Pada suatu pagi, saya mendengar Ibu Manajer menerima panggilan di ponselnya. Biasanya, beliau selalu ramai lagi penuh canda tawa tiap kali ngobrol-ngobrol di telepon. Tapi pagi itu, berbeda dari biasanya, beliau bicara sambil merendahkan suara. Dari gayanya, nampak pembicaraan itu cukup serius.
Sambil bekerja, terdengar oleh saya sayup-sayup kalimat yang terlontar dari mulut Ibu Manajer. Meski saya sama sekali tidak berniat menguping pembicaraan beliau, jarak meja kami yang berdekatan memungkinkan saya mendengar segalanya, sepelan apapun Ibu Manajer merendahkan volume suaranya.
Dari potongan-potongan kalimat yang terucap, Ibu Manajer dan si penelepon di seberang sana tampak sedang berbicara tentang urusan perceraian. Mungkin si penelepon tersebut sedang punya masalah rumah tangga, lalu minta saran pada Ibu Manajer.
Ibu Manajer saya, di umurnya yang hampir menginjak kepala empat, sama sekali belum pernah menikah. Dan seperti pernah saya ceritakan di waktu dahulu, beliau sama sekali tidak anti, atau menghindari, atau membenci, hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan maupun perceraian. Beliau bersikap begitu wajar, sewajar perawan usia tujuh belas yang belum menikah karena memang belum ketemu jodohnya.
Setelah beberapa saat menyimak ucapan si penelepon di seberang sana, Ibu Manajer dengan enteng merendah:
“Wah, kamu serius mau percaya sama nasehat saya tentang perceraian? wong saya ini kan belum menikah, masa sudah ditanya-tanya soal cerai,..” ujar beliau kemudian tertawa berderai-derai.
Agaknya, si penelepon di seberang sana ngotot minta nasehat Ibu Manajer, hingga akhirnya dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya, beliau berujar dengan kalimat yang kira-kira begini bunyinya:
“Cobalah jangan pikir soal cerai, hanya karena semata-mata kalian dibolehkan bercerai. Coba pikir ikatan kalian itu seperti ikatan saudara, mau ribut kek, mau benci kek, ya harus belajar terima apa adanya, wong gak bisa cerai.”
Demikianlah kalimat pamungkas Ibu Manajer sebelum akhirnya pembicaraan itu selesai. Kalimat naif yang diucapkan oleh seseorang yang belum pernah menikah. Dan saya, setuju seribu persen dengan beliau. Kenapa? Karena saya ngefens sama beliau. Karena saya percaya beliau bijaksana. Karena beliau telah menyebutkan kata kuncinya: belajar terima apa adanya. Terakhir, ya mungkin karena kami sama-sama naif, wong kami sama-sama belum menikah. :-P
January 02, 2010
January 01, 2010
HUJAN TURUN DI PAGI HARI IBU [1]
Setelah berhari-hari dilanda kering, hujan turun di pagi Hari Ibu, dan seketika bumi jadi basah. Benar-benar persis seperti Ibuku: air pelepas dahaga yang tiada henti-hentinya mengaliri hidupku.
22 Desember 2009
22 Desember 2009
Labels:
poem
HUJAN TURUN DI PAGI HARI IBU [2]
Hujan turun di pagi Hari Ibu.
Manis dan syahdu.
Seperti cinta Ibuku buat aku.
22 Desember 2009
Manis dan syahdu.
Seperti cinta Ibuku buat aku.
22 Desember 2009
Labels:
poem
December 04, 2009
KISAH SEPATU BARU
Ceritanya, saya baru beli sepatu. Sepatunya sih, sepatu biasa. Harganya juga biasa, harga standar sepatu. Modelnya apalagi, sangat biasa. Saya tidak tahu nama apa yang pantas disebut untuk sepatu model begitu, pokoknya bukan sepatu berhak yang punya lekuk-lekuk anggun.

Yang menjadikannya luar biasa adalah, kenyataan bahwa sepatu yang baru saya beli itu hampir-hampir sama persis model dan warnanya dengan sepatu lama saya. Entah bagaimana caranya, sejak lama saya tergila-gila pada model sepatu macam begitu.

Lihatlah betapa busuknya sepatu lama saya di atas. Berbulan-bulan saya ngotot mempertahankannya, mungkin jauh melebihi waktu guna pakainya, sebab belum menemukan lagi model yang serupa dengannya, dan yang senyaman dirinya.
Beberapa kawan kantor tak hentinya terbahak geli melihat loyalitas saya terhadap satu buah model sepatu, apalagi ini bukan kali pertama saya berbuat begitu. Buat saya, itulah model sepatu tercantik di dunia.
Yah, mungkin ini cuma masalah selera, atau memang saya kelewat setia, atau mungkin sepatu model begitu nyamannya kelewatan, atau karena saya ini adalah perempuan yang membosankan. Yang pasti, mau tak mau saya terbahak juga demi melihat betapa miripnya mereka saat benar-benar sudah disandingkan. Hahaha.

Those must be comfortable shoes, I bet you could walk all day in shoes like those and not feel a thing.
(Forrest Gump)

Yang menjadikannya luar biasa adalah, kenyataan bahwa sepatu yang baru saya beli itu hampir-hampir sama persis model dan warnanya dengan sepatu lama saya. Entah bagaimana caranya, sejak lama saya tergila-gila pada model sepatu macam begitu.

Lihatlah betapa busuknya sepatu lama saya di atas. Berbulan-bulan saya ngotot mempertahankannya, mungkin jauh melebihi waktu guna pakainya, sebab belum menemukan lagi model yang serupa dengannya, dan yang senyaman dirinya.
Beberapa kawan kantor tak hentinya terbahak geli melihat loyalitas saya terhadap satu buah model sepatu, apalagi ini bukan kali pertama saya berbuat begitu. Buat saya, itulah model sepatu tercantik di dunia.
Yah, mungkin ini cuma masalah selera, atau memang saya kelewat setia, atau mungkin sepatu model begitu nyamannya kelewatan, atau karena saya ini adalah perempuan yang membosankan. Yang pasti, mau tak mau saya terbahak juga demi melihat betapa miripnya mereka saat benar-benar sudah disandingkan. Hahaha.

Those must be comfortable shoes, I bet you could walk all day in shoes like those and not feel a thing.
(Forrest Gump)
Labels:
an unquiet mind
December 03, 2009
MENGHENTIKAN MACET, EH, WAKTU
Tiap kali terjebak macet, aku suka merinding membayangkan detik-detik yang berloncatan ke jalan lalu berlarian secepat kilat meninggalkan pemiliknya, yang hanya bisa duduk pasrah dalam kendaraan yang cuma bergerak barang satu dua inci tiap lima belas menit sekali. Karena ketika iring-iringan kendaraan itu seakan membeku, detik-detik itu tidak berhenti. Ia kabur bersama tabungan waktu yang telah kukais dengan susah payah. Dicurinya waktu untuk kuhabiskan bersama Ibuku. Dicurinya pula waktu istirahatku. Bahkan usiaku.
Kalau sudah begini, aku jadi sering berkhayal aku bisa menghentikan waktu. Hanya itu pilihan yang masuk akal.
Sebab aku sudah lama sadar bahwa macet rupanya mirip kematian. Tak mungkin dihentikan.
Desember 2009
Kalau sudah begini, aku jadi sering berkhayal aku bisa menghentikan waktu. Hanya itu pilihan yang masuk akal.
Sebab aku sudah lama sadar bahwa macet rupanya mirip kematian. Tak mungkin dihentikan.
Desember 2009
Labels:
poem
December 02, 2009
BERKACA PADA PENJUAL DVD BAJAKAN
Saya bukan penggemar berat film. Bukan jenis orang yang saban akhir pekan rajin mengunjungi bioskop, lantas getol berburu DVD apabila tak sempat nonton di bioskop. Tapi setiap kali mengunjungi penjual DVD bajakan yang banyak tersebar di mal maupun di pinggir-pinggir jalan, selalu saya dibuat takjub oleh mereka.
Para penjual DVD selalu tampak begitu menguasai pekerjaannya. Apapun yang saya minta, judul apapun yang saya sebutkan, selalu direspon dalam waktu yang sedemikian singkatnya. Sebut saja misalnya, saya minta dicarikan film My Life Without Me yang diproduksi sekitar enam tahun yang lalu, si penjual DVD akan dengan sigap meraih tumpukan film yang diawali dengan abjad ’M’ kemudian secepat kilat menarik film tersebut keluar dari bagian belakang tumpukan.
Ajaib, hampir-hampir seperti sulap. Bagaimana penjual DVD tersebut tahu dengan pasti bahwa diantara sekian puluh film yang diawali dengan huruf ‘M’, film yang saya maksud berada di tumpukan bagian belakang? mungkin dia menghafalnya, mungkin pula ada klasifikasi tingkat kedua yang didasarkan pada tahun keluaran film, atau berdasarkan huruf kedua, semisal: M-A, M-B, dan seterusnya. Hanya penjual DVD yang tahu rahasianya. Yang pasti, ada hal baik yang bisa saya petik dari sana. Betapa penjual DVD bajakan sangat menguasai pekerjaannya. Ada rencana matang yang disusun sebelum dagangan itu siap digelar, ada pengklasifikasian yang memudahkan, ada kesigapan yang efektif dan efisien, padahal segala sesuatunya dilakukan secara manual.
Saya tidak hendak menganjurkan anda untuk berhenti belanja DVD original lalu beralih pada yang bajakan. Saya pun tidak lantas pro terhadap pembajakan. Namun mari sejenak kita renungkan, jika profesi yang tergolong dalam ranah ilegal itu sedemikian sanggup mengusung efektifitas, dan sedemikian berdedikasi untuk memuaskan hati pelanggan, bagaimana dengan kita yang mungkin berprofesi jauh lebih baik daripada hanya sekedar penjual DVD bajakan. Bagaimana dengan saya, karyawan swasta di perusahaan jasa yang ternyata orientasi utamanya tiba di kantor lebih awal adalah untuk main farmville? Bagaimana dengan anda, pegawai puskesmas yang butuh waktu lebih dari setengah jam hanya untuk mengukur tekanan darah pasien? Bagaimana dengan Jasa Marga, yang menciptakan jalan bebas hambatan justru untuk membunuh pelan-pelan pengguna jalan dalam kemacetan?
Sebab itu, kalau anda sedang berjalan-jalan di sekitar kolong jembatan Benhil, misalnya, cobalah tengok sebentar sekumpulan penjual DVD bajakan yang mangkal di sana, tak perlu belanja kalau anda tak hendak membeli produk bajakan, perhatikan saja baik-baik ritme kerja mereka yang begitu efektif, dengan senyum dan semangat untuk memuaskan pelanggan. Berkacalah sejenak dari mereka. Terdengar konyol dan ironis, mungkin. Tapi demikianlah adanya.
Para penjual DVD selalu tampak begitu menguasai pekerjaannya. Apapun yang saya minta, judul apapun yang saya sebutkan, selalu direspon dalam waktu yang sedemikian singkatnya. Sebut saja misalnya, saya minta dicarikan film My Life Without Me yang diproduksi sekitar enam tahun yang lalu, si penjual DVD akan dengan sigap meraih tumpukan film yang diawali dengan abjad ’M’ kemudian secepat kilat menarik film tersebut keluar dari bagian belakang tumpukan.
Ajaib, hampir-hampir seperti sulap. Bagaimana penjual DVD tersebut tahu dengan pasti bahwa diantara sekian puluh film yang diawali dengan huruf ‘M’, film yang saya maksud berada di tumpukan bagian belakang? mungkin dia menghafalnya, mungkin pula ada klasifikasi tingkat kedua yang didasarkan pada tahun keluaran film, atau berdasarkan huruf kedua, semisal: M-A, M-B, dan seterusnya. Hanya penjual DVD yang tahu rahasianya. Yang pasti, ada hal baik yang bisa saya petik dari sana. Betapa penjual DVD bajakan sangat menguasai pekerjaannya. Ada rencana matang yang disusun sebelum dagangan itu siap digelar, ada pengklasifikasian yang memudahkan, ada kesigapan yang efektif dan efisien, padahal segala sesuatunya dilakukan secara manual.
Saya tidak hendak menganjurkan anda untuk berhenti belanja DVD original lalu beralih pada yang bajakan. Saya pun tidak lantas pro terhadap pembajakan. Namun mari sejenak kita renungkan, jika profesi yang tergolong dalam ranah ilegal itu sedemikian sanggup mengusung efektifitas, dan sedemikian berdedikasi untuk memuaskan hati pelanggan, bagaimana dengan kita yang mungkin berprofesi jauh lebih baik daripada hanya sekedar penjual DVD bajakan. Bagaimana dengan saya, karyawan swasta di perusahaan jasa yang ternyata orientasi utamanya tiba di kantor lebih awal adalah untuk main farmville? Bagaimana dengan anda, pegawai puskesmas yang butuh waktu lebih dari setengah jam hanya untuk mengukur tekanan darah pasien? Bagaimana dengan Jasa Marga, yang menciptakan jalan bebas hambatan justru untuk membunuh pelan-pelan pengguna jalan dalam kemacetan?
Sebab itu, kalau anda sedang berjalan-jalan di sekitar kolong jembatan Benhil, misalnya, cobalah tengok sebentar sekumpulan penjual DVD bajakan yang mangkal di sana, tak perlu belanja kalau anda tak hendak membeli produk bajakan, perhatikan saja baik-baik ritme kerja mereka yang begitu efektif, dengan senyum dan semangat untuk memuaskan pelanggan. Berkacalah sejenak dari mereka. Terdengar konyol dan ironis, mungkin. Tapi demikianlah adanya.
Labels:
an unquiet mind
December 01, 2009
POSTCARD FROM NY
Friendship IXX
And a youth said, ‘Speak to us of Friendship.’
Your friend is your needs answered.
He is your field which you sow with love and reap with thanksgiving.
And he is your board and your fireside.
For you come to him with your hunger, and you seek him for peace.
When your friend speaks his mind you fear not the ‘nay’ in your own mind, nor do you withhold the ‘ay.’
And when he is silent your heart ceases not to listen to his heart;
For without words, in friendship, all thoughts, all desires, all expectations are born and shared, with joy that is unacclaimed.
When you part from your friend, you grieve not;
For that which you love most in him may be clearer in his absence, as the mountain to the climber is clearer from the plain.
And let there be no purpose in friendship save the deepening of the spirit.
For love that seeks aught but the disclosure of its own mystery is not love but a net cast forth: and only the unprofitable is caught.
And let your best be for your friend.
If he must know the ebb of your tide, let him know its flood also.
For what is your friend that you should seek him with hours to kill?
Seek him always with hours to live.
For it is his to fill your need, but not your emptiness.
And in the sweetness of friendship let there be laughter, and sharing of pleasures.
For in the dew of little things the heart finds its morning and is refreshed.
Khalil Gibran
PS. This poem has soo much reminds me of Vita and Lina. For all Gibran has define I had the big pictures on my mind. It ain’t words neither sentences. It’s picture of both of you.
Miss You,
Resya
And a youth said, ‘Speak to us of Friendship.’
Your friend is your needs answered.
He is your field which you sow with love and reap with thanksgiving.
And he is your board and your fireside.
For you come to him with your hunger, and you seek him for peace.
When your friend speaks his mind you fear not the ‘nay’ in your own mind, nor do you withhold the ‘ay.’
And when he is silent your heart ceases not to listen to his heart;
For without words, in friendship, all thoughts, all desires, all expectations are born and shared, with joy that is unacclaimed.
When you part from your friend, you grieve not;
For that which you love most in him may be clearer in his absence, as the mountain to the climber is clearer from the plain.
And let there be no purpose in friendship save the deepening of the spirit.
For love that seeks aught but the disclosure of its own mystery is not love but a net cast forth: and only the unprofitable is caught.
And let your best be for your friend.
If he must know the ebb of your tide, let him know its flood also.
For what is your friend that you should seek him with hours to kill?
Seek him always with hours to live.
For it is his to fill your need, but not your emptiness.
And in the sweetness of friendship let there be laughter, and sharing of pleasures.
For in the dew of little things the heart finds its morning and is refreshed.
Khalil Gibran
PS. This poem has soo much reminds me of Vita and Lina. For all Gibran has define I had the big pictures on my mind. It ain’t words neither sentences. It’s picture of both of you.
Miss You,
Resya
Labels:
poem

