April 20, 2009

ELENA

Elena, betapa mengejutkannya hidup. Tawa dan duka datang silih berganti, tanpa petunjuk sama sekali. Seperti aku hari ini. Kemarin hidup bagiku masih sebuah kesendirian. Dingin dan membosankan. Tapi kini, semuanya sekejap berubah. Langit di atas kepalaku tiba-tiba cerah. Dan tak ada lagi yang ingin kulakukan, selain duduk manis dengan senyum merekah.

Seperti juga pertemuan kita, Elena. Kemarin bagiku kau masih serupa bulan yang berada jauh dari jangkauan. Namun hari ini, begitu dekatnya aku dengan engkau sebagai tujuan.

Elena, aku ini perempuan yang tengah jatuh cinta. Baru saja datang padaku laki-laki yang menawarkan masa depan. Dia seperti begitu saja jatuh dari langit, lalu berdiri di hadapanku dengan segenggam cinta. Hingga akhirnya, kami sepakat menjalin hubungan.

Oh, Elena, kalau bukan dia yang saat itu datang menjemputku, rasanya hari ini aku masih akan berteman dengan kesepian. Dialah laki-laki yang sanggup mendentangkan lonceng besar di dalam hatiku, hingga dentangan itu membuatku tersadar bahwa aku diciptakan bukan untuk merana sendirian. Dan sekarang, seperti bisa kau lihat sendiri, aku jatuh cinta.

Elena, dia bilang padaku, dia telah lama menikmati hidup sendirian, dan menemukan aku menerbitkan keinginan yang sama sekali baru dalam hidupnya. Dia tiba-tiba jadi ingin menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan. Dia tiba-tiba jadi ingin memperoleh anak perempuan. Dan semua itu akan diwujudkannya bersamaku. Dia mengajakku untuk menikah, dan mengajakku berdoa supaya kami dikaruniai seorang anak perempuan yang mungil dan lucu. Dia bahkan mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta kelak: Elena.

Ya, itulah engkau. Begitulah awal pertemuan kita. Begitulah awalnya mengapa aku jadi begitu tak sabar untuk mendekap anak perempuan yang kelak lahir dari rahimku sendiri: engkau, Elena.

***********************************************************************************

Elena, hidup memang selalu sanggup membuat siapa saja terkejut. Seperti aku hari ini. Sebuah kejadian tak disengaja mempertemukan aku dengan perempuan yang dulu pernah berbagi hidup dengan laki-laki yang kelak menjadi ayahmu. Kami duduk bersama seperti dua orang kawan lama, dan ia menceritakan banyak hal padaku.

Dia bilang, dulu bakal ayahmu baik hati dan lucu. Oh, aku sungguh setuju, karena itulah sikapnya yang selalu menawan hatiku. Kemudian perempuan itu juga bilang, bakal ayahmu dulu datang padanya menawarkan masa depan, lalu mengajaknya menikah agar dikaruniai anak perempuan. Sambil tergelak dia menambahkan, bakal ayahmu malah sudah mulai menyiapkan nama untuk anak perempuannya tercinta, namun hubungan mereka keburu kandas di tengah jalan sebelum semuanya sempat diwujudkan.

Dan kau tahu, siapa nama anak perempuan yang dulu telah disiapkan oleh laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu? Persis seperti nama yang disiapkannya untukmu. Namamu. Elena.

Oh, Elena, betapa aku terkejut mendengar semua itu. Kata-kata manis yang kemarin terlontar di hadapanku kini seperti berasal dari dunia yang jauh. Keinginan untuk menikmati sisa hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena ternyata hanya sebuah kalimat usang. Dan aku terguncang.

Namun entah bagaimana caranya Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati. Kukatakan pada diriku sendiri, bakal ayahmu tidak lahir ke dunia lalu begitu saja tumbuh dewasa. Dia telah menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya berhasil menemukan aku. Mungkin jauh-jauh hari keinginan itu memang pernah terucap dari mulutnya, untuk kemudian urung di dalam hati, untuk kemudian di hadapanku kembali dilontarkan lagi.

Bagaimanapun, akulah orangnya yang telah berhasil menyuarakan kembali isi hati laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu. Sebagaimana dia telah berhasil mendentangkan kembali lonceng besar di dalam hatiku. Ya, Elena, aku akhirnya sanggup membenahi hati.

***********************************************************************************

Elena, betapa mengejutkannya hidup. Tawa dan duka datang silih berganti, seperti peran yang dimainkan dalam televisi. Seperti aku hari ini. Kemarin bagiku engkau begitu dekat dalam tujuan, kini dirimu laksana bulan yang jauh dari jangkauan.

Lagi-lagi tanpa sengaja, kutemukan petunjuk tentang laki-laki yang kelak akan menjadi ayahmu, Elena. Kutemukan surat-suratnya bersama seorang wanita entah siapa yang membuat hatiku amat terluka. Wanita lain yang bukan berasal dari masa lalunya. Tertulis di sana tentang cita-cita untuk hidup bersama seorang perempuan sambil membesarkan seorang anak perempuan. Dan ketika akhirnya kutemukan lagi namamu turut berada di sana, Elena, aku tak lagi mampu membenahi hati.

Dengan bersimbah air mata kuputuskan untuk menyudahi semuanya. Kusudahi apa yang tengah kujalin bersamanya. Kusudahi mimpi indah untuk membesarkan seorang anak perempuan bernama Elena. Elena yang manis dan lucu. Elena bakal anak perempuanku.

Semua itu kulakukan, Elena, karena sekarang aku sadar, tidak perempuan yang dahulu, tidak aku, mungkin tidak juga perempuan dalam surat itu, pernah dicintai oleh bakal ayahmu. Cuma engkau satu-satunya perempuan yang dicintainya, Elena. Demi engkau dia berjalan dari hati ke hati, untuk mencari yang terbaik. Dan karena aku juga sudah terlanjur mencintaimu Elena, kulepaskan dia pergi, kubiarkan dia mencari hati demi ibu yang terbaik untukmu kelak.

April 2009

0 comments:

Post a Comment