December 01, 2009

POSTCARD FROM NY

Friendship IXX

And a youth said, ‘Speak to us of Friendship.’

Your friend is your needs answered.

He is your field which you sow with love and reap with thanksgiving.

And he is your board and your fireside.

For you come to him with your hunger, and you seek him for peace.

When your friend speaks his mind you fear not the ‘nay’ in your own mind, nor do you withhold the ‘ay.’

And when he is silent your heart ceases not to listen to his heart;

For without words, in friendship, all thoughts, all desires, all expectations are born and shared, with joy that is unacclaimed.

When you part from your friend, you grieve not;

For that which you love most in him may be clearer in his absence, as the mountain to the climber is clearer from the plain.

And let there be no purpose in friendship save the deepening of the spirit.

For love that seeks aught but the disclosure of its own mystery is not love but a net cast forth: and only the unprofitable is caught.

And let your best be for your friend.

If he must know the ebb of your tide, let him know its flood also.

For what is your friend that you should seek him with hours to kill?

Seek him always with hours to live.

For it is his to fill your need, but not your emptiness.

And in the sweetness of friendship let there be laughter, and sharing of pleasures.

For in the dew of little things the heart finds its morning and is refreshed.

Khalil Gibran

PS. This poem has soo much reminds me of Vita and Lina. For all Gibran has define I had the big pictures on my mind. It ain’t words neither sentences. It’s picture of both of you.

Miss You,
Resya

November 18, 2009

JAKARTA

"Nak, Jakarta itu bukan melulu monas yang tiangnya megah menopang bongkahan emas, bukan cuma wahana bermain mewah yang seolah mampu membeli semua mimpi anak-anak, bukan hanya gedung-gedung bertingkat yang gemerlapan dengan lampu ribuan watt.

Jakarta itu Nak, adalah penghamburan waktu luar biasa akibat macet di mana-mana, adalah banjir setinggi lutut tiap kali musim hujan tiba, adalah manusia paruh baya yang tidur menggigil di kolong jembatan. Jakarta adalah bayi masih merah yang diajak mengemis di bawah terik matahari, adalah perempuan hamil yang berlarian mengejar bus kota, lalu kena sikut dan jatuh tersungkur waktu sedang berebut di pintu masuk. Jakarta, adalah juga pemuda-pemuda yang gentayangan di pinggir jalan, sambil mengamen sambil menodong sebab perut mereka lapar.

Jakarta, Nak, sudah penuh sesak oleh kemiskinan. Ia tidak mengharapkan kedatanganmu. Sementara becak tua yang kau kayuh saban hari melewati seluruh penjuru kampung sampai betismu yang kerempeng itu bengkak sebesar kelapa, jauh lebih membutuhkanmu." sahut Ibuku waktu kuutarakan padanya niat hendak merantau ke Jakarta.

Jakarta, November 2009

November 06, 2009

BERJALAN MENUJU IKHLAS

Perjalanan ini perlahan tapi pasti mengarahkan aku ke sebuah bilik tersembunyi di sudut hati, dimana kutemui di dalamnya pasrah yang sering datang dan pergi, benci yang sering datang dan pergi, berganti-ganti menempati hanya satu posisi, hingga pada akhirnya aku tersadar bahwa ikhlas ternyata adalah perjalanan seumur hidup, dan pada tiap tapak jalan panjang yang masih harus terus kulalui ini, aku belajar untuk dewasa.

November 2009

October 30, 2009

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)

Sehubungan dengan lowongan CPNS yang sedang marak dimana-mana, berikut saya tuliskan hal-hal yang diperlukan untuk mendapatkan selembar kertas bernama Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK):
* Fotokopi KTP
* Surat pengantar dari kelurahan
* Foto berwarna ukuran 4×6 (tiga lembar)

Tapi, kalau anda hanya mau memperpanjang surat yang sayangnya cuma berlaku tiga bulan tersebut, berikut syaratnya:
* Fotokopi KTP
* SKCK lama
* Foto berwarna ukuran 4×6 (dua lembar)

Semua data di atas adalah valid, sebab saya lihat sendiri pengumumannya yang ditempel di loket. Oh ya, jangan tanya berapa biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan SKCK, karena berbeda dengan syarat-syarat di atas, saya tidak pernah menemukan informasi resmi mengenai ini.

Pengalaman saya yang terakhir sih, selesai mengurus perpanjang dan melegalisir surat, si petugas bergumam tidak jelas sambil celingak-celinguk resah, yang isi gumamannya saya sinyalir sebagai berikut: bayar seikhlasnya saja.

Kemudian saya rogoh dompet, kebetulan cuma ada selembar lima puluh ribu di sana, lalu menyerahkannya pada si petugas sambil bilang, ambil sepuluh ribu Pak. Tak diduga, masih dengan tampang resah, si petugas menolak uang saya dengan alasan repot mengambil kembalian, lantas saya disuruhnya menukarnya dulu menjadi recehan.

Yah, berhubung perintahnya tadi cuma bayar seikhlasnya saja, saya kok ya tiba-tiba jadi tidak ikhlas kalau harus berepot-repot dulu merecehkan uang tersebut. Akhirnya, saya putuskan langsung meloyor pulang saja.

Akhir kata, selamat mengurus SKCK, kawan-kawan!

October 27, 2009

Antara aku dan Tuhan

Apa yang tengah aku rasakan
tak hendak kuceritakan:
hanya aku dan Tuhan yang tahu,
romantis bukan?

Oktober 2009

October 12, 2009

MAGIC INSIDE HIS VOICE

Beberapa waktu lalu, Bapak Ibu saya pulang kampung alias mudik. Tinggalah saya dan adik-adik dipercayakan menjaga rumah. Namun pada prakteknya, saya lebih sering berada sendirian di rumah ketimbang bertiga. Sebab adik saya yang perempuan sering bolak-balik ke luar kota, sementara adik saya yang laki-laki, sudah sejak lama punya jadwal menginap di tempat kos kawannya — maklum, dia punya kebiasaan terlambat kuliah yang cukup menimbulkan masalah.

Pada suatu malam di mana saya harus tidur sendirian di rumah, komplek perumahan saya terkena giliran pemadaman listrik. Sayangnya saya terlambat mengetahuinya. Kalau saja saya sudah mengetahuinya sejak sore, tentulah saya akan tinggal dulu di kantor, atau menghabiskan waktu kemana saja supaya tidak perlu tinggal sendirian di rumah.

Waktu malam itu saya turun dari bis kota, suasana sudah gelap gulita. Hujan pula. Sempat terpikir oleh saya untuk mampir saja ke rumah sahabat saya yang masih berada satu area. Tapi saya pikir-pikir lagi, tentu merepotkan kalau saya bertamu di saat mati lampu. Akhirnya, saya teguhkan hati untuk langsung pulang.

Sampai di depan pintu, terus terang tekad saya agak goyah demi membayangkan di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Saya takut. Tapi, yah, biar bagaimanapun keadaannya, lebih aman ya berada di dalam rumah sendiri, pikir saya. Dalam kegelapan, saya meraba-raba lilin di lemari dapur. Di saat kebingungan kemana hendak mencari api untuk menyalakan lilin, terdengarlah dari kejauhan suara tukang sate yang biasa lewat di depan rumah. Langsung saya hadang gerobak satenya, minta dinyalakan lilin, sekaligus memesan satu porsi untuk makan malam. Sambil berusaha tabah saya nikmati sepiring sate tersebut di tengah cahaya lilin. Terdengar sungguh mengenaskan, tapi memang begitulah kenyataannya malam itu: saya ketakutan.

Lantas, daripada meringkuk sendirian di tengah kegelapan, saya putuskan untuk mengobrol saja dengan Bapak atau Ibu saya di telepon. Biasanya, kalau sudah mendengar suara Bapak saya yang tenang itu, keadaan seberat apapun jadi terasa ringan.

Benar saja, demi mendengar suara beliau nun jauh di seberang sana, saya langsung merasa tenang. Suara itu sanggup mengubah suasana hati jadi jauh lebih baik. Bahkan belum sampai sepuluh menit kami mengobrol, tiba-tiba lampu menyala. Ajaib.

Dan sejak saat itu saya percaya, bahwa mungkin, memang ada semacam keajaiban di balik suaranya.

October 01, 2009

GIRL IN POSTCARD

(untuk FS)

Gadis manis berkulit sawo matang itu kukira hanya hidup di dalam kartu pos. Ada gambarnya di pinggir jembatan di Leiden. Ada pula gambarnya di kaki Eiffel yang megah. Dan semuanya, memang cuma sebentuk gambar di kartu pos.

Tapi pada suatu petang, tiba-tiba gadis itu datang. Sambil tersenyum hangat dia duduk di hadapanku, lantas kita berbincang-bincang, persis seperti dua kawan lama. Waktu malam menjelang, dia pamit pulang, lalu meluncur masuk ke dalam kopaja. Ah, begitu manis hingga terasa seperti mimpi saja.

30 September 2009