"Jika A sama dengan kesuksesan, maka rumusnya adalah A = X + Y + Z. X adalah bekerja, Y adalah bermain, dan Z adalah menjaga mulut agar tetap bungkam."
(Albert Einstein)
Dalam rumus di atas dikatakan bahwa variabel Z berarti ‘menjaga mulut agar tetap bungkam’. Dalam versi saya pribadi, saya lebih suka mengartikan ‘menjaga mulut agar tetap bungkam’ dengan ‘berhenti mengeluh’, dalam bentuk yang seluas-luasnya. Pemahaman ini saya dapatkan bukan tanpa sengaja, dan bukan tiba-tiba jatuh begitu saja dari langit. Ada sebuah peristiwa tak menyenangkan yang terjadi, yang membuat saya larut dalam introspeksi. Hingga akhirnya saya sadar, rupanya selama ini setiap saya berkaca, saya cuma menghabiskan waktu untuk memandangi bagian-bagian diri saya yang saya suka.
Akhirnya, untuk pertama kalinya, saya mencoba berkaca dengan sebenar-benarnya. Saya berusaha tetap membuka mata pada saat pandangan saya sampai pada bagian yang sering saya lewatkan, dengan atau tanpa sengaja. Dan disanalah dia, bagian diri saya yang tidak menyenangkan. Borok-borok saya. Yang telah lama menanti untuk disembuhkan.
Butuh kebesaran hati untuk menerima bahwa borok-borok itu adalah milik saya. Mulanya saya enggan mengakuinya. Tapi lama-lama saya sadar, bahwa saya harus, karena saya ingin sembuh. Dan ketika pencerahan itu datang, saya merasa rumus yang dikutip kawan saya memang ditakdirkan untuk saya. Variabel Z itu memang benar-benar diperuntukkan bagi saya.
Kenapa begitu? karena borok saya yang paling penting untuk disembuhkan adalah soal mengeluh. Saat berkaca, baru saya sadar bahwa selama hidup rupanya saya begitu sering mengeluh. Saya terlalu mudah membagi masalah. Saya bahkan terlalu cepat menilai suatu ganjalan sebagai masalah. Puncaknya, saya pernah berada pada satu masa yang penuh dengan ketidaknyamanan. Tapi saya tidak pernah berusaha mengolahnya dengan baik. Saya sibuk mengeluhkan rasa itu pada dunia. Saya sempat memonopoli hari-hari orang-orang terdekat saya hanya untuk mengisahkan kembali keadaan tidak nyaman itu, terus hingga berulang-ulang. Saya bahkan cenderung menyalahkan keadaan itu pada satu orang. Sampai akhirnya, saya kehilangan. Terlepas dari perkara takdir yang menurut hemat saya adalah rahasia Tuhan, saya kehilangan akibat kesalahan saya sendiri. Sungguh mahal harga yang harus saya bayar akibat mulut saya yang terlalu banyak mengeluh.
Maka, sejak saat saya menemukan pencerahan kala sedang berkaca ratusan hari yang lalu, saya mencoba berpegang teguh pada rumus di atas. Bahwa saya tidak akan dapat menjalankan peran saya dengan baik dalam hidup, kalau saya terus-menerus mengeluh. Dan tanpa saya sadari, makin lama saya makin kehilangan hasrat untuk berkisah pada orang-orang terdekat saya. Saya memang lebih pantas jadi pendengar. Bukan, bukan karena saya punya kemampuan mendengar yang baik, yang kemudian dilengkapi dengan kemampuan memberi saran yang baik. Melainkan karena giliran saya memang sudah usai. Saya sudah memborong habis jatah curhat dari bertahun-tahun yang lalu. Cukup sudah saya memonopoli telinga dunia dengan kisah saya pribadi. Kini waktunya orang lain bercerita, saya yang mendengarkan. Tambahan lagi, konon katanya, orang lain adalah tempat bercermin bagi orang lainnya. Jadi, saya bisa mencari saran untuk masalah saya lewat cerita orang lain.
Kadang kala, saya memang masih sering tergoda untuk mengeluhkan segala macam ganjalan yang terjadi dalam hidup saya. Beberapa hari yang lalu saya bahkan sibuk berkisah pada salah satu kawan baik saya. Ah, saya masih jauh dari rumus itu. Saya masih sulit berkawan dengan rasa tidak nyaman. Namun saya berusaha, saya setengah mati berusaha mengendapkannya sendirian. Saya berusaha membungkam mulut saya untuk tidak mudah membaginya. Ya, setidaknya saya terus berusaha. Karena saya tau, dunia sudah cukup pusing dengan berbagai macam persoalan, dan karena kesunyian ternyata adalah tempat berbagi yang juga menyenangkan. Dan satu lagi, karena hidup terlalu indah untuk tidak dinikmati.


0 comments:
Post a Comment