Terpujilah tukang es podeng itu, yang karena kepergiannya untuk menunaikan shalat jumat, saya jadi batal menikmati dagangannya di tengah hari bolong ini. Begitu pula dengan mbak-mbak yang berjejer dengan wajah kehausan di kiri kanan saya. Semuanya batal menikmati es podeng.
Sekian orang dalam satu jumat. Minimal empat jumat dalam satu bulan. Entah berapa rupiah yang tidak jadi mengalir ke dalam pundi-pundi si tukang es podeng. Tapi dia tetap berangkat meninggalkan dagangannya demi menunaikan shalat jumat.
Sementara saya sendiri, yang gajinya tidak bakalan berkurang apabila meninggalkan meja dan komputer barang sejenak untuk pergi ke mushola, masih sering absen. Saya bahkan tidak bakalan dipecat apabila ingin berdzikir dan mengaji sekalian di mushola, tapi masih sering shalat dengan tergesa-gesa. Belum lagi pikiran yang melayang-layang ke dalam kertas kerja yang saya tinggalkan di atas meja, padahal kalau sedang tidak shalat saya bahkan tidak perduli dengan semua itu.
Nah, karena itulah saya katakan tukang es podeng itu sungguh terpuji. Dia berserah diri pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Semoga keberkahan selalu dilimpahkan kepadanya.


0 comments:
Post a Comment