October 19, 2008

TRAGEDI PAYUNG MERAH

(Untuk Ijul)

Payung yang berwarna merah itu sebenarnya adalah payung biasa. Seperti yang sering dijual di pinggir-pinggir jalan, atau di atas-atas jembatan penyeberangan. Tapi apa yang dialami kawan saya Ijul dengan payung merah itu, adalah kejadian yang sangat tidak biasa. Saking luar biasanya, sampai membuat saya merasa perlu mengabadikannya dalam tulisan.

Hari itu hari minggu. Saya dan tiga orang kawan laki-laki tengah berkumpul di TIM. Kami memang biasa mengadakan pertemuan di tempat tersebut, karena selain tempat itu sangat mendukung minat dan gaya hidup tiga orang kawan laki-laki saya yang sangat seniman, tempat itu cukup nyaman untuk berjam-jam ngobrol membahas segala macam hal, dari mulai yang serius, sampai lelucon yang bisa membuat kami tertawa terbahak tanpa henti -kenyataannya, kami hampir tidak pernah membahas hal yang serius, hahahah.

Lalu, pembicaraan hari itu sampai pada rencana untuk berjalan-jalan mengunjungi rumah salah satu dari kami, Rangga namanya, di bilangan Jakarta Timur. Siang itu juga, diiringi panas terik yang sangat tidak bersahabat, kami berbondong-bondong keluar dari pelataran TIM. Nampaknya agar sesuai dengan gaya hidup seniman yang selalu bersahaja, kawan saya Rangga mengusulkan untuk terus berjalan kaki sampai ke halte bus Transjakarta. Tapi berhubung panasnya minta ampun, kawan saya Ijul menolak usul Rangga tersebut. Akhirnya, kami sepakat untuk menumpang kopaja, menuju halte bus Transjakarta.

Ketika kami tengah menunggu kopaja yang tidak juga melintas di depan TIM, kawan saya Ijul tiba-tiba membuka ransel hitam yang selalu setia bertengger di punggungnya. Dengan gaya yang agak demonstratif, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya: sebuah payung berwarna merah. Kami bertiga yang menyaksikan, spontan menyorakinya. Lebih karena iri ketimbang geli. Sebab guyuran panas yang amat terik itu, tidak sanggup dihalau hanya dengan gengsi.

Tapi untunglah, kami tidak perlu berlama-lama menatap kesal pada Ijul, yang pura-pura jumawa dengan payung merahnya. Kopaja yang kami tunggu tiba juga. Kawan saya Tala dan Rangga, buru-buru melompat masuk ke dalamnya. Menyusul saya yang sekilas sempat mendengar keluhan Ijul bahwa payungnya macet dan sulit ditutup. Tapi dalam waktu sepersekian detik, kawan saya itu menyuruh saya untuk segera menaiki kopaja, lalu diikutinya jejak saya.

Di dalam kopaja yang separuh kursinya sudah terisi, kawan saya Tala dan Rangga segera duduk manis di kursi paling belakang. Saya memilih duduk di kursi kosong di depan mereka, di sebelah seorang ibu.

Lalu, di kursi manakah kawan saya Ijul duduk?

Ketika saya memutar kepala untuk melihat ke arah depan, di sanalah dia kawan saya itu berada. Tepat di depan pintu masuk. Tidak duduk, melainkan berdiri. Sambil memegang payung merahnya yang masih terbuka lebar.

Apakah gerangan yang tepatnya terjadi pada kawan saya itu?

Ya Tuhan, rupanya payung dalam genggamannya itu macet dan tidak bisa ditutup. Dengan panik kawan saya itu mengguncang-guncangkan payungnya yang tetap saja membandel, diiringi tawa membahana dua kawan saya lainnya, dan tatapan geli seluruh penumpang kopaja. Sementara saya sendiri, sibuk cekikikan seperti tidak ada lagi hari esok.

Seumur hidup saya, tidak ada atraksi yang lebih lucu daripada atraksi yang dipertontonkan oleh kawan saya Ijul dengan payung merahnya itu. Selama hampir sepuluh menit dia berdiri di hadapan seluruh penumpang kopaja, mencoba menutup payungnya yang sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan tertutup, sambil sesekali menatap penuh makna pada kami kawan-kawannya, yang terus saja tergelak-gelak sambil berurai air mata.

Demikianlah akhirnya sampai payung merah itu kemudian mau tertutup juga. Kawan saya Ijul segera melesat duduk dekat Tala dan Rangga di kursi belakang, sambil ikut-ikutan menertawai dirinya sendiri. Tapi tidak bisa dipungkiri, betapa dia malu setengah mati, karena wajahnya pucat pasi. Sampai berjam-jam setelahnya, kami masih saja menertawakan kejadian itu dengan tidak henti-hentinya. Di perjalanan pulang, saya masih terus tertawa. Malam menjelang tidur, saya sedikit pun tidak bisa menahan tawa. Bahkan pada saat menuliskan semua ini, saya masih belum dapat berhenti tertawa.

Setelah tragedi payung merah itu, rasanya hidup kawan saya Ijul tidak akan pernah sama lagi.

Oktober 2008

0 comments:

Post a Comment