July 27, 2009

MY BESTFRIEND’S GRANDMA

Salah satu sahabat saya, adalah bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakaknya semua sudah menikah dan punya anak, sehingga dia punya banyak keponakan. Seperti kebanyakan anak yang orangtuanya bekerja, semua keponakannya itu dititipkan di rumah neneknya. Sebab itu kalau saya sedang nongkrong di rumah sahabat saya, keadaannya selalu ramai oleh hilir mudik mereka.

Keponakan sahabat saya yang paling tua, sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Pada suatu hari, waktu saya sedang ngobrol di teras bersama sahabat saya, keponakannya itu keluar dari dalam rumah sambil menenteng telepon genggam. Dia duduk di seberang kami, lantas mulai menelepon.

Awalnya, saya tidak memperhatikan apa yang dilakukan bocah perempuan itu. Dia hanya sekedar bicara di telepon. Tapi ketika sudah hampir setengah jam, perhatian saya mulai terusik. Heran. Sebab dia bicara begitu lama, layaknya durasi bicara orang dewasa. Sahabat saya bilang, keponakannya itu sedang bicara dengan Mbah Putrinya yang tinggal di Jogja. Kalau mereka berdua sudah asyik ngobrol, lanjut sahabat saya, biasanya memang lama. Bisa sampai satu jam.

Wow. Saya takjub. Sehingga akhirnya mulai mendengarkan pembicaraan bocah itu dengan seksama. Dia sedang asyik bercerita tentang kegiatannya di sekolah, dengan nada curhat ala anak ABG, tapi kata-katanya polos. Sebentar dia diam mendengarkan sahutan neneknya di seberang sana, lantas sesekali mengiyakan, atau kadang membantah. Kemudian dia teruskan lagi ceritanya, kali ini mengadukan kelakuan nakal adiknya, lalu kembali mendengarkan sahutan.

Setelah beberapa saat, ganti dia yang bertanya keadaan neneknya, lalu diam menyimak. Begitu seterusnya, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Dan saya makin takjub. Kalau tidak langsung menyaksikan sendiri, saya tidak bakalan percaya bahwa di dunia ini ada anak kelas dua SD yang bisa bercakap-cakap begitu lama di telepon dengan neneknya.

Beberapa hari yang lalu, lama setelah kejadian percakapan di telepon itu, saya dan sahabat saya jalan-jalan ke Jogja. Salah satu agenda dalam perjalanan itu, adalah mampir berkunjung ke rumah keluarga sahabat saya di daerah Kalasan. Nah, inilah rumah Mbah Putri yang dimaksud di atas. Waktu beliau menyambut kami di teras rumahnya, pikiran saya langsung melayang pada percakapan telepon yang saya saksikan dulu. Dan segera saya langsung tahu jawabannya, kenapa keponakan sahabat saya bisa bersahabat dengan neneknya.

Beliau menyambut kami dengan ramah, lantas sibuk bolak-balik ke arah dapur mengeluarkan jamuan. Kalau saya jadi nenek-nenek kelak, rasanya saya bakalan ogah menjamu anak muda sambil repot-repot membawakan piring dan sendok sendirian, sementara saya bisa menyuruh anak-anak saya melakukannya. Tapi beliau lain, dilakukannya semua itu tanpa beban, lantas ikut duduk mengobrol bersama kami. Tatapannya hangat dan bersemangat. Sesekali beliau mengeluarkan wejangan dengan gaya yang sama sekali tidak menggurui, dan sisanya, diam menyimak cerita kami layaknya beliau adalah anak muda seperti kami.

Nah, itulah jawabannya, beliau bisa menempatkan diri sejajar dengan lawan bicaranya. Sungguh nyaman rasanya. Pantas saja cucunya yang masih kelas dua SD bisa merasa bersahabat dengan dirinya. Sementara saya, yah, berhubung saya bukan cucunya, cukuplah saja saya jadi penggemar beliau, dan membuat sepotong tulisan untuk mengabadikan kisahnya.

0 comments:

Post a Comment