Ibu manajer saya, yang sudah sering saya sebut-sebut namanya dalam beberapa tulisan, kira-kira seminggu yang lalu mendapat musibah. Pada suatu pagi beliau jatuh dari tangga rumahnya, lalu mengalami patah kaki. Waktu beliau mengabari kejadian tersebut, saya tidak pernah mengira hal ini akan jadi begitu berkesan, sehingga kelak saya akan menceritakannya dalam sebuah tulisan.
Karena tulang kakinya retak, Ibu manajer harus dioperasi. Sehari setelah operasi, saya dan beberapa rekan kantor menjenguknya di rumah sakit. Waktu melihat kami datang, beliau langsung tersenyum-senyum ceria seperti biasanya. Beliau duduk di atas tempat tidur, mengenakan baju piyama. Pergelangan kaki kanannya yang diperban tampak bengkak.
Menurut saya, yang sering tidak nyaman melihat perempuan bermake-up tebal, Ibu Manajer kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya. Rambutnya tidak kaku seperti kalau beliau sedang di kantor, melainkan tergerai bebas setengah berantakan. Kulit mukanya polos saja, tidak sedikitpun dipoles bedak, malah agak berminyak. Kami mengobrol sambil bercanda, dan beliau tertawa berderai-derai sambil mendekap sebuah guling lusuh yang nampaknya sengaja dibawa dari rumah. Beliau terlihat cantik dan apa adanya.
Setelah operasi, dokter melarang Ibu Manajer untuk masuk kerja dulu. Padahal beliau bilang pada kami, akan segera masuk dua atau tiga hari sesudahnya, diusahakan berjalan menggunakan tongkat atau semacamnya. Namun ternyata beliau disuruh beristirahat dua minggu di rumah. Kami satu departemen repot dan kelabakan, karena waktunya bertepatan dengan waktu closing laporan keuangan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya melakukan rekonsiliasi sendirian tanpa supervisi dari beliau. Meski awalnya kerepotan, pada akhirnya saya ternyata sanggup juga menyelesaikan semuanya. Pada saat itulah saya tersadar, bahwa selama ini rupanya saya sudah begitu dimanja. Selalu diterima dengan tangan terbuka tiap kali menemukan kerumitan. Dan apabila saya telah duduk di hadapan beliau, tidak pernah ada masalah yang tidak selesai. Padahal mungkin kalau saya mau mandiri, tidak perlu sampai beliau turun tangan mengatasi masalah. Mungkin-mungkin saja.
Dan untuk pertama kalinya pula dalam sejarah, Ibu Manajer cuti kerja begitu lama. Padahal kalau sedang berlibur pun, beliau tidak pernah pergi sampai satu minggu. Saat saya menghubungi beliau ke ponselnya untuk menanyakan beberapa hal, nada suaranya yang bersemangat menunjukkan bahwa beliau nampaknya sudah tak sabar untuk kembali ke kantor. Kalau boleh jujur, saya agak merindukan beliau. Yah, berlebihan mungkin, tapi memang begitu adanya.


0 comments:
Post a Comment