October 17, 2008

SENSE OF A MOTHER

Selama masa hampir tiga tahun saya bekerja, sudah dua kali saya menyaksikan secara dekat dua kawan akrab satu kantor yang masing-masing hamil pada tahun yang berurutan. Saya bukan hanya menyaksikan bagaimana tubuh mereka berangsur-angsur membesar, melainkan juga bagaimana sikap mereka berangsur-angsur berubah, jadi lebih perasa dan pendiam.

Maka, ketika Asisten Manajer saya yang tengah hamil tujuh bulan menampilkan sikap yang sama, saya (kira saya) tidak kaget lagi. Sore kemarin kebetulan kami sedang berdua saja di dalam toilet perempuan. Tiba-tiba dia memperhatikan saya dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ratna, kamu tambah kurus, ya?” ujarnya sambil mengernyit seolah-olah itu kali pertama dia melihat saya yang kurus ini.

“Masa, sih, Mbak?” sahut saya ringan.

“Iya kok. Tuh, tangannya aja kecil banget. Makanya makan yang banyak dong” ujarnya serius.

“Aku makannya udah banyak, lho, Mbak” balas saya sambil senyum-senyum.

“Tapi minum susu, gak?” tanyanya lagi. Masih dengan wajah serius yang membuat saya jadi salah tingkah. Seingat saya, dua kawan akrab saya dulu tidak pernah seperhatian ini.

“Minum kok, setiap hari, tapi yaaaah, kadang-kadang gak sih”

“Kok masih tetep kurus, ya?” balasnya, sambil berpikir dengan ekspresi khas mantan-auditor yang selalu ditampilkannya setiap kali kami menganalisa jurnal bersama-sama.

Tidak lama, wajahnya seperti menemukan ide cemerlang.

“…, oh, apa jangan-jangan cacingan kali? coba minum obat cacing, deh, Rat” sambungnya tanpa rasa berdosa, dengan wajah yang polos.

” APAAAAA??!” teriak saya dalam hati. Saya kaget bukan main. Saya sama sekali tidak menduga dia akan menyuruh saya minum obat cacing.

Tapi untunglah, saya segera sadar. Perempuan di hadapan saya itu sedang hamil tua. Hormon di dalam tubuhnya sedang bergejolak sedemikian rupa. Saya cuma sedang jadi korban calon Ibu yang mungkin belum dapat mengendalikan naluri keibuannya.

“Boleh juga sih dicoba, siapa tau iya,…” jawab saya akhirnya sambil tersenyum ringan. Bukan karena sinis, melainkan tersanjung.

Tapi jujur saja, dalam hati saya merinding. Saya sama sekali tidak siap dituduh cacingan. Selama ini saya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Mata saya tidak pernah gatal-gatal. Bokong saya juga tidak pernah gatal-gatal. Saya tidak mungkin cacingan. Tidak mungkin. Hahahahaha.

0 comments:

Post a Comment