghujung petang, menyeruak datang, lantas menghamburkan duka. Sebab dulu sempat kupergoki wajahmu menyelinap dalam perjumpaan, diam-diam menyetorkan waktu pada semesta. Dan sejak saat itu, hidup bagai menghitung mundur sampai tiba saatnya kau jemput kembali tiap-tiap yang pernah berjumpa.
Duhai perpisahan,
Aku tak hendak main kucing-kucingan. Aku pasrah pada kodrat bahwa kau mesti hadir sebagai penutup segala perjumpaan. Sebab tanpa campur tanganmu dalam adonan hukum alam, kue bernama perjumpaan takkan pernah matang dari loyang semesta.
Duhai perpisahan,
Selayaknya pelawak yang telah menandatangani kontrak, aku tahu mangkuk yang menampung perjumpaan itu sudah waktunya retak. Dia lalu mesti pecah, lantas dibiarkan tumpah. Tak apa, aku bisa mengerti. Sejatinya perjumpaan memang cuma datang bertandang, selebihnya dia harus kau bawa pulang.
Agustus 2009
Duhai perpisahan,
Sejujurnya aku tiada sedikit pun terkejut ketika kutemui kau di penghujung petang, menyeruak datang, lantas menghamburkan duka. Sebab dulu sempat kupergoki wajahmu menyelinap dalam perjumpaan, diam-diam menyetorkan waktu pada semesta. Dan sejak saat itu, hidup bagai menghitung mundur sampai tiba saatnya kau jemput kembali tiap-tiap yang pernah berjumpa.
Duhai perpisahan,
Aku tak hendak main kucing-kucingan. Aku pasrah pada kodrat bahwa kau mesti hadir sebagai penutup segala perjumpaan. Sebab tanpa campur tanganmu dalam adonan hukum alam, kue bernama perjumpaan takkan pernah matang dari loyang semesta.
Duhai perpisahan,
Selayaknya pelawak yang telah menandatangani kontrak, aku tahu mangkuk yang menampung perjumpaan itu sudah waktunya retak. Dia lalu mesti pecah, lantas dibiarkan tumpah. Tak apa, aku bisa mengerti. Sejatinya perjumpaan memang cuma datang bertandang, selebihnya dia harus kau bawa pulang.
Agustus 2009
Labels:
poem
August 08, 2009
August 07, 2009
MENGHITUNG HARI [1]
Ada yang hampir gila
memikirkan bahwa
dua tahun itu
sama saja
dengan
tujuh
ratus
tiga
puluh
hari.
Agustus 2009
memikirkan bahwa
dua tahun itu
sama saja
dengan
tujuh
ratus
tiga
puluh
hari.
Agustus 2009
Labels:
poem
August 06, 2009
MENGHITUNG HARI [2]
Waktu malam itu saya dan sahabat saya duduk berdua saja sambil mengobrol di dapur rumahnya, hitungan kalender tinggal menyisakan waktu satu minggu saja sebelum keberangkatannya ke New York.
Di hadapan kami, teronggok kantung-kantung belanja berisi obat dan segala macam keperluannya untuk bulan-bulan pertama. Di kamarnya terhampar juga koper besar yang isinya belum selesai dibenahi. Dan sahabat saya masih juga berceloteh dengan nada yang biasa-biasa saja, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa, seolah dia tidak hendak pergi kemana-mana, dan tumpukan barang-barang itu cuma belanjaan biasa.
Tapi saya, sungguh saya tidak bisa. Pikiran saya sudah tidak berada di dapur rumahnya, melainkan jauh mengembara pada hal-hal sentimentil yang saya pikirkan sendiri. Walaupun sahabat saya telah merevisi rencana kepergiannya jadi tinggal dua tahun saja, tetap tidak ada gunanya buat saya. Apalah bedanya dua tahun dan dua setengah tahun? Saya tak bisa berhenti memikirkan semua itu.
Akhirnya, jam sepuluh malam saya pamit pulang dengan hati berat, sebab tahu bahwa itulah terakhir kalinya saya bisa mengobrol santai di dapur rumahnya, untuk dua tahun ke depan. Juga sambil menyesal, sebab sama sekali tidak saya nikmati acara terakhir tadi, malah dengan bodohnya saya melamunkan kepergiannya, padahal saya bakalan punya tujuh ratus tiga puluh hari untuk melakukan itu.
Di hadapan kami, teronggok kantung-kantung belanja berisi obat dan segala macam keperluannya untuk bulan-bulan pertama. Di kamarnya terhampar juga koper besar yang isinya belum selesai dibenahi. Dan sahabat saya masih juga berceloteh dengan nada yang biasa-biasa saja, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa, seolah dia tidak hendak pergi kemana-mana, dan tumpukan barang-barang itu cuma belanjaan biasa.
Tapi saya, sungguh saya tidak bisa. Pikiran saya sudah tidak berada di dapur rumahnya, melainkan jauh mengembara pada hal-hal sentimentil yang saya pikirkan sendiri. Walaupun sahabat saya telah merevisi rencana kepergiannya jadi tinggal dua tahun saja, tetap tidak ada gunanya buat saya. Apalah bedanya dua tahun dan dua setengah tahun? Saya tak bisa berhenti memikirkan semua itu.
Akhirnya, jam sepuluh malam saya pamit pulang dengan hati berat, sebab tahu bahwa itulah terakhir kalinya saya bisa mengobrol santai di dapur rumahnya, untuk dua tahun ke depan. Juga sambil menyesal, sebab sama sekali tidak saya nikmati acara terakhir tadi, malah dengan bodohnya saya melamunkan kepergiannya, padahal saya bakalan punya tujuh ratus tiga puluh hari untuk melakukan itu.
Labels:
an unquiet mind
August 05, 2009
SETIA
Tak habis-habisnya
kamu percayakan padaku
kata tolong itu
seolah kamu tengah berendam
di sumur percaya
yang tiada akan mengering airnya
Tak bosan-bosannya
kamu pilihkan untukku
sepotong peran
seperti seakan-akan
aku ini
artis segala zaman
Maka buatmu
kusimpan setia
yang selalu.
Agustus 2009
Thanks for always asking help ;-)
kamu percayakan padaku
kata tolong itu
seolah kamu tengah berendam
di sumur percaya
yang tiada akan mengering airnya
Tak bosan-bosannya
kamu pilihkan untukku
sepotong peran
seperti seakan-akan
aku ini
artis segala zaman
Maka buatmu
kusimpan setia
yang selalu.
Agustus 2009
Thanks for always asking help ;-)
Labels:
poem
August 02, 2009
A Midsummer Night’s Dream
Diantarnya saya ke Kota Tua
lantas di sana kita bersepeda
lalu pulang naik kereta.
Agustus 2009
lantas di sana kita bersepeda
lalu pulang naik kereta.
Agustus 2009
Labels:
poem

