Tradisi bertukar kado ulang tahun, tentu saja berlaku juga di antara saya dan geng kawan-kawan semasa kuliah. Dan persis seperti sekumpulan rekan kantor saya yang bernasib malang itu, mereka juga saya titipi pesan, tentang kado apa yang saya inginkan kali ini.
Di hadapan perempuan yang manis-manis itu, rupanya permintaan saya disambut dengan lebih mulus. Karena tidak mau repot, acara pembelian kado malah direncanakan untuk mengikutsertakan saya langsung ke tokonya, supaya praktis dan tidak bertele-tele.
Akhirnya, pada sebuah hari sabtu, berangkatlah saya dan salah seorang kawan satu geng ke sebuah pusat perbelanjaan, untuk sama-sama membeli kado saya. Seperti terhipnotis pada sihir simbolisasi, rencananya bakal kado yang hendak dibeli itu, akan dibawa pulang oleh kawan saya, guna diserahkan kembali pada saya, tepat pada hari ulang tahun. Hahaha. Ini agak konyol memang, tapi benar demikianlah yang terjadi.
Kemudian sampailah kami di toko pakaian yang barang dagangannya saya taksir. Sebentar saja memilih, saya langsung menjatuhkan pilihan pada sebuah atasan. Tanpa diduga, kawan saya itu ikut-ikutan jatuh hati pada sebuah celana panjang. Akhirnya, dia berbelanja juga untuk dirinya sendiri.
Di hadapan kasir, kawan saya baru sadar bahwa uang di dompetnya tidak cukup untuk membayar belanjaannya. Terpaksa dia harus menggunakan kartu debit. Sialnya, kawan saya (dan juga saya kebetulan) adalah pemegang kartu debit Lippo, sementara toko tempat kami berbelanja cuma menerima pembayaran lewat debit BCA, sehingga kawan saya harus menanggung charge sebesar tiga persen dari total belanjaannya.
Saya langsung menampik ide pembayaran dengan kartu, karena teringat bahwa di dompet saya masih ada beberapa lembar cash. Pikir saya, buat apa buang uang kalau masih bisa bayar tunai. Tapi teman saya menolak, dia bilang saya tidak boleh membayar untuk kado saya sendiri. Antara geli dan kesal saya jelaskan padanya, keluar dari toko kami bisa langsung mampir di ATM, dan mengganti uang saya, sehingga saya tidak perlu membayar kado saya sendiri. Tapi teman saya ngotot, katanya biar bagaimana pun saya akan menalangi kado saya sendiri, dan itu sungguh tidak pantas. Kami berdebat cukup lama, sampai petugas kasir di hadapan kami memotong dengan ucapan yang mengesalkan, katanya kalau teman saya kebanyakan uang, kenapa harus dilarang.
Aduh, rasanya saya ingin tampar petugas kasir itu. Tapi karena tidak ingin membuat keadaan jadi tidak mengenakkan, saya diam saja, dan membiarkan kawan saya membayar dengan kartu debit Lipponya. Dalam hati saya jadi menyesal, andai saya tidak lancang minta ikut saat pembelian kado, mungkin teman saya tidak perlu susah payah begini.


0 comments:
Post a Comment