Salah satu sahabat saya sedang jatuh cinta.
Kalau kelakuannya cuma berubah jadi ajaib, saya paham benar. Karena demikianlah kebanyakan kita saat sedang jatuh cinta.
Tapi kali ini, kelakuan sahabat saya terlalu ajaib.
Dia bukan hanya jadi semakin sering berkunjung ke rumah saya, untuk bercerita tentang betapa dia begitu terpesona pada laki-laki itu dan betapa dia begitu mencintai laki-laki itu dengan segenap hatinya.
Dia bukan hanya jadi semakin sering mengirimi saya sms, yang berisi sejumlah histeria yang tak mungkin diutarakannya pada laki-laki tersebut, sehingga memutuskan saya sebagai ganti penerimanya.
Dia bahkan meminta saya melakukan sesuatu yang menurut saya sangat konyol.
Pada suatu siang yang panas, di saat saya sedang tenggelam dalam pekerjaan, dia tiba-tiba menghubungi saya. Diawali dengan gumaman yang tidak jelas, sekonyong-konyong dia memohon meminta saya mengucapkan nama laki-laki kesayangannya itu.
Dia bilang dia ingin sekali mendengar seseorang menyebutkan nama itu, dengan lengkap.
Akhirnya, setelah terbahak-bahak dengan begitu kerasnya, saya ucapkan nama panjang laki-laki itu, yang tentu saja sudah saya hafal luar kepala karena sahabat saya selalu mengulangnya bagaikan mengucap mantera.
Di seberang sana, saya bisa merasakan betapa sahabat saya mendengarkan dengan khidmat, lalu menghela nafas panjang, kemudian terdiam.
Dalam hati saya terkikik geli, setengah mati berusaha menghormati sebuah nama yang tak ada artinya buat saya, karena bagaimanapun nama itu adalah surga buat sahabat saya.
Demikianlah percakapan telepon nan ajaib siang itu, ditutup dengan pekik girang sahabat saya, yang sibuk berterimakasih atas sederet nama yang telah sudi saya ucapkan khusus untuknya.
April 2008


0 comments:
Post a Comment