August 18, 2009

THE HOLY LONELY PLANET

Semenjak berkenalan dengan Mbak Trinity lewat bukunya The Naked Traveler beberapa bulan yang lalu, saya dan adik saya yang perempuan akhirnya jadi ikut mengenal si buku panduan perjalanan bernama Lonely Planet yang kondang itu.

Berdua kami pernah tertawa geli membaca sebuah artikel, yang menceritakan tentang warung makan kecil nan sederhana di belahan dunia lain, yang ramai dikunjungi oleh para backpacker ‘cuma’ gara-gara warung tersebut direkomendasikan di dalam Lonely Planet. Sementara warung makan saingan yang berdiri di sebelahnya, sibuk membujuk pelanggan lain dengan berjanji bahwa mudah-mudahan tempat mereka sudah akan masuk di Lonely Planet edisi berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu, adik saya perempuan pergi liburan ke Jogja bersama kawan-kawannya. Di perjalanan, dia melihat seorang perempuan yang penampilannya kurang lebih persis seperti TKW yang sering terlihat di tivi. Tapi, yah, TKW atau bukan TKW, adik saya sih tidak ada masalah sama sekali dengan semua itu. Dia kembali duduk manis menikmati perjalanan.

Tiba-tiba, adik saya melihat perempuan yang diduga kuat sebagai TKW itu, mengeluarkan Lonely Planet dari dalam tasnya. Tidak jelas edisi yang mana, tapi pokoknya adik saya yakin betul bahwa buku itu adalah kitab panduan yang kondang tersebut.

Mendadak, pandangan adik saya terhadap perempuan itu berubah drastis. Dibayangkannya bahwa perempuan itu mungkin adalah backpacker yang sudah keliling Indonesia. Sudah merambah pulau-pulau terpencil nan eksotis. Dan ketika diceritakannya hal itu pada saya saat sudah tiba di rumah, kami berdua lagi-lagi tertawa geli. Kali ini menertawakan dia, yang rupanya sudah ikut terkena sihir si kitab kondang itu.

MENJELANG RAMADHAN

Kepada beras, kepada kangkung
kepada segala macam sayuran
kepada tempe, kepada tahu
dan segala rupa lauk-laukan:

sebentar lagi ramadhan
semoga harga kalian, tidak berlonjakkan
mereka tidak kuat, puasa sehari semalaman.

Agustus 2009

August 13, 2009

ANTARA AYAM WIJEN DAN BUBUR UBI

Wanita yang sedang hamil tua itu berusia empat puluh dua. Dengan enam anak perempuan manis di sekelilingnya, mestinya hidup sudah boleh disebutnya sempurna. Namun atas nama adat, dia belum boleh berhenti beranak sebelum berhasil melahirkan anak laki-laki.

Wanita itu bersandar pada tiang jemuran. Peluhnya hinggap pada pakaian basah yang baru selesai dijemurnya. Dalam hidupnya, mengandung adalah semata-mata persoalan perut yang membuncit. Soal istirahat dan kesehatan, adalah perkara lain lagi. Memasak dan mencuci tetap dikerjakannya seperti sehari-hari.

Sejujurnya, wanita itu hampir tidak pernah memikirkan kesehatan. Satu-satunya hal yang diperdulikannya adalah jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Seolah-olah hidup dan matinya cuma untuk melahirkan anak laki-laki. Duh, betapa ingin dia mencicipi sepiring ayam wijen sehabis melahirkan. Persis seperti wanita yang tinggal di sebelah kiri rumah, yang tempo hari melahirkan bayi laki-laki. Tapi yang dia dapat cuma bubur ubi selama enam kali melahirkan. Maklum, semua bayinya perempuan.

***********************************************************************************

Pada hari kelahiran, wanita itu tak putus-putusnya memanjatkan doa. Persalinan kali ini, lebih membuatnya gugup daripada yang sudah-sudah. Ada beban berat di pundaknya, yang membuat segalanya jadi semakin berat. Ada kecewa yang selama bertahun-tahun mengendap di hatinya, membuat hidupnya begitu pilu dalam harap.

Tidak sampai tiga puluh menit, tangis bayi pecah di kamar itu. Wanita itu terlalu lelah untuk bisa menebak apa jenis kelamin yang bersembunyi dalam tangis itu. Tapi segala harap di dadanya telah berhasil menciptakan aroma ayam wijen di depan hidungnya, persis seperti nyata. Tepat ketika pintu kamar terbuka, dan seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan.

“Ini bubur ubimu yang ketujuh, Mei Hwa. Aku tidak pernah bisa mengerti, kenapa kau begitu doyan makan bubur ubi,…” ujar laki-laki itu sambil dengan kasar menyerahkan semangkuk bubur ke genggaman wanita itu. Dia lantas pergi tanpa sedikit pun menoleh pada bayinya yang telah dikandung dan dilahirkan dengan susah payah.

Wanita itu menangis pelan-pelan. Betapa selama bertahun-tahun dia telah terlatih menangis tanpa suara.

August 12, 2009

PERPISAHAN

(untuk RK)

Duhai perpisahan,

Sejujurnya aku tiada sedikit pun terkejut ketika kutemui kau di penghujung petang, menyeruak datang, lantas menghamburkan duka. Sebab dulu sempat kupergoki wajahmu menyelinap dalam perjumpaan, diam-diam menyetorkan waktu pada semesta. Dan sejak saat itu, hidup bagai menghitung mundur sampai tiba saatnya kau jemput kembali tiap-tiap yang pernah berjumpa.

Duhai perpisahan,

Aku tak hendak main kucing-kucingan. Aku pasrah pada kodrat bahwa kau mesti hadir sebagai penutup segala perjumpaan. Sebab tanpa campur tanganmu dalam adonan hukum alam, kue bernama perjumpaan takkan pernah matang dari loyang semesta.

Duhai perpisahan,

Selayaknya pelawak yang telah menandatangani kontrak, aku tahu mangkuk yang menampung perjumpaan itu sudah waktunya retak. Dia lalu mesti pecah, lantas dibiarkan tumpah. Tak apa, aku bisa mengerti. Sejatinya perjumpaan memang cuma datang bertandang, selebihnya dia harus kau bawa pulang.

Agustus 2009

August 08, 2009

HATI DAN SATU HAL YANG TAK KUNJUNG SELESAI

Kamu.

August 07, 2009

MENGHITUNG HARI [1]

Ada yang hampir gila
memikirkan bahwa
dua tahun itu
sama saja
dengan
tujuh
ratus
tiga
puluh
hari.

Agustus 2009

August 06, 2009

MENGHITUNG HARI [2]

Waktu malam itu saya dan sahabat saya duduk berdua saja sambil mengobrol di dapur rumahnya, hitungan kalender tinggal menyisakan waktu satu minggu saja sebelum keberangkatannya ke New York.

Di hadapan kami, teronggok kantung-kantung belanja berisi obat dan segala macam keperluannya untuk bulan-bulan pertama. Di kamarnya terhampar juga koper besar yang isinya belum selesai dibenahi. Dan sahabat saya masih juga berceloteh dengan nada yang biasa-biasa saja, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa, seolah dia tidak hendak pergi kemana-mana, dan tumpukan barang-barang itu cuma belanjaan biasa.

Tapi saya, sungguh saya tidak bisa. Pikiran saya sudah tidak berada di dapur rumahnya, melainkan jauh mengembara pada hal-hal sentimentil yang saya pikirkan sendiri. Walaupun sahabat saya telah merevisi rencana kepergiannya jadi tinggal dua tahun saja, tetap tidak ada gunanya buat saya. Apalah bedanya dua tahun dan dua setengah tahun? Saya tak bisa berhenti memikirkan semua itu.

Akhirnya, jam sepuluh malam saya pamit pulang dengan hati berat, sebab tahu bahwa itulah terakhir kalinya saya bisa mengobrol santai di dapur rumahnya, untuk dua tahun ke depan. Juga sambil menyesal, sebab sama sekali tidak saya nikmati acara terakhir tadi, malah dengan bodohnya saya melamunkan kepergiannya, padahal saya bakalan punya tujuh ratus tiga puluh hari untuk melakukan itu.