Jadi ceritanya, pada tanggal 8 yang lalu, saya merayakan ulang tahun yang ke dua puluh lima. Sudah merupakan tradisi diantara saya dan beberapa kawan dekat di kantor, untuk memberikan kado pada hari ulang tahun masing-masing.
Nah, pada giliran saya kali ini, setelah bertahun-tahun puas dengan sensasi menerka kado, saya memutuskan untuk menentukan sendiri kado apa yang saya mau. Selain karena ingin memenuhi keinginan pribadi atas sebuah benda (hahaha), saya rasa keputusan itu cukup tepat, karena kawan-kawan saya jadi tidak perlu repot mondar-mandir di pusat perbelanjaan sambil susah payah menerka keinginan saya tahun ini (percayalah, setelah berulang kali mencari kado untuk orang yang sama, pada tahun ketiga semua ide akan macet, karena benda-benda yang mungkin diinginkan telah terbeli pada tahun-tahun sebelumnya).
Ketika keinginan soal kado itu saya utarakan pada kawan-kawan saya, mereka langsung terkikik geli sambil memandang saya dengan tatapan sejuta makna. Tapi saya tetap ngotot. Saya tetap pantang mundur sambil ngoceh menjelaskan apa keinginan saya. Sudah begitu lama saya mendamba sebuah perangkat audio untuk mendengarkan musik. Namun entah bagaimana caranya tiap kali saya gajian, selalu ada benda-benda yang lebih perlu dibeli dibanding benda yang satu itu. Jadi saya pikir, daripada kawan-kawan saya salah membelikan kado, sementara saya jelas-jelas menginginkan sebuah benda, kenapa tidak saya pesan saja benda itu sebagai hadiah.
Keesokan harinya, di luar dugaan saya, salah satu kawan saya berkata bahwa kado untuk saya sudah mulai dipikirkan. Saya langsung gembira sambil berkata dengan nada jumawa: apa gue bilang, jadi memudahkan kalian, kan? Lalu serta merta saya menambahkan, bahwa saya tidak mau kado yang murahan. Dalam artian, mereka harus memastikan bahwa perangkat audio itu tidak berbahaya bagi telinga saya. Apabila dengan anggaran yang telah mereka siapkan, ada kemungkinan bahwa hasilnya membahayakan, lebih baik dibatalkan saja (ya, saya tau saya sangat menyebalkan, hahaha). Walaupun air mukanya terlihat begitu ingin mencekik saya, kawan saya menyarankan agar saya tenang saja. Anggaran yang mereka sediakan tidak bakal berbahaya bagi telinga saya. Mereka sudah berkonsultasi pada Bapak IT, dan menyerahkan urusan pembelian kado itu pada beliau. Haha. Lagi-lagi beliau. Orang yang sama yang dulu pernah mengurusi PC saya yang terjangkit spyware. Tapi justru itu, saya percaya pada pilihan beliau. Sekejap saya langsung lega demi mengetahui bakal kado saya berada di tangan yang tepat.
Demikianlah segalanya membuat hari-hari penantian saya berjalan menegangkan, dan membuat saya begitu tidak sabaran. Sampai akhirnya pada suatu pagi yang hujan, kado itu tiba juga di meja saya. Dibungkus kertas biru. Ditempeli kertas ucapan selamat. Dan saya masih harus menunggu jam kantor usai untuk melihat isinya, karena kombinasi bungkusan besar dan histeria saya yang ajaib, pasti akan menimbulkan kehebohan yang mengganggu ketertiban sekitar.
Ketika sore tiba, saya dan kawan-kawan bergegas berkumpul di ruangan kasir yang tertutup, demi menyaksikan upacara pembukaan kado. Dan di sanalah dia, kado saya yang manis itu: perangkat audio berupa headphone paling keren di seantero jagat raya. Benda yang membuat saya begitu berbahagia, bukan hanya karena dia bisa mengalirkan bunyi musik di dalamnya, tapi juga karena kawan-kawan saya tercinta, dengan bantuan Bapak IT, telah bersusah payah menghadirkannya untuk saya.
Akhir kata, tentu saja, terima kasih saya yang tak terhingga untuk kawan-kawan saya tercinta, dan Bapak IT yang baik hati :)


0 comments:
Post a Comment