April 22, 2008

BARANGKALI TAKDIR

Barangkali benar bahwa takdir adalah entitas yang paling egois dalam jagat kehidupan ini. Barangkali di atas singgasananya dia gemar merangkai skenario yang bisa menghibur dirinya saja. Barangkali skenario itu akan dimulai dengan mempertemukan sepasang manusia dengan cara yang sedemikian rupa. Sehingga membuat mereka terlambung-lambung hingga langit yang ketujuh. Lama-kelamaan, barangkali semua itu akan tampak membosankan bagi si takdir. Sehingga barangkali dia memutuskan untuk mengubah skenario itu. Lalu si takdir memisahkan mereka dengan cara yang sedemikian rupa. Sehingga membuat mereka menangis tersaruk-saruk dalam kepiluan. Barangkali dari singgasananya si takdir akan tertawa tergelak-gelak menyaksikan semua itu. Terhibur. Sehingga barangkali benarlah kata orang bahwa takdir memang kejam.

Namun barangkali, kita para manusialah yang tidak tahu diri. Barangkali kita para manusia yang telah lupa pada kemanusiaan kita. Barangkali kita merasa telah begitu hebat berlaga dalam jagat kehidupan, sehingga lupa bahwa ada kekuasaan yang jauh lebih besar dari diri kita. Barangkali kita lupa bahwa ternyata ada entitas yang jauh lebih pintar dari diri kita. Entitas yang lebih mengerti apa-apa yang baik buat kita, jauh dari diri kita sendiri. Barangkali kita telah begitu sombong dalam ketidaktahuan kita.

Dan barangkali, diam-diam rupanya kita berhutang budi pada si takdir. Karena barangkali, atas dasar keinginan semata, kita hanya akan bermuara pada pilihan yang salah. Dan barangkali, atas dasar kerakusan manusia, akan begitu sulit bagi kita untuk menentukan pilihan. Sehingga melalui bantuan takdir, seseorang bisa saling menjatuhkan pilihan atas seseorang lainnya. Tepat satu sama lain.

Barangkali tanpa campur tangan takdir, seisi dunia ini hanya akan sibuk berkejaran tanpa akhir. Saya mengejar kamu, kamu mengejar dia, dia mengejar seseorang lainnya, dan seseorang itu justru malah mengejar saya. Barangkali kita semua akan saling menuruti keinginan diri sendiri, sehingga barangkali kita semua akan menjadi begitu egois dalam ketidaktahuan kita.

Maka barangkali, harus ada sesuatu yang bisa menghentikan semua itu. Entitas yang lebih paham dari kita, yang akhirnya mengambil keputusan. Barangkali, takdirlah si entitas yang menjadi juru selamat kita. Sehingga barangkali, dialah yang paling berhak untuk memutuskan korelasi satu-satu bagi masing-masing kita. Tentang siapa-siapa yang barangkali paling baik untuk masing-masing kita. Dengan cara yang sedemikian rupa yang sulit kita pahami, namun barangkali cukup kita percayai saja.

Barangkali, cukup sudah selama ini kita para manusia berprasangka pada takdir. Barangkali kita telah begitu egois dalam ketidaktahuan kita. Barangkali kita harus lebih sadar diri akan kemanusiaan kita. Barangkali sudah waktunya kita mulai menaruh percaya pada takdir.

April 2008

0 comments:

Post a Comment